Hari-hari ini, konstalasi politik kian panas di negeri antahberantah. Apalagi sejak diperdengarkan rekaman telepon yang disadap di gedung berkubah. Mendengar isi rekaman itu, rasanya tak cukup dengan hanya mengatakan ini adalah buah persekongkolan para bedebah seperti judul Koran Tempo, Rabu (4/11).
Apalagi setelah menyimak isi rekamannya. Menjijikkan! Sangat jelas terlihat betapa penegakan hukum bisa sangat tergantung pada satu pengendali bernama DUIT dan semuanya bisa diselesaikan lewat telepon si pemilik modal bedebah itu! Bayangkan, penegakan hukum dikendalikan hanya seorang tua itu dari telponnya!
Anggodo dihubungi seorang pria:
23 Juli 2009, jam 19.29.45
Male : Kowe wis ketemu Truno? (sebutan untuk petinggi Polri di Jalan Trunojoyo) >>> kamu sudah ketemu Truno?
AGD : Wis mambengi (sudah tadi malam)
Male : Si Mursidin gelem? (mau?)
AGD : Yo tetep to (ya tetep)
Male : Rencana operasine (oeprasinya) kapan?
AGD : Apa?
Male : Rencana operasine (operasinya) kapan?
AGD : Pokoke berkase iki keto'ane dileboke ning nggone Ritonga minggu iki (pokoknya berkas ini kelihatannya dimasukkan ke tenpat Ritonga minggu ini)
Male : He eh
AGD : Trus balik kene, trus action (terus kembali ke sini, terus beraksi)
Male : Nek..Nek RI-1 durung? (kalau...kalau RI 1 belum?)
AGD : Wis..wis.. (sudah...sudah)
Male : Katane mo maju RI-1 sik (katanya mau maju RI 1 dulu?)
AGD : Sik..sik.., aku je nyocokno tanggal (nanti nanti, saya sedang mencocokkan tanggal)
Anggodo dihubungi seorang pria.
24 Juli 2009, pukul 12:25:27
AGD : Yo pokoke saiki berita acarane kene dikompliti ngono loh (ya sekarang berita acaranya dilengkapi gitu lho)
Male : He eh
AGD : Wis gandeng karo Ritonga kok dek’e. Janjine paling lambat Senen ambek Ritonga (Dia sudah menggandeng Ritonga kok. Janjinya paling lambat Senin k Ritonga)
Male : Senen opo?
AGD : Janjine ambek Ritonga (janjinya ke Ritonga)
Male : He eh
AGD : Sik final gelar iku sama Kejaksaan lagi terakhir Sela...Senin (Sebentar, gelar final bersama Kejaksaan yang terakhir itu Sela...Senin)
Male : Oooo, yo, yo, yo, sambil ngenteni surate RI-1 to nek? (Ooo ya ya, sambil nunggu surat RI 1 ya?)
AGD : Tak kiro kok wis nggak (saya kira sudah tidak)
Male : Lah, kon takok'o Truno 3 to.. masih perlu (Lah, kamu bertanyalah kepada Truno 3...masih perlu)
Anggodo dengan Yuliana
06 Agustus 2009, pukul 20.14.36
AGD : Trus, iku surat pencekalane gak diakoni karo KPK? (trus itu surat pencekalannya tidak diakui KPK?)
Y : Iyo, tapi ditakoni tandatangane nde sopo? Iya toh, ndeke ora njawab, modele bajingan kabeh yang, Chandra yang.. Wis blesno wae yang, ojo ragu-ragu. Pak Ritonga maeng SMS aku, rasane de'e besok pijet aku (Ya, tapi ditanyakan tanda tangannya kepada siapa? Ya kan? Dia tidak menjawab. Dasar bajingan semua, yang, Chandra yang. Sudah, jebloskan saja yang, jangan ragu-ragu. Pak Ritong tadi SMS saya. Kayaknya dia besok akan pijat bersama saya)
AGD : Terus ngomonge yok apa dek'e? (Terus apa omongannya?)
