Selasa, 20 Februari 2007

Bocah Pemakan Pasir itu Kian Lemah

Gozi Usama namanya. Mengingatkan pada dua sosok yang banyak dibicarakan di media karena menjadi target negara yang mengaku nomer satu di dunia. Tapi Gozi yang ini, sangat berbeda dengan dua orang tersebut. Gozi, hanyalah bocah 6 tahun, berbadan lemah tak berdaya. Di usianya itu, berat badan Gozi hanya 12 kilogram.

Sudah enam bulan Gozi terkulai lemah dalam sakitnya. Perutnya membesar, wajahnya pucat. Tapi baru hari Minggu (18/2) kemarin Gozi dirawat di RSU Alfatah, Ambon. Berbekal utang ke tetangga, neneknya, Nehma, membawa cucunya ke rumah sakit ini. Nenek yang berusia 60 tahun itu, menempuh perjalanan jauh dengan menumpang kapal motor sehari semalam dari Kampung Lomin Kecamatan Geser, Seram Bagian Timur, ke Ambon.

Sejenak, hati saya hampir mencapai titik beku. Saya sudah bosan melihat penderitaan. Saya bosan dengan rasa kasihan, karena rasa itu tak membawa perubahan apa2. Seperti kata Pramoedya, jangan pernah merasa kasihan kalau tidak bisa berbuat apa2. Jadi saya hentikan rasa kasihan saya dan sebentar lagi saya menjadi tak peduli pada semuanya.

Tapi saya menangis mendengar kisah nenek ini. "Anak ini, sering makan pasir, bila tak ada makanan," ungkap Nehma. Mereka hidup serba kekurangan. Bocah malang ini menderita TB Paru serta Anemia. Gizi buruk, jelas! Tapi makan pasir, pernahkah terpikirkan oleh kita?

Saya ingin memaki walaupun saya tahu, memaki, sama dengan rasa kasihan, tak akan menyelesaikan masalah. Saya memaki diri sendiri yang selalu bisa makan hingga kenyang, lebih dari dua kali sehari, tapi masih bertanya, makan apa hari ini. Saya marah pada rasa sentimentil saya hanya karena sms dan telpon tak kunjung berbalas. Padahal rasa bodoh itu sama sekali bukan derita. Tak ada apa2nya dibanding hidup yang dijalani Gozi.

Saya muak. Muak pada iblis2 yang menganggap dirinya wakil rakyat dan dengan buas mengamuk di gedung sirkus sana hanya karena tunjangannya yang ratusan juta bakal dibatalkan. Padahal tanpa uang tunjangan itupun, mereka bisa hidup berfoya-foya, jalan2 keluar negeri, bikin film pribadi, semua atas nama rakyat. Saya muak pada adegan ancam mengancam sesama maling.

Saya muak pada rengekan pengemplang BLBI agar utangnya yang mencapai Rp 9,368 triliun itu diberi potongan. Saya muak pada retorika manis bapak dan ibu menteri untuk mengentaskan kemiskinan tapi dana pengentasan kemiskinannya dipake nginep di hotel mewah. Saya muak pada berita krisis beras yang mendatangkan alasan untuk impor beras padahal niatnya mematikan petani. Saya muaaaakkkkkkk!

Dana tunjangan per hari yang dibutuhkan Gozi tidak seharga 10 menit obrolan di ponsel perekam adegan mesum. Dana pengobatan yang dibutuhkan Gozi, hanya nol koma sekian persen duit yang dicolong mereka. Biaya hidup sebulan bagi Gozi dan neneknya, tidak sampai seharga semalam di hotel mewah. Tenggorokan Gozi dan neneknya, pasti lebih bisa menikmati beras yang ditanam petani negerinya sendiri.



UPDATE:
1. Saya sangat berharap ada aturan di Indonesia yang sama kek di Hongkong: mengenakan denda pada orang yang menyisakan makanan di piring saat bersantap di restoran (tidak menghabiskan makanan yang dibelinya). Walopun agama sudah mengatur hal itu, tapi memungut denda, semoga bisa membuat orang kapok. AGAR GA ADA LAGI GOZI LAIN YANG HARUS MAKAN PASIR.
2. Mungkin saya, atau Anda, atau siapapun, akan dipenjara karena membiarkan kekerasan terjadi di sekitar kita.

13 komentar:

ikut sesek mengatakan...

ga bisa ngomong apa2 :(

tito mengatakan...

kok rajin posting yang sedih2 ?

Anang mengatakan...

masyaallah.

