Namanya Sukardi, usianya 80 tahun. Dia adalah warga Desa Renokenongo, salah satu dari ribuan warga korban lumpur panas Lapindo Brengsek, eh, brantas aja! Demi solidaritas, lelaki renta itu ikut aksi mogok makan. Setelah tiga hari, dia ambruk karena ngedrop.
Semula, warga yang ikut mogok makan jumlahnya 200-an orang. Perlahan-lahan mereka berguguran satu per satu, termasuk si kakek 80 tahun itu. Saat siuman dari pingsannya, Sukardi masih menolak disuapi warga lainnya. Dia tetep keukeuh ikut aksi. Setelah dibujuk, akhirnya Sukardi nurut, alasannya karena faktor usia.
Selain mogok makan, warga yang ikut aksi ini juga merantai kaki mereka lalu digembok. Mereka menuntut uang makan diberikan dalam bentuk uang tunai saja, bukan dalam bentuk nasi bungkus. Soalnya selama ini, nasi bungkus yang mereka dapat, kadang tidak mengandung gizi, bahkan nasinya basi!
Tapi apa jawaban Menteri Sosial? Katanya, tuntutan warga ga akan dipenuhi karena bakal merepotkan pemerintah daerah sendiri. Katanya, kalo dikasih uang dan mereka masak sendiri, pemerintah daerah khawatir akan terjadi kebakaran. Apalagi disana daerah pasar. Mensos cuma pesen sama orang did apur umum agar jatah makan Rp 15 ribu, jangan ada kesan itu dikorupsi.
Apa rasanya ga pengen meledak mendengar itu? Awalnya saya sebel dengan aksi kakek2 itu. Duh, udah tua kok nekad ikut mogok makan. Apa ga nyusahin sesama warga dan anak cucunya? Atau mungkin si kakek mikir, udahlah, lewat juga gpp, udah tua ini, daripada berlama2 melihat kebobrokan negeri! Tapi mendengar jawaban Mensos, rasanya...uugghhh! Masih pantes ga sih ada Mensos di negara ini? Masih pantes jugakah ada Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat?
Senin, 14 Mei 2007
Aksi Kakek dan Mensos
Sabtu, 12 Mei 2007
Sembilan tahun menagih janji
ritual sama
menabur bunga
menabur air mata
turun ke jalan
membawa keranda
membawa foto kenangan
menagih janji dari gedung ke gedung
sembilan tahun terlewati
tak ada yang berubah
hanya sisakan bunga layu di batu nisan
*)Mengenang Tragedi Mei Berdarah '98
Minggu, 06 Mei 2007
Hari Tertawa dan Hari Cuci Tangan
Tanggal 6 Mei, rupanya hari yang istimewa.Terlebih tahun ini. Disaat para menteri dalam ketegangan, berdebar2 menunggu giliran dipanggil ke Cikeas, menteri paling ajaib satu ini ngajarin cara cuci tangan yang baik dan bener, serempak di empat kota. Ada empat menteri yang hadir dalam acara itu, termasuk menteri kesehatan. Trus kenapa yang ngasih contoh harus Ical? Kok bukan Ibu Menkes?
Hmmm...sepertinya, dia emang paling ahli dalam hal cuci tangan. Ini beberapa manfaat cuci tangan ala Bakrie yang patut dicontoh:
1. Menjauhkan dari kuman2 bernama tuntutan masyarakat korban lumpur panas Lapindo
2. Mencegah diceburin ke lumpur panas oleh warga Sidoarjo
3. Mencegah pengeluaran harta pribadi untuk membayar ganti rugi, diganti dengan APBN
4. Mencegah stres dan jantung berdebar2 karena SBY masih ragu soal resuffle
5. Mencegah dilengserkan dari jabatan sebagai menteri
6. Memberi contoh perilaku hidup bersih dengan mengotori tangan orang lain
7. Menekan angka kejadian penyakit menular(-kan jabatan kepada orang lain. Lha gw aja lom balik modal, baru menjabat 2,5 tahun). Maksaaaa....hahaha!
Apalagi keistimewaan 6 Mei kali ini? Hmmm...mungkin tak banyak yang tau kalo hari ini adalah Hari Tertawa Internasional. Konon, di Solo, Jawa Tengah, puluhan orang menggelar aksi tertawa di pinggir jalan dengan iringan lagu Ayo Ngguyu yang dipopulerkan penyanyi Waldjinah.
Tujuan tiga acara di tiga tempat berbeda ini, pada dasarnya sama aja. Cuci tangan untuk kebersihan dan kesehatan. Tertawa juga untuk kesehatan. Lalu di Cikeas? Tujuannya sama, demi mencari pejabat yang bersih dan sehat. Ga ada hubungannya sih, cuma kebetulan aja terjadi bersamaan hari ini.
Harapannya sih, moga-moga aja orang Solo yang sedang merayakan hati tertawa sedunia itu tidak sedang menertawai yang sedang cuci tangan dan berdebar-debar. Bisa subversif lho!
