Minggu, 03 April 2005

Penyesalan

Sabtu, 2 April 2005

Tau ga sih rasanya kesel pada diri sendiri karena kebodohan kecil dan emosi sesaat?
Malam ini gw kesal ma seseorang yang terus menerus nge-sms-in plus miskol (maksud gw missed call gitu lho...). Abis gw bales sms-nya sekali dengan sedikit kasar, gw taro hp di bawah bantal biar bebas dari suara miskol dan sms-nya. Trus gw tinggal nonton deh...!

Jam 12 malem teng, gw mo tidur and baru inget ada hp di bawah bantal. Gw ambil buat ngecek....hehehe, ternyata penasaran juga ma balasan sms dari orang yang lagi dikeselin. Tau-tau muncul nomer lain yang ga dikenal. Hmm....lengkap dengan sms.

Innalillahi...telepon tak terjawab yang datang bertubi-tubi itu ternyata berita duka.
Kakak kandung bapak yang udah sakit bertahun-tahun, baru saja meninggal setengah sebelas malem tadi. Rasanya nyeseeeel tidak tahu lebih awal. Kenapa juga hp tadi kucuekin ketika sayup2 suaranya dari balik bantal memanggil2ku. Gw sadar, gw juga ga bakal bisa berbuat apa-apa kalo tau beritanya lebih awal, ga bisa pulang karena jarak kami sejauh ini, apalagi untuk mengembalikannya seperti semula.

Yang kuingat tentang beliau, dulu beliau orang paling bersih, paling telaten se dunia. Ga setitik debu pun bisa hinggap di dalam rumah, bahkan di halaman. Semua harus bersih, kinclong, sampe orang2 tetangga kami bilang, mereka bisa bercermin di halaman kami. Semuanya dikerjakan sendiri meski dirumah kami banyak pembantu [[[[[[....maaf, pasti orang2 ini akan protes kusebut pembantu, sebab mereka mengaku hanya mengabdi di rumah kami, mengikuti setiap langkah junjungannya, hingga tak peduli pada diri sendiri. Hidup mereka hanya untuk pengabdian. Padahal sengaja kusindir mereka dengan harapan mereka mau keluar dari perbudakan ini dan mencari hidupnya sendiri sebagai orang merdeka. Tapi belakangan kuketahui mengapa mereka menolak dimerdekakan. Ternyata di luar sana, kemerdekaan membuatnya terjajah oleh tuan-tuan yang lain dan dia harus bertahan sendiri. Tapi jangan-jangan kondisi ini juga buatan para majikan agar budaknya kembali mengemis padanya? Entahlah....]]]]]

Lalu debu-debu itu hilang dari rumah dan halaman kami, sebagian masuk ke paru-parunya dan kini meninggalkan penyakit menahun, asma dan TBC. Masa di akhir2 hidupnya, tak ada yang mau mendekat padanya, takut ketularan penyakit. Sebagian ponakannya, menantunya, terlebih cucu2nya, ga ada yang mau mendekat padanya. Termasuk orang2 yang pernah dihidupinya, disekolahkannya. Meski gw tau dia tak pernah pamrih, tapi hari-hari tuanya mengenaskan. Semua tega meninggalkannya berteriak2 di ranjang kesepiannya.

Gw ingat, pas gw pulang dari Bali duluuuuu banget pas masih kuliah, gw bawain oleh-oleh (murah), dan dia seneeeeeng banget. Sampe gw dipeluk erat2 dan bikin gw sesek. Dan setiap ada yang datang padanya, oleh-oleh itu dipamernya sambil menyebut nama gw. Padahal, kalo ga salah inget, oleh2 itu udah dituker ma yang lebih jelek dan yang sampe ke tangan dia udah yang paling jelek. Duuuuuh...maap, maap...., dosa gw:(

Trus, pas gajian pertama, juga masih kuliah waktu itu (cieeee....pengumuman nih hahaha) gw ngasih apaaa, lupa deh. Duit kalo ga salah. Itu pun udah dikurang2in setelah berdua ma abang gw seperti biasa, berniat iseng karena sebenernya uang pensiunan suaminya cukup banyak untuk dipakainya sendirian, tanpa harus diberi lagi oleh ponakan2 dan anak2nya. Duuuh...dosa lagi dah!

