Rabu, 26 September 2007

KOPAS: Kami Menganiaya Atas Nama Tuhan

Bukan karena lagi puasa maka gw ikut2an nulis2 soal agama. Bukan pula karena ngikut2 blognya Bang Jarar. Bukan juga untuk memicu dan memperlebar konflik. Lagian, ini bukan tulisan gw. Ketika membaca tulisan ini di blognya Uyo, gw ikut terbakar amarah sendiri. Gw muak pada kelakuan orang2 yang sok membela Tuhan, sok mengerti Tuhan lalu berkeliling mengajak ke jalan --yang katanya-- kebaikan. Tapi di belakangnya, pengikutnya bersenjatakan tombak, batu, parang dan ayat suci, menciptakan teror dan kerusakan bagi sesamanya manusia, sesamanya ciptaan Tuhan.
Jadi, atas seizin dia yang gw sebut sapi tersayang yang bisa sms, gw kopas utuh tulisannya ke sini....

Kami Menganiaya Atas Nama Tuhan

Sudah sekitar dua tahun 141 orang mengungsi di wisma Transito, Mataram - Lombok, Nusa Tenggara Barat. Para pengungsi itu terusir dari tempat tinggalnya dan terjarah harta bedanya karena mereka adalah pemeluk Ahmadiyah.
Fatwa MUI yang keluar sekitar September 2005 menyatakan Ahmadiyah adalah aliran sesat. Fatwa ini seolah menjadi pembenaran muslim Indonesia kebanyakan untuk mengusir, menganiaya dan menjarah harta benda pemeluk Ahmadiyah. Kasus di Lombok adalah salah satunya.
Salah satu anak jemaah Ahmadiyah, SolehatunNissa menderita lumpuh layu, tetapi orang tuanya tidak dapat mengobati anaknya, masalahnya adalah biaya. Mereka tidak lagi mampu membiayai pengobatan anaknya.
Semenjak diusir warga, Nasifuddin, ayah SolehatunNissa kehilangan tempat tinggal dan mata pencahariannya. Untuk menyambung hidup, ia menjadi buruh panggul di pasar dan mendapat pendapatan sebesar tiga ribu hingga empat ribu rupiah per harinya.
Begitupula musibah yang menimpa Marfuddin, salah satu jemaah Ahmadiyah. Ia diusir dari rumahnya pada tahun 2005. Kesaksiannya menyatakan bahwa yang mengusir adalah kepala desa, camat dan kapolsek setempat.
"Pokoknya orang Ahmadiyah ga boleh tinggal !" begitu ia menirukan sang pengusir. Ia melawan karena tahu akan haknya, tetapi ia tak berdaya. Harta bendanya habis dijarah. Banyak pula jemaah lain yang dihancurkan rumahnya bahkan dibakar. Hanya karena mereka berbeda.
Para pengungsi Jemaah Ahmadiyah lalu menyingkir dan ditampung di wisma Transito oleh pemerintah setempat dan mendapat jatah hidup. Namun semenjak Januari 2007 bantuan tersebut pun dihentikan dengan alasan "kita serahkan ke tingkat provinsi". Melempar tanggung jawab?
Kondisi pengungsi pun memburuk. Maka, ada pengungsi yang makan talas, atau ubi sisa dari pasar. Tidak ada lagi bantuan beras.
Pada 2005 saat MUI menyatakan fatwa tersebut, jemaah Ahmadiyah diputus sesat secara sepihak.
MUI di Lombok menghimpun dukungan dari massa dan mengumpulkan tanda tangan dari beberapa pihak, tapi tak pernah meminta dari pihak Ahmadiyah mengutarakan pendapat, berdebat. Dialog tidak pernah ada.
Kondisi ini mengingatkan penulis akan tragedi yang sama terjadi tahun 1965, ketika barisan massa Islam bersatu dengan militer melakukan pembantaian terorganisir atas orang-orang PKI atau yang dituduh PKI tanpa proses pengadilan. Histoire se repete. Sejarah memang berulang dengan sendirinya.
Bukan kapasitas penulis untuk memutuskan apakah Ahmadiyah sesat atau tidak. Tapi setahu penulis, Tuhan mengajarkan agar kita tidak berbuat secara berlebihan. Namun kerusakan yang terjadi sudah sebegitu besar. Jika ini yang terjadi, apa bedanya muslim Indonesia dengan suku Quraisy Mekkah saat masa Rasulullah hidup, yang memboikot sesamanya yang memeluk Islam dan mengakibatkan mereka terusir dari Mekkah?


Saat ngobrol dengan sapi tersayang (hebat kan, sapinya bisa ngobrol), gw cerita saat dulu gw pernah berinteraksi sesaat dengan orang2 Ahmadiyah (yang, bencinya, harus terputus begitu saja gara2 kantor ga ngasih ijin gw ikut acara dialog tiga hari tiga malem karena ada tugas lain). Yang gw tangkap ketika itu, ada kehati2an dalam diri mereka, ada ketertutupan, dan tentu saja trauma. Siapa yang ga trauma jika mereka mengalami penganiayaan dan pembantaian saudara sendiri hanya karena keyakinan yang berbeda?

