Senin, 9 Februari 2004
Aku suka sekali mengingat-ingat saat kecil dulu dan sampai sekarang tentang kesukaanku membaca. Meski sekolah di kampung dan harus berjalan kaki sekitar satu kilometer, yang jarak tersebut dulu tak ada artinya, tapi sekolah SD-ku punya perpustakaan yang cukup lengkap dengan buku-buku cerita. Bahkan hampir tak ada buku wajib karena buku wajib hanya disimpan di lemari kelas masing-masing.
Buku wajib atau kami sering sebut buku cetak itu akan dibagikan setiap awal tahun ajaran dan wajib dikembalikan pada akhir tahun ajaran. Seperti tulisan yang tertera di sampul belakang buku wajib itu, bunyinya kurang lebih begini: "Buku ini dipinjamkan kepada siswa dan boleh dibawa pulang. Pelajarilah isinya dan rawatlah buku ini, kelak adik-adikmu akan menggunakannya juga. Wajib dikembalikan diakhir tahun ajaran". Mungkin persisnya tidak seperti kalimat barusan, malah kepanjangan.
Yang jelas, sejak kelas tiga atau empat SD, sejak aku kurang tertarik lagi berlari-lari, main lompat tali yang begitu melelahkan, apalagi harus kena panas dan debu, keringat yang bau dan mengotori pakaian, aku mulai kecanduan meminjam buku diperpustakaan walau masih terbatas dan dibatasi.
Aku bosan dengan buku wajib yang telah kuhapal luar dalam sejak hari pertama dibagikan. Aku selalu haus dengan bacaan-bacaan panjang yang berbentuk cerita, tak hanya ini Budi, Wati dan Iwan sekeluarga yang harus terus dieja.
Aku suka memperhatikan huruf g kecil dibuku cerita itu. Bapak dan guru-guruku di kelas satu mengatakan huruf g itu bentuknya seperti nomor sembilan dan huruf kapitalnya seperti nomor enam. Tapi yang kudapati di buku-buku cerita justru seperti angka delapan atau nol disusun dua seperti pada tulisan tangan kakakku. Atau di potongan-potongan koran dan majalah yang dipaksakan Bapak untuk kubaca. Katanya, membaca akan membuatku mengenal dunia dan paham arti kata-kata lebih banyak.
Sebelum sekolah aku telah diajari membaca dan menulis. Dibawah penerangan lampu gas (yang kini banyak digunakan di gerobak-gerobak bakso), di rumah panggung tempatku tinggal, setiap malam Bapak mengajarku mengenal, mengeja dan menulis huruf arab dan latin. Tintanya adalah air di kobokan, pensilnya adalah telunjukku, dan kertas atau bukunya adalah papan rumahku yang warnanya kecoklatan tanpa pernis, dan penghapusnya adalah angin yang akan membuat tulisan itu mengering, hilang dan bisa ditulisi lagi.
Aku senang-senang saja bisa bermain air dan belajar membaca sambil membayangkan nanti aku tak akan hanya sekedar mendengar dongengan nenek yang menirunya dari buku sastra daerah, tapi aku bisa menggantikannya mendongeng dengan bacaanku di sekolah.
Jadilah aku dan seorang ponakanku yang laki-laki peminjam buku paling sering dan paling banyak di perpustakaan sekolah. Mendebatkan buku-buku bacaan kami hingga saat kami kuliah pun masih terus kami lakukan. Selain suka debat, dia juga mengambil jurusan filsafat di IAIN yang kata orang dikampung telah membuat anak itu gila dan murtad. Tuduhan yang sama juga ditujukan padaku yang jarang sholat. Jadilah kami berdiskusi panjang.
Kupikir waktu itu justru perpustakaan yang kewalahan melayani peminjamanku karena setiap buku baru tak akan lewat satu pun. Ponakanku lebih curang, dia kadang membawa buku ke rumahnya dan tidak mengembalikannya lagi. Jadi kalau sore, biar tidak kalah daftar bacaan, aku ke rumahnya untuk numpang membaca.
Jeleknya, aku sering membaca buku cerita saat pelajaran berlangsung dan tidak mendengar penjelasan guru. Aku malu saat ketahuan dan dimarahi di depan kelas, walau pun aku juga protes dalam hati kenapa harus dimarahi padahal aku tetap bisa menjawab pertanyaan yang diajukan meski sambil membaca buku lain?
Aku pernah membaca satu buku yang diselipkan di rak buku kakakku yang saat itu sekolah di pesantren jauh di kabupaten lain. Bagaimana aku tidak penasaran jika buku itu berjudul "Sebuah Pengakuan"? Aku ingat, aku membacanya setiap sore menjelang magrib, saat rumah sepi, di beranda belakang dengan perasaan takut bercampur senang.
Aku takut ketahuan, tapi aku senang karena buku itu penuh misteri bagiku. Buku tentang dunia manusia yang berumur jauh diatasku. Tentang perubahan-perubahan yang mungkin juga akan kualami kelak sebagai perempuan.
Tapi waktu itu aku betul-betul belum paham mengapa seorang perempuan bisa hamil hanya karena berpelukan dengan lawan jenisnya dan buku itupun hanya menjelaskan samar-samar. Cerita itu berakhir sedih, tokohnya meninggal saat kesadaran baru menghinggapi orang-orang di sekelilingnya. Dia meninggal dalam kesendirian, setelah mempelajari sendiri bagaimana perilaku orang yang berjalan lurus dan bagaimana manusia pendosa lain di sekitarnya.
Kenangan pada buku itu yang selalu membuatku takut pada kesendirian, apalagi saat senja beranjak menjemput malam. Juga menimbulkan ketakutan untuk berdekatan dengan lelaki, takut hamil dan mati dalam kesendirian dan kesadaran yang datang terlambat. Sangat mungkin sekali sifat tomboyku timbul hanya untuk menutupi kepengecutanku.