Yang ketiga pas gw pulang kemaren, pertama kali ketemu beliau setelah 1,5 tahun disini. Gw ngasih duit, wah.....ga nyangka gw sambutannya luar biasa. Gw dipeluk abis, pipi gw diusep2, sementara dua orang dibelakangku manatapku dengan khawatir, takut aku ketularan penyakitnya. Seneeeeeng banget dia sampe tuh duit dicium2 dan dibacakan doa2 buat kesuksesan gw. Abis itu gw ketawa2, soalnya duit itu kebetulan aja ada di saku, punya kk yang dititip ke gw. Jadi yang didoain kk gw karena sampe sekarang gw ga balikin tuh duit...! Pliiiiis....maapin gw tante...., sampekan maapku Tuhan. Semoga dia tenang disisi-Mu, Amiiin...!

Pukulan Itu...!

Jumat, 1 April 2004

Kantor Polisi...., aku ga pernah suka berada di tempat ini. Ada bau mayat, bau penyiksaan, bau penipuan, bau militer. Sejak tinggal di daerah ini tahun 2003 lalu, ini kunjungan keduaku. Pertama di bulan Januari 2003, saat menjengkuk teman-teman yang ditahan setelah aksi. Lalu hari ini, menemani seorang teman untuk melaporkan kasus pemukulan dirinya.

Kejadiannya begitu cepat, saat kami berada di rumah pejabat nomor satu kota ini. Yang melakukan pemukulan adalah pegawai salah satu instansi yang ga terima foto di koran tentang ketidakbecusan kerja mereka. Lalu temanku dipukul pelipis kanannya. Kalau tidak keburu lari menghindar, mungkin saat ini temanku tidak berada di kantor polisi tapi di rumah sakit atau di pemakaman.

Tidak ada yang aneh buatku dengan pemukulan itu, bahkan yang lebih kejam sering kulihat dan pernah kualami zaman kuliah dulu. Tapi nekadnya para pelaku pemukulan mendatangi temanku di rumah orang nomor satu kota ini, saat para pejabat berkumpul di sana, hanya untuk memukul, membuatku mengambil satu kesimpulan.

Emosi dari atasan yang mengutus sang pemukul tentu sedang berada di ubun-ubun dan temanku kena apesnya. Sebulan belakangan ini kondisinya memang tidak sehat, dikejar-kejar pemeriksaan jaksa tentang kasus korupsi. Sedianya yang bermasalah adalah orang nomor satu di kota ini, tapi beban ditimpakan padanya. Apalagi sang nomor satu ini masih ingin terus duduk di singgasananya dan saat ini tengah menyusun startegi memenangkan pemilihan kepala daerah.

Ada mutualisme simbiosis antara keduanya. Tapi mereka juga saling memeras. Bos pemukul memegang penuh kekuasaan atas 10 ribu pekerjanya yang pasti bersedia melakukan apapun untuknya. Namun kini ia dijadikan korban oleh sang nomor satu, bebannya tentu berat. Lalu ditambah komentar sang orang nomor satu di koran tentang ketidakbecusannya, emosi pasti melambung ke ubun-ubun. Pelampiasannya, ya temanku itu.

Aku solider pada bagian pemukulannya, tapi tidak pada berita koran yang jadi pemicu pemukulannya. Karena di sana ada ketidakseimbangan, yang disebut orang-orang pers sebagai cover both side (semoga tidak salah tulis). Kekerasan dan premanisme harus dilawan, tapi jangan pernah lupa untuk bercermin sebelum melawan!

Kamis, 31 Maret 2005

Negeri Bencana

Kamis, 31 Maret 2005

Indonesia negeri berdarah,
teramat banyak peristiwa,
Ambon, Atjeh, Poso, Papua, tragedi semanggi, tragedi trisakti, tragedi 27 Juli. peristiwa Lampung, peristiwa Tanjung Priok, peristiwa Malari, Banyuwangi, Timor Leste, Sampit, dan masih banyak yang lainnya....

Itu kata lagu anak-anak gerakan pasca '98 dulu. Memang amat banyak tragedi, tapi semuanya bikinan manusia, konflik elit yang sengaja dirembeskan ke akar rumput. Tragedi yang sengaja dibuat biar ada alasan bagi sekelompok orang untuk kembali berkuasa, menjadi orang nomor satu di negeri ini, untuk bisa berbuat lagi semaunya lagi.

