Sabtu, 31 Maret 2007

Tolak Amplop, Terima Suap

Semalam, setelah membaca blognya abang ini lewat blognya mas Andreas, juga postingannya ndoro, saya dan teman kantor saya mengelus dada. Perih. Sekaligus salut melihat ketegaran dan keberanian si abang. "Semua yang diomongin, realistis, Yat. Gw bisa ngerasain beratnya hidup yang harus dia tanggung. Ga usah jauh2, di kantor kita aja, mungkin kalian yang lajang, mau ngapa2in juga cukup. Tapi buat yang udah berkeluarga, lumayan berat mencukupi hidup. Apalagi anak koran lokal yang hidupnya senen-kemis yak? Digaji juga nggak kali," katanya.

Saya cuma mengangguk membenarkan. Lebih perih lagi saat teringat sebuah berita dua pekan lalu. Seorang yang ngaku wartawan sebuah mingguan di Jakarta tertangkap karena mencuri hp. Saat diperiksa polisi, dia mengaku terpaksa nyolong buat makan karena dia belum dapet gaji selama tiga bulan. Yang punya perusahaan tempat wartawan itu bekerja, mungkin saja malu. Tapi apakah setelah kejadian itu, dia lalu memperbaiki manajemen perusahaannya, meningkatkan kesejahteraan wartawannya?

Halah, mimpi! Seorang teman saya pernah curhat soal gajinya yang ga dibayar selama 6 bulan. Ketika menghadap pimpinan, mereka diberi jawaban: sabar dulu, karena duit yang ada untuk menggaji bagian bisnis. Kalian di redaksi kan gampang dapatnya karena selalu ke lapangan. Lhooo...saya membelalak, marah. Apa dikira wartawan itu tukang ngemis? Lalu bagaimana nasib anak2 layout, desain grafis, dll? Usai curhat, sambil berlinang airmata, teman saya itu meminta saya menemaninya ke sebuah kantor pemerintah (walopun saya cuma sampai di depan pintu).

Dalam keadaan biasa, saya pasti menolak, tapi demi alasan kemanusiaan, saya ikut dia, karena saya tau, duit yang ditagihnya adalah duit iklan, dan hasilnya untuk dibagi dengan teman kantornya yang butuh duit buat istrinya yang akan melahirkan. Herannya, si pemilik media bosnya temen curhat saya itu, sedang membangun rumah seharga sekitar Rp 2 miliar yang dilengkapi dengan kolam renang dan sebuah ruang pertemuan (aula). Hah, rumah apa hotel sih? Lalu teman saya cerita, duit buat membangun rumah itu diambil dari duit2 pembayaran iklan. Nah lho...!

Di Kaltim, ga ada yang namanya AJI, organisasi wartawan yang anti amplop itu. Beberapa kali, saya dan beberapa teman kantor berniat mendirikan organisasi wartawan atau sekalian bergabung dengan AJI. Hal itu dilandasi kegerahan kami pada para narasumber yang menganggap wartawan adalah peminta duit. Ini Kaltim, Bung! Duit dimana2. Saya sudah terlalu sering menghadapi rayuan duit segepok, bahkan pernah dibuatkan rekening dan "jatah wartawan" tidak lagi disimpan dalam amplop tapi langsung dimasukkan ke rekening itu. (pernah diposting disini, tapi lupa kapan dan judulnya apa :d)

Iman saya yang secuil, membuat saya menahan diri untuk tidak menerima duit itu. Seringkali saya mendapat "nasehat" terutama temen2 dari perusahaan 'saingan' untuk bersikap 'realistis'. Kata mereka, tak ada gunanya mengandalkan idealisme karena idealisme adalah tai kucing ketika berhadapan dengan anak dan istri di rumah (nasehat yang salah karena saya ga punya anak istri hihihi). Setidaknya, mereka mengaku tidak menjadi wartawan bodrex beneran karena mereka masih bisa menolak amplop jika terkesan melecehkan dan menghalangi mereka untuk menuliskan sebuah berita. Sayangnya, ketika mereka berusaha memegang teguh prinsip "yang realistis" itu, justru pimpinan mereka di kantor yang sibuk menerima suap.

Kasus itu, membuat saya dan kawan2 di kantor ga pernah maju2 dalam rencana membentuk AJI di Kaltim. Karena masalah sebenernya, bukan pada wartawan. Demi memegang teguh kode etik profesi sebagai jurnalis, mereka mati2an menolak amplop. Tapi kalo perusahaan tempatnya bekerja tidak pernah menghargai sikap, kerja keras dan pengorbanan mereka, lalu apa alasannya menolak amplop? Anak istri mereka butuh hidup dengan duit, bukan dengan kata2. Justru wartawan2 bodrex malah bisa hidup mapan dengan rumah bagus, dua mobil, dan 'perlengkapan' wartawan yang lengkap dan canggih.