Y : Pak Ritonga mau SMS dek'e leg dino iki gak iso, besok ngono (Pak Ritonga tadi SMS bahwa dia hari ini tidak bisa. Besok mungkin)
Y : Wis maeng aku telpon, Pak gimana? Udah bagus to sekarang itu, lihat kacau semua itu, jare ngono (Tadi saya sudah telpon, Pak, bagaimana? Sudah bagus kan sekarang, lihat, kacau semua itu, begitu katanya)
AGD : Mosok ngomong ngono (masak bicara begitu)
Y : Iyo, ngomong ngono (iya ngomong gitu)
AGD : Terus
Y : Nanti besok aja cerita ya, jangan di sini ya? Ngono, bagus jere.. Pokok'e saiki memang Pak Rito, mati tak telpon. Pokoke bilang Anggodo suruh crita semuanya, ngerti, tahu gak? Karena ini, kali gak gitu, mati sendiri, ngerti gak? Polane saiki Pak iku SBY mendukung. Ngerti? SBY tuh dukung Ritonga loh, de'a loh, ngerti? (Nanti besok aja cerita ya. Jangan di sini ya. Itu bagus. Pokoknya sekarang memang Pak Rito tidak isa ditelepon. Pokoknya bilang Anggodo disuruh bercerita semuanya, ngerti? Karna ini, kali ini tak begitu, mati sendiri, ngerti? Polanya sekarang Pak itu...SBY mendukung. Ngerti? SBY tuh mendukung Ritonga. Dia disuruh bercerita semuanya. Ngerti?)
AGD : Nah, terus?
Y : Sak jam tak telpon aku ngomong, heh, opo, wis pokoke Anggodo. Anggodo he bilang Pak Anggodo, ya, omong seadanya, yang betul, ngerti? Kalo ga gitu, nanti bisa mati. Kita yang mati nanti, ngomong ngono, ambek aku ngono, persis iki omonganku. Oya, Pak, terus gimana, Pak? Ya, pokoknya bilang, ngomong. Eh, pokoknya ngomong sing betul, Ya, kalo ndak gitu nanti kita yang mati, ini Pak SBY ngerti, SBY itu mendukung kita, ngerti? Loh, wis toh, wis ngono tok dek'e ngomong
Ckckckck...jago kan? Bahkan orang tertinggi di negeri antahberantah ini juga disebut memberi dukungan penuh. Apa artinya ini? Berarti, terlibat?
Lalu, mari kita lihat soal bayaran untuk pengacara, jatah untuk polisi dan jaksa. Semuaya bisa selesai dengan uang!!! Ada pembagian jatah, woy!
Anggodo dengan Alex, pengacara Anggoro
19 September, pukul 19.54.12
AGD : Pembagian terakhirnya khan berapa lu? Berdua berapa, 5 M khan?
Alex : O, yang itu maksudnya, yang pos..pos anggaran
AGD : Ya, gua ngak tau krite..menurut gua pikir-pikir dia..mungkin maksudnya itu lu borong itu sama Bonaran
Alex : Maksudnya borong gimana, Pak?
AGD : Polisi lu yang kasih, jaksa lu yang kasih
Alex : O..ndak...ndak...ndak..ndak...sudah bicara kok..
Dan ini yang lebih ngeri. Rencana Chandra di-Munir-kan. Menurut saya, ini bukan sekedar obrolan antar dua orang tapi memang ada ancaman pembunuhan. Jadi, makin heranlah saya kalo dibilang si cukong tak kunjung ditemukan kesalahannya hanya karena dia cuma ngobrol2 di telepon. Cih!!!
Anggodo dengan seorang pria
16 September 2009, pukul 18.52.26
AGD : Ooo yo wis, wis telung wulan gak makan enak dino iki ate mangan enak (oo ya sudah, sudah tiga bulan tak makan enak, hari ini mau makan enak)
Male : Ooo siap bos siap bos
AGD : Soale aku mari antem-anteman karo Alex ndek kene (Soalnya aku baru saja berkelahi dengan Alex di sini)
Male : Hahahaha
AGD : Ternyata Truno tiga komitmen-nya tinggi sama saya
Male : Oo gitu, bos, ya
AGD : Lha kan wis mlebu bos wingi (Lha kan sudah masuk Bos kemarin)
Male : Iyo?
AGD : Gak dilebokno tapi wis ndek SK (Tidak dimasukkan tapi sudah ada di SK)
Male : Ooo siap, siap bos
Anggodo : Saiki non aktif, tapi katut koncone kene sithuk (sekarang non aktif tapi temannya ikut kena satu)
Male : Pak Ade
AGD : Dudu
Male : Sopo?