Liat aja, belum setaon berkuasa, bencana demi bencana datang. Pas tiga bulan bencana gempa dan tsunami di Atjeh dan Sumut melanda, gempa dahsyat kini kembali mengguncang Nias. Itu pun masih diselingi naiknya BBM, Ambalat, bencana lalu lintas, pembunuhan berencana terhadap Munir, bencana alam yang levelnya sedikit di bawah bencana Atjeh seperti banjir, tanah longsor, berbagai wabah penyakit, semuanya menelan korban nyawa. Pas Nias dilanda bencana, di Pulau Nan Cantik Bali sana, duo bersaudara lagi berebut pucuk pimpinan karena keduanya merasa pantes jadi anak kandung ideologis Bung Karno.

Sementara anggota DPR ga mau kalah, pas BBM naik, mereka ikut minta gaji naik, lalu berkelahi di depan umum. Pantesnya polisi nangkepin mereka, bukan hanya pelajar yang tawuran di jalan yang ditangkap. Anak-anak itu kan mencontoh dari wakil-wakilnya di DPR sana.

Lalu SBY tenang-tenang aja, orasi di sana sini, mempertontonkan kejagoannya berpidato, omong besar berantas korupsi, nyatanya cukong kayu diloloskan, jaksa tetep bisa disuap. Kini Jusuf Kalla dan Abu Rizal Bakri mo ikut-ikutan tender bikin jalan tol. Dasar ga punya malu, katanya mo berantas KKN tapi mereka sendiri yang notabene adalah pejabat (pejabat pengusaha ato pengusaha pejabat) mo ikut-ikutan tender yang pasti akan dengan gampang dimenangkan. Lha wong yang punya negara cuma mereka.

Semuanya emang taek kucing!!!
Sebenernya gw ga begitu heran. Sebelumnya gw dah bilang kalo tangan SBY emang panas, makanya yang ada bencana mulu di negeri ini. Gw percaya karma. Jika di masa lalu SBY tangannya berlumuran darah orang tak berdosa yang ditembakinya saat masih tentara aktip, kini saat memimpin, banyak pula darah bercucuran di sana sini. Tapi dia ga bakalan sadar, terlanjur terlena dengan kekuasaan yang diimpikannya sejak dulu.
Hmmm....enak kan kalo ada yang disalahin jika terjadi sesuatu. Timpakan aja semuanya pada SBY!!!!

Kamis, 10 Maret 2005

Nukilan Diari

Kamis, 10 Maret 2005, pukul 03.16
Hampir empat minggu, insomnia menderaku tanpa ampun, bahkan lebih parah dari sebelum-sebelumnya, membuatku terjaga hingga pukul 03.00 atau 04.00 menjelang pagi. Obat tidur ternyata tak begitu berguna sehingga separuh sisanya kujebloskan lewat kisi jendela hingga air selokan menghanyutkannya. Kata dokter, gw harus mengkonsumsi vitamin, minum susu, refleshing, dll, dsb, masa bodoh.
Tapi penyakit yang sungguh menyiksa ini membuatku punya waktu membuka-buka diari masa SMP, SMA dan saat kuliah. Hmm....ternyata banyak catatan dan puisi yang tersisa dari sana. Inilah sebagian nukilannya.....

BOCAH
* tanpa catatan waktu, mungkin sekitar 1993

Asap knalpot merebak dalam kota
Terik matahari memanggang kulit
Sungai-sungai airnya kuning dan bau
Semua tak peduli

Bocah meraung-raung
Sebagian lagi mengais jejak tapak manusia
Sementara orang dewasa telah mencakar langit
Semua tak peduli

Ditinggal aku menatap mereka
Menelusuri wajah tanpa dosa
Kaki bocah telah pegal
Dan kini aku memilih
Menyusuri satu jalan damai
Karena semua tak peduli

ULTRA VIOLET I
* November Rain 1994

Nama itu berdengung dalam nafasku
Baunya lalu terbawa angin
Sambil tak lupa mencolek hidungku
Menyakitkan!!!

ULTRA VIOLET II
* Akhir November 1994

Bias cahaya senja kemarin masih terasa
Tapi kini matahari kembali merekah
Jangan terlalu yakin sobat
Karena sore nanti pasti akan meredup lagi
Walau esok kan muncul lagi
Dan meredup lagi sore harinya

RESAH
* September 1994

Saat ini meletihkan sekali
Keringat resah dalam genggamanku
Karena sesuatu yang tak pasti
Karena gelisah dalam keraguan
Ujud yang tak jua bersua
Jiwa yang entah kosong entah berisi
Amat dahsyat membelenggu badan
Sampai kini tak kutemukan kunci belenggu itu

Yang ini tahun 1994 juga, tapi ga tau judulnya apa....

