Mencuri dengar obrolan temen gw di telpon, tiga malam lalu di kantor...
temen gw: Ya, halo...bisa saya bantu?
penelpon: Halo...saya si anu...! Gini mbak, saya ini sebenernya artis. Saya baru pulang syuting dari Jakarta, syuting sinetron
temen gw: Sinetron apa?
penelpon: Judulnya, blablabla...
temen gw: Oh...tayang di tipi mana ya, Dek?
penelpon: Belum tayang mbak...syutingnya diundur, ditunda sampe saya abis ujian sekolah aja.
temen gw: Sekolah dimana, Dek?
penelpon: Di SMP anu....
temen gw: Trus...apa yang bisa saya bantu?
penelpon: Gini mbak, saya kan artis. Saya juga pengen ditulis di koran seperti artis2 lain. Kayak itu lho yang di koran, Titi Kamal dapet apartemen aja di tulis, ada di koran
temen gw: *&^%$#^%mulai puyeng*...Kamu cakep ga, Dek?...
penelpon: Cakep dong...namanya juga artis!
temen gw: Jadi, beritanya apa, nih?
penelpon: ...blablabla...Jadi gini...saya kan baru kehilangan sepatu....bla bla bla... Nah, saya kan artis, saya juga pengen diberitakan kaya yang lain, masuk koran, karena saya baru kehilangan sepatu...
temen gw dan semua yang ikut denger: #$%*@%^$*...
Saya berharap anak bersuara polos dan lugu itu menelpon dengan maksud menyindir media2, baik cetak maupun elektronik, untuk lebih selektif memberitakan sesuatu, terlebih berita2 para artis dan politisi, memilih tayangan dan berita yang lebih mendidik dan tidak sekedar menjual gosip murahan yang tidak layak jadi panutan.
Saya malu karena media saat ini sangat bombastis mendukung gaya hidup hedon! Berita kawin cerai mulu, pejabat lapor sana sini, menolak poligami tapi mendukung perselingkuhan, dan menyembunyikan istri stengah sah. Membela pejabat dari kelompok agamawan yang katanya ahli agama tapi memberi izin penebangan hutan yang menyebabkan ribuan orang jadi korban musibah banjir dan tanah longsor. Atau sinetron macem Hidayah atau Rahasia Ilahi masih kurang banyak kali ya?
Selasa, 31 Juli 2007
"pengen diberitakan..."
Sabtu, 28 Juli 2007
UU Antiteror untuk Blogger
Baca berita ini, gw jadi terperangah. halah...bahasanya :p Apa gw yang ketinggalan berita yak? Secara... (hahaha, sebenernya gw paling benci istilah gaul ga nyambung ini), berita ini keknya udah dari tanggal 25 Juli kemaren dan gw baru baca hari ini.
Jujur aja, gw rada2 kuatir pemerintah disini ketularan ma pemerintahan di sana (Makanya ga usah posting macem2 :p). Soalnya, mereka hobi sih kembaran. Misalnya kek dulu jamannya Tangerang punya Perda Pelacuran dan saat itu lagi hangat2nya RPP Pornografi dan Pornoaksi, di Malaysia juga ga kalah serunya. Mereka bikin aturan yang mirip alias kembaran, seperti gw bahas di postingan ini.
Parahnya lagi, menurut menteri senior di kantor perdana menteri Malaysia, Nazri Aziz mengumumkan, UU Antiteror kontroversial ini, memungkinkan orang ditahan tanpa batas waktu tanpa diadili atau didakwa akan digunakan terhadap blogger atau penulis catatan online yang melanggar dua hal yang ditabukan, menyinggung raja atau agama resmi kerajaan, Islam. Bayangkan, ditahan TANPA batas waktu dan TANPA diadili! Otak macem mana yang bikin aturan ini?
Menakutkan! Tapi masa sih Malaysia Kini ga punya upaya perlawanan? Secara, (halah, istilah ini lagi), pengunjung situs berita politik ini konon mencapai 250.000 per hari? Kenapa ga diorganisir aja untuk melakukan perlawanan terhadap UU gila itu? Secara...(lageeeee, entah nyambung ato ga), bentar lagi di sana mo pemilu, ajak aja mereka memboikot. Ga bisa jadi penguasa kalo ga ada pemilihnya. Dan ngapain juga milih calon penguasa yang ga punya otak! Kaum blogger, bersatulah! Eh, tapi jauh bener ya urusan gw ke negeri seberang, hehehe...?
