Selasa, 21 Februari 2006

Upeti Untuk Raja, Karpet Merah Untuk Maling

ECW Neloe, I Wayan Pugeg, M Sholeh Tasripan, divonis bebas. Sidang sebelumnya, mereka dituntut 20 tahun penjara, denda Rp 1 miliar dll. Padahal uang negara yang melayang ditangan mereka sekitar 160 miliar. Sebagian udah diendapkan di rekening masing2 di Swiss sana.

Hebat. Dan senyum bahagia mereka mengembang saat keluar dari pengadilan membawa kabar vonis bebas. Duit segede itu memang bisa jadi benda paling sakti.

Dan presiden minta penjelasan mengapa mereka bebas. Hahaha....si muka dua. Minggu lalu dia malah nerima tamu dari luar negeri. Tamu katanya? Padahal sih maling, ngemplang uang negara. Disambut di istana dengan karpet merah. Katanya mereka orang2 yang harus dihormati karena mereka datang baik2 untuk menanyakan kepastian hukum di Indonesia.

Kepastian hukum katanya? Padahal ketika mereka abis ngembat duit di Indonesia, mereka maen kabur aja ke luar negeri, ga peduli hukum. Dan kini mereka dengan ringan pulang ke Indo, langsung ketemu bosnya di istana. Dapet apa ya? Apa lagi-lagi duit menunjukkan kesaktiannya?

Coba, apa maling ayam juga bakal disambut dengan karpet merah di istana oleh Bapak Presiden Yang Terhormat kalau mereka datang untuk bertanya tentang kepastian hukum? Oh...presiden kita baik sekali???

10 komentar:

bondeng mengatakan...

saya mau lapor om bambang deh!
om bambang.. yati om!

Yati mengatakan...

hehehe...om bambang sapa sih? bambang cendana ya? jangan dong...tar diperkosa hahaha...

Luigi mengatakan...

miris memang melihat realita yang ada.. :) sama persis kok dengan apa yang terjadi di negeri si bau kelek ini...lebihparah malah.

Seneng udah bisa mampir kesini, salam hangat dari afrika barat :)

Dini mengatakan...

hey, lam kenal juga... love your blog's theme...
postingnya emosi amat non, tapi yang pasti... seru!
:P

nie mengatakan...

apa toh ini yat? hehehehe...
aku rak ngerti nih...

eh ya, met weekend yah! God bless :)

Awan Diga Aristo mengatakan...

Udalah... kita majukan usulan hukuman potong tangan potong kaki aja...

gagahput3ra mengatakan...

yg kayak bgitu harusnya telanjang diarak keliling Jakarta di atap Bajaj. Biar getar......

sireum mengatakan...

salam kenal juga yati.. ;)

Yati mengatakan...

hmm...bapak presiden yang terhormat...terima kasih atas jawaban bapak atas tudingan karpet merah. JAwaban bapak sekaligus mengakhiri debat di blog ini.
Hahahaha....GR amat yak gw????? Pokoknya gw ngutip jawaban SBY dari kompas. Ini jawabannya:

Tidak Betul Ada Karpet Merah
Presiden: Pemberantasan Korupsi Tak Mungkin Dihentikan

Suhartono

Phnom Penh, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyayangkan adanya syak wasangka dirinya memberikan karpet merah kepada para pengutang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Para debitor harus mengembalikan utang dan menjalankan kewajiban, termasuk mereka yang harus dihukum.
Demikian penegasan Presiden Yudhoyono menjawab pers sebelum mengakhiri kunjungan kenegaraan di Kamboja, Rabu (1/3). Dalam jumpa pers itu Presiden sekaligus menjawab tuduhan bermacam-macam akibat kedatangan tiga debitor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) ke Kantor Presiden awal Februari lalu. ”Waktu itu yang saya tahu, karena saking semangatnya, mereka berusaha bertemu menteri-menteri dan pihak-pihak terkait yang kebetulan saat itu sedang di Istana,” katanya.
Kejadian itu tidak harus menimbulkan syak wasangka. ”Ada kalimat-kalimat yang saya sayangkan. Ada apa kok mereka ke Istana. Ada yang menyebut koruptor dikasih karpet merah. Siapa yang kasih karpet merah? Koruptor itu dicari untuk kembalikan uang negara. Kalau harus kembalikan kewajiban negara, ya kembalikan. Jika harus menjalankan hukuman, ya jalankan hukuman itu. Tolong kita bicara jernih dan rasional. Jangan membuat rakyat bingung,” ujarnya.
Menurut Presiden, tiga debitor itu datang untuk mengembalikan dana BLBI yang berjumlah Rp 1 triliun. Ia menilai hal itu sebagai sesuatu yang baik.
”Bagaimana tidak baik, mereka yang harusnya menjalankan hukuman kabur dan selama ini tidak bisa kita cari, lalu mulai kembali. Ini tidak salah. Justru ini yang kita harus lakukan. Saya tak habis pikir, kalau meminta mereka kembali untuk melunasi kewajiban atau menjalankan hukuman, mengapa itu dianggap salah?” katanya. bla bla bla....dipotong...)

Yati mengatakan...

hmm...bapak presiden yang terhormat...terima kasih atas jawaban bapak atas tudingan karpet merah. JAwaban bapak sekaligus mengakhiri debat di blog ini.
Hahahaha....GR amat yak gw????? Pokoknya gw ngutip jawaban SBY dari kompas. Ini jawabannya:

Tidak Betul Ada Karpet Merah
Presiden: Pemberantasan Korupsi Tak Mungkin Dihentikan

Suhartono

Phnom Penh, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyayangkan adanya syak wasangka dirinya memberikan karpet merah kepada para pengutang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Para debitor harus mengembalikan utang dan menjalankan kewajiban, termasuk mereka yang harus dihukum.
Demikian penegasan Presiden Yudhoyono menjawab pers sebelum mengakhiri kunjungan kenegaraan di Kamboja, Rabu (1/3). Dalam jumpa pers itu Presiden sekaligus menjawab tuduhan bermacam-macam akibat kedatangan tiga debitor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) ke Kantor Presiden awal Februari lalu. ”Waktu itu yang saya tahu, karena saking semangatnya, mereka berusaha bertemu menteri-menteri dan pihak-pihak terkait yang kebetulan saat itu sedang di Istana,” katanya.
Kejadian itu tidak harus menimbulkan syak wasangka. ”Ada kalimat-kalimat yang saya sayangkan. Ada apa kok mereka ke Istana. Ada yang menyebut koruptor dikasih karpet merah. Siapa yang kasih karpet merah? Koruptor itu dicari untuk kembalikan uang negara. Kalau harus kembalikan kewajiban negara, ya kembalikan. Jika harus menjalankan hukuman, ya jalankan hukuman itu. Tolong kita bicara jernih dan rasional. Jangan membuat rakyat bingung,” ujarnya.
Menurut Presiden, tiga debitor itu datang untuk mengembalikan dana BLBI yang berjumlah Rp 1 triliun. Ia menilai hal itu sebagai sesuatu yang baik.
”Bagaimana tidak baik, mereka yang harusnya menjalankan hukuman kabur dan selama ini tidak bisa kita cari, lalu mulai kembali. Ini tidak salah. Justru ini yang kita harus lakukan. Saya tak habis pikir, kalau meminta mereka kembali untuk melunasi kewajiban atau menjalankan hukuman, mengapa itu dianggap salah?” katanya. bla bla bla....dipotong...)