sebelum puasa mo ngomel dulu
coba apa maksudnya itu pemerintah meminta semua orang beralih dari minyak tanah ke gas tapi gas-nya dinaikin terus harganya. mana mo puasa. udah pasti harga2 sembako naek. ntar mo lebaran, naek lagi. mo natal naek lagi. mo lebaran haji, naek lagi. sementara itu, harga gas tiap bulan naek. padahal baru kemaren ibu2 abis bayarin uang sekolah anak2nya yang juga naek tinggi.
asal tau aja ibu, bapak menteri dan presiden serta wakil presiden dan para politisi yang terhormat. orang-orang bawah mah ga punya gaji tetap tiap bulan seperti anda semua. ga punya proyek gede yang pake fee trus bisa ditilep. ga punya program studi banding buat refleshing anggota keluarga berlabel dinas ke luar kota atau ke luar negeri.
pernahkah kalian memikirkan itu bapak-ibu yang terhormat, selain memikirkan bagaimana ngumpulin duit untuk 2009 nanti? pernahkah kalian bapak-ibu yang terhormat memikirkan nasib para pemilihmu sebelum meminta mereka memilihmu lagi nanti pada 2009? pernahkah kalian bapak ibu yang terhormat memikirkan bagaimana orang2 harus berebutan antre gas melebihi antrean minyak tanah dan BLT?
kalian sih enak. mo daftar jadi caleg [lagi] tinggal minta sopir, pembantu, asisten buat ngantri kelakuan baik [yang sesungguhnya ga pernah baik] di kantor polisi. urusan macet dikit, uang dan kekuasaan yang bicara. sebab bagi kalian uang tak ada harganya saat ini sebab nanti saat terpilih, uang2 yang kalian keluarkan akan tergantikan berkali lipat dibanding pengeluaran sebelum pemilihan umum.
baiklah. kucukupkan omelanku. ada yang negur soalnya. kukasih saja puisi yang kukutip dari blog seorang kawan!
bahagia adalah
saat kau bangun pagi
melihat istrimu tersenyum manis
membawa secangkir kopi panas.
sedih adalah
saat kau dengar nyaring tangisan
anak kecilmu
memegang perut menahan lapar
karena susu di rumah telah habis
dan kau tak mampu membelikannya.
sedih juga adalah
saat kau harus membahwa anakmu
ke rumah sakit
dan gajimu tak lagi cukup
bahkan sekedar untuk beli beras
esok hari
apalagi untuk menebus obat
membayar rawat inap
pernahkah kau
alami kesedihan semacam itu?
jika tidak
sesungguhnya kau
sedang alami kebahagiaan
meski
tanpa senyum manis
tanpa semerbak aroma khas
secangkir kopi panas
dari istrimu
Rabu, 27 Agustus 2008
Sabtu, 23 Agustus 2008
sutardji dan bakrie award
di koran kompas hari ini saya melihat gambar setengah halaman, presiden dan istrinya berfoto dengan beberapa orang yang memegang piala atau entah apa di tangannya. semuanya senyum sumringah. ada lelaki bertopi diantaranya. beda sendiri. rambutnya gondrong, nggak licin seperti foto2 lainnya. dia, Sutardji Calzoum Bakrie...eh, Bachri.
sepotong tulisan di foto itu menerangkan, mereka meraih penghargaan dari keluarga Bakrie. konon katanya, para penerima penghargaan ini juga diganjar duit Rp 150 juta.
saya ingat tahun lalu, Frans Magnis Suseno juga diberi penghargaan yang sama. tapi penghargaan itu ditolaknya. karena awardnya bau lumpur. banyak yang mendukung Frans Magnis ketika itu.
