Kamis, 19 Oktober 2006

m.a.a.f


Kalo kekuasaan berbuat salah,
hanya ada satu kata;
LAWAN!!!
Kalo sesama rakyat berbuat salah,
hanya ada satu kata;
MAAF!!!

Selamat Idul Fitri 1427 Hijriah
Mohon Maaf Lahir Batin
Semoga kemuliaan dilimpahkan kepada para pemimpin
Dan kedamaian diturunkan di bumi khatulistiwa

Rabu, 18 Oktober 2006

Depag dan Pencuri Rokok

Sebenernya ini berita lama. Tapi baru diomongin lagi ma orang KPK kemaren. Mereka bilang, Depag adalah lembaga terkorup di Indonesia. Sialnya lagi, dana yang dikorupsi adalah dana penyelenggaraan ibadah haji.

Hmm…padahal ya…biasanya yang duduk di Depag sana adalah orang2 yang paham soal agama. Paham bahwa memakan hak orang lain itu ga boleh. Menilep hasil keringat orang lain itu dosa.

Nah kalo dah tau lembaga ini banyak nilepnya, napa ga ditiadakan saja? Itung2 penghematan dan penyehatan keuangan negara. Juga buat melindungi jemaah haji dari penipuan yang mengatasnamakan pengaturan urusan ibadah (perintah Allah).

Bukannya tugas ulama ato pemuka agama adalah menyampaikan hal2 kek gini di masjid (dan gw yakin di gereja dan di tempat ibadah mana pun)? Selama ini pemuka agama kebanyakan ngomong soal surga neraka dan hal-hal di atas langit, bukan yang membumi seperti korupsi dan akibatnya pada kehidupan sehari-hari.

Padahal di depan mata, anak usia 15 tahun nyolong rokok buat dijual lagi supaya bisa makan hari ini, mukanya ancur digebukin rame2. Padahal demi makan hari ini doang. Kemaren dan besok lom tentu dia makan. Coba kalo duit pajaklah, hajilah, retribusi apalah ga ditilep, berapa manusia yang bisa diberi makan (kalo distribusi zakatnya juga bener). Mereka dah nilep miliar2 banyaknya...masih aja dibela sampe bebas. Napa ga dibubarin aja semua lembaga yang ada, pake aja hukum rimba skalian.

Senin, 16 Oktober 2006

Hidup di Rumah Kaca

Pramoedya Ananta Toer jauh hari telah menorehkan tintanya sekuat mungkin agar memori itu tersimpan jauh ke dalam otak. Selalu ada arus balik di negeri ini. Selalu ada pengulangan sejarah. Maka rangkaian cerita-ceritanya dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, bukan hanya dialami Raden Mas Minke dan Nyai Ontosoroh.

Masih inget kemaren rame2 regsitrasi kartu ponsel ke 4444? Kartu pra dan pascabayar Anda udah teregistrasi? Apa efeknya? Mengurangi terorisme? Oh, mungkin belum terasa. Lalu Depkominfo sekarang lagi gencar sosialisasi penggunaan KTP di warnet, harus ada CCTV di warnet, ga boleh ada sekat di warnet.

Mungkin pengguna internet di rumah2 ato di kantor masih merasa aman. Tapi coba dengan yang satu ini. Tender penyelenggara Indonesia Security Incident Responses Team on Information Infrastructure (ID-SIRTII) atau pengawas lalu lintas Internet udah dibuka Senin (16/10) hari ini. Pemenang tender ini yang bakal ngawasin lalu lintas Internet mulai November nanti.

Yang diawasin, semua rekaman transaksi keuangan melalui Internet dan lalu lintas surat elektronik (e-mail) setiap tiga bulan. Rekaman itu disimpan dalam media penyimpanan digital yang diperoleh dari semua penyelenggara jasa Internet di Indonesia. Katanya ini buat mencegah tindak kejahatan yang menggunakan Internet sebagai media atau sarana komunikasi dan transaksi, seperti untuk mendukung aksi terorisme.

Ah, tapi kok bikin gerah ya? Gw juga ngerasa ini bakal jadi satu bentuk kejahatan khusus. Terlalu jauh memasuki ranah pribadi. Rasa2nya mereka itu paranoid akut. Lebih parah dari taon 96/97. Betapa gemesnya ketika rencana aksi unjuk rasa udah mateng, tau2 bangun tidur pagi hari, udah ada satu truk polisi di depan rumah nungguin. Wayah....mau jadi apa kita disini? Melebihi hidup di rumah kaca. Udah berada di dalam rumah, tapi rumahnya dari kaca... tetep aja ga aman buat telanjang di kamar mandi.