Tapi buku itu juga mengajarku menuliskan perasaan-perasaan pada sebuah buku catatan harian, hingga kini. Walau pun berkali-kali aku berhenti karena diari itu dicuri dan dibaca orang lain. Pernah pula passwordku di komputer terbongkar saat aku menulis diari di file-file rahasia. Karena pengalaman buruk itu, aku pernah dengan bodohnya berbohong pada diariku dengan menuliskan kisahku yang baik-baik saja agar kalau terbaca orang lain tidak terkesan malu-maluin banget. Aku menjadikan diriku pahlawan di diariku sendiri, penuh kebohongan, The Hero yang benar-benar bodoh.
Kini jika kuingat-ingat kembali, aku bisa memaklumi mengapa orang begitu tertarik membuka- bukanya juga dengan sembunyi-sembunyi sebab semua buku harianku kuberi sampul dan nama file 'sebuah pengakuan'. Pasti orang-orang berpikiran kotor itu mengira catatanku sebagai pengakuan dosa, pengakuan kehamilan atau sejenisnya.
Di SMP, kebiasaanku tidak berubah. Walau kini bacaanku bukan lagi bacaan cerita kanak-kanak dan setengah dewasa seperti buku-buku NH Dini. Sepupuku yang pindahan dari Bogor selalu meminjamiku buku-buku karangan Enyd Bliton dan cerita-cerita anak-anak Inggris serta Donal Bebek dan lain-lain.
Tapi di rumah tanteku yang kutinggali saat itu, aku sempat dimarahi dan diingatkan untuk tidak terlena dengan pinjaman buku-buku itu. Katanya, sepupuku sengaja berbaik hati meminjamiku buku agar aku tidak punya waktu untuk belajar. Tega sekali tuduhan itu. Lama baru aku perhatikan, larangan itu mungkin ada benarnya sebab aku ditumpuki pinjaman buku selalu menjelang ujian tapi saat libur tidak dipinjami sama sekali.
Aku juga mulai terhasut oleh beberapa guruku yang mengatakan sebenarnya aku bisa rangking satu dikelas kalau saja aku mau sedikit lebih ngotot dan berani ngomong. Karena katanya lagi, pada mata pelajaran tertentu aku lebih pintar dari sepupuku itu. Akhirnya sesekali buku-buku pinjaman itu kudiamkan saja di rumah dan mengembalikannya beberapa hari kemudian seolah-olah aku telah membacanya. Kalau sepupuku bertanya bagaimana jalan ceritanya, aku mengiyakan saja semua perkataannya dengan sedikit anggukan, toh aku memang sudah dikenal diam dan tidak banyak bicara.
Sebenarnya penyebab utamanya, aku sedikit dendam pada seorang guru laki-laki muda belia yang mengatakan aku bisa rangking dua di kelas hanya karena aku dekat dengan sepupuku yang pintar. Bodoh sekali orang itu, kelewatan! Aku marah dan berusaha belajar keras tapi rangkingku tetap dibawah sepupuku. Mungkin karena ambisiku dilandasi dendam pada guru, orang yang katanya harus dihormati.
Tapi kalau ingat semuanya, sebenarnya aku juga bersyukur dipinjami buku-buku oleh sepupuku itu. Apa jadinya otakku jika di usia SMP aku membaca karya-karya Freddy S yang berbau mesum dari awal hingga akhir itu. Buku Freddy S banyak dikoleksi di perpustakaan SMP-ku. Sableng kan? Pantas pula ada guru yang sedikit berotak mesum di sana.
Kalau dari buku 'Sebuah Pengakuan' aku belajar menulis diari, dari buku Enyd Bliton aku belajar menulis cerita. Pikirku, betapa enak jadi penulis, bisa mencipta tokoh semaunya, seperti George yang ternyata penjelmaan Enyd Bliton. Aku juga suka konyol menyamakannya dengan diriku, karena aku juga anti terhadap pakaian perempuan bernama ROK.
Di SMA, aku satu-satunya anak kelas satu di sekolahku kata penjaga perpustakaan yang selalu ke sana untuk membaca saat jam istrahat. Kali ini bacaan favoritku (dan karena itu koleksi terbanyak di perpustakaan SMA) adalah biografi tokoh-tokoh besar nasional dan dunia. Di luar sekolah aku rajin membeli majalah remaja (yang aku muak dengan cerita cintanya) dan melahap Agatha Christy di perpustakaan SMP yang dikepalai seorang pamanku.
Kini dengan bacaan zaman SMA itu, termasuk majalah dengan cerpen cinta konyolnya, aku mencipta cita menjadi wartawan atau penulis. Aku mulai menulis puisi, essay dan melanjutkan menulis cerpen yang kumulai dari SMP. Tapi tololnya, aku begitu malu jika ada yang membacanya, jadi semua kucampur dalam diari.
Sampai suatu hari ada guru dan kakak kelasku yang membaca coretan-coretanku dan akhirnya memintaku membuat pamflet untuk acara porseni, serta tulisan-tulisan untuk majalah dinding (mading). Tapi aku marah sekali saat melihat puisi dalam bukuku dicoret-coret dan diganti kata- katanya.
Siapa pun dia, entah guru atau kakak kelasku, aku menyumpahinya terlalu lancang dan tidak menghargai hasil karyaku. Apa haknya mengedit puisiku? Kalau tulisan biasa, mungkin aku maklum. Aku pun sebenarnya tidak puas hanya diminta membuat pamflet, kenapa bukan mading? Dan kemana tulisan serta cerpen yang telah kubuat itu dengan tema percobaan lima hari sekolah? Aku juga kesal karena pembatasan tema itu, bodoh sekali pikirku, bisakah pikiran dipagari dengan tema? Bukankah itu pengekangan juga? Terlalu mengagungkan tema hanya karena euforia.
