Lebaran....
Adalah cerita pilu bagi mereka di pengungsian
yang di Porong, yang di Aceh, yang di Jogja
tak ada tempat untuk mudik
karena tanah, rumah, kasur mereka
habis tertutup lumpur
opor ayam, ketupat lebaran?
mereka cuma punya ruang sempit di bawah tenda
tak ada perjamuan, tak ada open house
Lebaran....
mungkin cerita bahagia menghinggapi keluarga mereka
Tommy dapet remisi 1 bulan 15 hari
Bahkan minggu ini mungkin udah bebas
Pamannya, Probosutedjo dapet remisi 1 bulan
Abdullah Puteh, dapet remisi 15 hari
keluarga mereka masih mungkin datang menghantar bingkisan ke penjara istimewa
sajian lengkap berlebaran
mereka masih punya tempat pulang
ke rumah yang hangat dengan kasur empuk
Ah, nasib tak bisa ditawar
Bersabarlah saudaraku
dalam keterpurukanmu
semoga ada bahagia kecil
karena kalian tak makan uang korupsi
dan....
oleh2 mudik gw dari kampung, adalah kesedihan. Menyaksikan mereka yang tertimpa musibah banjir bandang hingga hari ini tak terjamah bantuan. Padahal gw bisa mastiin, miliaran duit bantuan dari berbagai pelosok negeri mengalir untuk mereka. Tapi tetesannya tersumbat entah dimana. Bantuan perbaikan sekolah masing2 Rp 4 juta rupiah, menguap entah kemana. Hanya menyisakan secarik kertas bertanda tangan. Lalu penduduk memunguti sisa2 bilah papan yang terbawa banjir. Lalu membangun pondok 3x4 di bekas tanah mereka yang kini gundul. Tak ada lagi yang tersisa. Kemana harus menagih bantuan yang kemarin mengalir deras atas nama solidaritas?
Poso bergolak lagi. Satu kelompok jadi tertuduh lagi. Kami butuh tempat aman. Kami butuh penegakan hukum. Bukan pertemuan para petinggi yang hanya berakhir di depan pintu, lalu pembantaian tetap terjadi!
Jumat, 20 Oktober 2006
Yang terpuruk, yang bahagia
Kamis, 19 Oktober 2006
m.a.a.f
hanya ada satu kata;
LAWAN!!!
Kalo sesama rakyat berbuat salah,
hanya ada satu kata;
MAAF!!!
Selamat Idul Fitri 1427 Hijriah
Mohon Maaf Lahir Batin
Semoga kemuliaan dilimpahkan kepada para pemimpin
Dan kedamaian diturunkan di bumi khatulistiwa
Rabu, 18 Oktober 2006
Depag dan Pencuri Rokok
Hmm…padahal ya…biasanya yang duduk di Depag sana adalah orang2 yang paham soal agama. Paham bahwa memakan hak orang lain itu ga boleh. Menilep hasil keringat orang lain itu dosa.
Nah kalo dah tau lembaga ini banyak nilepnya, napa ga ditiadakan saja? Itung2 penghematan dan penyehatan keuangan negara. Juga buat melindungi jemaah haji dari penipuan yang mengatasnamakan pengaturan urusan ibadah (perintah Allah).
Bukannya tugas ulama ato pemuka agama adalah menyampaikan hal2 kek gini di masjid (dan gw yakin di gereja dan di tempat ibadah mana pun)? Selama ini pemuka agama kebanyakan ngomong soal surga neraka dan hal-hal di atas langit, bukan yang membumi seperti korupsi dan akibatnya pada kehidupan sehari-hari.
Padahal di depan mata, anak usia 15 tahun nyolong rokok buat dijual lagi supaya bisa makan hari ini, mukanya ancur digebukin rame2. Padahal demi makan hari ini doang. Kemaren dan besok lom tentu dia makan. Coba kalo duit pajaklah, hajilah, retribusi apalah ga ditilep, berapa manusia yang bisa diberi makan (kalo distribusi zakatnya juga bener). Mereka dah nilep miliar2 banyaknya...masih aja dibela sampe bebas. Napa ga dibubarin aja semua lembaga yang ada, pake aja hukum rimba skalian.
