Senin, 13 November 2006

Kuku Soeharto masih tajam, mo coba?

Jangan salah ya, biar udah tua, sakit2an, ga berkuasa lagi, kuku aSoeharto masih tajem lho. Geoge Junus Aditjondro kemaren sempet nyicipin. Pas ke Thailand buat diskusi South East Asian Committee for Advocacy (SEACA) di Pattaya, Bangkok Barat, dia dicekal di bandara. Hayah, hari gini masih ada orang Indo yang dicekal, padahal bukan koruptor?

Norak deh orang2 Thailand itu. Masa cekalnya pake surat cekal jaman Soeharto Maret 1998? Ga tau apa kalo penandatangan surat itu udah ga berkuasa sejak Mei 1998? Tapi itu bukti sejarah. Hanya dua bulan sebelum kejatuhannya, dia masih ngeluarin surat cekal. Padahal perlawanan secara terang2an udah muncul dua tiga tahun sebelumnya.

Itu juga bukti kalo kuku ma taring aSoeharto masih tajem, kuat. Apalagi di Thailand, sesama negara Asean yang baru abis kudeta2an itu, dari dulu emang Tiran juga. Apalagi negeri ini juga pernah jadi objek penelitian Aditjondro. Dan surat pencekalan aSoeharto itu...amat sangat wajar. Bukankah Aditjondro ngurusin harta2 klan cendana itu?

Masih untung (kita orang2 Indo selalu untung kan?) Aditjondro cuma dicekal. Ga kek Munir. Hmmm...berarti, kalo ngurusin harta aSoeharto, hukumannya Cekal. Kalo ngurusin Militer, hukumannya arsenik. Omigad...! Tapi udahlah, mo jadi orang jahat, mo jadi orang baik, akhir2nya pasti mati juga. Napa ga MELAWAN aja sejauh kita mampu?

Barusan gw ngobrol ma temen gw, soal yang ga jauh2 juga...
gw: eh...semingguan uknowho disini
dia: ngapain dia
gw: ngliat2 aja...diskusi ma temen2 disini
dia: dia masih aktif yah
dia: emang untung nya apa sih ikut2an gituan..??
dia: gak jelas
dia: cuma bikin ribut2 aja
gw: masihlah
gw: ga ada yg berubah
gw: setiap orang punya pilihan kan?
gw: itu namanya konsisten
gw: ga harus untung
dia: hari gini
dia: mending masuk partai
gw: alooo....ga usah ngurusin orang kali...
gw: lagi2 itu soal pilihan
gw: daripada ngomongin orang...padahal kita jg lom tentu bener dan hanya mikirin kepentingan sendiri
dia: knp kok uknowho buka warnet yah
gw: buat hidup dengan tangan dan kaki sendiri
gw: itu yg gw bilang konsisten tadi
gw: dia juga bukan sapa2 gw...tapi gw sedih aja kalo ada yg ngelecehin
gw: karena dia masih bertahan di jalanan
gw: daripada masuk partai? enak2 duduk di gedong sono
gw: tapi sumber makan anak istrinya ga jelas halal apa haram?
dia: busyyeeettt
gw: bodo ah lo mo komentar apa
dia: heheehehe
dia: sepakat, ehh sepaket


Obrolan ini menjadikan kawan gw terlihat pecundang ya? Padahal enggak kok, dia cuma becanda, mungkin ngetes gw. Dia juga masih konsisten sampe hari ini di jalan yang sama meski tempatnya beda. Semoga! Kita ada disini bukan untuk main2, bermimpi dan jalan2. Kita punya tugas yang harus dikerjakan dan beban yang harus diangkat. Jangan menghindar, hadapilah!



sewindu tragedi Semanggi I

Jumat, 10 November 2006

Denias, Lintang dan Pahlawan

Siapa pahlawan yang dikenal oleh anak muda sekarang? Ah, semoga saja tidak seperti potongan sebuah wawancara di sebuah tivi swasta. Konon, kata gadis manis di tipi itu, tokoh peristiwa 10 November di Surabaya adalah DI Panjaitan. Oh god, belajar apa anak ini di sekolah? Ato, semoga wartawan saja yang salah memilih narasumber. Ato, jangan2 memang begitu gambaran anak-anak negeri ini?