Tapi waktu itu aku juga bingung sekali, apa sih arti protesku itu? Bukannya malah aku yang bodoh karena terlalu pemalu, tertutup dan tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun? Tapi bukankah satu kata dalam tulisan lebih berarti dibanding 1000 kata yang terpendam? Dan aku tidak hanya menulis satu kata tapi banyak kata. Mungkin benar kata sebagian temanku, aku hidup dalam duniaku sendiri dan hidup dalam bacaan-bacaanku, hingga kini.
=============================================
Minggu, 8 Februari 2004
Bau Kepentingan
Siang tadi seorang kawan, laki-laki, mengirim sms padaku minta ditelfon balik. Kutelfonlah dia. Katanya dia ingin menangis, bingung, tak tahu lagi caranya mendapatkan uang. Mungkin sudah 10 buah handphone kawan lain yang telah digadaikannya, tapi uang yang didapat belum juga cukup.
Sementara kawan-kawan dari berbagai daerah negeri ini telah berdatangan ke kotanya. Mau diberi makan apa? Dulu acaranya direncanakan akan berlangsung di Riau, sebuah bagian negeri yang kaya.
Tapi batal!
Sebabnya, seorang yang dianggap kawan, yang pernah berjanji siap menjamu mereka ternyata caleg Golkar di Riau sana. Terlalu murah tenaga dan pikiran kawan-kawan untuk ditukar dengan fasilitas pertemuan, urun rembuk dari kantong seorang caleg yang masuk agenda acara untuk dibubarkan partainya. "Karena itu acara terpaksa dipindahkan ke ibukota berbekal hasil ngamen dan melego handphone," ujar kawanku itu.
Dia pun bercerita lagi, kemarin dia mendatangi seorang yang dianggapnya Abang sejak jaman perjuangan dulu, yang pernah bilang siap membantu apapun, ide, ilmu, apalagi kalau hanya urusan logistik.
Ternyata mereka siap membantu jika kawan-kawan mau bergerak, menggelar demonstrasi menuntut Akbar Tanjung dipenjara. Bangsat, meski tujuan kita sama, mereka selalu mengikutkan kepentingan busuk mereka yang berbau kekuasaan. "Ya, terpaksa ditolak," kata kawanku.
Kemarinnya lagi, dia mendatangi Abang yang lain. Si Abang pun bersedia, tapi kawan-kawan harus menggelar aksi golput. Sekali lagi, tujuan kita mungkin sama, tapi kepentingan kita beda. Mungkin kau menyimpan harapan, funding-mu di luar sana tetap mengucurkan lembaran dollar dan kami akan menjadi anak jalanan berlabel kelompok mahasiswa bayaran. "Tawaran itu pun kami tolak," ujar kawanku lagi.
Kini kawanku mengetuk pintu hati setiap kawan yang mulai belajar mengumpulkan rupiah, berharap semoga hati mereka belum berbalik seperti para Abang. Tapi bisa dimaklumi, tak banyak yang bisa diharap dari kawan yang baru mulai merangkak ini.
"Gimana dong ti? Harga diri gw doang nih yang belum gw gadai. Bisa nangis darah gw ti!"
Please, jangan gadai harga diri lo, jangan putus asa, jangan menangis, jangan....tut tut tut, klik! Telponku terputus, jatah telpon dari kantor habis, maaf kupinta di sms, hubungan terputus.
Kawanku membalas sms, "Kita memang pejuang yang selalu kesepian, tidak ada yang mau bergerak bersama dan logistik kita selalu diputus dimana-mana. Tapi kita punya semangat dan keyakinan bahwa kita pasti menang. Terus berjuang kawan, Tolak Pemilu, Bubarkan Golkar, Bentuk Mahkamah rakyat!"
Aku diam tak membalas sms-nya, hanya teringat motorku yang belum laku terjual.
NB:
Saat memasukkan tulisan ini, Akbar Tanjung hidung pinokio bangsat dibebaskan oleh MA (Mahkamah Anjing) buta yang telah tergadai. Inilah kekalahan terbesar rakyat yang bakal terus dipimpin para pencuri. Orang pinter ngusulin PK. Apa artinya? Kenapa nggak di eksekusi aja dua cecunguk Akbar yang lain? Kalau mereka punya perasaan dizalimi, mereka akan bernyanyi, menyanyikan keterlibatan Akbar, dan pintu penjara pun menanti. Kecuali kita memang lebih senang dipimpin pencuri!!!
Sabtu, 21 Februari 2004
Membaca dan Menulis
Selasa, 23 Desember 2003
Refleksi Ultah
Selasa, 23 Desember 2003
Hari ini usia gw pas 26 tahun dan menjadi hari pertama diusia 27 tahun. Nggak banyak yang gw minta, cukup tiga hal. Satu, semoga gw diberi kesehatan sepanjang tahun ini. Kedua, semoga temen-temen gw masih inget dan selalu percaya ma gw. Ketiga, semoga para pemimpin negeri ini dibukakan hatinya biar lebih peka terhadap kesulitan yang dihadapi bangsa ini dan ga korup lagi, Amiiiiiin!!!!!
Ngomongin kesehatan, gw jadi inget tulisan gw 25 Juli tahun 2001 yang gw tulis pas lagi sadar karena begitu banyak kehilangan yang gw alami waktu itu. Ada beberapa orang sekitar gw yang meninggal hanya berselang sehari dan setelah itu gw takuuuut banget jika telepon berdering tengah tengah malam dan gw harus mendengar berita kematian lagi.