Jumat, 27 Juli 2007
Banteng Ngadem di Bawah Beringin
Hari ini 11 tahun lalu...
Saya cuma bisa bengong melihat layar kaca dengan berita sepotong2 dan wajah penyiar yang sedikit kaku membacakan berita. Di samping saya, tante saya sedang sibuk menghubungi sepupu2 saya di Jakarta sana. Sepupu saya terjebak di kantor ga bisa pulang. Hari itu, untuk pertama kalinya, negara yang aman, tentram, makmur, sentosa ini dilanda kerusuhan yang bermula dari Jl Diponegoro.
Esoknya, saya menerima kabar, kawan2 saya yang sedang berada di sana, segera pulang ke Makassar setelah seharian pada 27 Juli itu dirundung cemas saat terkepung bersama beberapa aktifis YLBHI. Tapi mereka pulang, tidak berarti mereka aman. Konon kelompok loreng2 itu telah menanti di pelabuhan. Kawan2 saya dituduh ikut2 kelompok 3 hurup itu, yang hari itu menjadi kambing hitam biang kerusuhan.
Ah, saya cuma bisa mengenang...
Betapa hari itu, banyak orang yang jadi korban. Ada yang meninggal, ada yang luka parah, luka ringan, luka batin, trauma dan menjadi tertuduh. Sampai sekarang pun setelah 11 tahun peristiwa itu berlalu, mereka2 masih menderita. Yang paling parah, tentu saja orang yang saat itu kedudukannya paling tinggi, ibu ketua!
Setelah dikudeta dalam kerusuhan itu, pelan2 Ibu Ketua bangkit dengan segala dukungan orang2 yang cinta pada kebesaran nama ayahnya. Lalu si Ibu Ketua sempat menjadi penguasa negeri ini. Kedudukannya di punggung banteng, tak pernah tergantikan. Ketua 3 hurup yang waktu itu jadi tertuduh, kini bergabung bersama kaum banteng bermoncong putih.
Tapi sekarang, kondisi Ibu Ketua menyedihkan banget. Ibu Ketua menderita amnesia akut!!! Dia lupa, siapa Pangdam Jaya dan Kodam Jaya yang dulu mempecundanginya. Dia lupa bagaimana rasanya terusir dari rumah sendiri. Dia lupa apa warna darah yang menetes dari para pendukungnya. Dia lupa bagaimana rasa sakit ketika dipukuli. Dia lupa duka lara para keluarga yang menjadi korban ketika itu. Dia lupa bagaimana rasanya ketika tubuhnya dikuliti untuk diganti catnya menjadi kuning.
Ah, percuma saya ngomong2 gini. Setelah 11 tahun, Ibu Ketua yang duduk di punggung banteng bermoncong putih sepertinya sedang tertidur lelap terbuai mimpi di bawah rindangnya pohon beringin! Adem ya, Bu, di sana?
Selasa, 24 Juli 2007
Anak IPDN vs Juara Olimpiade Sains
Lagi2 anak sekolah ga berguna itu membunuh orang. Dilarang membunuh warga dalam kampusnya sendiri, kini mereka mencari mangsa di luar kampus. Dalam kronologis yang mereka susun, mereka bilang, Almarhum Wendi sebelumnya, melecehkan dua praja putri. Sementara kronologis versi saksi lain, beda lagi. Katanya praja itu ada yang kesundut rokoknya almarhum. Entah mana yang bener. Ok, perempuan yang dilecehkan, wajib ditolongin. Tapi membunuh pelaku dengan cara mengeroyok, membenturkannya ke tembok hingga kepalanya pecah dan tulangnya patah, BUKAN cara membela yang yang baik dan benar!
