Ada yang ingat, masa kerja anggota DPR tinggal berapa lama lagi? Tahukah kalau mereka akan berjalan-jalan lagi ke luar negeri di akhir masa jabatannya ini? Ya, mereka akan menuju Amerika dan Prancis.
Menurut berita ini, jalan-jalan itu bertujuan mencari referensi penyusunan rencana dan strategi kerja DPR periode 2009–2014. Katanya ini bakal bermanfaat untuk DPR mendatang untuk menambah referensi penyusunan renstra. Periode 2009-2014? Emang berapa persen anggota yang sekarang masih terpilih lagi untuk menjadi anggota DPR di periode mendatang?
Masih berdasar informasi yang sama, kunjungan ke kedua negara itu menghabiskan anggaran Rp 2 miliar. Tapi tidak begitu jelas berapa orang yang akan berangkat dan berapa daa yang dibutuhkan. Yah, seperti biasalah. Rombongan ini akan berangkat pada 27 Juli 2009 dan berada di kedua negara selama tujuh hari.
Sebenernya agendanya tidak begitu jelas. Sebab ada yang bilang untuk kunjungan kerja, ada yang bilang atas undangan parlemen Amerika, dan ada yang bilang sebagai kunjungan balasan atas kunjungan parlemen Amerika beberapa waktu lalu.
Apapun alasannya, seperti biasa saya tetap curiga, ini acara jalan-jalan doang. Apalagi ini mengikutkan sejumlah anggota keluarga masing-masing selain staf, dan relasi. Apa kepentingannya para keluarga ikut kalo ini adalah kunjungan kerja? Apa keluarganya mau ikut rapat dengan kongres AS? Atau mau ikut rapat di mall?
Saya memang tak pernah percaya dengan agenda kunjungan-kunjungan kerja macam ini. Sudah terlalu sering mereka para anggota dewan sirkus yang terhormat itu melakukan pembohongan macam ini. Dari penelusuran kawan-kawan NGO di berbagai daerah, dalam kunjungan seperti ini, banyak dari anggota Dewan yang cuma ngambil “mentahnya” saja. Bagaimana dengan bukti-bukti laporan keuangan sehabis perjalanannya? Gampang, dengan uang sampe Rp 250 ribu, boarding pass pun bisa dipalsukan. Tentu bekerja sama dengan orang dalam di Angkasa Pura. Kapan-kapan saya tulis soal ini.
Selasa, 21 Juli 2009
Jumat, 10 Juli 2009
Ayo Ikut Gerakan Cicak Lawan Buaya!
Saya Cicak Berani Lawan Buaya. Maksudnya apa ini? Apakah pemakai logo ini mendadak menjadi kelompok pembela hak satwa?
Pengguna logo ini berarti menjadi bagian gerakan solidaritas CICAK, singkatan dari Cinta Indonesia Cinta KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Tidak ada hubungannya dengan kelompok pembela hak binatang, Tapi kalau teman-teman dari pembela hak satwa mau bergabung, kami menerima dengan tangan terbuka lho.
Kenapa ada gerakan solidaritas CICAK untuk KPK? Bukankah sebagaimana diberitakan media, KPK lembaga super?
KPK memang betul lembaga super, karena superioritas KPK ini, kami dari CICAK yakin, banyak pihak yang tidak suka dan mulai menyarangkan serangan tersistematisir terhadap KPK. Ini bukan kami mendramatisasi atau lebay lho, tapi coba Anda lebih jeli deh. KPK adalah lembaga super yang bertugas memberantas korupsi di Indonesia. Kenapa disebut super? Karena KPK berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan, penuntutan sampai pemeriksaan di pengadilan. Kewenangan penyelidikan dan penyidikan selama ini dikerjakan oleh kepolisian. Sedangkan penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan dikerjakan oleh kejaksaan. Jadi kerja dua instansi penegak hukum dikerjakan oleh KPK.