25 Juni 2001
Gw baru tiba di rumah (di kampung) saat ponakan gw berlari-lari kecil ke gw ngasih tahu kalo semua orang lagi ke Makassar karena seorang kerabat yang rumahnya tepat di depan rumah (di Makassar) meninggal. Waduh, trus gw sama siapa? Gw takut sepi, apalagi listrik di kampung terlalu sering byar pet. Nyusul orang-orang buat balik lagi, tapi nggak dapat. Berarti malam ini gw cuman berdua dengan Bapak. Bener-bener sepi!
Dan sepanjang malam, Bapak mengajakku ngobrol tentang tanah-tanah pertanian kami yang terbengkalai karena tidak satupun diantara kami yang punya perhatian pada tanah. Semuanya hanya ingin pergi jauh dari rumah seperti yang selalu gw bilang sama mama, "Ma, mana ada anak Bugis tinggal di kampung? Aku ini anak rantau dari sononya, Ma!" Dan mama hanya mengelus dada.
Seingat gw, tanah-tanah itu hanya selalu jadi masalah. Udah banyak keretakan dalam keluarga besar kami karena persoalan tanah. Apalagi jika sudah dipegang sama orang-orang serakah dan sok berkuasa menjadi raja kecil. Gw juga kadang muak dengan kebangsawanan ini, selalu saja menimbulkan masalah, bukannya mendapat kenikmatan. Lebih baik dicopot saja!
Gw makin takut dengan suasana malam saat Bapak mulai menyinggung usianya. Ga sabar rasanya menunggu pagi tiba dan terbebas dari obrolan ini. Bukan tidak menghormati, gw malah suka dipetuahin gini, karena kami jarang banget bisa ngobrol. Ada jarak yang teramat jauh antara kami dengan sistem paternalism yang begitu kuat. Tapi gw ga kuat dengan obrolan tentang kematian.
Subuh, mobil jemputan datang, gw pulang ke Makassar. Jenazah masih di rumah, sebentar lagi akan dikebumikan. Setelah itu yang tersisa hanya kenangan almarhum di saat-saat terakhirnya. Waktu dirawat di rumah sakit, gw sempet minta maaf nggak ya?
Esoknya, gw jalan sama temen-temen kampus, jengukin temen yang udah lama sakit, sejak Februari lalu. Sedih, kawan berkurang satu, padahal dialah penggerak organ kami. Pas lagi dirumah temen yang sakit itu, gw ditelpon dari rumah disuruh mampir ke tempat sepupu yang suaminya meninggal. Waduh, ternyata barusan adalah dering telepon kematian. Lemes banget rasanya, tapi gw harus mampir ke sana. Untungnya waktu sakit gw sempet jengukin juga.
Baru gw keluarga dari pihak istri yang ditinggalkan almarhum yang ada di sana. Dia langsung meluk gw dan nangis. Kulihat ada kesedihan yang amat sangat sekaligus kelegaan di matanya. Mungkin karena suaminya meninggal dalam keadan sakit, dari pada menderita sakit terlalu lama, Tuhan mempersingkat penderitaannya dan itu melegakan.
Waktu meluk gw, dia juga cerita tentang gw ke orang-orang yang melayat. "Adik gw ini malah pernah dikasih ultimatum ma dokter umurnya nggak panjang lagi karena didiagnosa leukimia. Tapi dia masih sehat sampai sekarang. Kok malah suami saya yang duluan?" Ups ... iya ya, gw malah lupa kasus itu. Gw terlalu jauh dari Tuhan saat ini, dan baru aja gw diingatkan. Gw sedikit bergidik....!
Gw ingat, waktu itu taon 1997. Gw sakit Typus di bulan April, bertepatan awal gw gaul di organisasi kemahasiswaan. Gw sampe opname dua minggu dan setelah keluar gw langsung aktif lagi. Maklum, situasi lagi panas-panasnya menjelang pemilu dan gw lagi ngerasa asik-asiknya kalo diintai intel-intel melayu dari Kodam dan Kepolisian. Gw ga mau kehilangan momen sedikit pun, jadi meski dalam masa penyembuhan pun tetap dipaksa.
Mungkin gw lagi pengen ngasih liat ke Bapak kalo gw bisa kayak Yeni Rosa Damayanti. Entah kenapa, gw dulu ngerasa Bapak lebih sayang sama Yeni dibanding kami anak-anaknya. Karena waktu itu Yeni dan Sri Bintang Pamungkas demikian TOP-nya di rumah kami setelah aksi bareng mahasiswa Jerman saat Soeharto berkunjung ke sana. Dan Bapak sepertinya sangat memuja dan mendukung mereka, setiap saat. Dan sejak saat itu, gw sering diingetin kakak gw tentang cita-cita gw jadi tahanan politik, nyaingin Yeni, nuntasin dendam gw. Hahaha....konyol, kok malah bercita- cita tertangkap sih?
Balik ke soal sakit, waktu masih opname, kata dokter, typus gw udah parah banget sampe kalo buang air besar dan kecil yang keluar malah darah. Gw aja sampe pingsan-pingsan ngeliatnya. Karena kasus itu akhirnya gw musti bolak balik ke dokter buat periksa intensif dan parahnya lagi, dari lima kali pemeriksaan, empat diantaranya menyatakan gw positif Leukimia dan udah ngasih jangka waktu hidup.
Terang aja gw down abis, dan ngerasa ga berguna lagi buat terus hidup. Terbayang penderitaan orang-orang yang melakukan cangkok sumsum tulang tapi tetep aja ga sembuh. Baru dokter kelima dan pemeriksan darah yang kelima yang bilang gw negatif leukimia. Tapi nggak sampe dua minggu, gw masuk rumah sakit lagi, hampir dua minggu lagi.
Dan sekarang gw diingetin, betapa gw pernah lolos dari kematian yang dijadwalkan dokter, tapi gw ga pernah mencoba menunduk, mengucap sepatah kata Alhamdulillah. Tapi apa lolos dari kematian itu benar sebuah keberuntungan? Bukannya nanti juga ga akan ada yang lolos?