Dulu2, sempat ada kekhawatiran anak2 akan menjadikan Superman dkk sebagai pahlawan masa kini. Siapa yang harus disalahkan? Tokoh itu yang selalu menjadi tontonan anak2. Sementara, Jenderal Soedirman dan angkatan2 sebelumnya, hampir tak pernah ditayangkan di tivi. Kalo pun ditayangkan, selalu dikemas dalam acara yang membosankan bagi anak2. Lalu siapa pahlawan anak2 sekarang?

***

Minggu lalu saat masih di Makassar, saya sempet nonton Denias, Senandung di Atas Awan filmnya John de Rantau. Bagus. Kejutan banget ada film kek gini. Dan happy ending dibandinglan cerita tentang ngenesnya nasib Lintang di buku Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Film ini, lucu, seger, sangat Papua. Dan saya gembira, lebih separuhnya yang nonton adalah anak2 kecil. Tanpa bermaksud rasial, anak2 kecil ini bermata sipit.

Saya begitu terharu dengan semangat Denias. Menempuh perjalanan 4 hari 4 malam, naik turun gunung, keluar masuk hutan, menyeberangi sungai, membawa 'Indonesia' dalam tas Papua-nya untuk mendapatkan sekolah yang punya fasilitas dan seragam bagus. "Gunung takut sama anak sekolah" adalah semangat dari ibunya yang membawa Denias pergi jauh dari honai-nya.

Juga semangat dari bapak yang bercerita tentang memanjat Pohon Kacang Polong, agar Denias bisa memandang dunia dari atas awan. Juga Maleo, si tentara baik. Dan saya tercenung pada keprihatinan Ibu Gembala (ko liat, logat Marcella Zaliyanti Papua skali toh? Sa suka!). "Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Papua ini, saya berpikir penindasan dan pembodohan hanya dilakukan oleh para pendatang. Ternyata, penduduk asli pun melakukan hal yang sama".

Ironis memang. Sekolah yang dituju Denias, juga Enos [ko mo skolah juga kah? ko pi ambil ko pe raport karena skolah nda bisa pake peta saja], ternyata sekolah yang hanya ditujukan bagi anak2 para ketua adat dan anak2 dari lingkungan terdekat perusahaan raksasa di Papua. Padahal, berapa ribu anak yang butuh sekolah di sana?

Tapi sukurlah, Ibu Gembala mau menjadi pahlawan bagi Denias dan anak2 lainnya (menyakitkan mengingat Lintang yang tak punya pahlawan). Konon katanya Denias kini sekolah di Australia berkat beasiswa (kalo ga salah). Semoga cepat pulang, membangun kembali Papua yang zuper uwindah tapi penuh ironi itu.
Papua nan eksotis, juga ironis. Indonesia juga.

Rabu, 08 November 2006

Rp 6 Miliar untuk 6 Jam?

Tamu paling merepotkan sejagad raya mungkin George W Bush. Dan tuan rumah yang paling direpotkan adalah Kota Bogor. Bayangin, untuk kunjungannya selama 6 jam, Pemkot Bogor menghabiskan dana sebesar Rp 6 miliar. Berarti, biaya kedatangan Bush terhitung Rp 1 miliar per jam, mungkin sekitar Rp 2,8 juta per menit.

Mo ngapain sih dia kesini? Bawa apa? Apa manfaatnya buat Indonesia selain kerepotan2 itu. Padahal, amat banyak yang bisa dilakukan Pemkot Bogor dengan duit sejumlah itu, bagi masyarakat di sana. Mo bicara soal investasi orang2 Amerika di Indo? Yang ada cuma mengeruk sebanyak2nya keuntungan dari sini, lalu pulang ke negaranya dan meneriaki kita dengan sebutan negara teroris.

Ok...kita wajib menghormati tamu kita. Tapi apa dengan cara begitu? Membangun heliped di Kebun Raya Bogor? Kelewatan amat. Berapa banyak situs yang bisa hancur? Bukannya Amerika juga yang paling suka tereak2 soal 'menjaga lingkungan'? Kebun Raya juga ditutup 18-20 November. Sistem komunikasi juga dimatikan di kawasan Bogor selama Bush datang.