alasannya:
- Bencana lumpur panas di Porong, Sidoarjo adalah kejahatan kemanusiaan
- Masyarakat intelektual harus mendukung rakyat bukan kaom modal yang menginjak harkat dan martabat rakyat
- Masalah lumpur panas adalah masalah Negara yang absen atau membiarkan masyarakat tertindas
- Ada pelanggaran konstitusional dalam penyelesaian masalah lumpur panas
- Kaum intelektual bersama rakyat harus melawan pelanggaran ini dengan menyampaikan mosi tidak percaya terhadap pemerintah
kini rupanya nggak ada lagi yang mengingat itu. termasuk pria berambut gondrong di foto itu. atau entahlah, mungkin dia memang tak pernah ingat bahwa porong masih terendam lumpur. atau ia berpikir, lumpur, puisi, dan award, memang tak ada hubungannya.
atau mungkin sebagian besar orang2 telah berpikir benar, bahwa lumpur dan penderitaan rakyat bisa dicuci dengan uang.
sepotong tulisan di foto itu menerangkan, mereka meraih penghargaan dari keluarga Bakrie. konon katanya, para penerima penghargaan ini juga diganjar duit Rp 150 juta.
saya ingat tahun lalu, Frans Magnis Suseno juga diberi penghargaan yang sama. tapi penghargaan itu ditolaknya. karena awardnya bau lumpur. banyak yang mendukung Frans Magnis ketika itu.
alasannya:
- Bencana lumpur panas di Porong, Sidoarjo adalah kejahatan kemanusiaan
- Masyarakat intelektual harus mendukung rakyat bukan kaom modal yang menginjak harkat dan martabat rakyat
- Masalah lumpur panas adalah masalah Negara yang absen atau membiarkan masyarakat tertindas
- Ada pelanggaran konstitusional dalam penyelesaian masalah lumpur panas
- Kaum intelektual bersama rakyat harus melawan pelanggaran ini dengan menyampaikan mosi tidak percaya terhadap pemerintah
kini rupanya nggak ada lagi yang mengingat itu. termasuk pria berambut gondrong di foto itu. atau entahlah, mungkin dia memang tak pernah ingat bahwa porong masih terendam lumpur. atau ia berpikir, lumpur, puisi, dan award, memang tak ada hubungannya.
atau mungkin sebagian besar orang2 telah berpikir benar, bahwa lumpur dan penderitaan rakyat bisa dicuci dengan uang.
Rabu, 06 Agustus 2008
mafia pembohong itu jalan2 lagi
Baru kemarin, mereka para anggota sirkus setuju KPK ikut dalam rapat-rapat mereka biar saat membahas anggaran show mereka ga macem-macem. Ketuanya kemaren udah menyetujui itu. Udah berfoto-foto segala. Kesannya, udah siap mental untuk dibersihin jalan hidupnya, sumber nafkahnya. Tapi ternyata, itu mungkin cuma berlaku di level atas. Atau sekedar pemanis bibir doang, biar muncul di tivi, itung2 promosi menuju 2009.
Baru kemarin juga seorang anggota sirkus bernyanyi di pengadilan. Menyebut2 sekitar 52 nama yang ikut nerima duit dari pabrik pembuat duit. Dan dua hari ini KPK mulai memanggil dan memeriksa nama2 yang disebut itu. Tapi, duit tetaplah duit, memikat mata tetikus jalanan yang berteduh di gedung sirkus. Mereka ga takut dengan gerakan pembantaian tikus ala KPK.
Buktinya, berita ini menyebutkan, sebagian dari mereka tetep aja bangga dengan moncong tikusnya. Mengendus sumber duit di sana sini, mengambil yang bukan haknya tanpa rasa malu. Ngomongnya ke daerah, taunya ke luar negeri. Meski dikritik, mereka tetep berangkat ke Swiss. Entah ada pertunjukan sirkus apa di sana.
Oh, katanya studi banding RUU Palang Merah? Ahhh, serumit apa sih urusan ngasih sebagian darah kita ke orang lain yang memang membutuhkan? Apa iya harus ada undang2nya? Orang sekarang sekarat bukan karena kekurangan darah tapi kekurangan BBM! Daripada berangkat rame2 sekeluarga, kenapa ga ngundang orang yang ahli palang merah ke sini buat menjelaskan?