Tapi yang gw tau, gw emang bandel, selalu menipu Tuhan.
Back to Selasa 23 Desember 2003 >>> Hufh...sakit ini bener-bener bisa ngancurin gw, bahkan sampe sekarang saat gw ada di Kota Minyak ini, udah pernah menginap di rumah sakit karena sakit yang sama. Dan gw kali ini benar-benar sendirian, jauh dari siapa pun. Dan ketakutan pada kematian itu juga ngejar-ngejar gw sampe ga tidur karena keringat dingin dan takut mendapat mimpi kematian saat gw tertidur.
Pasti karena jauh dari Tuhan, maka mendekatlah karena jatah umurmu hari ini telah berkurang. Terima kasihku buat teman yang sudah mengingatkanku sejak sore kemarin, pukul 00.00 semalam, hingga pagi, siang dan malam ini. Mungkin juga besok, masih ada yang inget gw ultah hari ini, trima kasih sebelumnya.
Jumat, 19 Desember 2003
Pembersih Closet
Kamis, 11 Desember 2003
Seperti hari-hari kemarin, untuk dapat makanan dengan haga pasti dan lebih murah, mengenyangkan dan bersih, aku selalu memutuskan ke resto fastfood yang sebenarnya sudah pernah kuhindari beberapa tahun terakhir. Saat di kota mahal ini pun aku butuh waktu cukup lama untuk berdamai dengan usaha franchise ini.
Tak ada pilihan lain, kota ini jarang menyediakan makanan murah dan sehat sekaligus, apalagi kota ini bukan kota pelajar yang memungkinkan banyak warung makan murah seukuran kantong anak kost. Ini kota industri, kota jasa, dan kota segala macam barang mahal.
Rumah Makan Padang yang kata temanku pasti lebih murah karena ada disetiap tikungan dan persimpangan jalan pun harganya selangit, kecuali ada satu Rumah Makan Padang yang terselip diantara bangunan besar, langganan teman-teman setelah melakukan survei rumah makan termurah, sehat, bersih.
Cukup mengesalkan juga ternyata, saat melihat makanan-makanan yang hanya mengandalkan kemasan yang bagus tapi isinya tidak terjamin, baik rasa maupun kebersihan apalagi harga. Kalaupun ada yang sedikit murah, aku selalu curiga soal kebersihannya sebab tidak hanya sekali dua kali aku memergoki pembuat makanan yang dengan seenaknya meletakkan makanan dimana saja termasuk tempatnya berpijak dengan sandal jepit yang permukaannya tak lagi berwarna putih.
Yang kutahu, kota ini merupakan yang terbersih di seantero negeri, tapi yang kulihat sehari-hari, bersih hanya di luarnya saja. Saat masuk ke gang-gang bahkan pernah ke rumah yang tampak mentereng dari luar, bagian dalamnya sempat membuatku mual. Apalagi yang namanya rumah makan, kotor, becek dan jorok.
Makanya satu-satunya pilihan yang cukup tepaksa kuanggap terbaik adalah di resto fastfood.
Padahal aku sempat membencinya karena sistem ekonomi yang dianutnya, pengaruh budayanya dan dampaknya bagi kesehatan. Lebih benci lagi jika mengingat sumbangsih setiap rupiah yang kukeluarkan akan berarti ikut menyumbang satu peluru untuk memisahkan jiwa dan raga saudara- saudaraku di Palestina, Bosnia, Afganistan, Aceh, Papua, Ambon, Poso dan setiap sisi dunia yang bergolak.
Karena disetiap tempat yang bergolak, pasti ada Amerika yang menyokong bantuan peluru yang dibeli dari pajak warganya. Salah satu warganya adalah pemilik lisensi resto fastfood tempatku menyantap makanan kini.
Belum lagi bicara softdrink yang merupakan pasangan satu paket pembelian fastfood ini yang juga lisensinya di Amerika. Tahukah Anda bahwa Coca Cola itu tak lebih dari pencuci closet, pembersih ceceran darah di jalanan, pembersih karat yang melekat pada besi-besi tua?
Tahukah Anda disetiap bagasi mobil patroli polisi di Amerika selalu memuat satu pak minuman ringan ini untuk membersihkan jalan dari tetesan darah setelah terjadi kecelakaan dan esoknya jalan tersebut bersih tanpa bekas?
Atau jika ingin membuktikannya, rendamlah paku, bor, baut dan besi-besi berkarat Anda dengan cairan Coca Cola, lihat hasilnya. Atau closet di kamar mandi anda sudah licin karena jarang dibersihkan dan Anda tak sempat membeli pembersih poselen yang wangi itu, Anda tinggal buka kulkas. Ambil minuman ringan itu, siramkan ke closet Anda, diamkan sejenak, sikat dan bilas. Persis cara kerja pembersih porselen Anda, hasilnya pun sama.
Jadi bisa dibayangkan bagaimana jika cairan itu masuk ke tubuh kita, mengalir dalam darah, menuju lambung, usus, ginjal dan semua organ tubuh? Aku tidak lagi heran pada dokter yang melarang keras penderita sakit maag dan pelanggan sakit typus sepertiku meminum softdrink semacam itu. Karena mengkonsumsi minuman tersebut sama saja menghancurlumatkan lambung, usus dan semua yang ada dalam tubuhku. Noda closet saja bisa hilang apalagi darah dan daging.
Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti tapi mengajak Anda mempraktekannya dan kita buktikan bersama. Karenanya aku selalu menceraikan pasangan fastfood dan softdrink itu dengan teh botol produk negeriku sendiri.
Mungkin tetap saja kawan-kawan yang tahu dan membaca tulisan ini akan mencibir dengan alasan yang kukemukakan meski aku mengkonsumsinya karena tak ada pilihan lain dan tetap memilih minuman produksi negeriku (yang juga memakai sistem monopoli yang sama saja dengan produk minuman luar).