Sabtu, 05 Mei 2007
Bukan Resuffle yang Kami Tunggu
Sampai saya menulis postingan ini, konon mr presiden masih sibuk rapat dengan para gubernur se negeri antah berantah, dengan para menteri dan calon menteri di istana baru, Cikeas. Capek juga ya jadi presiden. Rapat sejak kemarin pagi, cuma bicara satu kata, resuffle. Halah...halah...! Tapi lebih capek lagi para menteri atau yang GR bakal jadi menteri. HP ga pernah dimatiin. Ga boleh keluar kota. Karena sapa tau mr presiden mo nelpon, ngabarin kalo dijadiin menteri, pembantunya mr presiden. Gw mikir, jangan2 juga nahan buang air, biar ga ketinggalan satu kata pun dalam siaran berita di tipi soal resuffle.
Mereka udah ga peduli dengan keriuhan bulan Mei. Keriuhan para buruh. Keriuhan anak-anak sekolah yang sibuk ujian nasional. Riuhnya sambutan bagi ilmuan cilik yang meraih emas di Cina dan Rusia. Riuhnya tepuk tangan bagi Inu Kencana dan Munir serta SCTV yang dapet penghargaan Poncke Princen Human Rights Prize 2007.
Keriuhan yang membawa kegembiraan saja tak bisa mereka dengarkan, apalagi jerit kesakitan. Tak ada waktu untuk mendengar tangis pilu seorang ibu saat anaknya meninggal dikeroyok kakak2 kelasnya di sebuah sekolah dasar di Jakarta. Tak ada waktu melihat wajah lesu Lexie yang ditahan Polda Jabar karena menyuntik Cliff Muntu dengan formalin. Tak bisa mendengar kengerian para orang tua melepas anak2nya sekolah tatkala oknum guru mereka sendiri menjadi penganiaya dan sekolah tempat belajar itu justru menjadi tempat paling tidak aman bagi anak2. Apalagi hanya untuk mendengar keluhan para pengungsi lumpur panas Lapindo. Ah, buat apa didengarkan. Lama2 mereka akan terbiasa hidup di tepi kubangan beracun itu.
Yang mereka pikirkan, hanya bagaimana agar posisi mereka tetap aman di kursi empuk. Mata mereka tak pernah lepas dari layar kaca, memastikan nama mereka tak tergeser dari kabinet. Handphone tak pernah lepas dari genggaman agar tak luput dari panggilan mr presiden. Hah...capek! Padahal orang2 kelaparan di luar sana ga bisa nungguin resuffle. Mereka hanya ingin tau, hari ini ada sesuatu yang bisa dimakan, ada obat gratis yang bisa menyembuhkan, ada sekolah tempat anak-anak menimba ilmu! Bukan resuffle.
Selasa, 01 Mei 2007
May Day Bikin Kaya
May Day bisa bikin kaya raya. Konon, ada seseorang yang bisa menjadikan hari pestanya para buruh sedunia ini sebagai bisnis paling menjanjikan. Panen sekali setahun dengan keuntungan bersih, yang luar biasa besar.
Hal ini mungkin berawal dari perubahan paradigma para pemilik modal, bahwa sesekali, kaum buruh juga layak mendapatkan liburnya sehari dalam setahun, yang mungkin ingin digunakan untuk berteriak sesukanya. Tapi pelayanan pada konsumen juga tidak boleh terganggu di hari buruh itu. Sebab, kalo pelayanan terganggu, ga ada pemasukan. Ga ada pemasukan, keuntungan berkurang. Keuntungan berkurang, gaji buruh bisa turun.
Bagaimana agar dua hal itu, hak konsumen dan hak para buruh tetap terpenuhi? Otak cerdas seseorang itu, dikolaborasikan dengan otak si pemilik modal. Kata pemilik modal, buruh saya boleh ikut demo, terserah mau dibawa ke Istana, mau ke Bunderan, mau ke patung, mau ke pertigaan mau ke gedung sirkus, terserah! Asalll...demo jangan dilakukan di lingkungan pabrik ini!
Ok, deal, kata si seseorang. Beri saya Rp 5 juta saja, maka demo semuanya akan diarahkan ke jalanan. Dan lingkungan kantor Anda tetap bersih. Jika timbul huru hara, kantor dan pabrik Anda aman. Paling yang pecah pot-pot bunga, lampu jalan, tapi masih ada APBN untuk dipake bersih2in semuanya.
Maka, hitunglah jumlah perusahaan yang ada di Jabodetabek dikali Rp 5 juta, itulah keuntungan yang didapat si seseorang. Rp 5 juta, ga ada artinya buat pemilik modal yang menginginkan asetnya tetep aman dari kemungkinan huru hara kan? Soal tanggungan angkutan bagi buruh ke lokasi demonstrasi, air minum, nasi bungkus, ah, itu sih gampang. Gaji kami para buruh masih mencukupi, meski harus urunan. Demi yel yel Buruh Bersatu Tak Bisa Dikalahkan!
Sungguh malang, kaum buruh tak pernah tau ada deal seperti itu. Mungkin deal itu memang tidak merugikan siapa-siapa secara material. Tapi itu bentuk penghianatan! Di depan corong dan kamera tipi, si seseorang itu sibuk berteriak lantang dengan mengepal tangan kiri, mengaku sebagai kawan (Almh) Marsinah, sementara tangan kanannya, meraup duit dari kawannya, si pemilik modal.