Toh cuma membutuhkan waktu diskusi dua jam. Ngapain jauh2 ke Swiss buat diskusi dua jam doang? Kenapa ga dimanfaatin tuh laptop buat berkomunikasi dengan orang di luar sana? Buat belajar dari om gugel gimana bikin undang2 yang ga ngabis2in uang negara? Berhari2 di Swiss, diskusinya cuma dua jam, sisanya kunjungan wisata Aarau, Lucerne, dan Zurich. Setelah ini mereka ke Lebanon? Wow....enak bener! Dasar kumpulan mafia!
Baru kemarin juga seorang anggota sirkus bernyanyi di pengadilan. Menyebut2 sekitar 52 nama yang ikut nerima duit dari pabrik pembuat duit. Dan dua hari ini KPK mulai memanggil dan memeriksa nama2 yang disebut itu. Tapi, duit tetaplah duit, memikat mata tetikus jalanan yang berteduh di gedung sirkus. Mereka ga takut dengan gerakan pembantaian tikus ala KPK.
Buktinya, berita ini menyebutkan, sebagian dari mereka tetep aja bangga dengan moncong tikusnya. Mengendus sumber duit di sana sini, mengambil yang bukan haknya tanpa rasa malu. Ngomongnya ke daerah, taunya ke luar negeri. Meski dikritik, mereka tetep berangkat ke Swiss. Entah ada pertunjukan sirkus apa di sana.
Oh, katanya studi banding RUU Palang Merah? Ahhh, serumit apa sih urusan ngasih sebagian darah kita ke orang lain yang memang membutuhkan? Apa iya harus ada undang2nya? Orang sekarang sekarat bukan karena kekurangan darah tapi kekurangan BBM! Daripada berangkat rame2 sekeluarga, kenapa ga ngundang orang yang ahli palang merah ke sini buat menjelaskan?
Toh cuma membutuhkan waktu diskusi dua jam. Ngapain jauh2 ke Swiss buat diskusi dua jam doang? Kenapa ga dimanfaatin tuh laptop buat berkomunikasi dengan orang di luar sana? Buat belajar dari om gugel gimana bikin undang2 yang ga ngabis2in uang negara? Berhari2 di Swiss, diskusinya cuma dua jam, sisanya kunjungan wisata Aarau, Lucerne, dan Zurich. Setelah ini mereka ke Lebanon? Wow....enak bener! Dasar kumpulan mafia!
Senin, 28 Juli 2008
Diapain Biar Jawaban Amin Bervariasi?
Kompas memberitakan, anggota Komisi IV DPR, Al-Amin Nur Nasution, tidak mengakui segala rekaman percakapan yang diperdengarkan maupun yang dibacakan oleh majelis hakim. Dia hanya mengucapkan dua kata saat menanggapi hal tersebut, yaitu "tidak ingat" dan "tidak ada". Selain itu dia juga tidak mengakui segala pertemuannya dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bintan Azirwan.
Akibat sikap Amin itu, majelis hakim geram dan mengancam membacakan bunyi sejumlah pasal dalam UU No. 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. "Itu produk Pak Amin dan kawan-kawan. Pada pasal 22, 28, 35, dan 36, barang siapa, saksi yang tidak memberi keterangan atau kesaksian palsu, diancam pidana miniman 3 tahun dan maksimal 12 tahun penjara," ujar anggota Majelis Hakim, Dudu Duswara, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (28/7).
Anggota Majelis Hakim Andi Bachtiar pun meminta jaksa penuntut umum memutarkan sejumlah rekaman percakapan antara Amin dengan sejumlah orang terkait kasus dugaan suap ini. Hal tersebut untuk membuktikan jika suara dalam percakapan itu memang benar suara suami pedangdut Kristina.
Salah satunya percakapan antara Al Amin dan orang kepercayaan Azirwan, Edi Pribadi:
Al Amin (A): Bang, Amin nih, Amin.
Edi (E): Ya bang.
A: Nanti ke rumahku bisa enggak bang?
E: Rumah abang di mana?
A: Di kalibata bang. Naik taksi aja lah.
E: Kalibata?A: Hooh.
E: Enggak, aku ini dengan kawan yang kemarin. Supir
A: Hooh, di Blok A5 No. 87 Kompleks DPR RI.