Senin, 16 Oktober 2006
Hidup di Rumah Kaca
Pramoedya Ananta Toer jauh hari telah menorehkan tintanya sekuat mungkin agar memori itu tersimpan jauh ke dalam otak. Selalu ada arus balik di negeri ini. Selalu ada pengulangan sejarah. Maka rangkaian cerita-ceritanya dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, bukan hanya dialami Raden Mas Minke dan Nyai Ontosoroh.
Masih inget kemaren rame2 regsitrasi kartu ponsel ke 4444? Kartu pra dan pascabayar Anda udah teregistrasi? Apa efeknya? Mengurangi terorisme? Oh, mungkin belum terasa. Lalu Depkominfo sekarang lagi gencar sosialisasi penggunaan KTP di warnet, harus ada CCTV di warnet, ga boleh ada sekat di warnet.
Mungkin pengguna internet di rumah2 ato di kantor masih merasa aman. Tapi coba dengan yang satu ini. Tender penyelenggara Indonesia Security Incident Responses Team on Information Infrastructure (ID-SIRTII) atau pengawas lalu lintas Internet udah dibuka Senin (16/10) hari ini. Pemenang tender ini yang bakal ngawasin lalu lintas Internet mulai November nanti.
Yang diawasin, semua rekaman transaksi keuangan melalui Internet dan lalu lintas surat elektronik (e-mail) setiap tiga bulan. Rekaman itu disimpan dalam media penyimpanan digital yang diperoleh dari semua penyelenggara jasa Internet di Indonesia. Katanya ini buat mencegah tindak kejahatan yang menggunakan Internet sebagai media atau sarana komunikasi dan transaksi, seperti untuk mendukung aksi terorisme.
Ah, tapi kok bikin gerah ya? Gw juga ngerasa ini bakal jadi satu bentuk kejahatan khusus. Terlalu jauh memasuki ranah pribadi. Rasa2nya mereka itu paranoid akut. Lebih parah dari taon 96/97. Betapa gemesnya ketika rencana aksi unjuk rasa udah mateng, tau2 bangun tidur pagi hari, udah ada satu truk polisi di depan rumah nungguin. Wayah....mau jadi apa kita disini? Melebihi hidup di rumah kaca. Udah berada di dalam rumah, tapi rumahnya dari kaca... tetep aja ga aman buat telanjang di kamar mandi.
Sabtu, 14 Oktober 2006
Munir Bukan Musuh Prajurit
Munir bukan musuh prajurit. Kalo musuh jendral, mungkin iya. Munir aktivis HAM, tapi bukan musuh tentara. Munir punya sumbangsih besar dalam pembuatan UU TNI, tapi dia bukan musuh TNI. Tesis Munir tentang militer bukan berarti dia menjadi seorang yang berbahaya bagi negara.
Di banyak sejarah Munir membantu tentara. Munir paling banyak yang menyelamatkan anggota Kopassus saat disandera oleh GAM. Banyak cara dilakukan Munir. Negosiasi terutama, bahkan pernah dengan barter beras.
Jasa Munir dalam RUU TNI adalah memasukkan pasal mengenai prajurit yang cacat atau meninggal dalam perang, layak mendapatkan kompensasi. Munir pula yang menginginkan pasal 'seorang prajurit TNI yang diperintahkan komandannya dalam bertugas, tidak sesuai batas kewajaran, maka prajurit punya hak menuntut sang komandan'.
Apakah setelah memberikan jamian ekonomi dan hukum bagi tantama, bintara dan perwira pertama lantas Munir harus dihilangkan oleh negara? Lalu, kalau Munir punya banyak dokumen penyimpangan Dephan dan Mabes TNI, apakah nyawanya harus dicabut paksa?
Jadi, jelas, kalo ada yg musuhin Munir, pasti bukan prajurit rendahan. Berarti, yang musuhin Munir gag banyak, karena yang pangkat satu ke atas jauh lebih sedikit daripada tantama, bintara dan perwira pertama.
Lalu, Polly dilepas, mungkinkah ini simbol ketakutan negara (untuk tidak menyebut nama bapak itu)? Hehehe...pantesan ga dapet nobel. Padahal...dia punya wewenang penuh membuka jalan yang menghambat kasus ini. Ah...seperti nungguin babi bisa terbang.