Lagi-lagi berita dari gedung sirkus Senayan. Sebanyak 550 anggota sirkus yang ada disana bakal dapet laptop seharga Rp 21 juta per unit. Badan urusan rumah tangga menyiapkan dana Rp 12,1 miliar dari APBN. Alasannya dibagiin laptop, biar kinerja dewan ada perbaikan. Yaelah...apa jaminannya pake laptop trus kinerjanya bagus, ga gontok2an lagi, lebih aspiratip, ga maen pilm2 biru lagi, ga rebutan dana rapelan lagi?
Oh ya, spesifikasi laptopnya, harus 12 inch, dua processor, beratnya ga lebih dari 2 kilogram, harga patokannya ya itu tadi, Rp 21 juta per unit. Katanya sengaja dipilih yang 12 inch dan beratnya 2 kg biar ga repot bawanya. Halah, kek yang pernah bawa barang berat aja. Bawa selembar kertas doang harus pake asisten. Noh, petani bawa2 pacul ga napa2...lha, tas laptop kan ga ditenteng kalo di mobil. Hehehe, ga adil ya perbandingannya, tapi buat gw, itu pemborosan banget. Napa harus yang 21 jutaan, napa ga yang 10 jutaan aja?
Kata orang rumah tangga gedung sirkus, kalau menteri saja didampingi profesor, masak anggota sirkus ketinggalan terus, makanya dibeliin laptop. Lha, ga tau apa ya kalo pake laptop itu, INPUT=OUTPUT? Kalo ga ngerti apa yang mo dimasukin ke laptop, ya ga ada gunanya punya laptop. Kok ya dibandingin ma menteri yang didampingi profesor? Ada lagi celetukan tolol anggota sirkus yang ngomong gini: Masa kita kalah sama Tukul? Tukul aja pake laptop. Lhaaa...kok ngiri sama Tukul sih?
Males sebenernya nulis2 soal ginian lagi...cuma puas nyumpahin tapi ga bakal ada yang berubah. Lihat aja soal PP 37 yang direvisi itu. Jumat malem minggu lalu, Presiden SBY akhirnya menandatangani PP pengganti PP 37 Tahun 2006. Kata Yusril ada beberapa pasal yang dirombak yakni pasal 1 angka 15A dan angka 15B yang berisi tentang tunjangan komunikasi intensif dan belanja penunjang operasional pimpinan. Tunjangan ini diberikan dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah.
Tapi dalam pasal 14B, tunjangan komunikasi intensif justru berlaku surut selama tiga bulan sejak revisi PP 37/2006 dikeluarkan pemerintah. Ckckck...sama aja, panen duit lagi. Lalu gimana dengan pengembalian dana rapelan yang kemaren2? Katanya harus dikembaliin paling lambat satu bulan sebelum berakhirnya masa bakti sebagai anggota DPRD periode 2004-2009. Tapiiii...ga ada pasal yang mengatur sanksi kalo anggota sirkus ga balikin duitnya. Kata Yusril, PP ini kan hukum administrasi. Hukum administrasi tidak bisa menjatuhkan sanksi pidana. Atuuurrr...kita mah ga ngerti hukum, makan aja dah tuh duit, semuanya!
Kembali ke lap...top! Dana pembelian laptop ini sekitar Rp 12,1 miliar dari APBN. Ada aja ya, duit APBN? Padahal, minggu lalu, Bu Menkeu Sri Mulyani angkat tangan pas didesak untuk ngucurin dana bagi korban lumpur Lapindo karena katanya pemerintah ga ada duit. Tapi buat beli laptop (yang ga ngerti cara makenya) kok ada. Apa gaji pokok per bulan (paling dikit) Rp 35 juta itu ga cukup buat beli laptop sendiri? Ah. lupa...laptop lebih penting daripada sandang, pangan dan papan orang2 korban Lapindo :p
Rabu, 21 Maret 2007
Anggota sirkus iri ama Tukul
Minggu, 18 Maret 2007
Surat Cinta Buat Presiden
Apa yang bisa dilakukan jika sulit menemui seseorang, apalagi kalo dia orang penting? Mo nelpon ga punya hp :( punya hp ga punya pulsa :( punya hp ma pulsa, eh, ga tau nomernya si orang penting. Halah, kesian amat lo, ke laut aja sono. Tapi si 'Qwerty' ga kehilangan 'kreatifitas'. Dia berkirim surat ke orang paling penting di negeri ini lewat www.presidensby.info. Berhasil, usahanya terbaca banyak orang dan sampai ke telinga orang2 yang sering seliweran di dekat SBY. Walopun belum tentu sampe ke telinga SBY langsung.