E: SMS alamatnya gimana?
A: Oo... Begitu ya.
Namun saat ditanya Andi Bachtiar, Al Amin tetap saja membantah dengan mengatakan, "Saya tidak mengerti."
Nah tuh! Padahal waktu transaksi, cerewetnya minta ampun. Minta disediain perempuan kayak yang baju putih lah, minta duitlah, minta Edi ke rumahnya lah. Giliran ditanya di pengadilan, jawabnya ga tau mulu. Menurut Anda, diapain nih orang biar jawabannya lebih bervariasi? Hihihi....jangan jawab: diketemuin ma Ryan aja biar dimutilasi lho ya...! Itu sih lom menjawab pertanyaan udah modar duluan.
Akibat sikap Amin itu, majelis hakim geram dan mengancam membacakan bunyi sejumlah pasal dalam UU No. 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. "Itu produk Pak Amin dan kawan-kawan. Pada pasal 22, 28, 35, dan 36, barang siapa, saksi yang tidak memberi keterangan atau kesaksian palsu, diancam pidana miniman 3 tahun dan maksimal 12 tahun penjara," ujar anggota Majelis Hakim, Dudu Duswara, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (28/7).
Anggota Majelis Hakim Andi Bachtiar pun meminta jaksa penuntut umum memutarkan sejumlah rekaman percakapan antara Amin dengan sejumlah orang terkait kasus dugaan suap ini. Hal tersebut untuk membuktikan jika suara dalam percakapan itu memang benar suara suami pedangdut Kristina.
Salah satunya percakapan antara Al Amin dan orang kepercayaan Azirwan, Edi Pribadi:
Al Amin (A): Bang, Amin nih, Amin.
Edi (E): Ya bang.
A: Nanti ke rumahku bisa enggak bang?
E: Rumah abang di mana?
A: Di kalibata bang. Naik taksi aja lah.
E: Kalibata?A: Hooh.
E: Enggak, aku ini dengan kawan yang kemarin. Supir
A: Hooh, di Blok A5 No. 87 Kompleks DPR RI.
E: SMS alamatnya gimana?
A: Oo... Begitu ya.
Namun saat ditanya Andi Bachtiar, Al Amin tetap saja membantah dengan mengatakan, "Saya tidak mengerti."
Nah tuh! Padahal waktu transaksi, cerewetnya minta ampun. Minta disediain perempuan kayak yang baju putih lah, minta duitlah, minta Edi ke rumahnya lah. Giliran ditanya di pengadilan, jawabnya ga tau mulu. Menurut Anda, diapain nih orang biar jawabannya lebih bervariasi? Hihihi....jangan jawab: diketemuin ma Ryan aja biar dimutilasi lho ya...! Itu sih lom menjawab pertanyaan udah modar duluan.
Minggu, 20 Juli 2008
ikut partai, hal terlucu abad ini
Pekan lalu, seorang lelaki paruh baya mendatangi saya. Dia bertanya bagaimana caranya agar keberadaan partainya bisa diketahui khalayak ramai. Dia juga ingin agar orang-orang tahu bahwa di provinsi ini, ia-lah yang menjadi ketua partai A. Sebelumnya, bapak itu sebenarnya adalah pengurus partai B. Tapi karena partai B tidak lolos verifikasi KPU, ia lalu menerima tawaran berbelok ke partai B, tetap sebagai ketua tingkat provinsi. Pengurus Partai B sebelumnya, dinyatakan tidak pernah ada oleh pengurus pusat dan mengangkat si bapak itu.
Saya bertanya balik, mengapa si bapak mau pindah partai padahal dulu di partai A, dia udah cukup berjuang tapi ga lolos verifikasi dan kini Partai B datang hanya bermodal stempel dan kertas ber-kop untuk mengambil alih hal yang telah diperjuangkannya?
Jawabnya, kepengurusan partainya telah komplit dari tingkat provinsi hingga kelurahan. Saya tanya lagi, bagaiaman dengan persoalan ideologi, visi, misi dan sebagainya? Bukankah itu sama halnya dengan membendung sungai berarus deras untuk dipindahkan alirannya, demi entah apa? Tapi si bapak itu mengungkap sejuta argumen.