Tambah lagi, dalam UU KPK no.30/2002, disebutkan untuk mengadili penuntutan kasus korupsi yang dilakukan oleh KPK, pengadilan yang berwenang adalah pengadilan korupsi. Artinya, dibentuk pengadilan baru. Kekhususan pengadilan korupsi ini terutama dari komposisi hakimnya yang terdiri dari hakim pengadilan negeri dan hakim ad-hoc serta proses beracara. Hakim ad-hoc adalah hakim tambahan yang bukan berasal dari hakim karir, dari unsur masyarakat.
Kewenangan super KPK lainnya adalah KPK berwenang untuk mengambil alih penyidikan. yang sedang dikerjakan polisi. Apabila KPK mengambil alih penyidikan kasus, maka pihak kepolisian harus menyerahkan kasus tersebut dalam kurun waktu 14 hari pada KPK dan kepolisian tidak berwenang lagi menangani perkara tersebut.
Waks! Betul-betul super ya KPK ini. Bisa banyak musuh dong KPK?
Iya. Terutama musuh KPK adalah para koruptor, oknum pejabat dan aparat yang korup. Hal ini menjelaskan mengapa kami beranggapan ada serangan tersistematisir pada KPK
Ah, dasar cicak paranoid. Lembaga super begitu gimana mau diserang?
Anda sudah baca kan betapa superiornya kewenangan KPK dibanding aparat penegak hukum lain? Belum lagi kewenangan KPK lain seperti penyadapan, pencekalan, blokir rekening, perintah pemecatan sampai membina kerjasama dengan Interpol. Dengan sedemikian banyak kewenangan, para koruptor tentu perlu merapatkan barisan untuk melumpuhkan KPK.
Tadi Anda bilang ada upaya sistematisir penyerangan terhadap KPK. Seperti apa sih?
Contoh paling mudah dengan tertunda-tundanya pembahasan RUU Pengadilan Tipikor. Memang betul sekarang ada pengadilan korupsi, tapi berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK), untuk peradilan korupsi, harus diatur dalam UU tersendiri, tidak bisa menclok dalam UU KPK seperti sekarang. Nah masalahnya, dalam putusan MK tersebut ada jangka waktu, yaitu paling lambat tanggal 19 Desember 2009, harus sudah terbentuk UU Pengadilan Korupsi baru. Sedangkan nasib RUU itu sendiri sekarang masih dibahas oleh Panitia Khusus (Pansus) DPR. Dari limapuluh (50) anggota Pansus, hanya duapuluh (20) orang yang terpilih kembali. Masa sidang yang tersisa adalah dari 14 Agustus 2009 sampai 30 September 2009. Singkat kan? Itu baru sekedar contoh.
Kemudian seperti yang diberitakan oleh majalah Tempo edisi 6-12 Juli 2009, dilakukan pemeriksaan atas Wakil Pimpinan KPK Bagian Penindakan Chandra M. Hamzah atas dugaan penyadapan handphone Rhani dan Nasrudin. Menurut kami, pemeriksaan tersebut terlalu mengada-ada. Bukankah penyadapan bagian dari kewenangan KPK? Bisa dilihat di UU KPK No.30/2002 pasal 12 ayat 1 huruf a.
Nah waktu itu ada wawancara di majalah mingguan terkemuka nasional, yang mewawancarai seorang petinggi kepolisian. Di wawancara tersebut, bapak polisi menyebut soal cicak dan buaya. Apakah ada hubungannya?
Oh, maksud Anda berita di majalah Tempo 6-12 Juli yang judulnya Ramai-Ramai Gembosi KPK? Terus terang kami dari gerakan CICAK merasa berterima kasih karena berdasarkan wawancara itu istilah ‘cicak' pertama kali muncul dan membuat kami makin terinspirasi untuk membuat suatu gerakan.
Apakah gerakan CICAK ditunggangi parpol?
