Senin, 05 Februari 2007

Melempar Jumrah di Depag

Tadi malam gw sempat geram membaca kiriman berita dari kawan2 di Jakarta. Katanya ada 100-an pembantu rumah tangga di Cipinang Indah tetep bertahan di rumah2 gedong di sana. Mereka diharuskan jaga rumah oleh majikan2nya. Sementara sang majikan sibuk ngurus dirinya sendiri, ngungsi ke hotel2 atau apartemen. Ya, memang masih ada 70 persen hotel yang ga kena banjir.

Sampe pagi, bangun tidur, saya masih membayangkan nasib pembantu2 itu. Makan mie, kehabisan stok air minum, atau jangan2 mereka ga boleh terlelap biar barang2 milik majikan di rumah itu tetap terawasi? Jahat kok ga kira2, menyakitkan banget. Kalo penduduk yang rumahnya di bantaran kali sih, gw ga usah komentar. Udah berlipat-lipat kali kesakitan yang mereka alami.

Siang, ada tipi swasta yang akhirnya menyiarkan berita pembantu2 itu. Menggunakan perahu karet, si kameramen menyusuri kompleks elit itu, menanyai para pembantu dari rumah ke rumah. Ya, jawabannya cocok, mereka disuruh nungguin rumah dan para majikan ngungsi ke hotel. Mereka makan mie, ga pernah mandi (sudahlah, mandi emang ga penting) dan kehabisan air minum. Ga punya perasaan banget kan majikan2 itu?
Tak lama, ada satu rumah dengan tiga pembantu, perempuan2 belia, lalu ikut perahu si kameramen. Konon, majikannya memang meminta tim SAR menjemput mereka untuk ikut ngungsi ke hotel. Sesampainya di 'daratan' tiga perempuan belia itu dijemput sang majikan, dipeluk.

Ibu selama ini ngungsi kemana? tanya kameramen/wartawan. ke hotel jawab si majikan. Kok pembantunya dibiarkan di rumah dan baru dijemput sekarang? cecar si wartawan. Sambil terus berjalan menuju mobil, ibu2 itu menjawab, kami pikir bakal surut banjirnya, ternyata tidak. Makanya baru dijemput sekarang. Suara ibu2 itu bergetar dan matanya merah. Mungkin menahan tangis karena terharu, mungkin merasa berdosa, atau mungkin ketakutan, mungkin marah karena wartawan nanya2, entahlah. Positif ajalah, akhirnya ada penghuni kompleks yang ga tega ma pembantunya.

***

Gw jadi ingat kasus kelaparan jemaah haji. Yang berhaji itu jelas orang2 mampu semua. Tapi kok bisa kelaparan? Samalah ma kasus banjir, yang ngurusin ga becus, mikirin kepentingan diri sendiri. Pembantu2 itu tinggalnya di rumah orang2 mampu semua, tapi ga ada pengaruhnya ke mereka kalo yang 'berpunya' ga peduli mereka. Yang penting tenaganya dah diperes (kalo kasus haji, ONH-nya dah diperes), masa bodoh nasib mereka.

Gimana jemaah haji ga kelaperan kalo yang ngurusin katering terbiasa ngurusin pakan ternak dan kontruksi. Ya ampuuunnn...kok orang disamain ma ternak sih? Emang aneh Depag ini, korupsinya ga cantik, bikin malu aja! Eh iya...konon kabarnya (konon lho yaa...), dipilihnya katering pakan ternak itu karena campur tangan ibu negara. Tapi ini cuma kabarnya lho...biasa, masih kabur!
Tapi kalo boleh usul, musim haji tahun depan, mungkin jamaah bisa melempar jumrah di Depag atau kantor gubernur Jakarta saja. Diperkirakan di sana lebih banyak setan soalnya...!

3 komentar:

venus mengatakan...

beritanya bener ternyata ya? aarrggghhh...pengen digamparin tuh majikan2

pitik memaklumatkan mengatakan...

para aristokrat dan kaum berpunya itu memang wajib kita aniaya balik...gimana?setubuh tho??

Kana Haya mengatakan...

ga usah nunggu musim haji taun depan! kita lempar sekarang aja dengan alasan umrah mau ga? =p