AGD : Bibit
Male : Oo itu tetep kenek? (Oo, itu tetep kena)
AGD : Yo wee, ilek iku kan ijek konco kene bos (Ya sudah, ingatkan, itu kan masih teman sendiri bos)
Male : Ooo gitu
AGD : Tapi lek sing sithuk Chandra sesuk dilebokno, malah tak pateni ndek njero kok (Tapi kalau teman yang satunya, Chandra besok dijebloskan. Malah akan kubunuh di dalam kok)
Akan jadi apa negeri ini? :(
Kamis, 05 November 2009
Kamis, 29 Oktober 2009
Bicaralah Tuan, Jika Kau Punya Mulut
Saya tidur sejak sore dan baru bangun setelah magrib, membuka situs berita, dan terperangah melihat perkembangan kasus wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit dan Chandra. Keduanya ditahan oleh polisi petang tadi.
Ouh, jadi ini yang dimaksud oleh polisi: akan memberi keterangan dan klarifikasi? Kejutan hebat! Selamat pak polisi. Setelah bertindak layaknya buaya, yang selalu tertutupi berita penyergapan teroris sejak kemarin-kemarin, hari ini rupanya memasuki puncak atraksi.
Dua orang yang kumisnya mulai ubanan itu harus dijebloskan ke penjara. Saya sungguh ingin tahu, seberbahaya apa sih mereka? Akan lari keluar negeri seperti Anggoro? Atau akan tiba-tiba sakit seperti koruptor lain yang pernah mereka tangani? Atau mereka tidak akomodatif dan mempersulit proses pemeriksan?
Plis, saya, rakyat bodoh yang merasa dunia hukum negeri ini kian gelap gulita, meminta pencerahan.
Bapak2 polisi yang terhormat, apa sih kesalahan mereka?
Ada pasal yang berubah dari penyuapan ke pemerasan, apa artinya ini?
Ada pasal penyalahgunaan wewenang, tidakkah hal itu diatur dalam undang-undang tentang KPK? Jika hal itu salah, maka salah pula undang2nya, tapi kenapa baru dimasalahkan sekarang?
Lalu, tidakkah polisi juga sedang melakukan penyalahgunaan wewenang dengan menemui seorang yang dinyatakan buron dengan diam2?
Lalu begitu banyak nama-nama yang disebut dalam rekaman, tidakkah itu seharusnya diusut juga?
Jika Bibit dan Chandra akan lari, seberapa sih kekuatan mereka dibanding pasukan polisi se-nusantara ini?
Jika bapak polisi yang terhormat tak bisa menjawab ini, saya menunggu tuan yang mulia melerai pertikaian cicak dan buaya yang didiamkannya begitu lama sehingga terkesan pejabat KPK memang dengan sengaja dikriminalkan.
Bicaralah tuan, jika kau punya mulut! Bukankah pemberantasan korupsi menjadi program dan janji kampanyemu sehingga begitu banyak orang berbondong2 memilihmu?
Bertindaklah tuan, jika kau punya sikap! Sehingga terang jalan bagi kami, para pendamba keadilan.
Ouh, jadi ini yang dimaksud oleh polisi: akan memberi keterangan dan klarifikasi? Kejutan hebat! Selamat pak polisi. Setelah bertindak layaknya buaya, yang selalu tertutupi berita penyergapan teroris sejak kemarin-kemarin, hari ini rupanya memasuki puncak atraksi.
Dua orang yang kumisnya mulai ubanan itu harus dijebloskan ke penjara. Saya sungguh ingin tahu, seberbahaya apa sih mereka? Akan lari keluar negeri seperti Anggoro? Atau akan tiba-tiba sakit seperti koruptor lain yang pernah mereka tangani? Atau mereka tidak akomodatif dan mempersulit proses pemeriksan?
Plis, saya, rakyat bodoh yang merasa dunia hukum negeri ini kian gelap gulita, meminta pencerahan.
Bapak2 polisi yang terhormat, apa sih kesalahan mereka?
Ada pasal yang berubah dari penyuapan ke pemerasan, apa artinya ini?
