Kamis, 30 Oktober 2008

panik, demi keadilan, atau demi citra sang besan?

anda boleh ngomel melihat judul saya. anda boleh tak setuju dengan segala kecurigaan saya. anda boleh bilang saya selalu sinis dan bisanya ngomong doang. tapi sejak awal, ketika kasus ini meledak, ketika nama seorang petinggi bank terseret kasus suap dan korupsi, kecurigaan itu sudah ada. sedikit demi sedikit terbukti.

dari dulu orang itu cuma diperiksa sebagai saksiii melulu. bosnya yang malah dijebloskan. padahal saya tak yakin benar, hanya dia pelakunya. udah berkali2 nama itu disebut, tetep tak tersentuh. udah berkali2 si tuan ditanyai soal itu, jawabnya selalu, "siapapun yang bersalah, harus dihukum, saya ga mau intervensi" tapi kata itu tak kunjung terbukti. masih milih2 pohon buat ditebang.

sepertinya dia memang menunggu moment. ini saatnya. ada yang harus dikorbankan. ngeselinnya itu, kalo mau dikorbankan, kenapa ga dari dulu? kenapa harus nunggu menjelang akhir tahun barulah sang besan boleh disentuh?

apa artinya? ini menjelang 2009, bung. menjelang pesta kegilaan. menjelang pesta perebutan kursi. dia butuh simpati. dan untuk mendapatkan simpati, dia butuh citra yang baik. pesona harus ditebar ke sana sini. termasuk mengorbankan sang besan. semua orang dekatnya boleh membantah dan bilang ini demi keadilan. tapi saya tetap percaya, ini demi citra.

siapa yang ga panik coba? ada sesama loreng yang mulai menyundul popularitasnya. satunya show kemana2 seolah2 sakit hati. satunya sibuk kampanye ke petani, nelayan. [padahal kalo jaman dulu orang kampanye menggaet petani, nelayan, buruh, pasti udah dicap PKI nih sama mertuanya]. satu lagi yang makin bikin si tuan degdegan. seorang raja, yang dari dulu disebut2 namanya, yang punya pemilih setia di tanah jawa, juga sudah menyatakan akan menjadi presiden.

akhirnya jalan ini dipilih. mengorbankan sang besan.
terlihat sinis ya? gpp, emang dari dulu saya selalu sinis begini

panas ya, akhir2 ini? :p

Rabu, 29 Oktober 2008

RUU soal Moral dari Orang yang tak Bermoral :p

Mengutip pasal 3 RUU Pornografi; Pengaturan pornografi bertujuan:
a. Mewujudkan dan memelihara tatanan kehidupan masyarakat yang beretika, berkepribadian luhur, menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, serta menghormati harkat dan martabat kemanusiaan;
b. Memberikan pembinaan dan pendidikan terhadap moral dan akhlak masyarakat;
c. Memberikan kepastian hukum dan perlindungan bagi warga negara dari pornografi, terutama bagi anak dan perempuan; dan
d. Mencegah berkembangnya pornografi dan komersialisasi seks di masyarakat.


Kenapa tidak memikirkan cara agar rakyat bisa tetap mengisi perutnya ketimbang mikirin cara untuk menjaga etika mereka? Sementara para pembuat undang-undang ini juga bukan orang yang beretika.

Buktinya, banyak dari mereka yang mengambil sesuatu yang bukan haknya, berbuat mesum dan memamerkannya ke khalayak. Kenapa bukan mereka dulu yang dibenerin etikanya? Kenapa bukan moral dan ahlak mereka dulu yang dibina sebelum membina masyarakatnya?

Mencegah pornografi dan komersialisasi seks? Bukankah sebagian dari mereka sendiri adalah pelakunya? Apakah mereka pura-pura lupa kasus2 si anu dari partai anu merekam aksi anunya di hotel anu? Bukankah si anu ditangkap di hotel anu karena sedang menerima uang suap dan sedang beranu-anuan dengan perempuan yang bukan istrinya?

Pelakunya justru orang-orang dari partai yang identik dengan orang-orang beragama, religius dan sebagainya. Mereka pelaku yang berteriak sebagai korban. Mereka maling yang berteriak sebagai polisi.

maka benarlah...
Setiap kebijakan politik yang takut akan mata publik adalah kotor, kata Immanuel Kant. Dan RUU ini, adalah jelas, sebuah TIRANI mayoritas terhadap minoritas. Tak ada kebanggaan yang bisa dipetik dari sebuah arogansi semacam itu!
Lawan!