Mungkin semua akan berkomentar bahwa aku sekedar mencari pembenaran. Tapi ini memang soal pilihan, karena aku 'seolah' sudah tidak memiliki waktu (dan jelas karena malas saja) membuat masakan sendiri.
Aku hanya coba berpikir, karena tak ada pilihan lain, aku mungkin bisa membantu buruh yang bekerja di sana, semoga saja setiap tambahan rupiah dari pembeli sepertiku juga akan menambah salary mereka. Juga bagi penjual minuman di pinggir jalan yang mungkin merasa kurang afdol jika tidak menjual softdrink dan teh botol sekaligus. Ah, pedagang kaki lima ini .... mereka sesungguhnya pejuang penggerak perekonomian negara yang masih harus menambah deret agenda perjuangannya saat berusaha menghindari kejaran aparat ketertiban umum yang punya hoby aneh, menggusur!
Minggu, 16 November 2003
Menikah
Sabtu, 15 November 2003
Entah, tiba-tiba pikiran tentang menikah merasukiku sepanjang hari. Mengapa harus menikah? Mengapa orang harus terikat dalam suatu perkawinan yang bakal menciptakan banyak masalah? Nggak percaya kalau perkawinan menimbulkan banyak masalah?
Lihat saja dua orang ibu yang berjalan. Apa yang mereka bicarakan? Pasti masalah!!! Entah anak- anaknya yang banyak tuntutan, entah suaminya yang mulai ke lain hati karena masakan minggu lalu keasinan, harga-harga yang merangkak naik, pembayaran sekolah anak-anak yang makin beraneka ragam, uang arisan antar tetangga yang telat dibayar, rekening air dan listrik tiba-tiba melonjak dari bulan lalu, pulsa telepon membengkak karena anaknya yang mulai puber tiap malam menghubungi hotline curhat, rambut yang mulai beruban, tempat fitnes baru buka, pagar rumah harus ganti cat, dan banyak lagi yang lain.
Lantas apa menariknya menikah? Karena dorongan calon mertua yang merindukan cucu? Lalu apa bedanya tubuh para perempuan dengan mesin-mesin pabrik yang dipaksa beroperasi demi menghasilkan produk berbentuk seragam yang diinginkan untuk dipasarkan secara massal tanpa peduli orang akan suka. Toh ada iklan yang bisa mengiming-imingkan keindahan hingga produk seragam itu ludes diserbu pembeli bodoh.
Lantas apa gunanya menikah? Supaya ada yang ngurusin rumah, nyuci pakaian, memasak, menyediakan makan, membangunkan pagi-pagi, mengatur uang belanja? Apa istri adalah pembantu, mesin cuci, kompor, weker dan akuntan sekaligus? Karenanya, laki-laki yang punya pikiran seperti itu adalah lelaki NORAK dan BODOH!
==============================================
Kamis, 23 Oktober 2003
Bullshit!!!
Seorang yang pernah mengaku kawan padaku, PERNAH berkata, 'Jangan Teralienasi Oleh Sistem'. Aku jujur, bingung dengan kata itu awalnya. Kalau teman yang lain pasti telah mencemooh dan bilang, jangan pakai kata-kata sulit, karena kami tidak membawa kamus setiap saat! Tapi seperti biasa aku sok tahu dan mencari diam-diam arti kata itu.
Teralienasi.... asal katanya mungkin alien. Alien biasanya sebutan bagi mahluk luar angkasa yang tau-tau nongol di bumi untuk mengganggu ketenteraman umat manusia. Lalu Superman datang sebagai juru selamat. Superman pasti tidak menganut paham atau keyakinan tertentu, sebab juru selamat yang dipelajari di sekolah-sekolah cuma satu dan bukan manusia. Tapi Superman memang bukan manusia ya, tapi kartun, perujudan imajinasi seseorang.
Hasilnya... nasehat kawan agar Jangan Teralienasi Oleh Sistem sampai sekarang pun aku tidak paham! Tapi aku pun sombong dan tidak ingin mengakui kekurangpahamanku karena IQ-ku jongkok. Aku hanya tidak melihat korelasi (hmm...kata sulit lagi) kata itu menjadi kalimat yang memiliki arti. Apalagi menilik tingkah si empunya pesan itu sekarang. Mungkin dulu dia memang hanya mengaku sebagai kawanku, tapi kini telah teralienasi oleh sistem, hahaha...!
Dia teralienasi dan akhirnya menciptakan intrik, pembusukan dan pembunuhan karakter diantara kami. Tapi sejak dulu aku terbiasa melihat kasus yang sama. 'Intrik bikin kita gede', kata itu yang selalu kuingat dan benar adanya (buatku). Saat kau menginjak kakiku, masih ada organ tubuhku yang lain yang bisa melawan. Saat kau bungkam teriakku, aku punya tangan untuk menulis.
Pendek kata, aku tak akan tunduk dalam ketertindasan, tapi akan bangkit melawan sebab diam dan mundur berarti menghianati diriku sendiri.
Itu jargon yang selalu dipakai kawan-kawan dijalanan dulu, mungkin sampai sekarang, KALAU dia belum teralienasi oleh sistem!
Sebagaimana sumpah seorang pejabat saat pelantikan, dilarang menerima suap atau apapun yang diberikan orang lain karena berhubungan dengan jabatannya, profesi ini pun sangat tidak dibenarkan. Terlepas dari profesi, memang tidak pernah ada jalan yang benar akan didapati saat penghianatan mulai dilakukan terhadap nurani sendiri. Kata sulitnya... Integritas dan Komitmen adalah NUMBER ONE!
Jika tak ingin dibohongi, biasakanlah bersikap jujur!