Aih...aih...segitunya. GR amat, emang sapa yang mo nyolek2 Bush? Kalo pun dicolek, pasti ada alasannya kan? Siapa yang ga inget perlakuan Bush dan tentara2nya ke Irak, Afganistan, Lebanon, dan semua negara Islam? Di Indonesia? Udah banyak korban. Asal Anda pemakai jilbab, dan janggut bagi kaum lelaki, siap2 aja dicap teroris.

Kita liat saja nanti. Maukah SBY bicara soal kerjasama2 yang bakal menguntungkan Indonesia? Lalu mengingatkan Bush soal kerusakan yang dilakukannya di Timur Tengah? Dan semua kebijakan ganda yang dilakukannya terhadap semua negara?

Eh, tapi napa sih harus di kebun raya? Ga ada tempat laen yang ga menimbulkan kerusakan? Ato, ya udahlah, selain Pecundang, Bush emang Perusak!

Jumat, 03 November 2006

Gimana Rasanya?

Gimana rasanya menjadi Iwah Setiawati?
Suaminya dibunuh, pembunuhnya kini udah bebas, dan Iwah dituduh nerima uang suap Rp2 miliar dari Tommy. Padahal dia ga terima sesen pun. Wajar kalo dia nanya, sapa yang nerima uang itu? Hakimkah? Jaksakah? Arrggghhh....tau kan rasanya dituduh???

Gimana rasanya menjadi istri Munir?
Suami dibunuh, ga ada yang dihukum, kasusnya dicuekin, kalo bisa dikubur dalam2. Suciwati berjuang sendiri, hingga ke negei jauh. Minta bantuan PBB, lembaga HAM internasional atau apalah namanya. Siapa yang peduli?

Gimana rasanya menjadi ahli waris Tibo cs?
Ketika umur ditentukan oleh ujung senjata dan peluru tak bermata. Kasus pun dilanjutkan ke mahkamah internasional.

Perasaan mereka semua sama. Dan komentar mereka pun seragam. "Percuma berharap tegaknya hukum pada negeri ini. Tapi, kalo harus melapor ke lembaga2 hukum internasioal itu (karena hanya lembaga luar yang bisa dipercaya), dengan apa kami harus membayar?

Jumat, 20 Oktober 2006

Yang terpuruk, yang bahagia

Lebaran....
Adalah cerita pilu bagi mereka di pengungsian
yang di Porong, yang di Aceh, yang di Jogja
tak ada tempat untuk mudik
karena tanah, rumah, kasur mereka
habis tertutup lumpur
opor ayam, ketupat lebaran?
mereka cuma punya ruang sempit di bawah tenda
tak ada perjamuan, tak ada open house

Lebaran....
mungkin cerita bahagia menghinggapi keluarga mereka
Tommy dapet remisi 1 bulan 15 hari
Bahkan minggu ini mungkin udah bebas
Pamannya, Probosutedjo dapet remisi 1 bulan
Abdullah Puteh, dapet remisi 15 hari
keluarga mereka masih mungkin datang menghantar bingkisan ke penjara istimewa
sajian lengkap berlebaran
mereka masih punya tempat pulang
ke rumah yang hangat dengan kasur empuk

Ah, nasib tak bisa ditawar
Bersabarlah saudaraku
dalam keterpurukanmu
semoga ada bahagia kecil
karena kalian tak makan uang korupsi

dan....
oleh2 mudik gw dari kampung, adalah kesedihan. Menyaksikan mereka yang tertimpa musibah banjir bandang hingga hari ini tak terjamah bantuan. Padahal gw bisa mastiin, miliaran duit bantuan dari berbagai pelosok negeri mengalir untuk mereka. Tapi tetesannya tersumbat entah dimana. Bantuan perbaikan sekolah masing2 Rp 4 juta rupiah, menguap entah kemana. Hanya menyisakan secarik kertas bertanda tangan. Lalu penduduk memunguti sisa2 bilah papan yang terbawa banjir. Lalu membangun pondok 3x4 di bekas tanah mereka yang kini gundul. Tak ada lagi yang tersisa. Kemana harus menagih bantuan yang kemarin mengalir deras atas nama solidaritas?


Poso bergolak lagi. Satu kelompok jadi tertuduh lagi. Kami butuh tempat aman. Kami butuh penegakan hukum. Bukan pertemuan para petinggi yang hanya berakhir di depan pintu, lalu pembantaian tetap terjadi!