Senin, 22 September 2008

anda kenal rizal ramli dan calon kapolri?

gw ga kenal ma Rizal Ramli. so, gw ga peduli urusan dia yang katanya sedang sibuk menggalang dukungan ke tokoh2 nasional setelah jadi inceran polisi karena dituduh menggerakkan demonstrasi anti kenaikan harga BBM kemaren. tapi omongan si calon Kapolri [calon kok cuma satu] yang bilang demo BBM kemaren disetting ma penguasa bikin gw eneg!

cari muka banget sih? apa dikira dia baru akan diangkat sebagai kapolri kalo udah bikin pernyataan kayak gitu? gw juga ga peduli kalo demonstran berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM ternyata dibayar. gw lebih peduli pada apa yang mereka suarakan. dari 200 juta rakyat Indonesia, berapa kepala aja sih yang ga terpengaruh kenaikan harga-harga? kenapa selalu saja yang disorot adalah aksi2 di jalanan? kenapa isi tuntutannya ga diperhatiin?

tanpa survei2 segala macem, siapapun tau naiknya harga BBM kemaren makin memperpanjang daftar orang miskin di negeri ini. jadi hanya pejabat bodoh yang ngaku terhormat yang stengah mampus membantah kejadian di Pasuruan bukan dampak kemiskinan. kalo mereka ga miskin, ngapain berjejal2 di depan pintu rumah orang cuma buat dapetin duit Rp 30 ribu yang ga cukup untuk makan sehari sekeluarga itu?

mereka berjejal di gang sempit depan rumah orang kaya itu hingga kehilangan nyawa, karena mereka ga punya kuasa untuk memeras pengusaha seperti kalian yang di atas sana. mereka cuma punya kupon zakat. mereka ga kenal travel cek senilai Rp 500 juta. dan kalian masih menyangkal mereka itu bagian angka-angka kemiskinan yang selalu ingin kalian sembunyikan?

capek! ngangkat pejabat baru, yang sama aja kelakuannya. cari muka. ga mau melihat ke bawah. lalu apapula itu Dewan Keamanan Nasional? oh, lembaga buat nangkap2in orang yang ga mau memilih ybs [baca: yang bersangkutan] pada 2009? lalu si pejabat baru itu disuruh ngawal? makin bagus aja kelakuan pejabat2 ini. capek!

Selasa, 02 September 2008

Salah Tangkap, dari Sengkon hingga Asrori

Belakangan setelah kasus Ryan si penjagal menyeruak dan menyita perhatian publik, kini kasus Asrori, salah satu korbannya Ryan juga ramai dibicarakan. Tak cukup kemarahan orang terhadap Ryan pembunuh berdarah dingin, kini kemarahan juga ditimpakan pada polisi dan jaksa yang menangani kasus Asrori.

Ryan mengakui membunuh Asrori. Sementara udah ada orang yang dipenjarakan karena didakwa membunuh Asrori. Setelah serangkaian tes, akhirnya temuan terbaru mementahkan dan menggugurkan proses hukum kasus tewasnya "Asrori" di Jombang sebelumnya yang memenjarakan Hambali alias Kemat (26), dengan pidana 17 tahun, dan Devid Eko Priyanto (17), yang diganjar hukuman 12 tahun penjara. Terdakwa ketiga masih proses sidang.

Bagaimana rasanya dituduh dan dipenjara sebagai pembunuh sementara ia tidak melakukannya? Apa nda pengen skalian membunuh polisi ma jaksa yang menuntutnya? Apalagi si korban salah tangkap udah ngakuin kalo mereka ditekan oleh polisi2 pemeriksanya untuk mengaku sebagai pembunuh. Ya Tuhan, ga dipercayai atau dituduh ngomong dusta aja rasanya pengen bunuh orang, apalagi kalo dituduh membunuh dan harus dipenjara?

Rupanya ini bukan kasus pertama. Dulu tahun 1974, katanya, juga terjadi kasus serupa. Alkisah, Sengkon dan Karta ditangkap dengan sangkaan merampok dan membunuh pasangan suami istri Sulaiman Siti Haya di Desa Bojongsari, Bekasi. Polisi menyidik kasus ini dan meyakinkan Sengkon-Kartalah pelakunya. Hingga tiga tahun kemudian, kedua petani itu tetap menyangkal tuduhan jaksa. Tapi, hakim Djurnetty Soetrisno lebih memercayai cerita polisi ketimbang pengakuan kedua terdakwa.

Sengkon pun divonis 12 tahun penjara dan Karta 7 tahun. Suatu saat, seorang penghuni LP, yang masih kerabat Sengkon, Gunel, mengaku sebagai pelaku perampokan dan pembunuhan yang sebenarnya. Sengkon dan Karta melaporkan pengakuan itu. Gunel kemudian diadili dan memang terbukti bersalah. Ia dihukum 10 tahun penjara.