Buat AJI maupun organisasi wartawan lain, juga Dewan Pers, bisakah sedikit lebih BERTAJI? Jangan nuntut para wartawan untuk anti amplop, tapi tuntutlah perusahaan tempat mereka bekerja untuk lebih memanusiakan wartawannya.
Simpati mendalam saya haturkan buat bang Jarar Siahaan, semoga senantiasa diberi kekuatan dan ketabahan!

Jumat, 30 Maret 2007

Jual Panci Beli Beras

Dalam rapat sore tadi, seseorang diantara kami menyebut kata petani, buruh, rakyat, upah, dll. Dan seorang 'kawan' yang lain langsung menyetop. "Hush...sekarang ga boleh pake kata petani, atau buruh, atau rakyat, ntar dicap komunis. Saya nyeletuk, "Iyah, bentar lagi dihapus dari Kamus Besar Bahasa Indonesia karena identik dengan komunis, kata yang paling serem. Sama dengan nasib buku2 pelajaran SMP, SMA yang katanya ga boleh diajarin di sekolah," kata saya, tentu saja ga serius tapi nyolot.

Kira2 kata2 itu diganti apa ya? Hmm..., petani: pergi pagi pulang petang macul tanah nanem padi buat makan. Buruh: pergi pagi pulang petang abis bulan potong gaji. Rakyat: warga, penduduk, masyarakat. Jangan pake kata ummat, tar dikira mo bikin negara Islam. Trus, upah: gaji yang disunat sana sini. Huh... ribet ya?

Abisnya, gerah banget dengan gambar dan berita di tipi yang diwartakan kawan2 seprofesi (upss...kata kawan sepertinya juga agak kiri, diganti kawin aja kali yak?). Tayangan di tipi mempertontonkan serangan sekelompok pembela agama menyerang sekelompok orang yang 90 persen perempuan karena kelompok yang berdemo menuntut utang luar negeri distop dan meminta pendidikan gratis ini dianggap mencoba menghidupkan lagi ajaran komunis di Indonesia.

Apa indikatornya? Konon, AD/ART kelompok yang diserang terdapat cara2 yang lazim digunakan komunis misalnya mengorganisir kelompok tani, buruh, dll. Oh God! Membela orang2 lemah dan tertindas (tani, buruh, adalah kelompok orang2 miskin dan lemah) ternyata sebuah kesalahan dan wajib diperangi, diserang dan harus dimatikan. Yang benar adalah, sibuk berceramah menjanjikan surga dengan cara menakut2i, dan hanya berdiam diri menonton mereka yang terus menerus dalam ketertindasan.

Mas Mbilung barusan bercerita pada saya, tentang sekelompok masyarakat di Desa Cipondok Kadu Gede, Kuningan Jabar. Buruh tani (argghhh...dua kata yang tidak tepat) disana, hanya mendapat sepertiga bagi hasil panen. Duapertiga, tentu saja buat majikan. Ya ampun, dalam agama pun, ada aturannya. Orang yang berkeringat harus mendapatkan hak sepenuhnya. Dan haram bagi majikannya menikmati hasil keringat orang lain dengan cara culas seperti itu.

Belum cukup derita mereka, hasil yang seupil itu, masih harus dipotong buat biaya ngolah sawah, misalnya beli pupuk dll. Lalu apa yang tersisa buat mereka makan setelah berpeluh 365 hari??? Boro2 mikirin sekolah anaknya, buat makan aja ga cukup. Lebih ironis lagi, karena ga punya beras, ibu2 tani menjual panci. Lalu, buat masak beras yang dituker ma panci tadi, mereka terpaksa minjem panci ke tetangga.

Apa ga kepancing nyumpahin anjing kalo denger cerita kek gitu? Tetangga macam apa kita yang hanya menonton derita orang2 seperti itu? Saudara sebangsa macam apa kita ketika hanya diam sebagai pengkhianat? Patutnya dinamakan apa kelompok pembela agama yang selalu kepanasan melihat kelompok lain membela petani, buruh dan kaum miskin? Apa gunanya ada UU yang katanya menghargai perbedaan pendapat dan kekebasan berkumpul dan berserikat?


* hiks...ternyata gw ga betah buat 'berhenti sejenak' :p

Kamis, 29 Maret 2007

gado-gado

* Entah siapa yang salah. Pembuat defenisi cantik-kah, atau si tabib pembuat dan penjual obat, atau si pemakai obat? Mungkin mengikuti defenisi cantik di iklan tipi yang harus langsing-putih-tinggi-berambut lurus, Ana (30) mencoba minum obat pelangsing. Akibatnya, warga Jogja itu langsung meninggal. Iparnya, Aji, ikut nyicipin karena penasaran, eh, ikut meninggal. Lalu tiga polisi yang memeriksa bekas2 serbuk obat yang berceceran, hanya dalam hitungan menit, langsung pingsan. Lho lho lho...???

