Selasa, 27 Februari 2007

KB Gagal, Ayo Berjudi Nyawa

Tanpa mengurangi rasa duka cita dan keprihatinan saya pada musibah terbakar lalu tenggelamnya Kapal Levina I, ada beberapa fakta dan kejanggalan yang tercatat saat kapal itu karam. Ini dia:

1. Levina I aman-aman aja pas mulai ditarik, tidak tenggelam. Gelombang cukup besar tidak mampu menenggelamkan kapal. Meski telah menjadi puing, kapal tetap dijamin tidak mudah tenggelam
2. Levina I tenggelam sekitar pukul 13.00, Minggu (25/2) satu jam saat tim puslabfor dan KNKT melakukan pencarian bukti-bukti di dalam kapal
3. Pengisian air balas ke Levina I yang telah dilakukan sebenarnya telah menyeimbangkan kapal yang tadinya miring sekitar 20 persen, sehingga tidak tenggelam kalau tidak bocor. Faktanya, di sekitar Muara Gembong, tidak ada hall yang membuat Levina I bocor seperti kandas di karang. Lha kok tiba2 tenggelam dan bocor waktu itu?
4. Sesuai prosedur, kapten atau nakhoda harus yakin betul kapal ini layak berlayar. Artinya memastikan tidak ada ancama bahaya. Kalau ada benda-benda berbahaya yang mudah terbakar, setiap mobil yang masuk harus dikeringkan tankinya, termasuk bahan kimia
5. Nilai pertanggungan (klaim) asuransi akan penuh kalau kapal tenggelam, sedangkan kalau terbakar masih harus disurvei termasuk sebab-sebab kebakaran. Hmm...poin ini sangat layak diperhitungkan kan?
6. Djoni Lantung sebagai Kepala Syahbandar seharusnya bertanggung jawa atas posisi kapal hingga saat ini. Dia harus membuat surat kepada Dephub dan selanjutnya meminta Mahkamah Pelayaran menggelar sidang membuktikan sebab-sebab kebakaran. Malasahnya adalah, Djoni udah dicopot dari jabatannya
7. Saat kapal di lokasi kebakaran masih dekat ke darat, masih kelihatan dengan kasat mata, tidak perlu pakai radar. Jadi mestinya sih ga perlu ditarik, cukup berlabuh, pakai jangkar. Tapi ga tau ya kalo buat orang2 pinter, pasti punya alasan khusus

Jangan ditanya duka saya khususnya pada kawan wartawan yang meninggal. Gw bisa membayangkan usahanya untuk menyelamatkan gambar yang telah terekam dalam kamera yang luar biasa berat itu, tak peduli pada tubuhnya yang tergerus pusaran air. Mungkin semua wartawan akan melakukan hal yang sama, menyelamatkan kamera dulu sebelum menyelamatkan nyawanya sendiri padahal nyawa ga sebanding dengan harga kamera.

Tapi sebagai pelajaran (dan sedikit penyesalan), tiga poin gw catet:
1. Kapal itu tengah ditarik ke pelabuhan. Buat org2 labfor, KNKT atau siapapun, napa ga nunggu aja di pelabuhan untuk menyelidik? Buat kawan2 wartawan, bukannya sudah ada dokumen gambar yang diambil sebelumnya? Kenapa harus ikut kapal rusak?
2. Karena naik kapal rusak, jelas penuh resiko. Jangan lupa, PAKAI PELAMPUNG dan alat keselamatan lain. Aturan ini berlaku dimanapun, tidak cuma di laut.
3. Pesan paling penting: jangan sembrono, jangan meremehkan apapun, jangan takabur, jangan sombong.

Prosedur keselamatan harusnya dijalankan dengan tertib. Pemerintah jangan cuma bisa berkelit dan main tuding karena musibah udah terlalu sering terjadi. Kalo kapal ga layak berlayar, jangan diijinin. Kalo pesawat ga layak terbang, jangan diijinin. Kalo keretanya reot, dibenerin. Jangan karena terima sogokan dari operator trus pemeriksaan dilolosin begitu aja. Atau tinggal memecat dua Dirjen di Dephub, masalah selesai.

Operator dan penerima sogokan emang sama2 untung. Tapi, orang2 yang menggunakan jasa operator harus berjudi. Ga main2, taruhannya nyawa. Apa segitu pesimisnya sama program KB sampe harus mengurangi jumlah penduduk dengan cara seperti ini? Berjudi nyawa!

14 komentar:

Kana Haya mengatakan...

orang pinter 'kan emang suka keblinger trus puyeng sendiri. dy yg mutusin untuk bersikap demikian jika terjadi sesuatu hal. tapi dy juga yang melanggar keputusannya itu.

btw, saya juga pusing nih... =p

Anang mengatakan...

hush... itu musibah hehe ga ada hub ama KB hihi, mestinya prihatin..

diditjogja mengatakan...

oooalah! takiiro opo! gka taune, masih gembar-gemnbor levina to!

crushdew mengatakan...

terlepas dari urusan KB..turut berduka cita untuk wartawan yang meninggal...

Adi Suryono mengatakan...

Kalo KB kan ada BKKBN, trus kalo Bencana gitu apa yah lembaga yang berwenang, apa BKKBN juga yah? Hehehe

venus mengatakan...

masa sih sejahat itu, co?

aVank mengatakan...

lucu juga
manusia kok gak pernah belajar dari pengalaman

meiy mengatakan...

sebel bgt ngeliat semua ketakbecusan yg terjadi, seperti nya dari banyaknya bencana kita bisa melihat betapa bobroknya sistem n orang2 yg menjalankan di negeri ini

hayoo...tinggal mutusin sendiri mo ikutan bobrok ato gak :D

wier mengatakan...

Mau gimana lagi ya? wong sepur-sepur yang njungkel aja kayaknya cuma dicuekin. Babah wes...

wier mengatakan...

Mau gimana lagi ya? wong sepur-sepur yang njungkel aja kayaknya cuma dicuekin. Babah wes...

wier mengatakan...

Mau gimana lagi ya? wong sepur-sepur yang njungkel aja kayaknya cuma dicuekin. Babah wes...

wadehel mengatakan...

Soal levina, saya kok punya busuk sangka, pasti ada konspirasi busuk dibelakang semua ini.

Soal aparat yang ga pake pelampung, mungkin emang biasa mereka ga disiplin. Wartawan mungkin ikut2an mengabaikan keselamatan demi berita... maaf, demi duit eh, demi berbagi berita dengan pemirsa. Sorry banget buat keluarganya, tapi nyatanya emang mereka cari duit, sekian kamera berat dari sekian stasiun TV di bopong oleh orang2 yang tak peduli dengan keselamatannya sendiri.

Soal belajar dari kesalahan, sekian banyak orang susah komen di blogspot, ada yang sampai posting berkali2 karena ribetnya :P Apa ada kesalahan? Di pihak siapa? Saatnya belajar?

*diseret satpam keluar*

danudoank mengatakan...

berjudi aja udah haram, eh, nyawa dijadikan taruhannya. *geleng-geleng kepala, binun*

Aryo Sanjaya mengatakan...

Cuma bisa garuk-garuk kelapa