Kasus itu kemudian menggemparkan. Albert Hasibuan, anggota DPR dan pengacara, mengupayakan pembebasan kedua petani itu. Hasilnya, kasus Sengkon Karta menyumbangkan sesuatu untuk perkembangan hukum: Mahkamah Agung menghidupkan lembaga peninjauan kembali terhadap putusan pengadilan yang berkekuatan dacti (herziening).

Januari 1981, Ketua Mahkamah Agung Oemar Senoadji memerintahkan kedua orang itu dibebaskan. Namun, kesalahan para penegak hukum terhadap kedua orang itu tidak tertebus hanya dengan herziening. Keluarga Karta, dengan dua istri dan 12 orang anak, kocar kacir. Melarat. Sebab, menurut istri Karta, semua sawah dan tanah milik mereka telah dijual habis untuk biaya hidup dan "membiayai" perkara suaminya.

Nasib Sengkon pun tidak banyak berbeda. Walau hanya menanggung beban seorang istri dan tiga anak, Sengkon tidak mungkin meneruskan pekerjaannya sebagai petani karena sakit TBC terus merongrongnya. Berdasarkan semua itu, kuasa Sengkon, Murtani, merasa layak menuntut ganti rugi kepada pemerintah. Tapi semuanya ditolak dengan berbagai alasan. Kisah Sengkon dan Karta pun tetap berakhir tragis.

Tapi konon ada yang lebih tragis lagi. Saya nggak dapet file-nya, hanya cerita dari mulut ke mulut. Kasus serupa terjadi zaman Soeharto juga, di Jogja. seseorang dituduh membunuh lalu dipenjara selama 20 tahun. Setelah hukumannya akan berakhir, pembunuh sebenarnya baru terungkap. Dia pun dibebaskan. Tapi untuk mencegah wibawa aparat yang salah tangkap itu dirongrong, termasuk penguasa saat itu, saat keluar dari penjara, ia pun ditabrak mobil hingga tewas. kasus selesai, aparat aman! tragis!

Rabu, 27 Agustus 2008

omelan buat orang2 [ngakunya] terhormat

sebelum puasa mo ngomel dulu
coba apa maksudnya itu pemerintah meminta semua orang beralih dari minyak tanah ke gas tapi gas-nya dinaikin terus harganya. mana mo puasa. udah pasti harga2 sembako naek. ntar mo lebaran, naek lagi. mo natal naek lagi. mo lebaran haji, naek lagi. sementara itu, harga gas tiap bulan naek. padahal baru kemaren ibu2 abis bayarin uang sekolah anak2nya yang juga naek tinggi.

asal tau aja ibu, bapak menteri dan presiden serta wakil presiden dan para politisi yang terhormat. orang-orang bawah mah ga punya gaji tetap tiap bulan seperti anda semua. ga punya proyek gede yang pake fee trus bisa ditilep. ga punya program studi banding buat refleshing anggota keluarga berlabel dinas ke luar kota atau ke luar negeri.

pernahkah kalian memikirkan itu bapak-ibu yang terhormat, selain memikirkan bagaimana ngumpulin duit untuk 2009 nanti? pernahkah kalian bapak-ibu yang terhormat memikirkan nasib para pemilihmu sebelum meminta mereka memilihmu lagi nanti pada 2009? pernahkah kalian bapak ibu yang terhormat memikirkan bagaimana orang2 harus berebutan antre gas melebihi antrean minyak tanah dan BLT?

kalian sih enak. mo daftar jadi caleg [lagi] tinggal minta sopir, pembantu, asisten buat ngantri kelakuan baik [yang sesungguhnya ga pernah baik] di kantor polisi. urusan macet dikit, uang dan kekuasaan yang bicara. sebab bagi kalian uang tak ada harganya saat ini sebab nanti saat terpilih, uang2 yang kalian keluarkan akan tergantikan berkali lipat dibanding pengeluaran sebelum pemilihan umum.

baiklah. kucukupkan omelanku. ada yang negur soalnya. kukasih saja puisi yang kukutip dari blog seorang kawan!

bahagia adalah
saat kau bangun pagi
melihat istrimu tersenyum manis
membawa secangkir kopi panas.

sedih adalah
saat kau dengar nyaring tangisan
anak kecilmu
memegang perut menahan lapar
karena susu di rumah telah habis
dan kau tak mampu membelikannya.

sedih juga adalah
saat kau harus membahwa anakmu
ke rumah sakit
dan gajimu tak lagi cukup
bahkan sekedar untuk beli beras
esok hari
apalagi untuk menebus obat
membayar rawat inap

pernahkah kau
alami kesedihan semacam itu?
jika tidak
sesungguhnya kau
sedang alami kebahagiaan
meski
tanpa senyum manis
tanpa semerbak aroma khas
secangkir kopi panas
dari istrimu