Selasa, 08 Januari 2008

Pekan Penuh Order Bagi Pendoa

Sejak akhir pekan lalu, ada berita besar. Soeharto, sakit lagi. Saking besarnya berita itu, kata detik com, ranking penguasa orde baru ini melesat di deathlist.net di Inggris. Pekan ini, ada order besar bagi para pendoa. Order besar bagi para penjilat. Ketika berita itu tersiar, mereka ramai2 datang membesuk, mendoakan. Padahal mereka sebenernya berdoa bukan untuk si sakit. Tapi berdoa untuk kepentingannya sendiri. Sebentar lagi pemilihan umum, partai kami butuh suntikan dana segar.

[Upah bikin RUU yang hanya Rp 21,4 miliar dan masih harus dibagi2 itu, tak mencukupi untuk modal ke 2009. Setiap anggota sirkus senayan, dapet Rp 1 juta per RUU. Jumlah RUU, 39. So masing2 dapet Rp 39 juta. Jumlah yang didapet sama anggota pansus dan komisi yang membahas RUU itu, serta pimpinan sirkus, beda lagi. Masing2 dapet Rp 5 juta per RUU. Kalikan 39 RUU, hasilnya, kaya raya. Walopun di ruangan cuma diem dan nitip absen.]

Doa-doa yang diikuti buaaanyak sekali pernyataan2. Sok memaafkan lalu disambung pernyataan2 yang sangat terlihat menjilat dari para pengecut. Mereka sengaja mengulur waktu. Menggantung nasib si sakit. Doa mereka sesungguhnya adalah: Ya Tuhan, jangan kabulkan doa kami bagi si sakit agar kami bebas dari sorotan kasus ini. Agar kami tetap terlihat berani mengusut kasus ini. Agar kami tak dicap pengecut. Karena sesungguhnya, kami tak berani menyentuh kasus itu. Selamatkan wajah kami ya Tuhan.

Ah, benar2 pekan yang penuh order bagi para pendoa.
Dan pekan penghinaan bagi mereka, korban-korban pelanggaran HAM. Yang puluhan tahun dipisahkan dengan keluarganya karena cap kejam itu.

Belum reda berita besar itu, ada tangisan seorang pendoa di pengadilan. Hakim menolak permintaannya untuk mendoakan Soeharto. Saat ditanya hakim kenapa dia berlinang air mata, dia bilang, kalau ga dapet beasiswa, mungkin ia tidak akan pernah berhasil dan bisa pake dasi seperti saat ia hadir dalam persidangan. Mungkin ia masih jadi petani.

x-( Apa yang salah dengan jadi petani? Apakah orang berdasi lebih terhormat daripada petani? Apakah ga boleh jadi petani kalo udah dapet beasiswa? Oh, iya, saya baru ingat. Banyak petani dirampas tanahnya. Petani ditembaki. Petani dicekik dengan harga pupuk yang melangit. Ya, ya, dia bener2 patut bersyukur tak jadi petani.



UPDATE: Saya menemukan qoute menarik yang ditulis Dr Victor Silaen, Dosen Fisipol UKI:
"Maret 1998, di tengah krisis moneter yang sangat mengguncang perekonomian Indonesia, Soeharto pernah berkata, Dengan semangat kejuangan dan Saptamarga, jangankan harta, jiwa pun akan dipasrahkan untuk pengabdian kepada bangsa dan negara ini."
Lalu kenapa aparat hukum demikian pengecut? Mengapa parpol kuning itu demikian menjilat?

3 komentar:

daengrusle mengatakan...

Yat
biarkanmi saja tawwa org mendoakan eyang kesiang...semoga juga khusnul khatimah...

:)

amethys mengatakan...

wow....bravo Yat..penamu tajam tapi benar
Selamat menulis terus

domu-ambarita.blog mengatakan...

Kita patut berkabung, karena memanag tidah mudah melupakan orang yang lebih dari tiga dekade mendominasi atau bahkan memonopoli pemberitaan media. Kita layak menangis, karena kebeteluan sepeninggal Pak Harto, sudah empat presiden memipin, tapi tak semu gagal memulihkan keadaan.

Bukan lengsernya Soeharto yang kita tangisi, tapi kegagalan BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawatai Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhonono membawa perbaikan. Andai situasi ekonomi hari ini, saat eyang berpulang, lebih baik dari era Eyang sendiri, saya dan ribuan atau jutaan orang lainnya tentu tak sesegukan menangis.

Sekali lagi, tak perlu tangis amat dalam buat sang jenderal besar, tetapi nasib kita dan anak cucu lah yang harus kita tangisi. Jadi tegar, tatap ke depan. Mari bangunkan dan sadarkan pemerintah saat ini, agar tidak kurang ajar, kalau memang kita menyebut sebagian kelakuan pemerintahan Orde Baru kurang ajar, sehingga dampak menyengsarakannya terasa hingga kini.

Mari, gempur Kolusi, Korupsi dan Nepotisme. Jangan biarkan tumbuh subur di negeri ini. Jangan biarkan segelintir penguasa menimbun harta-benda seenak udelnya, dengan begitu kita tidka membiarkan rakyat kebanyakan jadi tumbal pembangunan.