Coba Anda perhatikan, selama ini justru kami para cicak yang menunggangi parpol. Sayangnya tunggang-menunggang sulit efektif kalau melibatkan parpol, apalagi mereka menyuarakannya hanya lima tahun sekali. Tolong catat ya.
Apakah "Kami CICAK" ini gerakan anti aparat?
Tentu tidak. Mengapa kami harus anti aparat penegak hukum? Tidak masuk logika dong, pemberantasan korupsi tanpa melibatkan aparat penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Jangan membuat orang berfantasi yang tidak sehat ah.
Lho, kalau begitu, kenapa sebut-sebut buaya? Terus apa hubungannya dengan cicak? Kan buaya tidak makan cicak?
Pertama, tahu darimana Anda buaya tidak makan cicak? Memang Anda buaya? Kedua, buaya itu personifikasi semua yang buruk dari korupsi/koruptor. Memang kasihan sih buayanya, tapi kami yakin penampakan buaya dimanapun pasti bikin ngeri. Sama seperti koruptor. Ketiga, cicak itu melambangkan kami yang jumlahnya banyak tapi sering tak diperhitungkan partisipasinya, sering dilupakan tapi sering apes terjepit pintu atau tertindih lemari. Persis seperti cicak. Keempat, meski buaya dan cicak sama-sama reptil, sama seperti kami dengan koruptor yang sama-sama manusia, tapi kami tidak mau mengambil apa yang bukan hak kami, tidak seperti koruptor.
Menurut Anda, penting ya mendukung gerakan KAMI CICAK ini?
Sekarang coba jangan gunakan kata "Anda" lagi. Gunakan kita. Karena kita sama-sama anti korupsi, kita percaya Indonesia kita ini, yang kita harus rawat sebaik-baiknya, akan lebih baik tanpa korupsi. Dan kita, seperti cicak yang sering tak berdaya, tidak dianggap dan terjepit, mampu dan berani bersuara melawan buaya koruptor
Wah, sepertinya Anda kompor betul ya!
Jangan gunakan Anda lagi! Anda, saya, kita semua, para cicak, akan mendeklarasikan GERAKAN CICAK. Tunggu tanggal mainnya.
Tunggu, tunggu, pertanyaan terakhir. Jadi siapa sebenarnya cicak?
Siapa itu cicak? Cicak itu anda, saya dan kita semua! Hidup CICAK (Cinta Indonesia, Cinta KPK)
*tulisan ini di-copy-paste dari sini*
Rabu, 08 Juli 2009
Setelah Digempur Lumpur, Api Siap Membakar Warga Siring
“Jangan menunggu lagi, kami sudah tak tahan”
Itu omongan warga Siring di Sidoarjo sana yang rumahnya nyaris terbakar. Kemarin, semburan lumpur di RT 03 RW 01, Siring Barat meledak dan menyemburkan api setinggi lima meter. Endang harus dirawat di rumah sakit karena kepalanya kena api.
Ini mengerikan. Setelah digempur lumpur, warga Siring siang diamuk api. Jadi, siapa yang bakal tahan? Dodi Irmawan, Kepala Divisi Gas Badan Penanggulangan Lumpur Lapindo, bilang, kalau dibiarin lama-lama, di sana bukan lagi lautan lumpur, tapi lautan api. Karena di sana muncul banyak titik semburan lumpur baru. Dan seperti diketahui, semburan lumpur itu mudah terbakar karena mengandung gas. Memadamkannya pasti akan sulit.
Parahnya lagi, wilayah Siring Barat belum dimasukkan dalam area dampak lumpur Lapindo. Jadi kemungkinan besar, menurut ketakutan saya, nasib warga di sana akan dicuekin. Lha, bukan daerah yang dianggap terkena lumpur kan? Buta kali, genangan lummpur seluas itu ga keliatan!!!
