Rabu, 13 Februari 2008

Jalan Baru Soeharto, Amrozi dan FPI

Orang gila baru terlahir di Sleman. Namanya Ibnu Subiyanto. Konon kata berita ini, dia berencana mengubah nama Jalan Godean menjadi Jalan Soeharto. Katanya, dia ga akan ambil pusing sama orang2 yang ga setuju sama usul itu. Yang lebih menjijikkan lagi, dia bilang, dengan cara itu, dia ingin MENDIDIK masyarakat Sleman untuk tidak terus-menerus menghujat dan membenci almarhum.

Dia sama sekali ga kuatir soal kontroversi yang akan muncul. Rencananya, jalan yang akan diamai Soeharto itu mulai dari perempatan jalan lingkar barat hingga Jati Kencana. Selain itu akan dibuat pula patung Soeharto di perempatan jalan lingkar barat Demak Ijo kawasan Godean. MENDIDIK??? Ouh, terpuji banget bupati satu ini!

Rencana 'PERUBAHAN untuk MENDIDIK' itu, selain tentu saja bikin saya jijik, juga akhirnya berpikir, ternyata orang2 yang mendapatkan keuntungan sama dengan cara2 yang dilakukan Soeharto, cenderung akan menjadi pembela setianya. Karena, konon, bupati satu ini tersangkut soal korupsi pengadaan buku? Passss sekali! Dia rupanya ingin menyelaraskan tindakan korup dana bukunya dengan program pendidikan bagi warga yang masih menghujat Soeharto! Hahaha, pintar sekali! Eh, ternyata rencana Sutiyoso bikin patung pahlawan sesuai nama jalan, masih lebih masuk akal [tanpa ngomongin soal manfaat dll] dibanding ide gila satu ini, ya!

Saya cenderung setuju pada salah satu komentar di berita itu yang mengatakan seharusnya nama Godean jangan diganti jadi Soeharto karena Godean selalu mengingatkan orang pada Jogja. Iya, kenapa bukan jalan lain yang belum bernama aja yang dinamain Jl Soeharto? Atau di Kemusuk sana aja? Atau lebih baik lagi kalau tak pernah ada saja!

Saya ga bisa membayangkan kalo misalnya di sepanjang Jl Godean itu ada korban Orba alias korban Soeharto [semua pasti korban, tapi persoalannya, mereka merasa atau nggak] yang masih tinggal di sana. Bertahun-tahun mereka terbelenggu hukum ala Soeharto, mengalami amat sangat banyak kehilangan dalam hidupnya, dan setelah Soeharto mati, mereka pun masih harus hidup dalam bayang2 manusia satu itu? Hufhhh....ga capek?

Kalo biasanya nama jalan diambil dari nama pahlawan atau orang2 yang patut dikenang karena nama baiknya, lalu Soeharto yang belum jelas nama baiknya itu kok bisa melintas di otak Ibnu untuk dijadiin nama jalan? Saat ngobrol dengan Momon, dia bilang, "Kalau pak harto jadi nama jalan, berarti kan Amrozi bisa jadi nama jalan juga. Dia membela kepentingan orang islam ektremis". Oh, iya, dan saya bilang, skalian aja nanti ada Jalan FPI. Kalo ada jl FPI di Jakarta, gimana bikin patungnya yak? :p

15 komentar:

Herman Saksono mengatakan...

Aku heran. Bulan 8 Ibnu Subiyanto adalah tersangka. Bulan 9 dia saksi. Bulan 2 tahun berikutnya dia membela Pak Harto.

mat mengatakan...

mo nyaingi Jalan Herman Saksono di Sagan kali, mbak.. :D

mbahsangkil mengatakan...

weleh... jalan rumah saya mau dijadiin Jln. Soeharto? SAYA GAK SUDIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

bah kalo ngurus surat-surat ntar jadi
alamat rumahnya jln suharto... Ogaaahhhh Deeeehhhhhhhhh

ms. anya mabodo mengatakan...

ah, mbak yati
gw bukan penggemar soeharto tapi kalo lo bahas terus soal remeh-temeh soal soeharto bisa bosan gw hehehe (gw kan pembaca mbak, boleh dong protes)

tuh, soal dana blbi yang nyuri uang rakyat selama 10 taon kok bukan itu yang ditulis?
jangan tumpul dong, mbak..dan jangan mihak ato karena 'begitu-benci' ma keluarga cendana dan sirkus srimulat, eh sirkus dpr jadi 'alergi' nulis soal itu. kebenaran kan gak milih dilakukan oleh siapa dan dimana he3x

masalah nama jalan itu kan cuman kerjaan penjilat bodoh yang gagal audisi jadi artis di acara 'mamamia' hihihi, toh gw yakin masyarakat disana gak akan begitu saja setuju soal penggantian nama jalan itu. dan soeharto dah mati mbak, kasusnya dan kelakuan anak2nya aja yang disinggung jangan pribadinya. dia itu manusia juga, jangan membenci orangnya to, mbak :)

gak ada aturan sih lo mo nulis apa saja dan siapa aja yang baca, cuman saran aja mbak, kalo nulis--meski agitatif--jangan ngebosenin he3x, ntar kaya sinentron---ngebosenin :)

Gagah Putera Arifianto mengatakan...

No comment....udah cukup urat leher ini bengkak....

