Jumat, 02 November 2007

Wajib Militer dan Dana Pemilu

Tempointeraktif kemarin memberitakan tentang wajib militer yang akan diberlakukan di Indonesia. Udah lama sih dengernya, udah pernah gw posting juga di sini. Ga tau napa baru muncul lagi. Katanya rancangan undang-undang lagi digodok. Huh! Nanti, warga negara yang usianya 18-45 tahun wajib ikut. Dan...jika pemerintah meminta, semua warga negara, apapun profesinya, ga boleh nolak! Padahal tanpa wajib militer pun, negeri ini sudah sangat sangat fasis! Liatlah, ada Pamswakarsa, FPI (hiks...), Satpol PP juga (alat negara yang dipake buat menggusur2 orang itu!) ataupun kelompok2 semi militer pendukung partai-partai politik. Singkatnya, orang2 sipil yang dipersenjatai. Sikap mereka, lebih militeristik dari militer sendiri. Loreng palsu yang lebih songong daripada loreng asli. Menjijikkan!

Tapi masih ada yang lain yang juga menjijikkan. Tuh, dana buat menggelar pesta pejabat tahun 2009. Gede banget! Rp 47,9 triliun! Belum lagi kalo misalnya dikalikan dengan jumlah 33 provinsi dan 500 lebih kabupaten kota (kalo ga salah :p). Belum lagi kalo misalnya harus ada pemilu putaran berikutnya karena dukungan putaran pertama belum cukup. Dan...eh, masih sedang disorot aja, KPU udah bilang: kemungkinan dana Rp 47,9 triliun itu masih akan bertambah 40 persen karena banyak daerah dimekarkan.

Belum lagi kalo misalnya ada pengerahan massa khusus untuk ngamuk karena seolah2 ga puas jagoannya ga menang (padahal yang nyuruh ngamuk si jagoan). Habislah semua fasilitas negara dibakar2, tapi diam2 disambut gembira sebagian besar pejabat sebab itu berarti ada alasan lagi minta dana pembangunan yang bisa di-mark-up. Ah, mahalnya harga demokrasi ya? Apa iya setelah pesta2 pejabat itu, trus akan terpilih pemimpin yang bikin makmur, adil, bukan koruptor, yang bener2 bekerja untuk rakyat? Udah berapa puluh tahun sih kita diboongin? Apa dikira kalo ongkosnya gede trus hasilnya juga baik?

Duit hampir Rp 50 triliun itu buat apa aja? Bukannya masih bisa pake alat-alat yang dipake tahun 2003 lalu? Serusak apa sih kaleng-kaleng mirip bekas krupuk itu? Kalo bolong kan bisa dilakban. Duh, cuma buat dipake stengah hari aja, masa harus keluar duit segitu banyak? Hasilnya juga cuma buat lima tahun (kalau beruntung), yang bukan dipake kerja buat rakyat tapi dipake buat ngembaliin modal. Coba kalo dana buat beli kaleng2 krupuk (yang pasti nyaring bunyinya itu), dipake bikin sekolah dan membiayai pendidikan. Brapa banyak tembok2 sekolah yang terbangun? Coba, sebanding nggak, anggaran pemilu yang cuma bermanfaat (?) untuk lima tahun dengan anggaran pendidikan kita yang akan bermanfaat seumur hidup bagi anak-anak kita? Ziiiggghhh....emang udah harus dilenyapkan orang2 yang ga punya otak dan hati itu!

Sabtu, 27 Oktober 2007

Renovasi rumah ga rusak Rp 350 miliar

Ah, kalian pasti udah bosen dengan berita2 memuakkan dari gedung sirkus itu. Tapi koran pasti sepi jika dalam sebulan tak ada berita dari aksi2 konyol yang mereka lakukan. Entah berkelahi, entah agenda studi banding ke luar negeri padahal cuma jalan2 dan belanja belanja, atau minta kenaikan gaji, tunjangan, uang komunikasi dll, renovasi gedung, pokoknya apa aja yang berbau duit. Kali ini apalagi? Ya pastilah ga jauh2 dari urusan fasilitas. Seperti kata detikcom, mereka mo merenovasi rumah dinas! Dananya? Rp 350 miliar!