Mulanya polos
Lalu kukumpulkan segala tahu
dan kutaburkan di permukaannya
Hingga kini muncul
Dan nanti akan mekar
Baunya akan tercium orang
Kan kupetik
Dan kembali kutaburkan untukmu
Sampai waktu terus menggulirkan segalanya
Dan...hanya Tuhan yang tahu!

11 April 1996

Hiruk pikuk camar beterbangan ke sana ke mari
Entah apa yang terjadi di sana
Mungkin mereka sedang merayakan sesuatu
Atau malah sedang berduka
Aku tak mengerti, karena aku seperti tak merasakan apa-apa
Kala kini, bagai elang ataukah kalong?
Entah....
Yang jelas saat ini suasana ramai dan ceria mengelilingiku
Tapi kurasakan keramaian itu
justru berubah menjadi kesepian yang mencekam
Kalong...
dia terbang bergerombol
riuh suara mereka
tapi dinginnya angin teramat tajam menusuk tulang
Elang...
Sinar matamu tajam dan keras
Seakan ingin menerjang karang obsesi
yang menghadang gerakan sayapmu
tapi apa daya
obsesimu kuat, kepakan sayapmu dahsyat
menyibak awan
menggetarkan sukma
tapi kamu terbang dalam kesendirian
Walau kepakan sayapmu kadang membuat kupu-kupu bergetar
Tanpa kawan kamu terbang
Kalong dan Elang...
Selamanya tak akan melangkah bersama, apalagi seiring sejalan
Kalong terbang di malam hari
Elang terbang di siang hari
Jarak kalian memang jauh
Sejauh matahari dan bulan

Rabu, 09 Maret 2005

Apa semua tentara harus jadi presiden?

Rabu, 9 Maret 2005, pukul 00.15

Heran, kenapa semua orang sibuk soal Ambalat? Katanya sih demi harga diri bangsa yang berujung dendam pada bangsa serumpun di seberang sana.

Ambalat pun memunculkan pedang bermata dua bernama nasionalisme pada segelintir pemuda yang ramai-ramai minta dilatih tentara dari tingkat Koramil, Kodim hingga Kodam.

Mereka pun ramai-ramai menggunakan istilah 'ganyang'. Kok mirip yel yel taon 65 sih? Gw pun mikir, kalau bukan SBY yang bikin isu Ambalat jadi gede, pasti pengguna kata GANYANG udah diciduk aparat, dikira ekstrimis kiri. Pikiran optimis akhirnya muncul juga, mungkin sejarah mulai terungkap, bahwa salah satu angkatan yang bergerak di daratan sebenarnya terlibat taon 65, hahaha....!

Tapi kok kemaren pas kejadian TKI yang nyawanya diburu-buru, nggak disikapi? Giliran denger soal Ambalat yang berlimpah minyak, semua langsung bereaksi. Padahal kalo pun dikasih ke Indonesia untuk diekplorasi, berapa rupiah sih yang bisa dinikmati rakyat? Yang selama ini terjadi, semua habis di pusat, diteteskan sedikit ke provinsi, lalu sedikit lagi ke kabupaten/ kota penghasil minyak. Sebagian besarnya tetap dikuasai oleh perusahaan pengeksplorasi tambang.

Hasilnya bisa dilihat di Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim, yang merupakan daerah terkaya se Indonesia karena daerah ini pusat tambang minyak, gas dan batu bara. Tapi Kutai juga adalah daerah yang terbanyak penduduk miskinnya, daerah yang paling banyak utangnya, dan daerah lebih banyak wartawannya daripada penduduk biasanya.

Tidakkah terpikir oleh orang-orang bahwa isu Ambalat menguntungkan SBY atas kecurangannya menaikkan harga BBM?
Kalo emang niat konfrontasi, kenapa konsulat kita di sana ga segera ditutup?
Kenapa TKI ga ditarik agar mereka ga jadi tumbal jika terjadi sesuatu?
Kenapa relawan dan tentara Malaysia di Aceh tetep dibiarkan?
Ga malu terima bantuan dari lawan?
Terbukti, semua hanya dagelan politik!
Dikira perang itu enak?
Kenapa pas kejadian di Atjeh, laskar pemuda setengah militer ini nggak bergerak se-antusias sekarang?
Ambalat katanya persoalan harga diri. Berapa sih harganya?
Apa harga diri TKI dan warga Atjeh lebih kecil nilainya dibanding kita?
Jangan sok deh! Perang ga ada untungnya!
Trus...kalau yang ke perbatasan sana pemuda semua, lantas tugas tentara yang buanyak itu apa?
Masa semua tentara hanya jadi presiden?