Selembar kartu identitas diri ini pernah membawa malapetaka warga negeri. Gw inget tengah malem tgl 17 Januari 2000, ditengah guyuran hujan dan pekatnya malam, belasan laki-laki diusir dari kawasan pemondokan dekat kampus. Dalam keadaan setengah telanjang, mereka dipukuli, ditendang, diseret, hingga darah mereka nyaris habis, hanya karena KTP mereka menunjukkan keyakinan yang berbeda.
Gw ikut gemeteran bukan karena kehujanan tapi karena marah, sedih, takut, semuanya! Bagaimana dengan mereka yang di Ambon, Poso, Papua, Aceh, Sampit, Timor, yang setiap hari menyaksikan peristiwa berdarah seperti itu dan ga bisa berbuat apapun buat menghentikan kegilaan sebagian orang2 itu?
Beberapa bulan setelahnya, gw melintasi daerah Poso. Nekad lewat jalan darat! Dan pemandangan serupa terlihat lagi. Ketegangan membayangi sepanjang jalan, tatapan curiga warga, aparat bersenjata berwajah garang, tak ada kehidupan. Alhamdulillah, gw selamat sampai Menado meski sempat menggelandang di Palu.
Pulangnya, kami bertiga (dua lelaki) ngambil jalan muter naik kapal laut. Lebih lama, dan membosankan berada di atas lautan selama tiga hari. Setidaknya, sedikit lebih aman. Tapi wajah2 penuh trauma para pengungsi dari Ambon yang naik di Menado dan pengungsi Poso yang naik kapal yang sama di Luwuk Banggai Sulteng, ga ada bedanya dengan pemandangan saat berangkat.
Ga sampe setahun berikutnya gw melintasi Poso lagi. Hanya beberapa jam setelah seorang Bule Italia meninggal karena mobilnya dilempari bom. Lagi2 nekad. Kali ini gw berdua ma temen gw yang asli Menado tapi itu kali pertama dia akan menginjakkan kaki di tanah kelahirannya setelah 24 tahun.
Menumpang bus setengah tua melalui jalan trans Sulawesi yang jauh dari layak. Sesekali bus harus berhenti nungguin kenek menyingkirkan batang2 pohon yang sengaja dipalangkan di jalan. Kadang2 di saat2 menunggu jalanan dibersihkan itu, orang2 keluar dari hutan di pinggiran jalan yang kami lewati membawa parang dan benda tajam lainnya.
Menatapi kami satu per satu yang berada di balik kaca jendela bus, memeriksa KTP kami. Ini saat2 yang sangat menegangkan karena gw dan temen gw berbeda keyakinan. Di tas gw juga ada badik dan rencong, plus film2 dokumenter dan buku2 kiri yang gw sendiri ga tau apa gunanya gw bawa2. Saat gitu, bisanya berdoa, sambil berharap nyokap yang tak pernah tahu perjalanan2 nekad gw sedang berdoa juga buat gw, anak perempuannya yang buandel ini.
Meski sopir bus kami termasuk nekad tetep jalan disaat genting itu, bus biasanya tidak berjalan sendiri. Bareng2, entah dengan truk yang mengangkut suplay bahan makanan ataupun kendaraan nekad lainnya. Itupun dikawal polisi. Polisi ga satu dua, tapi serombongan juga.
Senja mulai turun ketika bus kami berada di daerah pertengahan Tentena-Poso, daerah paling rawan, tepat di daerah hutan yang jalannya paling buruk. Di tengah deru bus tua dan degup jantung si sopir nekad yang tak sabar ingin segera keluar dari daerah jahanam itu sebelum gelap datang, terjadi sebuah peristiwa.
Gw mencium bau kain atau karet terbakar. Lalu asap mulai keluar dari jendela di samping gw. Gw udah teriak, ada api, ada asap, panas! Gw panik dan pucet. Semua orang juga tegang. Gw yakin pikiran kami sama, jangan2 orang2 tadi naro bom di bus ini seperti pernah ditemukan aparat sebelumnya. Dan semakin tegang karena bus kami tertinggal rombongan dan pengawalan aparat.
Tiba2, temen gw tereak kakinya kepanasan. Ternyata sodara2, sepatu tiga perempat butut berlogo bintang punya temen gw itu terbakar. Penyebabnya, puntung rokoknya ga dimatiin, dilempar begitu aja ke kolong. Dasarrrrr!!!! Gw marah banget, malu banget! (tapi sekarang terbahak2). Udah gitu, masih sempet pula anak itu mungut sepatu separohnya yang udah dilempar ke jalan. Daripada nyeker!
Dan setelahnya, sopir bus seperti kesetanan memacu bus. Ga peduli jerit2 tertahan penumpang. Ga peduli pada omelan ibu2 pemilik piring2 plastik yang sebagian piringnya ikut terbakar sepatu kawan gw. Padahal, ibu2 itu jauh2 belanja piring plastik ke Makassar mungkin buat bikin warung di Palu dan harus kehilangan beberapa karena kecerobohan temen gw.
Itu yg gw benci dari perokok! Berapa peristiwa kebakaran rumah dan hutan karena keteledoran mereka? Tapi sumpah, gw ga bisa lupa ma temen gw itu selain karena dia gondrong tapi ga bisa pake motor, ga bisa maen gitar, ga bisa renang, dan jangkung pohon kelapa karena ga bisa basket.
Sialnya lagi, saat perjalanan paruh kedua dari Palu ke Manado, kami dikira suami istri padahal jelas2 kami udah musuhan dan pisah tempat duduk gara2 insiden rokok laknat itu, hahaha…! Pulangnya, lagi2 jalan muter numpang kapal laut.
Keknya udah jauh dari judul nih, soal KTP! Gw setuju agama ga dicantumin di KTP karena agama (ibadah) buat gw adalah privasi, urusan masing2 orang dengan Tuhannya. Belajar dari sejarah kelam tahun 2000 itu, gw ngdukung aksi bakar KTP kawan2 di Bali setelah gw ninggalin Denpasar waktu itu. Btw…di Balikpapan, dengan predikat manajemen kependudukan terbaik se Indonesia, keknya ga bakal ada aksi pembakaran KTP, soalnya dapet KTP disini, amat sangat sulittt!