Hhhrrrggghhhh....gw kehabisan kata2 untuk marah2. Udah, terserah mo diapain aja sekolah busuk itu. Mo dibubarin kek, mo dipiara terus kek, terserah yang MAHA kuasa. Dipertahankan ya wajar..., disana kan jadi pundi2 duitnya Depdagri. Sayang kalo dibubarin. Ga ada alasan buat minta anggaran dari APBN tiap tahun. Ga ada jalur narik duit dari daerah setiap tahun, entah dari Pemda atau dari orangtua siswa yang pengen anaknya jadi Pamong Praja. Terserah, mo dibikin kuburan massal juga, masa bodoh deh. Soalnya, siswanya masih banyak..., antrian korban berarti masih bejibun. Kalo di dalam kampus udah abis, tinggal nyari warga sekitar aja. Daging dan tulangnya lebih enak! Bunuh aja semua!
Berita soal anak2 busuk itu, hanya menodai kebanggaan gw pada negeri ini yang baru saja mencetak lagi anak2 cerdas juara olimpiade sains. Ada Stephanie Senna dari SMAK Bilingual Jakarta yang dapet medali emas di olimpiade Biologi di Kanada. Ada Muhammad Firmansyah Kasim dari SMA Athirah Makassar yang dapet medali emas di Olimpiade Fisika di Iran. Ga cuma mereka. Ada anak2 lain yang juga dapet perak dan perunggu. Mengharumkan nama bangsa.
Anak2 dari mana mereka? Oh, mereka bukan anak hasil gemblengan a la militer bodoh seperti IPDN. Mereka anak2 biasa yang terus mengukir prestasi luar biasa. Mereka belajar bukan dibiayai negara, tapi dengan usaha sendiri, di sekolah yang makin mahal. Saat lulus, acara wisudanya ga dihadiri presiden, tapi mereka membanggakan siapa saja. Lulus sekolah, mereka ga masuk IPDN, karena mereka punya otak yang cerdas. Kuliahnya pun atas biaya sendiri, karena beasiswa yang dijanjikan ga pernah mereka terima. Kalau pun ada beasiswa, pasti datangnya dari luar negeri. Tapi lebih enak kuliah disana, ga ada plonco2an a la militer bodoh. Abis kuliah, mereka mampu membuka lapangan kerja baru bagi orang lain. Mereka ga jadi pejabat bodoh yang korup seperti anak2 IPDN. CATATAN PENTING: Mereka jadi anak-anak cerdas tanpa cara pukul-gebuk-bunuh a la IPDN.
Sabtu, 21 Juli 2007
12 jaksa vs 100 Pengacara
Gw lagi males banget nulis. Tapi pekan ini ada berita yang lumayan menghibur. Tommy Soeharto dijadiin tersangka lagi akhirnya, dalam kasus Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) sebesar Rp 175 miliar yang dikucurkan untuk Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC).
Sementara bapaknya, Soeharto, digugat Kejagung senilai Rp 14 triliun dalam kasus penyelewengan dana yayasan supersemar. Kejagung nyiapin 12 jaksa senior, yang insya Allah hebat2. Tapi setan tua itu juga nyiapin 100 pengacara ngetop untuk menghadapi gugatan. Duhhhh...!
Yang gw ga abis pikir, itu mahasiswa2 penerima beasiswa supersemar, ngapain ikut2 demo bela Soeharto. Yang digugat bukan kalian! Dan yang diberikan oleh yayasan itu, memang sudah hak kalian, kenapa harus merasa berutang budi? Ya, itu hak orang2 yang bener2 memenuhi syarat untuk dapet beasiswa, yaitu, pinter dan miskin.
Bukan pinter ngibul dan miskin moral tapi! Soalnya yang gw liat zaman kuliah dulu, banyak juga orang- orang yang dapetin beasiswa supersemar itu, sebenernya bukan orang yang berhak. Tapi karena deket sama pegawai2 di fakultas, akhirnya dapet beasiswa, yang bukan dipake bayar SPP tapi buat beli pulsa atau sekedar makan2.
Gw sih berharap, pengumuman Tommy tersangka, serta rencana gugatan terhadap Soeharto lagi, bukan dagelan semata, tapi bener2 sebuah pengadilan terhadap sebuah kejahatan besar, pengadilan terhadap maling kelas kakap. Semoga para jaksa itu kuat imannya. Apalagi udah banyak jaksa dan hakim jadi korban pembunuhan karena mengungkit2 kasus Cendana. Semoga juga bukan berita buat menghibur doang. Lebih najis lagi, jangan sampe langkah Kejagung dipake oleh si big boss buat bahan kampanye 2009 nanti. Curiga tetep boleh toh?