Ingin kuludahi mukanya yang sombong (ngutip Iwan Fals), tapi jika kulakukan, tak akan membuktikan kesalahannya tapi memperlihatkan ledakan emosiku. Hukum katanya memang harus dibuktikan walaupun bukti di pengadilan lebih banyak dibuang ke tong sampah saat lembar-lembar di dompet melebihi jumlah lembaran tuntutan jaksa.
Aku kesal maka aku menulis (plesetan Socrates). Aku ingin tahu mengapa aku disalahkan saat jujur. Tapi kejujuran katanya memang lebih sering berbuah pahit. Tapi pahit tidak selalu racun. Jadi biar kutelan saja kepahitan itu. Toh, ini tenggorokanku, ini tubuhku dan ini nyawaku, apa pedulinya dengan orang lain?
=========================================
Senin, 13 Oktober 2003
Mendung
Hari ke dua puluh satu
Matahariku tak juga muncul
Aku diambang gamang
Tapi tak kutepis rinduku
Biarkan terus bersemi
Tumbuh dan tinggi
Menjadi dendam
Berakar hingga ke perut bumi
Merasuki hati manusia seberang lautan
Akar jalin menjalin
Tak ada jembatan
Pohon tumbuh di delta harapan
Tak ada akhir waktu
Seperti saat kau menungguku
Minggu, 05 Oktober 2003
Cuih!!!
Sabtu, 4 Oktober 2003
Lelakiku lelap dalam sedu sedan
Tetes air matanya
membentuk kubangan di jantungku
Perih
seperti siraman jeruk nipis di luka yang menganga
Ingin kubungkam kau dalam pelukku
Tapi wajah ibumu garang menatapku
Dan ayahmu menginginkanku
Cuih
Hanya kata itu yang pantas untukmu
Hei bayi berambut gondrong
====================================
Sabtu, 22 Juni 2002
Kartini Yang Terpasung
Mungkin hari ini termasuk hari yang tidak bisa aku lupakan, walaupun sebenarnya tidak ada yang sangat istimewa, yang ada justru rasa dongkol. Pagi sekali aku berangkat dari rumah, seperti hari- hari kemarin dengan jins belel, kaos oblong, plus kali ini memakai sepatu kets, bukan sandal jepitku yang kian tipis, tas selempang kain bercorak khas Bali, semua warna biru, pun angkot yang kutumpangi.
Tadi, setelah mandi, coba kuoleskan lipstik di bibirku yang tidak terbiasa dan ternyata membuatku tersiksa. Aku sulit mengatupkan bibir dengan lapisan tipis berwarna merah di bibirku itu, dan saat terkatup juga enggan terbuka lagi. Merepotkan dan membuatku tertawa bodoh sendirian di depan cermin. Apa yang sedang kulakukan?
Padahal kadang, saat memakai bedak pun aku sering menghapusnya lagi karena teringat kata temanku, "Ngapain lu pake bedak? Si Anu juga nggak pake bedak bisa cerdas!" Keterlaluan tapi aku suka mengingatnya. Kata itu pun diucapkannya pagi-pagi, sebelum beranjak dari tempat kami merebahkan badan semalam, sementara aku memaksakan diri mandi pagi dalam kantuk yang tetap menyerang. Aku ingin melihat pagi yang berbeda di kota nyiur melambai waktu itu.
***
Satu jam perjalanan ke kampus tak kusia-siakan untuk mencoba tidur lagi, tak peduli rambutku yang tak seberapa panjang --sedang mencoba memanjangkan, entah sebagai perempuan atau lelaki berambut gondrong-- kusut lagi. Toh tak ada yang istimewa hari ini.
Ah, aku baru saja berbohong, hari ini mungkin istimewa bagi sebagian orang, buktinya semuanya tersenyum cerah, berfoto ramai-ramai, bersama bapak, ibu, adik, kakak, pacar, suami bahkan kakek neneknya semua diajak ke kampus. Menyaksikan mereka di wisuda!
Yup, ini hari kampusku menetaskan telurnya, produksi rutin empat kali setahun, menelurkan sarjana pengangguran. Hari ini kulihat semua orang memakai jubah dan toga, berpakaian rapih, baru, seperti lebaran. Para lelaki menjerat leher mereka dengan seutas kain bernama dasi. Para perempuan memasung kaki mereka dengan lilitan kain dan memaku lehernya dengan bongkahan konde yang mungkin lebih berat dari segentong air yang di junjung perempuan desa dari sumber air berkilo jauhnya, di pancuran dekat sawah yang jalannya licin sehabis hujan.
Ah, apa kata Kartini kalau dia hidup di zaman ini? Dulu Kartini memakai kain dan kebaya bukan untuk menonjolkan bagian tubuhnya yang memang bagus dan terpelihara sebagai putri bangsawan. Lilitan kain dipinggul hingga mata kakinya, bukan untuk memasung langkahnya, apalagi pikirannya! Semua harus tetap bebas berpikir, berpikir merdeka!!!
Alangkah mahalnya kebebasan bagi Kartini dulu yang harus menjalani pingitan dan dianggap tak wajar memiliki otak cemerlang hanya karena dia perempuan. Sangat beda dengan kini, mau jalan dengan kaki di atas pun siapa yang peduli? Tapi alangkah terbelenggunya pikiran mereka, seperti kata Pramoedya, begitu mereka membuka mulut, langsung ketahuan tololnya.
***
Melangkah ke gedung yang full dengung ribuan manusia itu, banyak yang melihatku dengan tatapan aneh. Pasti karena pakaian yang dianggap aneh ini! Aku mencari tempat sesuai nomor yang dibagikan dan duduk ditengah orang-orang yang selama enam tahun di fakultas tapi tak kukenali. Acara yang cukup membosankan, penuh formalitas dan tetesan air mata seolah sedang bahagia.