Yang disampaikan sih, tuntutan sederhana sebenernya. Ketimbang harus berpanas2 di jalan, tereak2 pake TOA ngabis2in energi, belum tentu didengerin malah bisa2 di dorr pak polisi, menyalurkan suara hati memang lebih efektif dan efisien (halah...ribet bahasanya) lewat inet. Yang baca, jelas, orang2 yang mungkin bisa mengambil kebijakan (dengan catatan: kalo dia punya hati). Lagian, kalo mo nyampein tuntutan langsung ke SBY, waduh, kaum elit aja susah ketemu, apalagi kaum rendahan seperti ...saya (sebenernya mo nyebut Qwerty, tapi ga enak)
Keknya saya muter2 deh, padahal omongan saya ga penting. Suratnya Qwerty lebih penting. Ini dia:
Indonesia, 17 Maret 2007
Kepada Yth
Presiden Republik Indonesia
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
Di
Istana Negara
Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kami, yang bertandatangan di bawah ini:
Nama: on behalf of underground community
Alamat: the world where the devils gather
Nick: Qwerty
Dengan ini mewakili komunitas underground Indonesia ingin menyampaikan beberapa permintaan:
1. Turunkan harga Bandwith agar kita semua bisa merasakan internet, apa Anda tidak malu dengan China atau India? Mereka negara berpenduduk padat yang bisa mengakomodasi kebutuhan bandwidth dengan baik
2. Dukung dan laksanakan IGOS (Indonesia Go Open Source), pikirkan masa depan bangsa ini, tingkatkan mutu pendidikan, masa depan kita terletak di pundak mereka yang dengan jari-jari mungilnya setiap pagi mengemis dan mengamen di jalanan
3. Berantas KKN, pornografi dan pornoaksi di negeri kita tercinta ini. Saya kira Anda telah menyaksikan bagaimana azab yang telah menimpa bangsa ini. Tsunami, Gempa Bumi, Banjir, dan Kecelakaan baik di udara, laut maupun darat yang telah merenggut anak dari ibunya, yang telah memisahkan adik dari kakaknya. Kurang apalagi? Tanah Longsor? Lumpur Sidoarjo? Mungkin sebentar lagi bencana yang akan lebih besar lagi. Tidakkah kita malu terhadap Tuhan? Sudah diperingatkan berulang kali tetap saja membangkang dan tidak ingat kepada-Nya.
Agar permintaan kami ini diperhatikan dan dilaksanakan. Karena pemimpin yang baik pasti mendengarkan suara rakyatnya.
Terima kasih.
Hormat Kami,
Qwerty
Hmmm...cukup santun kan? Dan yang disampekan ga ada yang aneh. Tak perlulah ditanggapi dengan ucapan songong macem "situs ini telah kita tingkatkan keamanannya, bla bla bla" yang bikin jengkel itu. Mungkin Pak Arbi Sanit bener, komunikasi SBY buntu. So, orang harus menggunakan cara2 seperti ini biar suaranya bisa didengerin SBY. Eh iya, Pak Arbi minta SBY makan cabe lebih banyak. Katanya biar SBY lebih berani menghadapi rakyatnya. "Kalau perlu saat berdemo, masyarakat mesti membawa cabe berkeliling Istana," katanya. Boleh juga tuh, Pak!
