Minggu, 20 Juli 2008

ikut partai, hal terlucu abad ini

Pekan lalu, seorang lelaki paruh baya mendatangi saya. Dia bertanya bagaimana caranya agar keberadaan partainya bisa diketahui khalayak ramai. Dia juga ingin agar orang-orang tahu bahwa di provinsi ini, ia-lah yang menjadi ketua partai A. Sebelumnya, bapak itu sebenarnya adalah pengurus partai B. Tapi karena partai B tidak lolos verifikasi KPU, ia lalu menerima tawaran berbelok ke partai B, tetap sebagai ketua tingkat provinsi. Pengurus Partai B sebelumnya, dinyatakan tidak pernah ada oleh pengurus pusat dan mengangkat si bapak itu.

Saya bertanya balik, mengapa si bapak mau pindah partai padahal dulu di partai A, dia udah cukup berjuang tapi ga lolos verifikasi dan kini Partai B datang hanya bermodal stempel dan kertas ber-kop untuk mengambil alih hal yang telah diperjuangkannya?

Jawabnya, kepengurusan partainya telah komplit dari tingkat provinsi hingga kelurahan. Saya tanya lagi, bagaiaman dengan persoalan ideologi, visi, misi dan sebagainya? Bukankah itu sama halnya dengan membendung sungai berarus deras untuk dipindahkan alirannya, demi entah apa? Tapi si bapak itu mengungkap sejuta argumen.

Bagi saya, argumennya terlalu mengada-ngada dan caranya berargumen seperti tengah berhadapan dengan orang super bodoh. Kesel, tapi mau ngomong apa. Itu haknya. Sama seperti semua warga negara lain, berhak untuk berpolitik atau tidak berpolitik.

Tapi, mbok ya yang masuk akal. Berharap lewat partainya Indonesia akan menjadi makmur sejahtera, itu dagelan terlucu abad ini. Bagaimana menjadikan orang lain sejahtera jika diri sendiri belum sejahtera? Bagaimana membangun masyarakat yang jujur dan sadar hukum jika diri sendiri tidak jujur mengakui bahwa ikut partai hanya untuk mendapatkan remah-remah anggaran negara? Untuk mendapatkan kursi di parlemen walo harus menggunakan segala cara? Untuk menjadi anggota lembaga yang di belakang namanya selalu diimbuhi 'yang terhormat'?

Dan setelah duduk di sana lalu segala cara digunakan untuk memperkaya dirinya? Meminta jatah ke pemerintah daerah, ke perusahaan2, bermain perempuan, main film bokep, jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya negara...dll dsb. Belum duduk di dewan aja sudah memanipulasi dengan cara mengklaim nama dan identitas orang sebagai pengurus partai, meminta warga dengan paksa untuk memilihnya saat pemilu.

Kalo hanya itu tujuan bikin partai, JANGAN mencoblos saat pemilu. ANDA ga bakal dapat apa- apa. Kata perjuangan yang mereka gembor2kan hanya omong kosong. Karena perjuangan yang sebenarnya adalah pelaksanaan kata-kata!

8 komentar:

Anang mengatakan...

saya akan coblos semua.. biar ADIL

Koko mengatakan...

masa sih selucu itu?

sluman slumun slamet mengatakan...

bapak itu kyai ya?

julia mengatakan...

jgn mencoblos??? wah ngga ah..
ntar yg ada kerta suara hak saya dipake untuk nambah suara suatu partai *seperti yusril yg sibuk mencoblos kertas suara di LP wkt itu tuh..*
coblos smua ajalah, soalnya gada yg pantes

pudakonline mengatakan...

Demokrasi sama dengan memilih diktator baru

Putro mengatakan...

parlemen di indonesia memang tidak lebih dari sekumpulan orang bodoh yang tidak tahu cara mengurus negara.. yang mereka tahu di tubuh bangsa ini ada remah2 yg mesti mereka ambil demi memeperkaya diri sendiri... PARAH!

merahitam mengatakan...

Mbak...Mbak...Kalau saya bikin Partai, situ mau kan milih partai saya? :D

Bukan lucu lagi, tapi gila. Itu sebabnya daridulu gak percaya sama partai manapun. :(

Mbilung mengatakan...

ada cara lain untuk mengurangi golput dan semua senang. Japri aja ya Co :D