Ada pasal penyalahgunaan wewenang, tidakkah hal itu diatur dalam undang-undang tentang KPK? Jika hal itu salah, maka salah pula undang2nya, tapi kenapa baru dimasalahkan sekarang?
Lalu, tidakkah polisi juga sedang melakukan penyalahgunaan wewenang dengan menemui seorang yang dinyatakan buron dengan diam2?
Lalu begitu banyak nama-nama yang disebut dalam rekaman, tidakkah itu seharusnya diusut juga?
Jika Bibit dan Chandra akan lari, seberapa sih kekuatan mereka dibanding pasukan polisi se-nusantara ini?
Jika bapak polisi yang terhormat tak bisa menjawab ini, saya menunggu tuan yang mulia melerai pertikaian cicak dan buaya yang didiamkannya begitu lama sehingga terkesan pejabat KPK memang dengan sengaja dikriminalkan.
Bicaralah tuan, jika kau punya mulut! Bukankah pemberantasan korupsi menjadi program dan janji kampanyemu sehingga begitu banyak orang berbondong2 memilihmu?
Bertindaklah tuan, jika kau punya sikap! Sehingga terang jalan bagi kami, para pendamba keadilan.
Kamis, 08 Oktober 2009
Apa yang Anda Takutkan, Tuan?
Dua hari saya uring-uringan baca berita. Pertama karena berita konferensi pers mendadak Mr Presiden ini, dan kedua karena berita korupsi ayat tembakau dalam UU Kesehatan itu.
Pada berita pertama, saya sudah ngomel-ngomel sejak dari awal. Saya ingin bilang pada presiden yang terhormat, penting ga sih ngurusin apa yang diomongkan JK? Bukankah posisi Anda saat ini sudah cukup kuat sehingga satu partai beroposisi bisa dibilang nyaris tak akan ada pengaruhnya pada kekuatan pemerintahan Anda?
Coba berhitung, Anda pemenang pemilihan presiden dengan wakil yang bukan dari partai manapun. Lalu partai Anda juga memenangkan pemilu dan berhasil merebut nyaris separuh kursi parlemen, termasuk dari partai-partai besar mantan pemenang-pemenang sebelumnya. Lalu, nyaris semua partai kini berkoalisi dengan Anda.
Apa lagi yang Anda takutkan?
Maaf, setiap pemilu, saya memang tak pernah menggunakan hak pilih saya. Tapi saya merasa tetap berhak bersuara saat Anda, atau siapapun –orang yang tak saya pilih-- melakukan hal-hal 'cemen' seperti ini.
Bukankah banyak hal lain yang jauh lebih penting, bahkan sangat sangat penting untuk diurusi ketimbang mengomentari perhelatan satu golongan itu saja? Lihat korban gempa itu. Sampai detik ini, masih banyak dari mereka yang tak tersentuh bantuan. Lihat pertikaian cicak dan buaya itu. Masih banyak orang-orang kotor yang ikut memperkeruh air yang sudah keruh itu.
Apa sih yang Anda takutkan dari sebuah (hanya) harapan JK itu?
Seharusnya tak perlu cemas karena di sana ada orang yang loyal pada Anda dan hari ini ia mempersembahkan pagi yang indah buat Anda atas kemenangannya.
Jadi, apa yang harus ditakutkan, Tuan Presiden?
Pada berita pertama, saya sudah ngomel-ngomel sejak dari awal. Saya ingin bilang pada presiden yang terhormat, penting ga sih ngurusin apa yang diomongkan JK? Bukankah posisi Anda saat ini sudah cukup kuat sehingga satu partai beroposisi bisa dibilang nyaris tak akan ada pengaruhnya pada kekuatan pemerintahan Anda?
Coba berhitung, Anda pemenang pemilihan presiden dengan wakil yang bukan dari partai manapun. Lalu partai Anda juga memenangkan pemilu dan berhasil merebut nyaris separuh kursi parlemen, termasuk dari partai-partai besar mantan pemenang-pemenang sebelumnya. Lalu, nyaris semua partai kini berkoalisi dengan Anda.
Apa lagi yang Anda takutkan?
Maaf, setiap pemilu, saya memang tak pernah menggunakan hak pilih saya. Tapi saya merasa tetap berhak bersuara saat Anda, atau siapapun –orang yang tak saya pilih-- melakukan hal-hal 'cemen' seperti ini.