* Akhir2 ini beredar imel soal 'bisnis' pembunuh bayaran. Hmm...sepertinya ga sembarang orang bisa melakukan ini. Setidaknya harus punya kemampuan nembak (terlatih pasti) juga harus punya jaringan pengadaan senjata. Soalnya di imel itu, mereka juga nawarin senjata AK 47, bom, racun, dan cara membunuh yang laen. Kalo ini serius, dugaan bisa mengarah ke..., ya, penguasa jaringan senjata, bisa nembak. Tapi kalo ini iseng....bagusnya diapain yak kalo dah ketangkep? Oh iya, imelnya: pembunuhbayaran@telkom.net

* Jangan dikira jaman reformasi, ga ada lagi upeti2an. Selasa (27/3) kemaren, orang2 komisi II DPR RI dapet kiriman Duku Palembang 500 kilogram. Udah dimasukin ke 50 kotak kayu sesuai jumlah anggota Komisi II yang ngurusin soal pemerintahan dalam negeri ini. Ada tulisan Pemda Kabupaten Ogan Komiring Ulu (OKU) sebagai pengirim. Orang2 di sana pada ngacir ditanyain maksud kiriman duku itu. Ah...malu ya, disuapnya pake duku doang? Coba disuap lewat rekening, hihihi...! Tapi abis ini, pasti Pemda OKU didamprat abis2an...malu-maluin, ngirim duku ke kantor yang terhormat.

* Ini cerita dari DPRD Kaltim. Tahun lalu, mereka bagi2 laptop. Ada 61 biji yang dibagi dengan biaya Rp 2,79 miliar, merk Toshiba tipe Satellite. Jadi harga per unit keknya Rp 15 juta, walopun orang DPRD ngakunya harganya Rp 10 juta. Plus satu laptop khusus seharga Rp 115 juta dan 2 biji seharga Rp 25 juta. Lucunya, Ketua Komisi III pas ditanyain malah nanya balik. "Memang saya juga dapat laptop? Wah, mencet saja tidak bisa." Entah jujur pa kagak, ga tau dah. Yang jelas...laptop khusus yang katanya buat perekam suara seharga Rp 115 juta itu, udah rusak. Padahal baru dibagiin lima bulan lalu keknya. Tapi laptop macem apa sih semahal itu?

* Gado2 banget ya postingan ini? Ah...sudah. Saya lelah. Mungkin akan berhenti lagi sejenak, menarik nafas panjang, mengumpulkan energi, untuk kembali lagi BERGERAK. Mungkin besok pagi sudah pulih, atau lusa, atau mungkin saya akan terlena pada senandung di sana, ga tau!

Senin, 26 Maret 2007

Anggaran Penangkal Ilmu Hitam

Namanya juga kelompok sirkus, ga cuma gedungnya di Senayan yang luar biasa, tapi juga pertunjukannya selalu penuh sensasi. Belum selesai soal laptop seharga total Rp 12,1 miliar buat 550 anggota sirkus (yang blum tentu bisa make laptop), skarang mereka bikin aksi lagi. Kali ini tentang biaya pengawalan unsur pimpinan DPR yang ternyata mencapai Rp 16,5 miliar dari total Rp 451,4 miliar tahun 2007. Wow, fantastis kan?!

Gila ya, pengawalan buat 4 orang aja, harganya segitu. Biaya pengawalan buat Agung Laksono dan tiga wakilnya, Soetardjo Soergoritno, Muhaimin Iskandar dan Zaenal Ma'arif, sampe Rp 16,5 miliar? Hmmm...kalo soal laptop mereka jelas lagi demam Thukul. Kalo soal pengawalan, mereka demam bintang2 Hollywood kali ya? Tergiur ngeliat Jolie atau istrinya Beckham yang keknya keren banget dikawal bodyguard bertampang macho bin serem.

Cuma, gw ga ngerti...pengawalan ini maksudnya bodyguard beneran apa sekedar untuk asisten pribadi, sekretaris, dan pengawal ato gimana. Tapi tetep aja angka segitu, luar biasa banyak untuk 4 unsur pimpinan doang. Rp 12,1 miliar aja bisa beli 550 laptop (yang tentu saja ada mark up habis2an), apalagi kalo Rp 16,5 miliar. Bisa bikin brapa sekolahan tuh? Bisa menghidupi pengungsi brapa ribu orang? Bisa ngobatin gratis brapa ribu orang?