Jumat, 16 Maret 2007
Tempatmu Memang di Bui
Ditengah serangan pms yang menyebalkan, saya cukup gembira malem ini. Syaukani akhirnya dijemput paksa oleh penyidik KPK sekitar pukul 19.00 tadi. Bayangin aja, sejak ditetapkan jadi tersangka 18 Desember lalu, dia tiba2 sakit, operasi terjepit saraf tulang belakang. Huh, akhirnya orang paling berkuasa di kabupaten terkaya Kutai Kertanegara itu diperlakukan seperti Abdullah Puteh
Sukurin. Pake boong sih. Bayangin, udah tiga bulan dia dirawat di RS Gading Pluit. Udah menghabiskan sekitar Rp 176 juta duit negara buat biaya kamarnya doang. Kok selama itu ga sembuh2. Taunya, tadi dia dijemput dari rumahnya di Jl Cimahi, Menteng. Hmmm...sepertinya selama ini dia nipu orang2. Katanya ga boleh dijenguk biar ga terganggu, taunya dia ada di rumahnya, bukan di RS. Kurang ajar kan?
Dia dijadiin tersangka kasus pembebasan lahan untuk pembangunan Bandara Loa Kulu, Kaltim dan diduga telah merugikan negara Rp 15,36 miliar. Ini sih ga seberapa nilainya. Penyelewengan lain lebih banyak. Dari soal APBD, pungutan ke perusahaan tambang, penyalahgunaan dana bantuan sosial, banyak dah pokoknya. Daerah Kutai Kertanegara ini memang termasuk daerah terkaya di Indonesia. Tambang minyak, gas, batu bara, emas, dan lain-lain. Blum lagi kayunya (udah habis :p).
Tapi jangan salah. Daerah ini juga terbanyak penduduk miskinnya, terbanyak sekolah rusaknya, terbanyak anak putus sekolahnya, terparah jalan rayanya. Jalan yang terlihat mulus cuma yang dilewatin pejabat, pake beton, bukan aspal. Yang tersohor cuma jembatan Golden Gate-nya, jago niru soalnya. Padahal ribuan arsitek negeri ini bisa bikin yang lebih bagus daripada sekedar niru2 bangunan di luar negeri yang cuma jadi produk mercusuar dengan mark up gede2an.
Gw ceritain beberapa ketololan pejabat satu ini. Dulu, awal2 era otonomi daerah. Dia kampanye kemana2. "Pokoknya nanti Kukar saya bikin lebih baik. Saya akan mengundang investor ke daerah ini untuk melakukan pembangunan yang dibiayai APBD". Lha..., investor dimana2 bawa duit sendiri buat investasi, ini malah mo dibiayain duit APBD.
Ada lagi cerita lain. Ketika seluruh bupati/walikota se Indonesia rame2 melarang tayangan smack down karena menelan banyak korban, dengan bangganya bapak berkumis ini koar2 di koran. "Saya dengan bangga mempersembahkan acara smack down dengan mendatangkan atlet langsung dari Jepang". Dan digelarlah acara itu di kerajaannya sana.
Soal buang2 duit, dia jagonya. Konon, di kabupaten yang dipimpinnya itu, lebih banyak jumlah wartawan daripada jumlah penduduk asli. Tiap pagi, bendaharawan bagi2 duit buat wartawan2 ga jelas ini (semoga mereka ga baca, bisa mati dicincang gw). Lalu, saat pekan olahraga tingkat provinsi kemaren digelar, atlet2 nasional didatangkan untuk masuk dalam tim kabupaten ini. Termasuk atlet berkuda, Larasati.
Tentu saja dengan bayaran yang gila-gilaan. Demi prestise. Sementara anak2 disana cuma bisa menonton duit mereka terus mengalir keluar. Yah, pantes aja kalo warga buta hurupnya paling banyak. Angka kemiskinan paling ngetop. Sekolah rusak terbanyak. Dan, anak2 kekurangan rendah gizi, nyaris busung lapar, juga banyak di sana! Dan...hei, desa mantan tapol yang terkebelakang itu, juga ada di sana!
Semogaaaa KPK tidak silau dengan duit. Terlalu banyak yang harus dibereskan di sini. Untunglah Gubernurnya udah ditahan duluan dan kini dedengkot yang lain, Syaukani juga ditahan!