Saat membaca berita ini, rasanya darah saya mendidih, marah benerrr! Ada ga sih, satuuu aja dari para calon presiden dan wakilnya yang terhormat itu yang pernah ingat kasus LUMPUR-nya ICAL? Tampaknya derita warga sebanyak itu akan terlupakan begitu saja dengan 1-2 miliar buat modal kampanye. Oh, God!
*artikel ini saya posting juga di politikana*
Itu omongan warga Siring di Sidoarjo sana yang rumahnya nyaris terbakar. Kemarin, semburan lumpur di RT 03 RW 01, Siring Barat meledak dan menyemburkan api setinggi lima meter. Endang harus dirawat di rumah sakit karena kepalanya kena api.
Ini mengerikan. Setelah digempur lumpur, warga Siring siang diamuk api. Jadi, siapa yang bakal tahan? Dodi Irmawan, Kepala Divisi Gas Badan Penanggulangan Lumpur Lapindo, bilang, kalau dibiarin lama-lama, di sana bukan lagi lautan lumpur, tapi lautan api. Karena di sana muncul banyak titik semburan lumpur baru. Dan seperti diketahui, semburan lumpur itu mudah terbakar karena mengandung gas. Memadamkannya pasti akan sulit.
Parahnya lagi, wilayah Siring Barat belum dimasukkan dalam area dampak lumpur Lapindo. Jadi kemungkinan besar, menurut ketakutan saya, nasib warga di sana akan dicuekin. Lha, bukan daerah yang dianggap terkena lumpur kan? Buta kali, genangan lummpur seluas itu ga keliatan!!!
Saat membaca berita ini, rasanya darah saya mendidih, marah benerrr! Ada ga sih, satuuu aja dari para calon presiden dan wakilnya yang terhormat itu yang pernah ingat kasus LUMPUR-nya ICAL? Tampaknya derita warga sebanyak itu akan terlupakan begitu saja dengan 1-2 miliar buat modal kampanye. Oh, God!
*artikel ini saya posting juga di politikana*
Rabu, 03 Juni 2009
Bebaskan Ibu Prita, Sekarang!!!
Sejak pertama kali membaca berita tentang Ibu Prita, saya udah geraaam banget. Sepertinya makin ga ada tempat aman di negara ini. Orang curhat aja ditangkap. Setelah baca berita ini, saya semakin geram. Kok segitunya sih? Apa Prita dianggap segitu berbahayanya seperti teroris sampe harus ditahan? Apa Prita dianggap bakal melarikan diri ke luar negeri seperti koruptor sehingga harus ditahan? Apa Prita dianggap bakal memutilasi orang di sekitarnya kalo ga ditahan?
Tidakkah orang-orang yang menahan Prita itu memiliki rasa kasihan melihat anak-anak Prita yang masih kecil-kecil harus berpisah dengan ibunya? Bagaimana kalau mereka yang mengalami itu, dipisahkan dari anak-anaknya? Pernahkah pihak-pihak yang menahan Prita itu berpikir akan seperti apa anak Prita tanpa asupan ASI dari ibunya? Apakah mereka tidak berpikir, tindakan mereka memisahkan ibu-anak itu sama dengan mengancam nyawa dua orang bahkan lebih?
Prita cuma curhat. Apakah itu salah? Jika dia merasa dirugikan, kesehatannya terancam, keuangannya terancam, lalu dia mengeluh pada temannya, apakah itu salah?
Jika benar pihak lainnya mengaku profesional, apakah cara-cara menghadapi Prita tergolong profesional? Kalo semua pihak seperti rumah sakit dan lembaga penegakan hukum bertindak seperti ini saat menghadapi curhat, akan jadi apa negeri ini?
Sebagai warga yang merasa tak dipedulikan dan digusur haknya, sebagai konsumen yang merasa terancam haknya, sebagai blogger yang merasa kebebasan berpendapatnya akan makin dikebiri, sebagai perempuan dan sebagai anak yang ikut merasakan perihnya terpisah dari seorang ibu, sebagai apapun, saya mendukung bu Prita dan MENUNTUT ibu Prita DIBEBASKAN, SEKARANG! Lawan!!!