Bukankah banyak hal lain yang jauh lebih penting, bahkan sangat sangat penting untuk diurusi ketimbang mengomentari perhelatan satu golongan itu saja? Lihat korban gempa itu. Sampai detik ini, masih banyak dari mereka yang tak tersentuh bantuan. Lihat pertikaian cicak dan buaya itu. Masih banyak orang-orang kotor yang ikut memperkeruh air yang sudah keruh itu.
Apa sih yang Anda takutkan dari sebuah (hanya) harapan JK itu?
Seharusnya tak perlu cemas karena di sana ada orang yang loyal pada Anda dan hari ini ia mempersembahkan pagi yang indah buat Anda atas kemenangannya.
Jadi, apa yang harus ditakutkan, Tuan Presiden?
Selasa, 08 September 2009
Enaknya Jadi Anggota Dewan
Kalo ada yang ngamuk-ngamuk karena ga jadi dilantik menjadi anggota DPR dan DPRD, seperti yang terjadi di Parigi Muotong ini, wajarlah. Kalo misalnya anggota DPRD Subang nanti bakal protes dengan alasan, penurunan gaji memalukan daerah, wajar juga. Bukan apa-apa, ternyata jadi anggota DPRD, apalagi DPR itu, memang enak.
Lihat saja, belum seminggu dilantik, bahkan saya yakin mereka belum bekerja sama sekali, mereka udah bisa ngambil gaji duluan macam di Malang dan di Surabaya. Jumlahnya rata-rata Rp 15-16 juta per anggota. Jumlah untuk ketua, wakil ketua, dan ketua komisi tentu lebih besar lagi. Tapi sementara ini disamain dulu karena perangkat pimpinan memang belu terbentuk. Nah lho, bahkan kepengurusan juga belum terbentuk, udah gajian!
Bahkan belum dilantik pun, pelayanan yang diberikan pada mereka, orang-orang yang katanya terpilih ini (ya, terpilih dari balik bilik suara) sudah diberikan secara paripurna (halah, ngerti paripurna juga ga :p). Mereka diinapkan di hotel berbintang selama beberapa hari, katanya dikarantina. Entah dikasih bekal apa. Pengawalan super ketat. Dikasih baju, jas, dll, seperti mereka tak mampu beli sendiri (bisa jadi juga mereka udah kehabisan duit saat kampanye kemarin).
Bagaimana di DPR? Woh, di sini jelas harus lebih wah! Namanya juga di pusat. Biaya pelantikan saja, menghabiskan dana Rp 11 miliar lebih. Ongkos pindahan mereka lebih gede lagi, Rp 26 miliar. Ya, anggota dewan yang berasal dari luar Jakarta, harus pindah ke Jakarta. Duit segede itu termasuk ongkos tiket sekeluarga, pindah rumah, pengepakan dan pengiriman barang. Hmmm...enak yooo?
Pelantikan anggota DPD? Sama saja. Dana yang telah disediakan untuk mereka besarnya Rp 6,6 miliar. Diapain sih dana sebesar itu? Entah.
Mereka, dan yang menganggarkan dana itu, seolah tak ingat, tetangga mereka sedang tertimpa bencana gempa di jawa Barat sana. Saudara mereka tertimpa longsor di Bogor. Saudara mereka tertimpa badai di Serang. Saudara mereka di Papua sana dilanda kelaparan karena dipaksa makan nasi, di luar kebiasaannya. Tak usah membandingkannya dengan sesuatu yang tak begitu nampak misalnya untuk pelayanan pendidikan dan kesehatan.
*tulisan ini juga diposting di Politikana*
Lihat saja, belum seminggu dilantik, bahkan saya yakin mereka belum bekerja sama sekali, mereka udah bisa ngambil gaji duluan macam di Malang dan di Surabaya. Jumlahnya rata-rata Rp 15-16 juta per anggota. Jumlah untuk ketua, wakil ketua, dan ketua komisi tentu lebih besar lagi. Tapi sementara ini disamain dulu karena perangkat pimpinan memang belu terbentuk. Nah lho, bahkan kepengurusan juga belum terbentuk, udah gajian!
