Jumat, 19 Desember 2003

Pembersih Closet

Kamis, 11 Desember 2003
Seperti hari-hari kemarin, untuk dapat makanan dengan haga pasti dan lebih murah, mengenyangkan dan bersih, aku selalu memutuskan ke resto fastfood yang sebenarnya sudah pernah kuhindari beberapa tahun terakhir. Saat di kota mahal ini pun aku butuh waktu cukup lama untuk berdamai dengan usaha franchise ini.

Tak ada pilihan lain, kota ini jarang menyediakan makanan murah dan sehat sekaligus, apalagi kota ini bukan kota pelajar yang memungkinkan banyak warung makan murah seukuran kantong anak kost. Ini kota industri, kota jasa, dan kota segala macam barang mahal.

Rumah Makan Padang yang kata temanku pasti lebih murah karena ada disetiap tikungan dan persimpangan jalan pun harganya selangit, kecuali ada satu Rumah Makan Padang yang terselip diantara bangunan besar, langganan teman-teman setelah melakukan survei rumah makan termurah, sehat, bersih.

Cukup mengesalkan juga ternyata, saat melihat makanan-makanan yang hanya mengandalkan kemasan yang bagus tapi isinya tidak terjamin, baik rasa maupun kebersihan apalagi harga. Kalaupun ada yang sedikit murah, aku selalu curiga soal kebersihannya sebab tidak hanya sekali dua kali aku memergoki pembuat makanan yang dengan seenaknya meletakkan makanan dimana saja termasuk tempatnya berpijak dengan sandal jepit yang permukaannya tak lagi berwarna putih.

Yang kutahu, kota ini merupakan yang terbersih di seantero negeri, tapi yang kulihat sehari-hari, bersih hanya di luarnya saja. Saat masuk ke gang-gang bahkan pernah ke rumah yang tampak mentereng dari luar, bagian dalamnya sempat membuatku mual. Apalagi yang namanya rumah makan, kotor, becek dan jorok.

Makanya satu-satunya pilihan yang cukup tepaksa kuanggap terbaik adalah di resto fastfood.
Padahal aku sempat membencinya karena sistem ekonomi yang dianutnya, pengaruh budayanya dan dampaknya bagi kesehatan. Lebih benci lagi jika mengingat sumbangsih setiap rupiah yang kukeluarkan akan berarti ikut menyumbang satu peluru untuk memisahkan jiwa dan raga saudara- saudaraku di Palestina, Bosnia, Afganistan, Aceh, Papua, Ambon, Poso dan setiap sisi dunia yang bergolak.

Karena disetiap tempat yang bergolak, pasti ada Amerika yang menyokong bantuan peluru yang dibeli dari pajak warganya. Salah satu warganya adalah pemilik lisensi resto fastfood tempatku menyantap makanan kini.

Belum lagi bicara softdrink yang merupakan pasangan satu paket pembelian fastfood ini yang juga lisensinya di Amerika. Tahukah Anda bahwa Coca Cola itu tak lebih dari pencuci closet, pembersih ceceran darah di jalanan, pembersih karat yang melekat pada besi-besi tua?

Tahukah Anda disetiap bagasi mobil patroli polisi di Amerika selalu memuat satu pak minuman ringan ini untuk membersihkan jalan dari tetesan darah setelah terjadi kecelakaan dan esoknya jalan tersebut bersih tanpa bekas?

Atau jika ingin membuktikannya, rendamlah paku, bor, baut dan besi-besi berkarat Anda dengan cairan Coca Cola, lihat hasilnya. Atau closet di kamar mandi anda sudah licin karena jarang dibersihkan dan Anda tak sempat membeli pembersih poselen yang wangi itu, Anda tinggal buka kulkas. Ambil minuman ringan itu, siramkan ke closet Anda, diamkan sejenak, sikat dan bilas. Persis cara kerja pembersih porselen Anda, hasilnya pun sama.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana jika cairan itu masuk ke tubuh kita, mengalir dalam darah, menuju lambung, usus, ginjal dan semua organ tubuh? Aku tidak lagi heran pada dokter yang melarang keras penderita sakit maag dan pelanggan sakit typus sepertiku meminum softdrink semacam itu. Karena mengkonsumsi minuman tersebut sama saja menghancurlumatkan lambung, usus dan semua yang ada dalam tubuhku. Noda closet saja bisa hilang apalagi darah dan daging.

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti tapi mengajak Anda mempraktekannya dan kita buktikan bersama. Karenanya aku selalu menceraikan pasangan fastfood dan softdrink itu dengan teh botol produk negeriku sendiri.

