Senin, 25 September 2006

cuma nama dan gambar

Di zaman ekstrim (versi gw) dulu, doa gw sebelum makan adalah "Terima kasih bapak tani atas rezekimu hari ini. Berkat kerja kerasmu, saya bisa makan, semoga dipanjangkan umurmu oleh-Nya, Amin!"

Denger doa gw, 'seseorang yang pernah bikin gw berdebar' menatap gw dengan tatapan aneh. Ups...maap. Gw emang ga berusaha jaim dan tampil seolah2 sangat beriman di depan dia. Biarin aja gw kek gini. Kalo dia emang suka ma gw, ya nembaklah, ga usah sok pengen nuntun gw ke jalan yg bener dengan tatapannya itu...hihihi...

Halah...jadi curhat padahal bukan soal tatapan dia inti cerita gw. Gw cuma mikir, jaman sekarang masih ada ga ya orang yang mikirin petani. Kemaren, 24 September, adalah hari tani sedunia. Ga tau napa di Indonesia 24 September juga ditetapkan sebagai hari tani. Apa kasusnya sama dengan hari kemerdekaan? Hanya sekedar peringatan bahwa kita pernah punya kelompok masyarakat bernama petani?

Emang masih ada lahan yang bisa dipake buat bercocok tanam? Hutan dibabat untuk perumahan, bukit dipotong untuk jalan, sawah ditimbun lumpur karena salah ngebor, kuburan digusur demi real estate, perumahan kumuh digusur demi sebuah mall. Apa harus nanem padi di batu?

Tapi mungkin bener, peringatan hari tani sama dengan peringatan hari kemerdekaan. Petani hanya akan dicatat dalam sejarah pada bagian kelam dengan lambang palu arit diatasnya. Gambar presiden yang tersenyum lebar saat menuai padi dengan arit di kanan, padi menguning di kiri, caping di kepala, hanya tipuan belaka.

Tak ada yang benar2 peduli pada lelaki2 berkulit kelam yang tercenung dipinggir kubangan raksasa Porong menatap matinya sumber penghasilan mereka tertelan lumpur panas. Militansi petani Lombok hanya jadi tontonan di layar tivi. Anak2 muda hanya bisa menyanyi kecil Di bawah topi jerami, kususuri garis revolusi...* sambil menatap mahasiswi2 centil ber-tanktop dan rok mini(m) di koridor kampus.

Harga pupuk tetap saja menggila. Sawah2 tak bisa diselamatkan dari lumpur panas. Tanah2 dirampas. Hutan dibabat, sawah terendam banjir. Tersisa cuma kepiluan. Tak ada lagi yang bisa ditanam dan dimakan dari tanah ini. Beras didatangkan dari negeri yang jauh. Petani tinggal nama, arit tinggal gambar, pacul jadi tumpul, hanya ada peringatan sejarah 24 September.

*) lagu itu semakin sayup terdengar. dulu dinyanyikan ribuan pemuda dari puluhan kampus, kini dinyanyikan puluhan pemuda dari satu dua kampus. bertarung satu lawan satu di PN Jaksel sana, maju tiga langkah, ketangkep dua orang, subversif satu orang. lantas apa bedanya dengan Cendana?



NB:...tak perlu basa basi itu, gw udah CUKUP TAU...

7 komentar:

-FM- mengatakan...

mengenaskan kalau bicara nasib petani, guru, anak-anak yang butuh sekolah dan kesehatan (dimana keduanya bisa didapatkan dengan terlebih dulu merasa "duhhh, mahalnya masya allah"), lebih mengenaskan lagi saat membandingkan itu dengan kondisi para petinggi kita yang ... well, aku sendiri sudah kehilangan kata-kata "mutiara"...

venus mengatakan...

iya. setuju dgn mba FM. kapan ya yat, setiap orang di negeri ini bisa ngerasain hidup layak?!

NBnya...hhehehe...

danu mengatakan...

petani di-butuh-kan, petani di-gak-butuh-kan, petani jadi bulan2an para penguasa aja. impor beras dg segala macam alasan. biar petaninya tereak abis2an tetep aja bosnya petani bergeming. sedih.

kana mengatakan...

kalo gak gitu bukan Indonesia toh? yang namanya negara Indonesia itu ya yang begitu itu. Namanya juga negara paling korup sedunia. gak bakal deh petinggi2 negeri ato wong2 sugih di sini mo lirik dikiiiiiiiit ajah ke rakyat yg kecekek lehernyah. tul gak???

waduh, NB-nya... :p

uwie mengatakan...

Bedanya, sekarang semua pejabat kita ngomongnya ke-Sukarno-Sukarno-an tapi tingkahnya ke-Suharto-Suarto-en.
Janji sebesar-besarnya, korup seluas-luasnya! Dari Sabang sampai Merauke, itulah Indonesia! Merdeka!

Walah... jadi esmos... mohon maaf, moga-moga gak mengganggu puasanya... setidaknya mbak Yati (loh, sejak kapan saya manggil mbak, ya? :D) dan semua-semua kita bisa punya "patokan keburukan" dalam menjaga hati kita... (lah, esmos lage...)

Sudahlah... selamat menunaikan ibadah puasa ya...

ariwwok! mengatakan...

people must be free!!

endonesa? ada apa dengan bangsa ini ya? bangsa yg sudah tidak punya malu pada diri sendiri.. mengerikan melihat tingkah polah para petinggi negeri ini.. negeri ini hanya milik mereka dan rakyat hanya menjadi bagian dari anjing penjaga mereka..

hanya satu kata LAWAN!!!

josephina mengatakan...

*tertarik sama "seseorang yang membuatmu berdebar"
hohohoho...