Minggu, 13 Januari 2008

Berita Seragam, Setting-an Siapa?

Mungkin detik ini, seluruh mata di republik Indopahit, melihat ke satu arah, berita! Baik di televisi, koran (terbitan pagi-siang-sore-malem) dan internet. Isinya seragam, si anu menjenguk siapa. Mereka mungkin ga sadar, besok, ketika bangun pagi2, mereka ga bisa lagi membeli apa2 untuk mengisi perut. Karena harga kedelai dan terigu, bahan makanan rakyat jelata, melonjak semua. Terpaksa tempe dicampur singkong. Balik ke zaman awal peradaban? Makannya singkong?

Media, menurut gw, udah over expose. Tak ada lagi yang mengingat soal keseimbangan. Semua satu suara, satu muara, pemaafan. Herannya, yang berlomba2 memberi maaf justru bukan orang-orang yang tersakiti oleh u-know-who! [ouh, saya pun melakukan itu. saya heran melihat Guruh di layar tivi. Tak ingatkah dia tentang kasus Dokter Hewan buat sang ayah? tapi sudahlah, itu hak dia. Dan Guruh memang bukan Rahma]

Setting siapa sih ini? Hanya ada dua nama! Pemilik kepentingan dan pemilik media. Siapa pemilik media di negeri ini? Halah, u-know-who-lah, masa masih nanya! Pemilik kepentingan? Yaelah, masih nanya juga. Sama aja, pendukung setia, u-know-who! [terserah mau percaya atau nggak, ini memang cuma sok analisis bodoh gw]

Mungkin ada satu atau dua media yang tidak sepenuhnya over expose karena latar belakang dukungannya selama ini. Tapi menurut gw, koran itu tetep aja belum bersikap adil. Dan menurut gw, koran ini akan tetep ngikut ke selera pasar yang udah disetting mati2an oleh dua nama tadi. Mungkin takut ga laku kalo ga ikut yang seragam. Belum nyoba udah takut duluan.

Hah...cuma ibu-timun di kartun kompas yang masih berpikir jernih. Tetep sibuk antre minyak tanah, sibuk ngurus jatah raskin, sibuk ngurus askeskin, dan ga peduli pada bapak yang lagi sakit. Padahal ...itu suaminya sendiri, haqhaqhaq...pikiran jernih apa gila yak? :p

Oh iya, sementara semua orang sibuk dengan satu berita, pabrik satu ini memberitakan soal meninggalnya Sekretaris Yayasan Supersemar, Arjodarmoko. Menurut berita itu, atas perintah Soeharto, Arjodarmoko disebut-sebut pernah membeli tanah 144 hektare di Citerurup Bogor, Jawa Barat. Tanah itu kini menjadi Sirkuit Sentul. Arjodarmoko sempat menolak menggunakan tanah itu untuk membantu memajukan olahraga balap. Alasannya, Yayasan Supersemar merupakan yayasan sosial. "Kami tidak mengurusi masalah olahraga," kata Arjodarmoko suatu ketika.
Innalillahi...



UPDATE: Effendi Gazali, Dosen di UI, mengkritisi media karena omongan tebar2 pesona soal Soeharto sibuk diberitakan dan porsinya terlalu besar. "Sekarang kan salah satu yang jadi blunder itu, misalnya, jika dibandingkan perlakuan yang diberikan ke Soeharto dengan yang diterima para korban banjir. Apakah mereka dapat dokter puskesmas dan fasilitas kesehatan cukup? Apakah media massa juga memperlakukan mereka sama?"
Betul bung! Ah, isi pikiran kita sama aja ya :p huehehehe

9 komentar:

nothing mengatakan...

hehe, harusnya media fokus ke final Copa Indonesia, antara Sriwijaya Post..eh FC lawan Persipura Jayapura...
cen media ra mutu kabeh...
Viva AREMA

puput mengatakan...

alhamdulillah, orba lewat...tp kok msh bau orba ya?..neo orba?

dewi mengatakan...

*ngakak baca komen puput *

kulit doang diganti, isi ampe akar itu perlu proses, cuman mbuh yah.. ampe kapan :P

berita udah makin mirip infotainment saja. tergantung trend. btw buu, knapa yah.. satu stasiun tv nyiarin barita yang pengambilan gambarnya sama persis dengan tivi lainnya. apa itu satu gambar dipake rame2??

BuRuNG mengatakan...

jadi yang bener tuh membaik ato memburuk?

escoret mengatakan...

menghujat kok malah posting paman gober...???

[...] cen media ra mutu kabeh...
Viva AREMA [...]

YO VIVA PSS walopun ga masub,..!!!!

Awan Diga Aristo mengatakan...

heeeuuuh.... dimana2 ngomongin tu orang...
bosen juga.
ngomongin yang laen napa mbak? :))

sluman slumun slamet mengatakan...

tiap hari kita disuguhi istilah2 kedokteran....
ahhhhhhhh........
eh, di negara tetangga. seorang bekas penguasa sedang sakit sampai bertahun-tahun. dia tidak lekas sembuh dan juga tidak pula mati. ibarat hidup segan mati tak mau. selidik punya selidik ternyata di depan kamar perawatannya ada tulisan "Izroil Dilarang Masuk"

ivo mengatakan...

Ngomongin dia juga kan?

Jauhari mengatakan...

Saya melihat 98% (survey tidak valid) bahwa media kita semua kejar setoran dan seringkali OVER ACTING jadi bukan sumbernya yang besar tapi di BIKIN BESAR dulu demi sebuah OPLAH, IKLAN, RATINgd an *halah* yang lain

Itulah negeri ini negeri MIMPI.....