Bagi saya, argumennya terlalu mengada-ngada dan caranya berargumen seperti tengah berhadapan dengan orang super bodoh. Kesel, tapi mau ngomong apa. Itu haknya. Sama seperti semua warga negara lain, berhak untuk berpolitik atau tidak berpolitik.
Tapi, mbok ya yang masuk akal. Berharap lewat partainya Indonesia akan menjadi makmur sejahtera, itu dagelan terlucu abad ini. Bagaimana menjadikan orang lain sejahtera jika diri sendiri belum sejahtera? Bagaimana membangun masyarakat yang jujur dan sadar hukum jika diri sendiri tidak jujur mengakui bahwa ikut partai hanya untuk mendapatkan remah-remah anggaran negara? Untuk mendapatkan kursi di parlemen walo harus menggunakan segala cara? Untuk menjadi anggota lembaga yang di belakang namanya selalu diimbuhi 'yang terhormat'?
Dan setelah duduk di sana lalu segala cara digunakan untuk memperkaya dirinya? Meminta jatah ke pemerintah daerah, ke perusahaan2, bermain perempuan, main film bokep, jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya negara...dll dsb. Belum duduk di dewan aja sudah memanipulasi dengan cara mengklaim nama dan identitas orang sebagai pengurus partai, meminta warga dengan paksa untuk memilihnya saat pemilu.
Kalo hanya itu tujuan bikin partai, JANGAN mencoblos saat pemilu. ANDA ga bakal dapat apa- apa. Kata perjuangan yang mereka gembor2kan hanya omong kosong. Karena perjuangan yang sebenarnya adalah pelaksanaan kata-kata!
Saya bertanya balik, mengapa si bapak mau pindah partai padahal dulu di partai A, dia udah cukup berjuang tapi ga lolos verifikasi dan kini Partai B datang hanya bermodal stempel dan kertas ber-kop untuk mengambil alih hal yang telah diperjuangkannya?
Jawabnya, kepengurusan partainya telah komplit dari tingkat provinsi hingga kelurahan. Saya tanya lagi, bagaiaman dengan persoalan ideologi, visi, misi dan sebagainya? Bukankah itu sama halnya dengan membendung sungai berarus deras untuk dipindahkan alirannya, demi entah apa? Tapi si bapak itu mengungkap sejuta argumen.
Bagi saya, argumennya terlalu mengada-ngada dan caranya berargumen seperti tengah berhadapan dengan orang super bodoh. Kesel, tapi mau ngomong apa. Itu haknya. Sama seperti semua warga negara lain, berhak untuk berpolitik atau tidak berpolitik.
Tapi, mbok ya yang masuk akal. Berharap lewat partainya Indonesia akan menjadi makmur sejahtera, itu dagelan terlucu abad ini. Bagaimana menjadikan orang lain sejahtera jika diri sendiri belum sejahtera? Bagaimana membangun masyarakat yang jujur dan sadar hukum jika diri sendiri tidak jujur mengakui bahwa ikut partai hanya untuk mendapatkan remah-remah anggaran negara? Untuk mendapatkan kursi di parlemen walo harus menggunakan segala cara? Untuk menjadi anggota lembaga yang di belakang namanya selalu diimbuhi 'yang terhormat'?
Dan setelah duduk di sana lalu segala cara digunakan untuk memperkaya dirinya? Meminta jatah ke pemerintah daerah, ke perusahaan2, bermain perempuan, main film bokep, jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya negara...dll dsb. Belum duduk di dewan aja sudah memanipulasi dengan cara mengklaim nama dan identitas orang sebagai pengurus partai, meminta warga dengan paksa untuk memilihnya saat pemilu.
Kalo hanya itu tujuan bikin partai, JANGAN mencoblos saat pemilu. ANDA ga bakal dapat apa- apa. Kata perjuangan yang mereka gembor2kan hanya omong kosong. Karena perjuangan yang sebenarnya adalah pelaksanaan kata-kata!
Langganan:
Postingan (Atom)