Sabtu, 14 Oktober 2006

Munir Bukan Musuh Prajurit

Munir bukan musuh prajurit. Kalo musuh jendral, mungkin iya. Munir aktivis HAM, tapi bukan musuh tentara. Munir punya sumbangsih besar dalam pembuatan UU TNI, tapi dia bukan musuh TNI. Tesis Munir tentang militer bukan berarti dia menjadi seorang yang berbahaya bagi negara.

Di banyak sejarah Munir membantu tentara. Munir paling banyak yang menyelamatkan anggota Kopassus saat disandera oleh GAM. Banyak cara dilakukan Munir. Negosiasi terutama, bahkan pernah dengan barter beras.

Jasa Munir dalam RUU TNI adalah memasukkan pasal mengenai prajurit yang cacat atau meninggal dalam perang, layak mendapatkan kompensasi. Munir pula yang menginginkan pasal 'seorang prajurit TNI yang diperintahkan komandannya dalam bertugas, tidak sesuai batas kewajaran, maka prajurit punya hak menuntut sang komandan'.

Apakah setelah memberikan jamian ekonomi dan hukum bagi tantama, bintara dan perwira pertama lantas Munir harus dihilangkan oleh negara? Lalu, kalau Munir punya banyak dokumen penyimpangan Dephan dan Mabes TNI, apakah nyawanya harus dicabut paksa?

Jadi, jelas, kalo ada yg musuhin Munir, pasti bukan prajurit rendahan. Berarti, yang musuhin Munir gag banyak, karena yang pangkat satu ke atas jauh lebih sedikit daripada tantama, bintara dan perwira pertama.

Lalu, Polly dilepas, mungkinkah ini simbol ketakutan negara (untuk tidak menyebut nama bapak itu)? Hehehe...pantesan ga dapet nobel. Padahal...dia punya wewenang penuh membuka jalan yang menghambat kasus ini. Ah...seperti nungguin babi bisa terbang.

Jumat, 13 Oktober 2006

Berita Lucu

Baru di postingan sebelumnya gw nyinggung soal lumpur, eh skarang...wakakakaka...ada berita lucu. Gw kopasin abis dari detik.com neh. Katanya kantor perwakilan Greenpeace Indonesia didemo oleh seratusan orang yang menamakan diri Komite Masyarakat Anti Antek Imperialis. Komite ini keknya gerah banget ma aksi Grinpis yang kemaren menggenangi kantor Menko Kesra dengan lumpur asli Lapindo Brantas Inc dan mengasapi kantor Menhut.

Hahaha...akhirnya gw tertawa setelah seharian menahan suakittt yang amat sangat karena penyakit dodol ini. Eh...ga boleh nyumpahin...katanya puasa2 harus banyak2 bersyukur. Iya deh, Alhamdulillah gw sakit...artinya gw masih punya rahim...hihihi...maap Tuhan, masih aja gw iseng.

Puasa ga puasa juga ga boleh negatip thinking yak? Tapi susah neh kalo soal komite yang lagi demo ke grinpis. Gw heran aja ma spanduk komite itu. Bunyinya gini: "Greenpeace jangan jadi antek imperialis". Heh, kemana aja lo? Ada juga selebaran isinya: "Ganyang Greenpeace" (hmm...kenal bau ini? Bau spanduk taon 65, Ganyang jek, hahaha).

Trus ada lagi: "Jangan jual nama rakyat untuk kepentingan asing", lha, bapak satu itu malah nguburin rakyat pake lumpur panas!!! Trus spanduk laen: "Jangan jadi aktivis kapitalis". Wakakaka....susah banget otak gw diajak kompromi untuk ga mikir kalo Komite itu juga sedang bekerja untuk Tuan Kapital.

Mereka juga bilang, "Kenapa Greenpeace tidak mengurusi Freeport, Newmont dan Exxon yang jelas-jelas telah merusak bumi Indonesia. Kasus Lapindo hanya sebuah kecelakaan". Waks...kalo ga sengaja, minta maap tolol! Trus bersiin tuh lumpurnya! Bayar kerugian warga! Jangan bebankan pada negara! Dan, Freeport, Newmont, Exxon, keuntungannya dimakan sapa? Dimakan si Tuan Kapital yang itu-itu juga!

Katanya lagi, "Kepada aktivis-aktivis imperialis, kami minta angkat kaki dari Indonesia" ...Ooh naseb...tanah negeri ini hanya untuk orang yang bersuara sama, kaum melodramatik. Hehehe...jadi inget Mas Mbilung dengan bahan 'diskusi berat'nya. Piye mas, ada bau cartel ga disini?