Yang gw tau, mereka itu orang2 bersahaja, yang selalu pake logika dalam berucap dan bertindak. Mereka orang2 yang asik diajak diskusi. Mereka cukup berilmu dan gw belajar dari mereka. Yang gw ga abis pikir, apa sih yang salah dari mereka? Rasanya semuanya baik2 aja, ya pikirannya, ya kelakuannya. Mereka ga reseh dan ga pernah ngomong yang ga2 soal keyakinan orang lain. Karena soal keyakinan, memang urusan personal masing2 dengan penciptanya.

Apa salah jika orang lain beda ma kita? Apa setiap orang yang beda ma kita, harus dianiaya, dibantai, dimusnahkan? Kenapa harus membela Tuhan dengan cara seperti ini? Apa iya, Tuhan harus dibela? Bukankah DIA itu, MAHA? Mo ngapain aja pasti DIA bisa! MembelaNYA dengan cara seperti itu, apa itu bukan justru sebuah penghinaan? Kalo yang kek gini masih terus berlanjut, isi dunia ini nanti cuma satu macam, yaitu orang2 sok pinter, sok bener, sok kuasa dan sok jadi pembela Tuhan. Apa asiknya dunia kek gitu?

10 komentar:

Hedi mengatakan...

Menyedihkan, Yat. Gue sendiri ga tau apakah kehidupan (beragama) gue (menurut kacamata Tuhan) lebih baik dari mereka.

Jadi, gue ga akan mau menghakimi atau menganiaya demi nama Tuhan.

venus mengatakan...

:(

ga bisa ngomong apa2. begitulah kita. selalu ngerasa bener sendiri, orang lain selalu salah, keyakinan kita yg paling bener sampe segitunya mempermalukan diri sendiri(dan agama sendiri),menghalalkan kekerasan dan kebrutalan (apa sih bahasa yg bener?).

malu.....

mata mengatakan...

ngga ada bedanya sama teroris bom yang bunuh diri itu kan jeung. yang katanya inilah jalan singkat menuju surga. padahal menuju surga itu jalannya ngga singkat.

setahu saya. dalam ajaran agama saya. agama islam. yang namanya menganiaya apalagi sampai membunuh itu dosa.

merahitam mengatakan...

Kalau buatku, nggak ada yang namanya Islam A, B, C, D...dst. Jadi kalau ditanya sama orang lain, elo golongan apa? Islam. Ya cuma Islam. Nggak ada embel-embel di belakangnya.

Semoga aja, ke depan nanti, nggak ada lagi yang sok ngerasa bener.

Tukang Ketik mengatakan...

Wow...

Serem juga negara ini.

amethys mengatakan...

begitulah orang2, yg mengatasnamakan agama trus merusak, padahal dalam agama Islam merusak itu hukumnya dosa..bukankan dimanapun kita berada di dunia ini, kita ada di bumi Allah...bukankah harus kita jaga kelestariaannya? bukan untuk dirusak kan?
ajaran suatu agama selalu benar..hanya orang2 nya ngga bener dalam menjalankan perintah agamanya......

amethys mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
dyn mengatakan...

ahmadiyah adalah aliran buatan mirza ghulam ahmad, yg mengaku mendapat wahyu dari Allah. dan dengan begitu secara tidak langsung memproklamirkan diri sebagai nabi karena yg mendapat wahyu dari Allah itu cuma nabi2 dan rasul2.dia juga menyatakan bahwa dirinya adalah isa al masih yg diutus kembali ke bumi dan sekaligus sebagai imam mahdi.
padahal dalam islam, nabi dan rasul terakhir adalah muhammad saw. jadi tidak akan ada lagi manusia yg mendapat wahyu dari Allah swt sesudah rasulullah.
nah jadi dasar MUI untuk menganggap aliran ahmadiyah adalah aliran sesat tentu bisa dibenarkan (dan mungkin masih banyak alasan lain selain yg disebutkan di atas). karena MUI dalam mengeluarkan fatwa bukan hanya didasarkan pada rasa keadilan sosial/ pertimbangan moral ( yg biasanya hanya ini dasar kita dalam menilai suatu hal) tapi mereka juga menimbang dengan menggunakan ilmu agama (yg tidak kita punyai. kalau punya paling cetek banget)
tapi walaupun ahmadiyah adalah aliran sesat, kita tentu tidak boleh menganiaya para pengikutnya. malah seharusnya para pengikutnya itu diarahkan, diberi petunjuk ke arah islam yg kaffah.

janganlah melihat perbedaan keyakinan seperti kita melihat perbedaan warna kulit. sehingga kita mentolerir perbedaan keyakinan seperti kita mentolerir perbedaan warna kulit. karena Allah menciptakan warna kulit beraneka ragam dan tidak menciptakan beragam agama.

tito mengatakan...

cara pikirmu dan si sapi bikin aku salut

abang si gibran mengatakan...

inilah salah satu contoh yang dulu disebut bung karno sebagai muslim sontoloyo. apa hak mereka mengatasnamakan TUHAN?

ini juga bentuk lain dari fpi; sama-sama muslim sontoloyo. tak ubahnya dengan si teroris-pembunuh amrozi an***, yang pede sekali menyebut dirinya akan bertemu bidadari surgawi setelah dieksekusi mati. macam kawan dekat TUHAN saja.

yati, kau tahu siapa kawan TUHAN?
"keong dan preman," kata anakku, gibran.