Minggu, 18 Februari 2007

Nasib Bayu di Tahun Babi

Namanya keren, Bayu Nusantara Aji. Dia ngetop tahun 1996 setelah dinobatkan sebagai warga ke-6 miliar dunia, sekaligus warga ke-200 juta jiwa warga Indonesia. Kelahirannya pada 29 Juni yang istimewa itu, membuahkan janji manis dari keluarga cendana. Ketika itu, Soeharto menjanjikan akan memberi beasiswa pada Bayu hingga kuliahnya selesai.

Usia Bayu kini 10 tahun, dan duduk di kelas IV Sekolah Dasar Negeri (SDN) Keruwak. Dia dan orang tuanya yang bekerja sebagai pedagang kelontong di daerah kering dan miskin Desa Jeruwaru, Kecamatan Keruwak, Kabupaten Lombok Timur, yang berjarak 70 kilometer dari Mataram, kini bingung. Tak punya biaya lagi untuk melanjutkan sekolah. Mimpi Bayu kini adalah bertemu Soeharto untuk menanyakan kelanjutan beasiswanya yang terputus. Rasanya mimpi itu sulit terujud.

Maaf Bayu, Yayasan Supersemar yang seharusnya membiayai pendidikanmu dan anak2 lain di negeri ini, habis dipakai buat nutupin kerugian perusahaan2 anaknya Soeharto, dan juga perusahaannya Bob Hasan. Padahal, saat didirikan, aset yayasan ini, besarnya Rp 1,2 triliun, yang didapat dari sumbangan 2,5 persen laba bersih 8 bank negara.

Berharap bantuan dari mana lagi ya? Siapa lagi pejabat yang tak korup di negeri ini? Meski hanya untuk membiayai seorang Bayu. Mari menebak nasib. Ah, ternyata, tahun babi tak cukup bersahabat. Konon katanya, tahun babi ini, masih akan mempertontonkan lagi banyaknya perselingkuhan yang dilakukan terang-terangan, termasuk skandal porno oleh pejabat dari seluruh daerah, terutama Jakarta dan Surabaya.

Korupsi? Konon, juga tetep seperti sekarang. Pertunjukannya udah dimulai oleh orang2 yang mengaku pendekar hukum itu. Liatlah Yusril yang arogan itu. Ah, satu per satu mereka akan muncul. Miliaran duit curian akan terungkap satu per satu. Lalu, langkah2 politik dengan cara busuk, konon tetap akan dilakukan para politisi itu yang tidak hanya menjatuhkan martabat diri sendiri, tetapi juga menghancurkan perekonomian dan membuat bangsa ini makin jatuh miskin. Bencana alam, konon, juga tetap mengintai. Gempa bumi, banjir, tanah longsor, gunung berapi semakin aktif, salju meleleh, angin puting beliung, gelombang laut makin mengganas, akan terus terjadi.

Begitulah ramalan tahun babi. Tapi, kita tak boleh menyerah begitu saja. Hidup masih harus terus berlanjut. Tak mungkin kita hanya membiarkan Bayu terus bermimpi. Kita akan menjadi manusia paling kejam jika tak bisa mewujudkan mimpi Bayu dan mimpi seluruh anak negeri ini. Mimpi mereka "hanya" sekolah, masa sih ga ada yang bisa bantu?


*) Gw mencari kabar tentang mereka, geng FK gw. Ada yang kenal?

7 komentar:

Iman Brotoseno mengatakan...

wah kalau ada yang bisa ngangkat jadi artikel di majalah / koran, bisa seru tuh,..dan mungkin Bayu bisa menagih janji itu..

Anang mengatakan...

kasihan sekali nasib bayu.. kena tipu mantan orang nomer satu negeri ini....

Kana Haya mengatakan...

well, janji tinggallah janji... orang dy aja lagi sibuk mikir kapan mo mati! =p *maap mbah... *hoeeekkk....

Anonim mengatakan...

Conclusion:
Pak Harto= babi... rite?!


-gessh-

danudoank mengatakan...

sangat boleh jadi ada juga bayu-bayu lain yang bernasib 'habis manis sepah dibuang' macam ini yak. *eh, bener gak sih perumpamaannya*

venus mengatakan...

setuju sama mas iman. coba lo angkat cerita tentang Bayu, co. and see what happens :)

tito mengatakan...

kalau anda ngomongin duit gini barulah keliatan kalau lulusan ekonomi, mbak :p