Senin, 27 April 2009
Mengapa RI 1 atau RI 2 harus dari timur?
Waktu kecil dulu, kedatangan mahasiswa yang akan melakukan praktek Kuliah Kerja Nyata (KKN) selalu menjadi momen yang dinanti. Mereka disambut melebih artis atau pejabat. Perpisahannya apalagi. Selalu diwarnai tangis haru, pelukan erat, di akhir pementasan drama anak-anak sekolah malam hari. Dan esoknya, isak tangis di tanah lapang yang berubah jadi pasar, kembali berulang. Di sana segala macam kardus berisi makanan khas buatan warga desa serta hasil kebun berupa buah dan sayur, siap diangkut ke truk milik mahasiswa.
Apa pasal? Selama di desa, mahasiswa KKN ngajarin ibu2 dan remaja putri berbagai keterampilan rumah tangga mulai dari bikin kue, masakan 'modern' dari kota, menyulam, menjahit, bikin usaha rumah tangga, dan sebagainya. Sementara untuk anak2, mereka diajari tarian, nyanyian atau pelajaran di sekolah yang tak didapat dari guru2 tua yang tak pernah ke kota dan tak pernah kuliah. Bagi bapak2, mereka diajari cara2 baru bertani. Intinya, mahasaiswa KKN itu dipandang sebagai kumpulan orang serba bisa. Mahasiswaaa...
Tak heran para kepala desa atau lurah dengan rela menjodohkan putrinya dengan mahasiswa KKN. Begitu pula dengan kembang desa, berebut mendapatkan kumbang kota. Walaupun pada akhirnya ternyata mereka dibawa kembali ke desa (lagi) tempat suaminya yang jauh dari kampungnya itu, tapi paling tidak mereka sudah memenangkan 'pertarungan' berebut manusia serba bisa.
Hal utama yang membuat warga desa menyambut mereka dengan suka cita adalah, perubahan yang dibawa mahasiswa itu. Perubahan yang dimaksud umumnya pembangunan fisiik berupa infrastruktur yang akan melancarkan akses orang desa.
Contohnya, yang saya ingat, dulu di desa tetangga yang termasuk salah satu daerah tertinggal, jalannya buruk sekali. Tak sepotong pun beraspal. Suatu hari mereka kedatangan mahasiswa KKN. Salah satu peserta KKN adalah anak gubernur Sulsel saat itu. Dalam dalam tempo dua minggu, jalan2 di desa itu diaspal semua. Ini berkat laporan si anak ke bapaknya. Cerita lain, soal jaringan listrik. Bertahun-tahun kepala desa bermohon program listrik masuk desa, tak pernah digubris. Begitu anak KKN datang, yang salah satunya juga anak pejabat, simsalabim, listrik masuk desa.
Hubungannya dengan judul?
Dari cerita ini ada garis besar yang bisa ditarik bahwa, suatu daerah akan lebih diperhatikan jika ada "oknum" pejabat yang memiliki kuasa di sana. Contoh nyata ya anak pejabat yang ikut KKN. Hanya jangka waktu dua bulan mereka berada di suatu daerah, mereka sudah bisa mengetahui kebutuhan di desa itu [mungkin juga itu adalah kebutuhannya sendiri], lalu meneruskannya ke pihak berkuasa [karena kedekatan], dan mimpi warga desa pun segera terujud.
Harus putra daerah? Oh, nggak juga. Yang penting adalah, dia tahu betul kebutuhan suatu daerah. bagaimana caranya ia tahu, jika ia tak pernah merasakan menjadi warga suatu daerah yang terkebelakang pembangunannya? Lalu, kata Anda, nanti toh ada kunjungan pejabat ke daerah. Sorry, setahu saya, ini sesuatu yang beda. Saat pejabat akan berkunjung, semua hal udah 'dibersihkan' agar segalanya tampak 'beres'. Jalanan diaspal [dan berlubang dua minggu kemudian], rumah kumuh digusur [atau memindahkan kekumuhan ke tempat yang tak terlihat]. Dengan begitu, si pejabat berpikir, apa lagi yang perlu saya benahi di sini? Kesemrawutan dan kemiskinan suudah dientaskan [padahal hanya dipindahkan ke tempat tersembunyi agar bapak senang].
