Kamis, 22 Juni 2006

Di sini korupsi, di sana bencana

Cemas. Gundah. Gila. God, jadiin gw sinterklas...!
Mama nelfon tadi. Ini pertama kalinya kami bisa ngobrol sejak bencana. Mama ngabarin, Bapak sama sekali ga mau diajak ngungsi. Duh...! Mama bilang, ga tau juga maunya apa. Anak, istri, cucu, disuruh ngungsi semua, sementara Bapak memilih bertahan di rumah.

Padahal tetangga depan, rumahnya udah ancur tertimbun longsoran. Rumah kami memang di punggung bukit. Posisi rumah di bagian bawah jalan. Tetangga yang ancur rumahnya, di atas jalan raya. Kalo yang rumah bagian atas saja udah ancur tertimpa longsor, apa bisa tenang mikirin Bapak?

Kk gw yang biasanya sangat diandalkan bisa melumerkan hati Bapak, baru bisa ninggalin Jakarta tar malem. Tiket sambungan dari Kualalumpur-Singapur-Jakarta kemaren ga bisa diutak-atik lagi. Katanya karena udah berkali-kali diubah jadwalnya. Pasrah. Air mata udah enggan netes.

Sampe sore ini udah hampir 200 korban tewas yang ditemukan. Yang belum ditemukan juga sekitar 200 orang. Gw cuma bisa ternganga tiap ngeliat update berita di layar komputer. Setiap 30 menit, korban nambah 10, 20, 30...duhhh...!

Kata Ical, uang di Depsos udah abis. Kami ga minta kok! Cukup hukum para perusak lingkungan. Kembalikan kampung halaman gw yg dulu duinginnnn. Kami ga nuntut macem2 meski kami ga punya satupun perahu karet. Jangan ditanya soal alat berat, ga ada!

Meski Sinjai daerah minus, kami cukup survive menghidupi diri sendiri dari ladang yang Alhamdulillah ga tandus. Dari apel, strawbery sampe kelapa, bisa tumbuh subur. Daerah pesisir yang habis disapu banjir bandang itu, masih bisa ekspor hasil laut. Anak2 bisa sekolah dan orang sakit bisa dirawat gratis dari APBD yang terbatas.

Tapi, tolong kembalikan hutan kami. Hukum para perusak hutan yang kau beri hak menebang pohon2 itu. Tidakkah kau lihat Gunung Bawakaraeng yang menyimpan banyak misteri kematian para pendaki dan pecinta alam itu telah lama murka? Tapi kayu2nya masih juga dihabisi, lahannya dibanguni villa2 cantik bergaya Eropa.

Saat kecil dulu, tiap sore gw bantuin Bapak bikin pembibitan segala macem tanaman buah, jati, dll. Mulai ngisi polibec dengan tanah dan pupuk sampe perawatan bibit. Gw selalu nurut karena itu berarti gw bisa sambil maen air pas nyiram tanaman. Tapi kalo pagi, wah, males banget dah deket2 air, duinginnnn sih.

Ketika bibit2 itu agak besar, Bapak mindahin ke mana2 terutama pinggir2 jalan raya buat tanaman pelindung. Tapi orang2 pada protes Bapak nanem pohon di pinggir jalan. Mereka pikir Bapak bakal mengklaim tanah2 itu sebagai miliknya karena pohonnya punya Bapak. Teganya lagi, tanaman itu bahkan dicabutin. Gw yang ngeliat kejadian itu cuma nangis diem2.

Lebih parah lagi dikira Bapak ngejar penghargaan Kalpataru. Najes dah, liat senyum Soeharto aja TV dilemparin ma bapak. Duh, begonya. Gw aja yang masih kelas 1 SD bisa ngerti kalo itu tanaman pelindung. Cuma, bapak sengaja milih pohon buah2an biar kalo lagi musim, orang2 yang lewat jalan raya bisa nyicipin. Sekedar penghilang haus.

Buktinya, rambutan dan buah2an lain di tepi jalan depan rumah kami selalu jadi rebutan para kenek ketika melintas. Cara motong tangkainya emang kasar tapi Bapak ga pernah marah, karena jerih payahnya ada gunanya buat orang lain. Sementara tanaman jatinya, Bapak yang punya bibit, yang nanem, yang punya lahan, eh, yang rumahnya mentereng dengan kayu jati malah orang lain.
***
Gimana gw ga gemes ma pencuri kayu? Sinjai sekarang hancur. Gw kehilangan banyak keluarga jauh, temen2 SMA, banyak! Lalu di sini, di Kaltim, pencuri kayu jauh lebih gila. Dari satu kabupaten, sebulan bisa diangkut sekitar 36.000 meter kubik. Kalo harga sekubik kayu Rp 600 ribu, berapa kerugian negara yang dtimbulkan?