Fantastis! Ketika pengungsi Gunung Kelud hanya bisa makan nasi basi (walopun paduka presiden sedang berkunjung ke sana), ketika korban Lapindo dua kali lebaran di pengungsian tanpa opor ayam dan ketupat tapi hanya dengan bau lumpur, ketika korban gempa Sumatra masih kelaparan karena kekurangan bantuan, mereka masih mikirin untuk renovasi rumah yang sebenernya tidak rusak, tidak terbang atapnya karena puting beliung, tidak retak temboknya karena gempa, tidak ternoda lantainya karena banjir! Bener2 ga punya perasaan!

Coba, duit Rp 350 miliar itu dipake buat renovasi gedung dan biaya sekolah di daerah bencana, berapa banyak anak yang bisa terselamatkan masa depannya? Kalo dipake buat membangun tempat pengungsian sementara bagi korban Kelud yang lebih layak huni dan memasok bahan makanan buat mereka, pengungsi2 itu tidak akan setiap saat meminta kembali ke kampung halamannya yang berselimut debu dan ancaman setiap saat tertimpa lahar panas. Betapa tidak pekanya mereka, walaupun katanya, itu kerjaannya si sekjen DPR. Ah, yang bener?

Oiya.., rencananya, renovasi akan dilakukan mulai Januari 2008 dan akan berlangsung sekitar setahun. Selama pengerjaan renovasi, para anggota DPR yang menempati rumah itu, bakal dikasih uang pengganti sebesar Rp 20 juta untuk menyewa rumah atau apartemen. Oh, God! Padahal, banyak rumah kosong di kompleks itu. Mereka juga pasti punya rumah yang lain. Waduh...! Lihat di sana, pengungsi2 korban lumpur Lapindo Brengsek itu masih saja harus puasa, lebaran, natal, dua kali di lokasi pengungsian, dan masih juga diuber2, disuruh pindah, dan dihantui jebolnya tanggul2 berisi lumpur panas setiap saat.
Masih berminat berpartisipasi di pesta pejabat 2009 nanti?

Rabu, 24 Oktober 2007

Setelah 3 tahun, sepulang dari Kediri

Postingan yang agak terlambat. Harusnya diposting hari Sabtu lalu, tepat tiga tahun pemerintahan SBY-JK. Tapi gw masih dalam masa2 males nulis, makanya baru sekarang kesampean, setelah dipaksa2 untuk ga bermalas2an. Caranya, dengan berpikir, "Masa sih gw ga nyela2 ulang tahun ketiga mereka? Apa yang udah mereka lalukan selama tiga tahun ini? Sudahkah janji2 mereka di kampanye pilpres lalu, terujud?" Maka menulislah saya hari ini :p

Hmmm...sepertinya raport masih merah. Tahun pertama dan kedua, lalu ketiga, dipenuhi dengan bencana alam dan musibah transportasi dan diwarnai korupsi bantuan korban. Oke, bencana memang terjadi bukan karena dia jadi presiden. Tapi banyak bencana yang bisa dicegah dengan dengan satu sikap tegas untuk menindak para perusak lingkungan, menjalankan aturan dengan benar, tidak meloloskan izin bagi perusak hanya karena mereka punya banyak uang.

Penanganan korban, rasanya sudah cukup baik karena kemampuannya emang cuma segitu. Kecuali pada kasus lumpur Lapindo itu. Haduh, selalu, darah gw naek ke ubun-ubun kalo udah soal Lapindo. Itu salah satu cacat terbesar SBY-JK. Karena terlalu sayang sama (duit) Ichal. Padahal jelas2, perusahaannya menyengsarakan banyak orang, menghilangkan sumber hidup mereka. Tapi Ichal juga ga diapa2in sampe sekarang, padahal perusahaannya juga ga membayar ganti rugi kerusakan yang udah dibikinnya di sana. Jadilah warga Porong dua kali puasa dan lebaran di pengungsian (nyaingin bang toyib). Masih pantaskah pemerintahan ini dikatakan punya hati?