Anonim mengatakan...

klw hanya menghujat, tidak akan membuat Indonesia lbh baik. klw memang ingin Indonesia lebih baik tunjukan kemampuanmu yg bisa membuat negeri ini lebih baik. di semua negara mana pun tdk akan ada yg sempurna. karna ini hanyalah dunia bukannya surga. klw memang ingin kehidupan yg lebih baik pergilah ke surga dan menghujat kekurangan orang lain itu salah satu halangan u/ mu menuju surga.

yati mengatakan...

waduh...segitu hina dinanya diriku dimata anonymous?

saking berhati2nya, gw lebih dulu memaki diri sendiri, lalu orang lain. Dan gw sebutin juga kalo memaki dan merasa kasian, ga akan menyelesaikan masalah. MAsih kurang jelas ya?

tapi gpp, ma kasih respon baliknya. Saya cuma masih heran kalo korupsi itu digolongkan sebagai KEKURANGAN ORANG LAIN. Keknya perlu diskusi lebih panjang deh :p. Atau gimana kalo Anda nulis juga, sebagai antitesa semua tulisan gw?

Anonim mengatakan...

omdo lu ah,.,
sok baik

Kana Haya mengatakan...

wush! ada perang komen!

eniwei, seperti apa, ya, rasanya makan pasir? gw pernah nyusruk n ada sedikit tanah masuk ke mulut dan itu rasanya sumpah ga seenak nasi yang biasa dimasak Ibu. berarti kita harus banyak2 bersyukur, ya, karena masih diberi nikmat yang cukup oleh Tuhan =)

tulis terus semua kegelisahan dan kegusaranmu akan semua ketidak benaran itu jeng! jangan perdulikan yang protes! =p

Adi Suryono mengatakan...

Seharusnya ada larangan makan pasir, dan bagi yg melanggar akan ditangkap dan di masukan ke dalam "Rumah Perlindungan Negara" untuk diberikan perlindungan. Sedangkan bagi pejabat di derah tersebut cukup dimasukan ke "Rumah Tahanan".

danudoank mengatakan...

makan pasir? pan republik endonesia udah umurnya udah setengah abad lebih.

Evy mengatakan...

MasyaAllah, di Indonesia yang kaya raya, gemah ripa loh jinawi, masih ada spt di afrika? pantes dikira negera miskin...so sad.. kirim ke org2 yg pada budek sibuk membuncitkan perut sendiri

ai mengatakan...

*sprachlos*

KuRpiX mengatakan...

kalo nyisain makan kena denda..ihix! gw ngga makan lagi deh...gw kan kalo makan kadang suka ngga abis...
tapi kalo sampe ada yang makan pasir kayak gitu sih, berarti Indonesia itu sebenernya negara super duper miskin amat sangat sekali banget!!!
orang2 pada lebih milih beli mobil daripada ngejualin mobilnya buat bantu nyaur utang negara, padahal negara utang juga buat rakyatnya kok (koruptor rakyat juga kan...)!

ester mengatakan...

yat, setuju sama larangan nyisain makanan. makanya ketika ngambil, ambil seadanya.

thx udah ngingetin gue untuk selalu melihat ke bawah dengan kata2 ini:

"Saya memaki diri sendiri yang selalu bisa makan hingga kenyang, lebih dari dua kali sehari, tapi masih bertanya, makan apa hari ini. Saya marah pada rasa sentimentil saya hanya karena sms dan telpon tak kunjung berbalas. Padahal rasa bodoh itu sama sekali bukan derita. Tak ada apa2nya dibanding hidup yang dijalani Gozi."

biarpun blom bisa melakukan sesuatu hal yang berarti buat bangsa dan negara, paling nggak ngingetin gue untuk ga membuang waktu merasa orang paling menderita di dunia ini. lebih baik waktu yang ada dipakai membenahi diri sendiri.



Anyway, Say, ini blog pribadi, tempat untuk mencurahkan pikiran dan opini SI EMPUNYA BLOG, jangan pedulikan apa kata orang. Apalagi so far, menurut gue isinya bagus bangeth. Nggak berisi mehe2 keluh kesah kehidupan pribadi melulu kek blog gue.
Ini layak jadi bacaan kok. So, don't ever change, pleaseee....
Dimana lagi coba gue cari blog yang berapi2 kek gini, hehehee....

Lagian, orang yang mau memberikan kritik membangun itu biasanya nggak menyembunyikan jati diri deh. Chicken mode on bangethhh....

hoshhh...hosshhh... lho, kok jadi gue yang emosi yah...

sabar... sabaarrr... negara sudah cukup banyak konflik.
ntar yati tambah stress deh. hihihi...



HIDUP BERGERAK....!!!