Kerugian negara gede tapi kerusakan lingkungan jauh lebih parah. Akibatnya, Malinau banjir, Kutai Barat banjir. Itu baru perkiraan data yang illegal. Sementara yang legal, sekitar 440.000 hektar. Katanya buat sawit, nyatanya udah enam tahun setelah kayunya dibabat, sawitnya ga nongol2. Tapi KPK udah bertindak. Gubernur ditahan karena dianggap merugikan negara Rp 440 miliar. Yang lain kapan nyusul? Mau nunggu Kalimantan jadi gurun atau pilih jadi kayak Sinjai?

18 komentar:

yoyok mengatakan...

salut buat bapaknya yati
titip salam

semoga keluarga yati baik2 aja
ga ada kerugian atau kehilangan lagi

BuRuNG mengatakan...

Gut >:D<

may hendrawati mengatakan...

tadi pagi saya nonton berita tentang Sinjai di metro, Rachmat Witular berjanji akan mencari pelaku penebangan hutan disana.

Kita lihat saja, semoga keadilan bisa ditegakkan

dianika mengatakan...

Beberapa hari nggak sempet masuk ke blog ini.Duh.. padahal aku kangen baca tulisannya.. padat banget data dan ok cara nulisnya

Mbak, yang tabah ya. Keep on fighting for justice!

Merdeka...

awan mengatakan...

wah, gw ga bisa berkata2 kali ini. yang jelas, teriring do'a dari sini...

Dini mengatakan...

Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun...
That's all I can say for now, may 4JJI bless you all :(

Hedi mengatakan...

yat...semoga tabah dan segalanya membaik...emang perusak hutan itu sucks!!

*baru tau kalo kamu dari Sinjai (atau kebetulan aja keluarga ada di sana?)*

Yati mengatakan...

gw asli sana mas...lahir dan besar di sana... (yati)

nie mengatakan...

duh... kejamnya para penebang hutan itu. demi uang mereka buat sengsara sesama satu negara sendiri >.<

danudoank mengatakan...

kata petinggi banjir itu krn hujan yg trus-menrus jadilah bah... bah cem mana yah :d. semoga keluarga di sinjai selalu dalam lindungan allah swt, amin

johan mengatakan...

mbak ... gw yakin kalo kamu ada di tempat bapakmu .. kamu juga akan ngambil sikap n\kayak bapakmu ... kalian nampak se-ide deh rasanya .......

Anonim mengatakan...

hi yat..
salut ama cerita Bapak...
semoga semuanya selamat dan aman2 aja...
hukum mati para pembalak, baik yang legal maupun ilegal...

rusle'
www.noertika.wordpress.com

achmadbintoro mengatakan...

ee..e yang mau ke Sinjai. Jadi neh berangkat besok? Jangan lupa ya oleh2 dari sono...pasti deh seru bisa untuk bahan cerita bersambung.

gagahput3ra mengatakan...

hiks...sedih baca ceritanya....T_T

nyomnyom mengatakan...

like father, like daughter..I like them both !!! Sekali lagi, semoga tabah dan sekeluarga dilindungi Tuhan selalu..

G mengatakan...

Kejadian yang sama sama kampung halaman saya (garut)-terutama Hutan sancang , meski tidak secara langsung (belum kali yah) Hutan yang tadinya rapat dengan pohon pohon yang begitu besar dengan monyet2x yg bergelantungan, sekarang dah kayak Gurun pasir :( . Masyarakat asli juga bingung mau ngapain ketika mendengar deru gergaji, karena satu satunya pihak yang bertanggung jawab untuk itu (Perhutani) mandul.
Turut sedih juga apa yang dialami kamu dan keluarga.

Salam

meke mengatakan...

wah kalo kalimantan jadi gurun gimana panasnya yak?wong gini aja dah panas bgt.moga semuanya baik-baik ja ya.lam kenal...

Munawir mengatakan...

saya juga orang sinjai :(

http://anaugie.blogspot.com/2006/06/sinjai.html