Ga cukup ya, dengan bikin pagar super tinggi di sekeliling Senayan? Lagian, biaya pengawalan segitu gedenya, apa sih yang ditakutin? Lha, ngeliat mobil2 yang ada lambang negara di bagian depannya, polisi aja takut nilang kok. Kendaraan lain pada minggir kalo mereka mo lewat. Jadi maksudnya apa pake2 bodyguard segala? Buat nakut2in rakyat pemilihnya? Ah, udah tau sama tau lha ya..., selalu ada jalan buat nilep, selalu ada duit di setiap proyek. Biar lebih aman, gw ga akan heran kalo suatu hari nanti, ada juga 'anggaran penangkal ilmu hitam'. Bukankah mereka juga percaya yang klenik2?



UPDATE (26/3) : Setelah di-cerpen-kan, kisah Diaz ditulis dalam novel trilogi oleh adik korban, Daniel Mahendra sejak November 2006 lalu dan sebentar lagi akan dirilis. Judunya, EPITAPH (tulisan duka di batu nisan). Buku ini tak hanya bercerita tentang kronologi kasus menyakitkan itu, tapi juga bercerita soal sejarah film Indonesia. Saya tidak sedang promosi (lha wong ga kenal penulisnya), sekedar berbagi kesukaan pada buku karya anak negeri sendiri.

Jumat, 23 Maret 2007

ketika bangkai pesawat itu ditemukan

Selamat Datang di Pengadilan. Saya teringat lagi dengan buku kumpulan cerpen karya Daniel Mahendra yang saya baca zaman kuliah dulu. Banyak cerita heroik di dalamnya, khas aktifis mahasiswa, yang selalu ingin melihat negerinya semakin baik. Cerita yang penuh semangat, dibumbui kisah cinta, dan juga menyelipkan kisah kelam negeri ini yang tentu saja menimbulkan kegeraman Daniel yang ketika itu aktif bergelut di dunia pers mahasiswa di Bandung.

Saya sudah menduga, salah satu atau bahkan hampir seluruh cerpen di buku itu diangkat dari kisah nyata keseharian aktifis yang tak pernah jauh dari buku, cinta dan demonstrasi. Tapi saya sama sekali tidak menyangka, cerita tentang pesawat jatuh dan mayat korban yang ditenteng dalam travel bag adalah kisah nyata yang dialami sendiri oleh kk dari Daniel (atau hanya kesamaan nama ya???). Ketika itu, saya benar2 menangis membacanya, rasanya maraaaaaah banget. Marah dengan kelakuan cecurut, aparat yang sibuk berbisnis, tapi tak berbuat apa2 saat satu per satu pulau negeri ini lepas karena dicaplok negara lain

Serapih apapun menyembunyikan borok, pasti ketahuan juga akhirnya. Dan kemarin, bangkai pesawat yang hilang 13 tahun lalu itu ditemukan di Deli Serdang. Saya terhenyak sejenak. Ini rupanya yang ada dalam cerpen Daniel itu. Tapi terlalu banyak keanehan di sana. Mulai dari kalung Wanadri yang diduga milik Diaz Barlean, kartu mahasiswa, penemuan tulang belulang dan sebagainya.

Padahal, pada 1996, dua tahun setelah peristiwa jatuhnya pesawat itu, keluarga Diaz telah diserahi bukti2 meyakinkan berupa KTP, KTM, dompet, topi, ikat pinggang, dll, yang disertakan dalam tas berisi tulang belulang Diaz. Paket serupa juga diterima keluarga Ori Rahman, Petinggi LSM Kontras, karena almarhum Burhan Piliang, ayahandanya, adalah salah satu korban tewas bersama Diaz.

Mereka, para penerima "paket tulang dalam peti mati yang tak semestinya" juga menerima pesan penting dari pemilik (atau merasa memiliki) Helikopter Bolco TNI AD itu. Jenazah boleh diambil, apabila pihak keluarga menyetujui sejumlah persyaratan yakni: tidak boleh mempublikasikan ke media massa dan tidak boleh ada upacara apa pun di Kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tempat kuliah Diaz. Bahkan Ori mengatakan, mereka juga tidak dibolehkan membuka "peti mati".

Mengapa??? Mengapa butuh waktu 2 tahun untuk menemukan heli yang ditumpangi Diaz Barlean dkk? Karena (alasan ini juga terdapat dalam cerpen karya Daniel Mahendra), waktu itu TNI AD menyangkal bahwa heli yang mereka pakai disewa dari tentara, jadi pencariannya tidak serius. Ya, penyewaan helikopter milik negara itu, tentu saja tidak dibenarkan.

Saya bergidik memikirkan beberapa kemungkinan saat itu. Apa iya, tulang belulang yang diserahkan ke keluarga korban, benar tulang belulang milik mereka? Siapa yang bisa menjamin, mengingat waktunya sudah dua tahun, kondisi tas mayat yang tidak boleh dibuka, dan...aaarrggghhh...ga ada yang ga mungkin dalam sebuah bangsa yang fasis dan korup.
*) mohon maaf jika tulisan ini membuka kembali luka lama keluarga korban