Sakit Jiwa
Berita 'menyenangkan' gw temuin semalem di salah satu file. Konon, setelah bertahun-tahun lamanya negeri ini menduduki peringkat pertama sebagai negara terkorup, posisinya kini membaik. Kursi Indonesia digantiin ma Filipina. Tahun lalu, di 13 negara Asia, negeri ini rangking satu terkorup dengan nilai 8,16. Tahun ini turun menjadi rangking kedua terkorup dengan nilai 8,03. Sementara Filipina tahun lalu nilainya 7,80, sekarang naek menjadi 9,40.
Indonesia masih di angka 8 juga sih sebenernya, beda belakang koma doang dari taon lalu. Tapi ada perbaikan 0,13 poin. Dan kehidupan di luar angka statistik itu, rasanya masih sama. Bahkan semakin gila. Semakin banyak orang yang mencari jalan pintas untuk memperkaya diri sendiri dengan cara apapun. Dengan cara kekerasan atau dengan memanfaatkan jabatannya.
Sementara tak jauh dari kediaman para pejabat itu, beberapa hari lalu, ribuan orang antre biar bisa dapet pembagian singkong mentah, gratis! Singkong mentahhhh...direbutin ribuan orang. Iya sih, isinya sepaket itu ada macem2, misalnya beras, gula stengah kilo, sama singkong mentah. Buat orang di piramida bagian atas, paket sembako singkong mentah itu ga ada artinya. Tapi orang2 bagian bawah piramida, yang celakanya justru jumlahnya paling banyak, sangat...sangat membutuhkan bungkusan itu.
Ga pernah terbayang di pikiran berapa truk uang Tommy di luar negeri sana bila dirupiahkan atau berapa ratus miliar uang Tommy yang konon 'dibawa' sama Tata. Yang mereka pengen tau, bagaimana dapet makan hari ini. Mereka ga peduli berapa banyak peluru yang tersisa di gudang senjata. Yang mereka pikirkan, masih adakah yang bisa dimakan hari ini. Soalnya kalo mikirin semua itu, apa ga stress?
Padahal mereka ga punya duit buat beli senjata api buat membunuh orang2 yang ga mereka senangi. Atau membunuh orang2 yang merampas hak2 mereka. Beda dengan orang2 di atas sana. Selalu punya alasan untuk membunuh. Khawatir dipenjara karena kasus korupsinya akan diusut, tinggal dorr! Ga polisi ga orang sipil, maen dorr aja. Yang menyedihkan, karena himpitan ekonomi, ibu2 malah nekat bunuh diri, ngajak anak2nya pula. Apa ga pengen menjerit melihat peristiwa itu?
Apa ga sakit jiwa lama-lama? Masalah lain dibiarkan berlarut2. Lihat saja lumpur Lapindo yang melahirkan elegi bagi warga di sana. Punya kuping ga sih pemerintah plus Bakrie? Sakit jiwa semuanya! (iya, gw juga. soalnya isi blognya ga nyambung dan makin ga fokus!)
Selasa, 13 Maret 2007
Menengok Desa Eks Tapol (3)
HINGGA generasi kedua dan ketiga lahir di desa eks tahanan politik (tapol), Argosari, Kutai Kertanegara, kejadian tak mengenakkan masih terus terjadi. Seperti diceritakan para pengurus Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba) di desa itu, salah satu warga bermama Sumijan kini tengah dilanda kesedihan. Putrinya, terpaksa batal menikah dengan pujaan hati karena masalah status sebagai anak tapol PKI.
Pasangan ini telah bertunangan beberapa waktu lalu dan berencana menggelar pernikahan pekan depan. "Awalnya, semua berjalan lancar. Tapi tiba-tiba batal karena calon suaminya, tentara. Dia tidak dibolehkan oleh komandannya. Sumijan pun dipanggil ke Koramil. Akhirnya pernikahan mereka batal," kata Untung, Sekretaris Pakorba Kukar.
