Kamis, 08 Januari 2009

Palestina dan Imelda

Matahari terlalu terik untuk membuat langkah saya melambat menuju kantin kantor siang tadi. Ditambah perut melilit karena lapar. Tapi di halaman parkir, pak Satpam melambaikan tangan. Haduh, laper nih, kataku dalam hati. Tapi saya samperin juga akhirnya. Di pos satpam yang sempit dan panas, duduk seorang ibu dengan anak di pangkuannya. Lengan dan betis anak di pangkuannya hanya sebesar dua jemari saya yang didempetkan. Lehernya, hanya terkulai ke kiri, kanan, depan, belakang, seperti tak bertulang.

Seketika tenggorokan saya tercekat. Sedkit menyesal karena nyaris mengabaikan panggilan Pak Satpam tadi. Lalu kutuntun si ibu dan anak di gendongannya memasuki lobi yang adem. Lalu berceritlah si ibu tentang permata hati di pangkuannya.
Dulu, anak itu bernama Imelda. Saat usia 10 bulan ia kena panas tinggi dan kejang2 lalu dilarikan ke rumah sakit. Di sana, ia dipanggil Melinda. Sebulan ia terbaring koma, tak pernah sadar. Tak ada penjelasan tentang sakitnya. Si ibu hanya diberi resep untuk ditebus dengan uang sisa penjualan rumah dan barang2nya. Macam2 obatnya, termasuk obat malaria. Dan semuanya dosis tinggi, bukan untuk anak seusia Imelda. Ketika datang rombongan pejabat dari Jakarta untuk meninjau rumah sakit, Imelda disingkirkan ke kamar tersembunyi di belakang, dekat kamar mayat.

Sebulan berlalu, si dokter memarahi mantri yang merawat Imelda karena merasa tak pernah diberitahu ada kasus. Bahkan seorang teman sekamar Imelda meninggal dalam kasus dan periode yang sama. Tak terima dimarahi, mantri pun marah pada si Ibu. Sang ibu tak mau masalah berkepanjangan, ia pun membawa pulang anaknya. Apalagi tak ada perubahan pada si anak. Ia juga tak bisa membayar uang perawatan lagi.

Saat dibawa pulang, Imelda nyaris seperti patung. Kaku. Setelah tersadar dari koma, lengan dan lututnya tak bisa lagi diluruskan. Lehernya lunglai tak bisa tegak. Ibunya mulai gila melihat kondisi anaknya. Gila dalam arti sebenarnya. Deritanya tak berakhir. Ia ditinggalkan pergi suaminya. Katanya, pemicu perceraian itu karena sakit yang diderita Imelda. Apalagi saat itu mereka tak lagi punya rumah dan barang apapun. Habis dijual untuk ongkos perawatan karena kartu berobat Keluarga Miskin (Gakin) mereka ditolak. Nama Imelda belum terdaftar.

Tak kuat menghidupi dua anak sendirian, ia pun menikah lagi. Tapi nasibnya tak berubah. Suami barunya "hanya mampu" memberinya (bakal) dua anak baru. Dan Imelda tak kunjung sembuh meski telah berganti nama menjadi Heny seperti saran orang2 di lingkungannya agar tak keberatan nama. Masih kejang2, dan tubuhnya menyusut sekecil bayi 8 bulan di usianya yang ke empat tahun!!! Gizi buruk akhirnya.

Hati saya menangis. Saya mengajak mereka ke kantin, tapi mereka tak bisa makan. Tak terbiasa makan! (apa artinya iniiiiii????) Akhirnya mereka hanya dibekali beras dan lauk pauk yang saya minta dari Bu Kantin serta sedikit sumbangan uang dari beberapa teman kantor. Dua orang teman mengantarnya pulang ke rumahnya untuk melihat dan mendokumentasikan kehidupan si ibu agar esok banyak dari kita, saya, kamu, Anda semua, yang tergerak hatinya untuk membantu mereka setelah membaca beritanya.

Besar harapan saya, nurani orang2 di sekitar kita akan tergerak. Sebab banyak contoh kedermawanan yang saya saksikan belakangan ini. Solidaritas atas nama agama dan kemanusiaan mengalir deras ke Palestina. Dari Kaltim kalau tak salah terkumpul Rp 800 juta atau Rp 500 juta, entahlah, pokoknya banyak. Dari Indonesia, sebanyak 1 juta dollar (wewww...kaya sekali kita ya). Juga ngirim tim dokter ke sana (semoga bukan dokter yang membiarkan kawan2nya Imleda meninggal yang dikirim).

Lalu tadi, di setiap perempatan, kotak2 sumbangan untuk Palestina masih diedarkan juga. Perempatan yang saya amati berada tepat di dekat lokasi kebakaran beberpa hari lalu yang menyebabkan dua orang meninggal dan keluarga lainnya masih dirawat intensif di RS karena luka bakarnya parah. Mereka tentu saja butuh uluran tangan tetangga (satu kotanya) karena harta mereka ludes terbakar. Dengan hati sungguh miris, saya bertanya apa defenisi kemanusiaan yang kita dan mereka anut saat melihat kenyataan Palestina dan Imelda di depan mata??? :(

11 komentar:

pudakonline mengatakan...

ditunggu selengkapnya di media cetak, btw namanya apa ya? atau paling tidak linknya ya? ditunggu

Peter mengatakan...

berita2 tentang gempa manokwari harus mengalah dengan berita2 agresi israel yang hampir tiap jam ada di stasiun2 TV bahkan sampe ada relay dari stasiun TV luar.

nengjeni mengatakan...

berita-berita kayak gitu jarang diekspos ya... bila diekspos pun kadang infonya gak lengkap, sehingga yang mau memberi bantuan gak tau harus kemana ...

vendy mengatakan...

kemanusiaan cuma istilah yang dibuat manusia untuk membedakan antara mereka yang tersakiti secara fisik+mental dengan yang tidak

bah... ternyata negara ini kaya... dengan penderitaan semacam itu...

apa usaha mereka yang ingin memperbaiki negara bisa dibilang sia2?

*sigh

hedi mengatakan...

Indonesia ini memang negeri paradoks. Selalu "sibuk" dengan urusan lain sementara urusan paling dekat yg lebih mendesak malah dicuekin.

vidya mengatakan...

terlalu banyak yang harus di bantu sehingga kadang membingungkan mana yang harus di bantu terlebih dahulu?

Riki Pribadi mengatakan...

terenyuh

!ariwwok mengatakan...

di negara busuk ini kita tersenyum pedih..

wijaya mengatakan...

Maaf, ya.

Para pengedar kotak di perempatan itu barangkali harus melihat diri dari sudut baru:

mereka sebetulnya cenderung tak punya konsep menolong yang lengkap, dan mereka membuka diri bagi skeptisisme publik yang kadang menilai kepahlawanan telanjang tak lebih sebagai show-off romantisme anak-anak.

telmark mengatakan...

salam kenal. blog yg bagus.

Inspirasi mengatakan...

wah emang menyedihkan ya....

aku baru baca postingannya jadi tersentuh...

kita gak bisa berbuat apa" sebenarnnya..
sungguh memalukan...