Saya tidak berbicara tentang calon harus dari Sulawesi khususnya di Selatan. Wilayah timur yang saya maksud termasuk Kalimantan. Mengapa? Karena walaupun posisinya sebagian besar di barat, namun kue pembangunan, juga tak terasa di sana. Kondisinya malah lebih terkebelakang dibanding Sulsel meski jaraknya dari pusat kekuasaan di Jakarta lebih dekat. Roda pembangunan nyaris tak bergerak di sana. Apalagi kalau bicara soal Papua. Sudahlah. Harta mereka habis diangkut ke Jakarta, dijadikan sapi perah, tapi mereka tak pernah mencicipi hasil pajak yang mereka bayarkan.
Ini berdasar pengalaman saja, semoga pikiran saya tak menyesatkan. Berubah, itu pasti. Zaman saya KKN, sudah tak begitu heboh. Gegap gempita hanya datang dari murid2 saya di SD yang terletak di tengah kebun coklat (cacao). Di Musyawarah Pembangunan Desa, saya masih dianggap lebih baik jadi moderator ketimbang kepala desa tukang mabok. Sementara KKN zaman sekarang? Terakhir bulan Februari lalu yang saya dengar, mahasiswa malah berantem dengan induk semang, kepala desa dan berujung pada pengusiran mahasiswa. Sementara anak2 pejabat, tidak lagi memilih KKN ke desa tapi magang di perusahaan gede.
Pejabat RI 1 atau RI 2 atau pejabat lain yang saya tunggu adalah mereka yang dari timur, dari daerah yang nyaris tak tersentuh pembangunan. Entah dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, atau Papua. Tak soal pembangunan yang didahulukannya pada wilayah yang memiliki kedekatan hubungan dengannya. Asal warga masyarakatnya ikut merasakan dan diuntungkan oleh mereka. Tapi tentu saja bukan orang macam Abdul Hadi Djamal yang kami tunggu!
Apa pasal? Selama di desa, mahasiswa KKN ngajarin ibu2 dan remaja putri berbagai keterampilan rumah tangga mulai dari bikin kue, masakan 'modern' dari kota, menyulam, menjahit, bikin usaha rumah tangga, dan sebagainya. Sementara untuk anak2, mereka diajari tarian, nyanyian atau pelajaran di sekolah yang tak didapat dari guru2 tua yang tak pernah ke kota dan tak pernah kuliah. Bagi bapak2, mereka diajari cara2 baru bertani. Intinya, mahasaiswa KKN itu dipandang sebagai kumpulan orang serba bisa. Mahasiswaaa...
Tak heran para kepala desa atau lurah dengan rela menjodohkan putrinya dengan mahasiswa KKN. Begitu pula dengan kembang desa, berebut mendapatkan kumbang kota. Walaupun pada akhirnya ternyata mereka dibawa kembali ke desa (lagi) tempat suaminya yang jauh dari kampungnya itu, tapi paling tidak mereka sudah memenangkan 'pertarungan' berebut manusia serba bisa.
Hal utama yang membuat warga desa menyambut mereka dengan suka cita adalah, perubahan yang dibawa mahasiswa itu. Perubahan yang dimaksud umumnya pembangunan fisiik berupa infrastruktur yang akan melancarkan akses orang desa.