Memasuki tahun ketiga, di tengah merebaknya kasus korupsi kelas kakap diselingi musibah dan bencana, mereka udah mulai sibuk menyiapkan pemilihan presiden tahun 2009. Lalu kapan waktu untuk rakyat? Ga cuma mereka berdua, menteri2nya juga ikut2an. Memanfaatkan jabatan untuk mencari popularitas, agar bisa ngetop di tahun 2009. Syukur2 terpilih jadi anggota sirkus, bisa jalan2 ke luar negeri, minta kenaikan tunjangan, dapet pensiun, hanya dengan masa kerja 5 tahun yang diisi dengan duduk diem dan berkelahi.

Kasus HAM dan korupsi kelas kakap, masih gitu2 aja. Soeharto, Munir, korban 65, kasus BLBI, apanya yang berubah? Kinerja birokrat dan anggota sirkus, masih nol, ga ikut direformasi sehingga mereka bener2 jadi raja di tiap daerah, departemen, bahkan hingga ke divisi masing2. Anggota sirkus kerjanya cuma bertengkar, gonta ganti parpol yang ga jelas kerjanya apa. Dan...huh, ketika terjadi pergantian beberapa menteri, Abrizal Bakrie tetep aman di tempatnya.

Oh ya, ada satu perubahan yang cukup meningkat yang dilakukan SBY-JK. Yaitu pelantikan tim ini dan tim itu, dewan ini dan dewan itu. Tapi belum satu pun yang kelihatan hasilnya. Tim Lapindo? Huh, masih kalah sama kekuatan uangnya Ical. Dewan Pertimbangan? Aaahhh...gajinya doang yang gede, tapi belum ada satupun pertimbangan yang diberikan ke bapak presiden yang terhormat yang mendatangkan keuntungan bagi rakyat. Jadi, apalagi yang bisa diharapkan dari pemerintahan ini? Eh, hari ini konon Pak Presiden mau ke Kediri. Katanya di sana serem lho! Siapapun presiden yang ke Kediri, pasti lengser! Upsss...! Mari kita lihat, apa yang terjadi setelah tiga tahun, sepulang dari Kediri.

Rabu, 10 Oktober 2007

Para Pencari Kursi Ga Tau Diri

Bener-bener ya, yang ngaku para pemimpin itu, pada ga tau diri. Orang-orang masih sibuk menangis karena digusur dari rumah susun, para janda tentara digusur dari rumah tinggal mereka, warga Porong belum dapat tempat berteduh yang pasti, luka korban gempa belum kering, anak-anak yang dagangan orangtuanya dihancurin satpol PP dan FPI belum tau mau makan apa di hari lebaran, belum reda tangisan para keluarga TKI yang dibantai di luar sana, yang ngaku2 pemimpin itu udah pada berebut untuk jadi presiden. Padahal pemilihan masih 600 hari lebih! Dua tahun lagi! Bukannya kerja untuk rakyat, malah nimbun modal buat pemilu 2009.

Semuanya sama aja, SBY, Kalla, Megawati, Gus Dur, Wiranto, halah, semuanya. Ini lagi nih, Sutiyoso. Halah...menyebalkan semuanya. Kok ya ga ada yang inget, SBY, Sutiyoso, bukannya dulu mereka itu yang sibuk mukulin Mega? Kok ya jadi amnesia? Padahal yang bener2 korban saat kejadian, belum bener2 sembuh. Keluarga mereka hilang ga ketahuan kuburnya, ada yang jadi korban fitnah seumur hidup, ada yang cacat. Tapi, ada juga korban yang memilih bergabung dengan partai-partai yang dulu memukul mereka hingga roboh. Dunia yang aneh!

Okeee...butuh waktu buat ngenalin diri ke masyarakat, biar ntar terpilih. Tiap hari nongol di tipi, ngasih pernyataan2 sok baek, ngasih bantuan di sana sini, dll, bener2 memabukkan! Hah, ada yang sok kalem, katanya: belum saatnya mikirin pilpres, sekarang fokus mikirin negara. Dan sayangnya, orang2 pada ketipu. Dikira itu pernyataan sangat baik, simpatilah orang2 padanya. Padahal, itu taktik yang sangat menguntungkan, jualan dahsyat, karena orang akan berpikir dia ga ambisius, padahal...haduh, nipu banget! Belum lagi kicauan mahluk penghuni gedung sirkus di sana, sama2 menyebalkan!