Saat rektor membacakan sambutannya yang dipenuhi kata acceptabiliy, accountability, capability, dan lity lity lain yang begitu sering disebut, aku sedang membaca sambutan tandingan yang terdapat tulisan sebagai catatan kaki: "Sambutan tandingan ini harus dibaca saat rektor membacakan sambutannya". Selebaran yang cukup panjang ini dibuat seorang kawan paling gembel yang pernah kukenal di kampus ini, dengan otak yang cukup mengagumkan. Selebarannya bukan slogan omong kosong, I Like It, dan berpikir seharusnya aku melakukan hal lain untuk pencerahan dan lebih kreatif dari selebaran ini.
Kudengar ada suara orang yang sedang orasi di luar sana, tidak tahan aku keluar sebentar, melewati jejeran orang-orang yang sedang duduk manis yang wanginya semerbak hingga ke balkon. Tapi di luar mereka tak ada lagi, suara mereka dibungkam satpam yang telah didoktrin wisuda harus sakral, tidak boleh ada mahasiswa yang menyanyikan kebobrokan kampus saat tamu sedang mendengar pidato rektor.
Saat ke ruangan lagi, seorang bapak berdiri di podium menyampaikan terima kasihnya atas pendidikan yang telah diperoleh anaknya hingga menjadi lulusan terbaik di kampus ini. Ada air mata lagi dari orang-orang disekelilingku. Sekilas ada nyeri kurasakan, teringat saat ini aku tak ditemani siapapun. Tapi sedikit gembira, paling tidak ibuku tak harus merasa malu menyaksikan putrinya yang tidak bisa memakai lipstik di bibirnya, seperti selama ini sering diobrolkan di acara- acara keluarga.
Ditengah barisan menuju panggung, saat ijazah akan diserahkan oleh rektor, baru kukenakan jubah dan togaku yang sejak tadi kujejalkan di tas selempangku. "Hei, tampil beda ya? Boleh juga," kata rektor menjabat erat tanganku. Yup, mungkin itu ungkapan hatinya yang lega, satu anak tirinya telah terdepak dari kampus megah ini. Cahaya dari jepretan kamera terasa panas, dan terdengar jerit seseorang yang memotretku, tak percaya aku ada di barisan ini. Shit, apa anehnya sih?
Agak salah tingkah dengan serangan mendadak di panggung ini, bersamaan dengan sms dari seorang kawan yang kubaca sambil jalan ke tempatku semula. "Waspada, rapatkan barisan. UU Terorisme sebentar lagi disahkan. Militer akan semena-mena mengobrak-abrik rumah, tempat kost, tempat ibadah dan menangkapi semua orang yang dicurigai sebagai teroris. Galang kekuatan, aksi serentak seluruh kota tanggal sekian".
Tidak ada lagi tempat aman di negeri ini. Tidak juga aman saat ingin kunikmati kesendirian di hari yang gerah ini. Saat ingin kerenungi dunia kemahasiswaan yang harus kutinggalkan. Yang telah mengajariku segalanya tentang kehidupan. Yang begitu lama kujalani, mungkin abnormal bagi mahasiswa pintar ber-IPK tinggi, lulus terbaik, cari kerja kantoran, menikah, punya anak, tua, dan mati. MONOTON! Kenapa tidak mati muda saja seperti Kartini? Atau Soe Hok Gie? Atau hidup seribu tahun lagi?
BODOH! Siang. Gerah. Pening. Migren. Lapar. Sendirian. Sepi.
***
Kubuka halaman persembahanku, kubaca lagi, sedih.
Kutersungkur dalam cinta
Kepada Ibu yang mengandungku
Kepada Ayah yang merestui jalan perjuanganku
Bersujud kupinta maafmu
Atas penantian yang begitu lama
Karena luka negeriku tak juga kering
***
Mencari Pembenaran. Alasan negeri yang bergolak, apa yang sudah kulakukan terhadap luka itu? NOL!!!
========================================
Minggu, 14 September 2003
Jualan Agama, Yuk!
Bangsa ini benar-benar membingungkan, dengan pejabatnya, sistemnya, semuanya sama brengseknya. Semua persoalan dipolitisir, dibisniskan dan dipelintir habis-habisan. Anak kecil pun tahu, konflik yang terjadi selama ini karena kemuakan orang terhadap tekanan ekonomi, sosial, dan politik.
Mengapa agama bisa menimbulkan garis demarkasi dalam kehidupan di negeri ini, bukankah agama adalah nafas-nafas kehidupan personal setiap insan? Mengapa agama kini menjadi konsumsi publik dan dijadikan alat politik?
Orang-orang lebih mengutamakan identitas agamanya daripada identitas yang lain, nama panggilan sekalipun. Agama telah menjadi penjara bagi pemeluknya, tak peduli mereka minoritas atau mayoritas.
Gesekan antar pemeluk agama kian keras, agama menjadi bopeng dan tak lagi memiliki sisi humanis. Agama semakin mengeras dan sesak karena ditambah dengan patriarchy, plus pikiran sempit banyak orang yang mengaku intelek.
Padahal tidak ada agama yang diciptakan Penguasa Alam ini yang memperkenankan terjadinya kekerasan karena adanya perbedaan diantara ummat. Berbeda itu indah --tapi jadi tidak indah saat istilah ini dipakai LSM dan Militer untuk propaganda mereka--
Hmm..., jadi ingat tahun 2001 saat TNI dan Polri gencar melakukan kampanye "Damai Itu Indah". Ah, damai tetap saja tidak indah selama tentara masih berkuasa, agama dipakai sebagai kendaraan politik, hak-hak perempuan, anak-anak, petani, buruh dan kaum papa terus dikebiri.
Karenanya, sangat melegakan saat bisa bergabung dengan anak-anak punk di konser-konser musik mereka yang hingar bingar tapi bisa kompak saat meneriakkan FUCK THE GOVERNMENT bersama-sama. Aku rindu suasana itu.