Contohnya, yang saya ingat, dulu di desa tetangga yang termasuk salah satu daerah tertinggal, jalannya buruk sekali. Tak sepotong pun beraspal. Suatu hari mereka kedatangan mahasiswa KKN. Salah satu peserta KKN adalah anak gubernur Sulsel saat itu. Dalam dalam tempo dua minggu, jalan2 di desa itu diaspal semua. Ini berkat laporan si anak ke bapaknya. Cerita lain, soal jaringan listrik. Bertahun-tahun kepala desa bermohon program listrik masuk desa, tak pernah digubris. Begitu anak KKN datang, yang salah satunya juga anak pejabat, simsalabim, listrik masuk desa.
Hubungannya dengan judul?
Dari cerita ini ada garis besar yang bisa ditarik bahwa, suatu daerah akan lebih diperhatikan jika ada "oknum" pejabat yang memiliki kuasa di sana. Contoh nyata ya anak pejabat yang ikut KKN. Hanya jangka waktu dua bulan mereka berada di suatu daerah, mereka sudah bisa mengetahui kebutuhan di desa itu [mungkin juga itu adalah kebutuhannya sendiri], lalu meneruskannya ke pihak berkuasa [karena kedekatan], dan mimpi warga desa pun segera terujud.
Harus putra daerah? Oh, nggak juga. Yang penting adalah, dia tahu betul kebutuhan suatu daerah. bagaimana caranya ia tahu, jika ia tak pernah merasakan menjadi warga suatu daerah yang terkebelakang pembangunannya? Lalu, kata Anda, nanti toh ada kunjungan pejabat ke daerah. Sorry, setahu saya, ini sesuatu yang beda. Saat pejabat akan berkunjung, semua hal udah 'dibersihkan' agar segalanya tampak 'beres'. Jalanan diaspal [dan berlubang dua minggu kemudian], rumah kumuh digusur [atau memindahkan kekumuhan ke tempat yang tak terlihat]. Dengan begitu, si pejabat berpikir, apa lagi yang perlu saya benahi di sini? Kesemrawutan dan kemiskinan suudah dientaskan [padahal hanya dipindahkan ke tempat tersembunyi agar bapak senang].
Saya tidak berbicara tentang calon harus dari Sulawesi khususnya di Selatan. Wilayah timur yang saya maksud termasuk Kalimantan. Mengapa? Karena walaupun posisinya sebagian besar di barat, namun kue pembangunan, juga tak terasa di sana. Kondisinya malah lebih terkebelakang dibanding Sulsel meski jaraknya dari pusat kekuasaan di Jakarta lebih dekat. Roda pembangunan nyaris tak bergerak di sana. Apalagi kalau bicara soal Papua. Sudahlah. Harta mereka habis diangkut ke Jakarta, dijadikan sapi perah, tapi mereka tak pernah mencicipi hasil pajak yang mereka bayarkan.
Ini berdasar pengalaman saja, semoga pikiran saya tak menyesatkan. Berubah, itu pasti. Zaman saya KKN, sudah tak begitu heboh. Gegap gempita hanya datang dari murid2 saya di SD yang terletak di tengah kebun coklat (cacao). Di Musyawarah Pembangunan Desa, saya masih dianggap lebih baik jadi moderator ketimbang kepala desa tukang mabok. Sementara KKN zaman sekarang? Terakhir bulan Februari lalu yang saya dengar, mahasiswa malah berantem dengan induk semang, kepala desa dan berujung pada pengusiran mahasiswa. Sementara anak2 pejabat, tidak lagi memilih KKN ke desa tapi magang di perusahaan gede.
Pejabat RI 1 atau RI 2 atau pejabat lain yang saya tunggu adalah mereka yang dari timur, dari daerah yang nyaris tak tersentuh pembangunan. Entah dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, atau Papua. Tak soal pembangunan yang didahulukannya pada wilayah yang memiliki kedekatan hubungan dengannya. Asal warga masyarakatnya ikut merasakan dan diuntungkan oleh mereka. Tapi tentu saja bukan orang macam Abdul Hadi Djamal yang kami tunggu!
Langganan:
Postingan (Atom)