Kamis, 23 April 2009

Bagaimana Memilih Manusia Bertopeng Menjadi Presiden?

Tepat di hari terakhir bulan Maret lalu, saya ditugasi menghadiri pertemuan seorang tokoh partai di kawasan pusat bisnis Jakarta. Saya pada dasarnya senang-senang saja sebab berkutat setiap hari di kantor tentu melelahkan juga. Tapi kemacetan lalu lintas di petang hari disertai hujan waktu itu ternyata jauh lebih menyebalkan ketimbang berada di kantor.

Lebih ngeselin lagi, ketika tiba di sana, di ruang yang temaram itu, si tokoh rupanya sedang memberi kuliah panjang kali lebar. Enam tahun di bangku kuliah saya mendengar ceramah yang pada kenyataannya tak pernah berlaku dalam kehidupan. Teori doang. Kebosanan saya makin bertambah karena saya nyaris hapal kalimat-kalimatnya yang setiap hari saya baca dari laporan para wartawan di mana pun dia berkampanye. Ya, tiba-tiba dia yang tadinya jenderal, yang biasa berhubungan dengan taktik, pasukan, dan darah, kini terlihat piawai bicara soal ekonomi dan pertanian.

Wajah beringas dan bau cendana-nya bener2 sudah tertutupi sekarang, Bener kata teman saya, seorang peneliti, sungguh kasihan sebagian besar orang di pelosok Yogyakarta (tempat dia meneliti), bahwa kini si tokoh lebih dikenal sebagai ekonom dan ahli pertanian. Nyaris tak ada yang tau bahwa dulunya ia orang yang tangannya berlumuran darah.

Jika di Yogya dikenal sebagai "petani", mungkin di Kalimantan ia dikenal sebagai pengusaha. Saya ingat tahun lalu ketika harus liputan tentang orangutan di bagian utara Kalimantan Timur, nyaris tak ada orang yang bisa saya temui. Mereka disibukkan menyambut Kapolda yang akan meresmikan perusahaan tambang batubara milik si tokoh tadi.

Lho? Buat saya, agak aneh jika peresmian dilakukan oleh pejabat macam Kapolda. Biasanya peresmian dilakukan oleh gubernur, menteri, wakil presiden, atau presiden sekalian. Tapi di Kalimantan Timur, mungkin memang beda. Perusahaan2 menjadi urusan polisi atau tentara. Tak heran kalau ada yang dipecat (bahasa halusnya pergantian pejabat), pasti karena tersangkut kasus kayu atau tambang. Bagi-baginya ga merata. :p

Lalu bagaimana memilih calon presiden yang tepat jika para calon begitu ambisius dan dengan rela repot mengenakan topeng berlapis-lapis agar tak dikenali ujud aslinya? Syaratnya, ya memang harus mengetahui track record-nya. Tulisan George J Aditjondro yang beredar di milis mengungkap berbagai kejahatan lingkungan yang dilakukan orang-orang yang mengaku putra Indonesia terbaik sebagai calon presiden ini.

Kesimpulannya, dari semua calon yang ada sekarang, tak ada yang layak. Termasuk si tokoh tadi yang telah menguasai lahan-lahan di Papua dan Kalimantan, menggunduli hutannya, menghabisi perut buminya, menghisap sumber hidup rakyatnya. Saat memberi kuliah di kawasan Kuningan malam itu, dengan bangga ia bilang akan membangun perkebunan aren di sana.

Habislah tanah Kalimantan, dibagi para pejabat. Sejuta hektar sawit, sejuta hektar aren, sejuta hektar hutan produksi akasia, meranti, dll. Lalu masyarakat di sana mau makan apa? Makan mentah biji batubara dan sawit, serta minum gula aren atau tuak setiap hari?

Tapi, saya mau ngomong apapun, tampaknya yang akan naik nantinya tetep aja dia lagi dia lagi.

2 komentar:

vidya mengatakan...

hem.... gimana ya? mungkin saya orang yang bodoh dan gak paham dalam bidang ini, tapi saya cuma bisa mengikuti apa yang saya percaya saja... :D

kalau harus memilih yang terbaik dari yang terburuk saya masih bisa lihatlah..

gak ada yang benar2 murni terbaik memang, tapi kalau gak dipilih gak akan bergerak kan?

Anonim mengatakan...

Terima kasih atas informasi menarik