Buat mas anya mabodo...komentar di internet itu ada dua....pure comment sama trolling, nah yang mas itu namanya trolling, mas menyerang si penulis, bukan isinya. Tolong dong mas...kita disini kan belajar demokrasi...hormatin dong opini orang.....

ms. anya mabodo mengatakan...

mas gagah yang tidak cakep,

gw mo kasi comment, gak tau commentnya si pure saturday atau commentnya si troll di harry potter :D

kalo no comment, kenapa berkomentar???

kalo bicara demokrasi, kenapa menghujat balik???

kalo bicara menyerang penulis, lha gw kan gak kenal si penulis, kenapa mesti diserang???

gw cuman menyatakan pendapat gw, demikian pula anda :)

kayaknya waktu reformasi 98 anda belum lahir atau mungkin anda harus lebih sering nongkrong di toko buku, baca tuntas 'pengertian' demokrasi, kalo perlu beli!!!

enbe: setelah ini gw gak akan balas comment lagi, ini blognya orang, hormatilah penulisnya hehehe

Mas Kopdang mengatakan...

jalan tidak berarti apa-apa...
bahkan jalan KRMT Roy Suryo berjajar dengan Jalan Soeharto di protokol jalan utama pun tak masalah...

selama itu berada di Kota Kuala Lumpur dan sekitarnya..
:D

puput mengatakan...

aahhh, Godean!!! selalu lewat sana!
kemusuk? jangan donk mbak, itu juga Jogja bangeth. mending ga usah aja.

ms anya mabodo punya blog?

yanworks mengatakan...

gak pengaruh buat saya, tapi saya juga gak setuju. mosok nanti saya tiap hari lewat jalan suharto. nanti bensin di motor saya ikutan di korupsi gimana?

Gagah Putera Arifianto mengatakan...

mas anya mabodo yang gak terlalu pinter (alias bodo)....saya bersyukut anda sadar juga kalau ini blog orang dan kita harus menghormati penulisnya. Kalo anda merasa mengerti demokrasi, lebih tua dari saya dan lebih cakep dari saya, disini ada beberapa poin yang ingin saya tanyakan.

1. Anda merasa demokrasi berarti tidak bisa menghujat balik. Lalu yang terakhir anda post itu apa? Guna-guna? Pelet? Tentunya itu adalah komentar balasan karena anda tidak setuju dengan komentar saya. Dan karena anda merasa mengerti demokrasi, saya yakin anda tahu kalau demokrasi pengertiannya adalah Dari subjek, untuk subjek, oleh subjek. Karena itu, demokrasi tidak melarang adanya ketidak setujuan, hanya sifatnya harus KOREKTIF. Nah, yang mas bodo tulis pertama kali itu sudah cukup korektif, cuma ada kesan menyerang penulis, seperti yang mas tulis di komen terakhir mas, mas menyerang saya. ITULAH YANG NAMANYA UNCIVILIZED DEMOCRACY (DEMOKRASI BINATANG). Dan kayaknya rata2 orang indo lebih ngerti demokrasi binatang daripada demokrasi sebenarnya.

2. Anda bilang anda gak kenal penulis, ngapain diserang? Nah itu dia mas nyadar sendiri. Ngapain mas nyerang penulisnya? Katanya gak kenal?

3. Anda belom pernah denger yang namanya no comment for a comment? Itu kayaknya praktek paling baku di media deh mas.

4. Ya, saya memang baru berumur 8 tahun waktu 98. Tapi saya bangga, pengetahuan saya akan Rezim(ingat, rezim) Soeharto masih lebih baik daripada orang2 yang sekarang ngaku ikut demo tahun 98 tapi mau ngasih gelar pahlawan buat Soeharto.

Dari komentar mas terakhir ketahuan siapa yang lebih sering baca buku tentang demokrasi.

Enbe : Saya akan terus membalas komentar2 orang yang bertujuan menjatuhkan orang lain, karena sesuai definisinya, ini adalah public comment space yang dimoderasi. Jadi sekarang terserah mbak Yati aja mau didelete atau gak komen saya. =|

Anonim mengatakan...

~ comment pertama saya menanggapi comment. ini ajaib :p ~
para komentator yang baik...
terima kasih udah mampir dan comment di sini. anda memasuki zona bebas berkomentar tanpa moderasi. tapi di blog saya udah ada pengumuman, bagi yang tidak suka berada di sini, cukup klik tanda X pada sudut kanan layar monitor anda.
tidak ada batasan umur, gender, agama, kebangsaan, ketampanan, kecantikan, untuk berkomentar. meski usia saya mungkin sewindu bahkan hitungan dasa :p lebih tua daripada Gagah, saya juga masih belajar.
jadi, tenang, Gah, kita sama2 pelajar kok!
ini mungkin pertama kalinya saya ngomentarin komentar di blog saya sendiri. soal BLBI, di tulisan2 sebelumnya sepertinya ada, tapi kan tergantung mood mo nulis apa. mungkin terdengar egois dan tidak menghargai pembaca, tapi saya memang tidak pernah berniat untuk memuaskan keinginan pembaca saya. saya menulis karena saya ingin menulis! itu saja.

yati

leksa mengatakan...

itung aja mbak,...
berapa anak cendana yang nongkrong di Partai sekarang...

TOP UP semua posisi nya..
kayak ngisi pulsa,..

Wajar kalo pada ngejilat...

-tikabanget- mengatakan...

gak bisa ditolak ya rencana itu?

sluman slumun slamet mengatakan...

soeharto lagi....

mercuryfalling mengatakan...

kalo jalan fpi, ya patungnya si riziq donk, komplit dg janggutnya.

ah, salut ama dik gagah yg pintar.meski baru 8 th waktu itu tapi berwawasan ttg eyang.