Bahkan belum dilantik pun, pelayanan yang diberikan pada mereka, orang-orang yang katanya terpilih ini (ya, terpilih dari balik bilik suara) sudah diberikan secara paripurna (halah, ngerti paripurna juga ga :p). Mereka diinapkan di hotel berbintang selama beberapa hari, katanya dikarantina. Entah dikasih bekal apa. Pengawalan super ketat. Dikasih baju, jas, dll, seperti mereka tak mampu beli sendiri (bisa jadi juga mereka udah kehabisan duit saat kampanye kemarin).
Bagaimana di DPR? Woh, di sini jelas harus lebih wah! Namanya juga di pusat. Biaya pelantikan saja, menghabiskan dana Rp 11 miliar lebih. Ongkos pindahan mereka lebih gede lagi, Rp 26 miliar. Ya, anggota dewan yang berasal dari luar Jakarta, harus pindah ke Jakarta. Duit segede itu termasuk ongkos tiket sekeluarga, pindah rumah, pengepakan dan pengiriman barang. Hmmm...enak yooo?
Pelantikan anggota DPD? Sama saja. Dana yang telah disediakan untuk mereka besarnya Rp 6,6 miliar. Diapain sih dana sebesar itu? Entah.
Mereka, dan yang menganggarkan dana itu, seolah tak ingat, tetangga mereka sedang tertimpa bencana gempa di jawa Barat sana. Saudara mereka tertimpa longsor di Bogor. Saudara mereka tertimpa badai di Serang. Saudara mereka di Papua sana dilanda kelaparan karena dipaksa makan nasi, di luar kebiasaannya. Tak usah membandingkannya dengan sesuatu yang tak begitu nampak misalnya untuk pelayanan pendidikan dan kesehatan.
*tulisan ini juga diposting di Politikana*
Jumat, 21 Agustus 2009
Blogger Gila Ngumpul di Balikpapan

Cihuy, blogshops Balikpapan sukses! Walopun cuma diikuti 30 peserta, tapi mereka fokussss banget. Saking fokusnya, sebagian tetep bertahan saat “diusir2″ buat makan siang, untuk menyelesaikan tugas dari Fany (trainer dari dagdigdug yang gagal jadi model ini sempat tampil di koran Tribun Kaltim dua hari berturut-turut lho…hihihi) yang membimbing mereka membuat blog.
Semangatnya tinggi. Padahal boleh dibilang, usia rata-rata peserta ini bukan anak muda lagi, melainkan bapak-bapak dan ibu guru. Simak komentar Ibu Rachel, peserta paling ’senior’ karena usianya sudah 56 tahun, tentang acara ini. “Saya termotivasi ikut blogshop karena murid-murid saya banyak yang punya blog. Jangan sampai saya justru nggak bisa ngeblog dan ga bisa jawab kalau ditanya murid,” kata guru Bahasa Inggris di SMK 2 Balikpapan ini. Mereka datang berombongan sesama guru dengan mengenakan batik bercorak Kaltim.
Meski kebanyakan peserta adalah guru, tapi ada pula peserta yang masih belia. Usianya 14 tahun, kelas 2 SMP. Namanya Trisna Manunggal Puspaningrum. Sepanjang pelaksanaan blogshops Pesta Blogger 2009 ini, kemungkinan dia adalah peserta termuda. Dia mulai mengenal komputer saat duduk di bangku kelas 2 SD dan menjadi juara favorit lomba komputer se-Kota Balikpapan. Tapi ia belum bisa membuat blog, makanya ia mengikuti blogshops keempat dalam rangkaian roadshow pesta blogger 2009 ke 10 kota di Indonesia ini.
“Sekarang sih, setelah ikut blogshop jadi lebih ngerti dan kayaknya kalau ada yang nanya-nanya, sudah bisa ngajarin. Saya juga ngeblog karena ingin punya lebih banyak teman berbagi,” kata Trisna.
Dalam sesi sharing, selain chairman Iman Brotoseno, tampil pula penggiat Balikpapan Blogger, Alfa Malik dan Bambang Herlandi. Iman menjelaskan mengenai kode etik di dunia maya. “Misalnya saat mengutip omongan atau gambar orang lain, harus disebutkan sumbernya. Selain itu, tulisan yang dibuat, jangan menyinggung soal SARA. Kalau hal-hal itu tidak dilanggar, pasti aman.”
