Sabtu, 23 Agustus 2008

sutardji dan bakrie award

di koran kompas hari ini saya melihat gambar setengah halaman, presiden dan istrinya berfoto dengan beberapa orang yang memegang piala atau entah apa di tangannya. semuanya senyum sumringah. ada lelaki bertopi diantaranya. beda sendiri. rambutnya gondrong, nggak licin seperti foto2 lainnya. dia, Sutardji Calzoum Bakrie...eh, Bachri.

sepotong tulisan di foto itu menerangkan, mereka meraih penghargaan dari keluarga Bakrie. konon katanya, para penerima penghargaan ini juga diganjar duit Rp 150 juta.

saya ingat tahun lalu, Frans Magnis Suseno juga diberi penghargaan yang sama. tapi penghargaan itu ditolaknya. karena awardnya bau lumpur. banyak yang mendukung Frans Magnis ketika itu.

alasannya:
- Bencana lumpur panas di Porong, Sidoarjo adalah kejahatan kemanusiaan
- Masyarakat intelektual harus mendukung rakyat bukan kaom modal yang menginjak harkat dan martabat rakyat
- Masalah lumpur panas adalah masalah Negara yang absen atau membiarkan masyarakat tertindas
- Ada pelanggaran konstitusional dalam penyelesaian masalah lumpur panas
- Kaum intelektual bersama rakyat harus melawan pelanggaran ini dengan menyampaikan mosi tidak percaya terhadap pemerintah

kini rupanya nggak ada lagi yang mengingat itu. termasuk pria berambut gondrong di foto itu. atau entahlah, mungkin dia memang tak pernah ingat bahwa porong masih terendam lumpur. atau ia berpikir, lumpur, puisi, dan award, memang tak ada hubungannya.

atau mungkin sebagian besar orang2 telah berpikir benar, bahwa lumpur dan penderitaan rakyat bisa dicuci dengan uang.

3 komentar:

merahitam mengatakan...

Ehm...Itu awardnya buat apa sih? Buat cari muka? Biar orang-orang lupa dosa-dosanya gitu?

Besok-besok gue kalau bikin salah, mending beli piala di Jatinegara aja kali ya, terus gue hadiahin ke orang-orang, biar mereka lupa kesalahan gue. *miris*

merahitam mengatakan...

Btw, blog yang ini jangan ditinggalin ya... :)

koekoeh mengatakan...

Hhm, MONEY DOES WORK.....