Yang laen, tetep pake taktik kotor. Misalnya dengan meloloskan anggota penyelenggara pemilu yang bisa dipake buat mendukung mereka nanti. Ga peduli dia koruptor, pokoknya ada crew yang bisa ngutak-ngatik angka pemilih nanti. Trus abis itu, penyelenggara2 itu dipenjara semua dengan tuduhan korupsi. Hah, malangnya! Tapi kok ya tetep banyak yang berebut jadi anggota KPU? Udah jelas2 disorotin karena kasus korupsi, tetep aja ga ada reaksi, apalagi mo mundur...! Woi, selesaikan dulu kasus Munir, Soeharto, bantuan bencana, korban lumpur, korupsi bulog, pencuri kayu, perusak lingkungan. Selesaikan dulu persoalan TKI dan Malaysia yang menyebalkan itu, baru sibuk bicara soal capres. Ga tau diri bener sih?

Duh, saya ini, puasa2 tetep sibuk ngomel dan menghujat. Maafkan saya. Selamat Idul Fitri, maaf lair batin!

Selasa, 02 Oktober 2007

Malangnya Rasa Sayange

Pernah denger lagu Rasa Sayange ga? Lagu yang biasa kita nyanyikan sambil tepuk2 tangan zaman pramuka-an dulu itu, kini, katanya diklaim Malaysia juga. Haduuuh...abislah semua yang kita punya. Kayu diangkut ke negeri seberang, pulau Sipadan-Ligitan dicaplok, blok Ambalat sumber minyak itu juga terus menerus diusik. Batik, wayang, angklung, ...mungkin sebentar lagi. Perempuan2 TKI? Ga cuma diambil, tapi juga dibantai! Apalagi? Oh iya, kasus Miss Universe, ketika Agni Prathista pake baju Dayak, Malaysia protes, katanya itu busana mereka. Lalu apalagi yang kita punya?

Dulu katanya mereka ramai-ramai menuntut ilmu ke negeri ini. (Malah sampe sekarang, kalo gw liat di Fakultas Kedokteran Unhas, Makassar, haduh...isinya udah Malaysia semua deh, bergerombol dimana-mana dengan baju khas Melayu, baju kurung, rok dan jilbab dengan warna senada) Sekarang mereka lebih maju dari negeri tempatnya menuntut ilmu. Lalu mereka berlaku sewenang2 pada kita, apa2 diambil, apa2 dicaplok! Atau...tunggu...mereka emang pinter, atau kita yang oon dan lemah? Ah, malang banget negeriku!

Lalu soal lagu Rasa Sayange itu, bener ga sih, emang punya kita? Trus skarang tau2 dijadiin lagu soundtrack iklan pariwisata Malaysia, berarti, yang punya sapa? Benarkah Katje Hehanusa yang bikin? Atau NN? (hiks...dulu, gw selalu mikin, NN ini kok ngetop banget ya? Kaya pula! Banyak lagu2 yang penciptanya NN. Banyak juga pemberi sumbangan yang pake inisial NN. Oh, God, ternyata No Name, hihihi...dasar oon!) Kalo kek gini kejadiannya, gimana cara kita protes dan membuktikan kalo lagu itu punya kita?

Kalo kek gini terus, lama2 kita kehabisan identitas! Semua diklaim Malaysia. Lama2, pulau yang sekarang gw tempati, Kalimantan, dikuasai Malaysia juga. Tapi, daripada dikuasai FPI, mending dikuasai Malaysia kali ya? Bisa ikutan makmur :p Kalo ma FPI, sengsara...! Gerah banget gw ma kejadian beberapa hari ini di Samarinda, saat FPI bentrok sama warga yang ujung2nya kok malah sama orang2 Dayak. Duh, kok ya ada manusia2 berpikiran sempit kek FPI itu. Harus tergusur kemana hidup orang2 miskin yang mencari makan saat bulan puasa? Harus tergusur kemana penduduk pribumi itu saat mereka terusir hanya karena keyakinannya beda, padahal tanah dan kayu mereka juga udah dihabisi? Hufhhh..., gimana kalo orang2 FPI pembuat onar itu dikirim ke Malaysia aja? Biarin deh kalo Malaysia mau mengklaim FPI sebagai miliknya! Setuju ga?


*sebagian info dalam postingan ini didapat dari www.detik.com