Pemaparan yang cukup menyita perhatian peserta adalah ketika Bambang Herlandi menjelaskan pengalamannya memanfaatkan blog untuk proses belajar-mengajar. “Saya menggunakan blog untuk e-learning. Nggak repot harus foto copy bahan pelajaran, siswa tinggal buka blog saya,” katanya. Demikian pula saat harus meninggalkan sekolah untuk suatu keperluan, ia pun bisa ‘mengajar jarak jauh’ dengan akses internet. “Bahkan hasil ujian siswa pun saya umumkan di blog jadi saya tidak ikut nempel-nempel kertas seperti guru lain,” imbuhnya. Bambang mengajak guru-guru yang menjadi peserta blogshops ini untuk terus ngeblog, “Karena manfaatnya sangat bagus dan efisien serta efektif sebagai media pengajaran”.
Blogshops ini berlangsung di laboratorium komputer milik STIKOM Balikpapan. Ketua STIKOM Balikpapan, Satria, sangat mendukung kegiatan ini dengan meminjamkan laboratorium kampus untuk blogshops serta halaman kampus untuk Pesta Blogger mini pada malam harinya. Selain didukung Stikom Balikpapan, acara ini juga didukung oleh Harian Tribun Kaltim, Indosat, Radio IDC, Balikpapan ICT Community, Elex Media Komputindo. Dan tentu saja dukungan penuh datang dari Panitia Pesta Blogger 2009 sebagai penyelenggara serta Depkominfo, US Embassy, dan Microsoft sebagai sponsor.
Acara Gathering atau Pesta blogger mini di Balikpapan, tak kalah seru dengan daerah lain. Sebuah panggung sengaja didirikan di halaman kampus. Rencananya, jika peserta membludak, jalanan depan kampus segera ditutup. Dua polisi lalu lintas mengatur arus lalu lintas saat acara berlangsung. Acara diisi dengan penampilan beberapa ‘penyanyi lokal’ dan dua MC dadakan yang cukup mengundang tawa dengan logat dan bahasa gaul khas Balikpapan. Setelahnya acara diisi dengan talkshow dengan tiga pembicara yang sama seperti siang harinya yakni Iman Brotoseno, Alfa Malik, dan Bambang Herlandi. Talkshow diselingi kuis dengan hadiah-hadiah menarik dari sponsor lokal.
Tapi sesi paling seru sekaligus mengharukan dan membuat Pesta Blogger mini di Balikpapan berbeda dengan kota lainnya adalah dengan hadirnya tiga ‘blogger gila’!!! Mereka adalah Dillah, Wawan, Fortynine (lupa nama aslinya) dari komunitas blogger Kalimantan Selatan. Bahkan Tristram Perry, Atase Pers Kedutaan Amerika yang hadir di Balikpapan berkali-kali menyebut mereka “crazy”.
Mengapa?
Bayangkan ini! Siapa yang rela menempuh perjalanan darat selama 12 jam dengan naik motor ‘hanya’ untuk bertemu sesama bloggger di daerah lain? Siapa yang begitu berani menembus jalan trans Kalimantan, hanya bertiga, melewati hutan, hanya untuk menghadiri pesta blogger nun jauh di timur Kalimantan? Siapa yang mau tak tidur selama berjam-jam, terguncang-guncang di atas motor melewati jalanan rusak hanya untuk hadir sekejap dengan orang-orang yang tak pernah benar-benar dikenalnya didunia nyata?
Jawabnya, hanya blogger GILA! Tapi kegilaan mereka mengharukan :(
Akhirnya, puncak acara malam itu diakhiri dengan tukar cinderamata. Blogger nekat dari Kalimantan Selatan menyerahkan cindera mata yang terbuat dari batu pualam bertuliskan: “Komunitas Blogger Kalimantan Selatan Kayuh Baimbai, Goes to: Pesta Blogger, Road to: Kalimantan Timur, 2009.” Sementara B!Blogger sebagai tuan rumah juga menyerahkan kaos komunitasnya. Chairman Pesta Blogger 2009, Iman Brotoseno juga melakukan tukar cinderamata dengan menyerahkan kaos Pesta Blogger 2009 dan Pin dengan logo ciamiknya itu.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama diiringi lagu Kemesraan.
*tulisan ini juga diposting di sini dan di sana*
Langganan:
Postingan (Atom)