Jumat, 27 Juli 2007

Banteng Ngadem di Bawah Beringin

Hari ini 11 tahun lalu...
Saya cuma bisa bengong melihat layar kaca dengan berita sepotong2 dan wajah penyiar yang sedikit kaku membacakan berita. Di samping saya, tante saya sedang sibuk menghubungi sepupu2 saya di Jakarta sana. Sepupu saya terjebak di kantor ga bisa pulang. Hari itu, untuk pertama kalinya, negara yang aman, tentram, makmur, sentosa ini dilanda kerusuhan yang bermula dari Jl Diponegoro.

Esoknya, saya menerima kabar, kawan2 saya yang sedang berada di sana, segera pulang ke Makassar setelah seharian pada 27 Juli itu dirundung cemas saat terkepung bersama beberapa aktifis YLBHI. Tapi mereka pulang, tidak berarti mereka aman. Konon kelompok loreng2 itu telah menanti di pelabuhan. Kawan2 saya dituduh ikut2 kelompok 3 hurup itu, yang hari itu menjadi kambing hitam biang kerusuhan.

Ah, saya cuma bisa mengenang...
Betapa hari itu, banyak orang yang jadi korban. Ada yang meninggal, ada yang luka parah, luka ringan, luka batin, trauma dan menjadi tertuduh. Sampai sekarang pun setelah 11 tahun peristiwa itu berlalu, mereka2 masih menderita. Yang paling parah, tentu saja orang yang saat itu kedudukannya paling tinggi, ibu ketua!

Setelah dikudeta dalam kerusuhan itu, pelan2 Ibu Ketua bangkit dengan segala dukungan orang2 yang cinta pada kebesaran nama ayahnya. Lalu si Ibu Ketua sempat menjadi penguasa negeri ini. Kedudukannya di punggung banteng, tak pernah tergantikan. Ketua 3 hurup yang waktu itu jadi tertuduh, kini bergabung bersama kaum banteng bermoncong putih.

Tapi sekarang, kondisi Ibu Ketua menyedihkan banget. Ibu Ketua menderita amnesia akut!!! Dia lupa, siapa Pangdam Jaya dan Kodam Jaya yang dulu mempecundanginya. Dia lupa bagaimana rasanya terusir dari rumah sendiri. Dia lupa apa warna darah yang menetes dari para pendukungnya. Dia lupa bagaimana rasa sakit ketika dipukuli. Dia lupa duka lara para keluarga yang menjadi korban ketika itu. Dia lupa bagaimana rasanya ketika tubuhnya dikuliti untuk diganti catnya menjadi kuning.

Ah, percuma saya ngomong2 gini. Setelah 11 tahun, Ibu Ketua yang duduk di punggung banteng bermoncong putih sepertinya sedang tertidur lelap terbuai mimpi di bawah rindangnya pohon beringin! Adem ya, Bu, di sana?

4 komentar:

toga mengatakan...

Selamat Datang di REPUBLIK INDO(AM)NESIA

IndraPr mengatakan...

Inilah politik Indonesia. Yang dicari hanyalah kekuasaan. Kapan sih, sebenarnya, para legislatif itu pernah berjuang untuk kesejahteraan rakyat? Malah membuang-buang uang negara dan berlomba mengisi pundi sendiri.

Banteng ngadem di bawah beringin karena kedua kubu adalah dua partai terbesar di Indonesia, dan berdua mereka menguasai mayoritas kursi di DPR. Apa yang dicari? Kekuasaan.

Saya justru lebih respek terhadap para eksekutif dibandingkan para legislatif. Paling tidak, tetap kelihatan upaya pemerintah untuk terus membangun negara, dibandingkan para anggota DPR yang justru malah terus mengorek-ngorek negara.

venus mengatakan...

siapa sih yang gak amnesia di negara kita ini, co? yg sehat dan bebas amnesia biasanya mati muda, diracun di atas pesawat, atau ilang ga pulang2 lagi.

Anang mengatakan...

inilah dasar negara yang suka korupsi itu......

http://anangku.blogspot.com/2007/06/panca-asusila.html