Jumat, 15 Juni 2007

cerita pemakan daging monyet

Ada yang tau rasanya daging monyet bakar? Tanyalah pada warga Pontianak yang terlantar di daerah Kampar, Riau sana. Bukan, mereka bukan kanibal, bukan Robot Gdek, bukan pemangsa yang buas. Mereka memakan daging monyet bakar karena terpaksa. Tak ada makanan lagi di hutan akasia itu. Cuma ada air untuk minum dan monyet untuk diburu lalu dimakan.

Diantara mereka, banyak juga pekerja anak. Mereka adalah warga Pontianak yang bekerja di perkebunan di Kampar. Tahun lalu, mereka meninggalkan Pontianak, meninggalkan istri dan anak karena diiming-imingi pekerjaan yang layak dengan gaji Rp 3 juta per bulan. Kenyataannya, cuma dua bulan mereka menerima gaji yang besarnya cuma Rp 800 ribu, dan setelah itu, tak ada lagi. Yang mereka dapat cuma gebukan dan pukulan bertubi2.

Mereka tidur di bawah tenda, beratap terpal tanpa dinding, berlantai kayu. Ga usah bicara hak2 buruh, kondisi mereka ngalah2in jaman Belanda, jaman Jepang. Ga usah mimpi dapet perhatian pemerintah atau badut2 yang katanya mewakili mereka di parlemen, urusan lain masih banyak. Ga ada waktu mendengar tangisan Hermayadi, salah satu pekerja berusia 12 tahun yang saban hari digebukin meski udah bekerja mati2an dalam keadaan sakit. Mau lari tak tau jalan, harus menyeberang pulau pula, sementara mereka tinggal di dalam hutan.

Kenapa cuma ada cerita miris dari negeri ini? Cerita korban lumpur Lapindo Brengsek yang sepertinya tak akan berakhir. Cerita tetangga desa gw yang ikut transmigrasi karena bencana alam. Cerita pencuri2 uang negara yang tetap bisa bersenang2 sementara orang2 di sekellingnya nyaris mati kelaparan. Sedih! Lebih sedih lagi karena barusan dapet sms lagi, sms soal Kota Manokwari, isu2 yang memancing konflik! Ya ampuuunnn...apa mereka ga pernah capek dengan segala konflik berdarah di Ambon, Poso, Sampit... :(

13 komentar:

toga mengatakan...

Terbakar amarah sendirian... :(

mata mengatakan...

mereka juga bukan pula sumanto...
yo kirimkan cerita miris ini ke presiden republik indonesia. apa dia sempat membaca ?

Hedi mengatakan...

Lho itu yang jadi majikan mereka di sana siapa? Orang kita sendirikah?

imcw mengatakan...

tragis benar nasibmu oh ibu pertiwi...

Vie mengatakan...

Itu namanya slavery (perbudakan), ternyata dinegara kita masih saja ada penjajah lokal yang menjajah rakyat sendiri.
Pemerintah kayaknya gak mau ambil pusing sama yang ginian. Gila memang!

-Fitri Mohan- mengatakan...

seharusnya capek. seharusnya. tapi, manajemen konfliknya saja berkonflik. Gosh!

Kana Haya mengatakan...

cant say a word. rang kaya jaman sekarang emang mostly kapitalis yg mo enaknya sendiri. just like the company that i worked for right now. bleh!

danudoank mengatakan...

jangan2 itu jadi semacam ladang buat kasus, jadi ajang latihan gimana bisa nanganin konflik. halah sok tau mode-on.

tito mengatakan...

:(

langit mengatakan...

kemarahan tdk akan berarti apa2 utk mereka,doapun juga tidak akan meringankan jerit batin mereka

mungkin tragis klo masih meyakini bahwa pasti masih ada rencana indah-Nya dibalik ini semua,tp itulah hidup dan penterjemahan kasih-Nya

Anonim mengatakan...

Tulisan ini kayaknya harus dilengkapi data, nama, lokasi, tanggal, gitu deh. Kalau kelihatan seperti cerita samar2 mana ada yg peduli, apalagi aparat.

-tikabanget- mengatakan...

wuih.. monyet bakaarrr??

Anonim mengatakan...

iya, tepatnya pontianak sebelah mana? Nama perush nya apa?