Dengan nada penuh penyesalan, Paelan, 63, menimpali, "Sedemikian jauh negara memasuki ranah kehidupan pribadi kami. Ternyata pencabutan Tap MPR mengenai komunis, tak membawa pengaruh apa-apa. "Ya, ternyata stigma politis itu tetap ada. Paelan merupakan tapol pertama yang menikah di Desa Argosari ketika mereka resmi menempati kawasan Argosari. "Saat akan menikah, bukan main sulitnya mengurus administrasi. Saya harus lepor ke Kodam padahal saya bukan militer. Status saya sipil, bukan tentara lagi," katanya.
Ketika Indonesia dipimpin Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mereka bernafas sedikit lega dengan upaya rekonsiliasi yang dilakukan pemerintahan saat itu. Proses demokratisasi mulai dijalankan, para eks tapol inipun mencoba bangkit, memperbaiki nasib. Mereka membentuk organisasi Pakorba. Di Dewan Pengurus Cabang (DPC) Kukar, Ismary Musran duduk sebagai penasehat, Ahmad Samuri sebagai ketua dan Untung sebagai sekretaris. Tujuan organisasi ini untuk memperjuangkan kembali hak-hak sipil mereka seperti rehabilitasi dan kompensasi.
Ismary menjelaskan, sebenarnya masalah kompensasi bisa dikatakan hanya formalitas tuntutan saja sebab dirinya sudah bisa menduga, pemerintah akan ingkar dengan alasan, keuangan negara tidak akan cukup untuk membayar kompensasi bagi mereka. Tapi pendapat berbeda diungkapkan Paelan. Dengan tegas dia meminta pemerintah membayarkan kompensasi. "Bayangkan, status saya sebagai tentara tidak pernah jelas. Tidak diberhentikan, tidak dipecat, tidak pensiun, tapi bertahun-tahun juga tidak mendapatkan gaji, keluarga berantakan. Saya malah dipenjara. Pemerintah harus membayar semuanya," katanya.
Mengenai diskriminasi dan perampasan hak-hak sipil, Untung menceritakan betapa tidak dihargainya keberadaan mereka di desa itu sebagai warga yang membuka lahan permukiman. Beberapa tahun lalu, desa ini dijadikan kelurahan. "Padahal aturannya, belum layak jadi kelurahan karena penduduknya cuma sekitar 190 KK sedangkan kelurahan syaratnya 500 KK. Tapi menurut orang atas, belum ada yang layak dijadikan kepala desa sehingga dipaksakan menjadi Kelurahan Argosari saja. Tentu ini dilakukan agar kontrol terhadap kami lebih mudah dilaksanakan," ujar Untung.
Hal lain yang dikhawatirkan warga adalah, mereka tidak pernah memiliki sertifikat hak milik tanah dan rumah. Ketika pertama kali dibuang ke Argosari, mereka harus membuka lahan dengan menebangi hutan lalu membangun rumah sendiri. Janji pemerintah kala itu, masing-masing kepala keluarga akan mendapatkan tanah seluas 2,25 hektare. "Tapi sampai hari ini, kami tak pernah tahu mana lahan 2 hektare itu. Kami ini tidak punya sertifikat hak milik dan bukti apa-apa. Jadi kalau pemerintah menggunakan tangan besi lagi, kami pasti akan digusur," katanya.
Tidak hanya itu, Untung, yang pernah menjabat sebagai staf di kantor desa mengatakan, sejak dua tahun lalu, pejabat desa diwajibkan lagi membuat laporan bulanan tentang aktifitas para eks tapol. "Seperti kembali ke zaman orde baru. Apalagi yang ditakutkan pada kami? Sudah tua. Di sisa usia tua ini, kami hanya ingin pemerintah merehabilitasi nama baik kami, mengembalikan hak-hak sipil kami yang terampas sekian lama," pintanya lirih.
Diakui Ismary, memang tak mudah mewujudkan tuntutan mereka. Terlebih jika pemerintahan saat ini selalu gigih mempertahankan kekuasaan. "Selama status quo masih dominan, bisa apa? Siapapun presidennya kalau bawahannya tidak bisa menjalankan perintah, tidak akan terujud tuntutan kami. Tapi kami tidak berkecil hati. Berjuang memang begitu, harus selalu mencari jalan lain," tandas Ismary yang tetap bersemangat diusianya yang kian renta. (tamat)