Mungkin tetap saja kawan-kawan yang tahu dan membaca tulisan ini akan mencibir dengan alasan yang kukemukakan meski aku mengkonsumsinya karena tak ada pilihan lain dan tetap memilih minuman produksi negeriku (yang juga memakai sistem monopoli yang sama saja dengan produk minuman luar).

Mungkin semua akan berkomentar bahwa aku sekedar mencari pembenaran. Tapi ini memang soal pilihan, karena aku 'seolah' sudah tidak memiliki waktu (dan jelas karena malas saja) membuat masakan sendiri.

Aku hanya coba berpikir, karena tak ada pilihan lain, aku mungkin bisa membantu buruh yang bekerja di sana, semoga saja setiap tambahan rupiah dari pembeli sepertiku juga akan menambah salary mereka. Juga bagi penjual minuman di pinggir jalan yang mungkin merasa kurang afdol jika tidak menjual softdrink dan teh botol sekaligus. Ah, pedagang kaki lima ini .... mereka sesungguhnya pejuang penggerak perekonomian negara yang masih harus menambah deret agenda perjuangannya saat berusaha menghindari kejaran aparat ketertiban umum yang punya hoby aneh, menggusur!

Minggu, 16 November 2003

Menikah

Sabtu, 15 November 2003
Entah, tiba-tiba pikiran tentang menikah merasukiku sepanjang hari. Mengapa harus menikah? Mengapa orang harus terikat dalam suatu perkawinan yang bakal menciptakan banyak masalah? Nggak percaya kalau perkawinan menimbulkan banyak masalah?

Lihat saja dua orang ibu yang berjalan. Apa yang mereka bicarakan? Pasti masalah!!! Entah anak- anaknya yang banyak tuntutan, entah suaminya yang mulai ke lain hati karena masakan minggu lalu keasinan, harga-harga yang merangkak naik, pembayaran sekolah anak-anak yang makin beraneka ragam, uang arisan antar tetangga yang telat dibayar, rekening air dan listrik tiba-tiba melonjak dari bulan lalu, pulsa telepon membengkak karena anaknya yang mulai puber tiap malam menghubungi hotline curhat, rambut yang mulai beruban, tempat fitnes baru buka, pagar rumah harus ganti cat, dan banyak lagi yang lain.

Lantas apa menariknya menikah? Karena dorongan calon mertua yang merindukan cucu? Lalu apa bedanya tubuh para perempuan dengan mesin-mesin pabrik yang dipaksa beroperasi demi menghasilkan produk berbentuk seragam yang diinginkan untuk dipasarkan secara massal tanpa peduli orang akan suka. Toh ada iklan yang bisa mengiming-imingkan keindahan hingga produk seragam itu ludes diserbu pembeli bodoh.

Lantas apa gunanya menikah? Supaya ada yang ngurusin rumah, nyuci pakaian, memasak, menyediakan makan, membangunkan pagi-pagi, mengatur uang belanja? Apa istri adalah pembantu, mesin cuci, kompor, weker dan akuntan sekaligus? Karenanya, laki-laki yang punya pikiran seperti itu adalah lelaki NORAK dan BODOH!

==============================================

Kamis, 23 Oktober 2003

Bullshit!!!

Seorang yang pernah mengaku kawan padaku, PERNAH berkata, 'Jangan Teralienasi Oleh Sistem'. Aku jujur, bingung dengan kata itu awalnya. Kalau teman yang lain pasti telah mencemooh dan bilang, jangan pakai kata-kata sulit, karena kami tidak membawa kamus setiap saat! Tapi seperti biasa aku sok tahu dan mencari diam-diam arti kata itu.

Teralienasi.... asal katanya mungkin alien. Alien biasanya sebutan bagi mahluk luar angkasa yang tau-tau nongol di bumi untuk mengganggu ketenteraman umat manusia. Lalu Superman datang sebagai juru selamat. Superman pasti tidak menganut paham atau keyakinan tertentu, sebab juru selamat yang dipelajari di sekolah-sekolah cuma satu dan bukan manusia. Tapi Superman memang bukan manusia ya, tapi kartun, perujudan imajinasi seseorang.

Hasilnya... nasehat kawan agar Jangan Teralienasi Oleh Sistem sampai sekarang pun aku tidak paham! Tapi aku pun sombong dan tidak ingin mengakui kekurangpahamanku karena IQ-ku jongkok. Aku hanya tidak melihat korelasi (hmm...kata sulit lagi) kata itu menjadi kalimat yang memiliki arti. Apalagi menilik tingkah si empunya pesan itu sekarang. Mungkin dulu dia memang hanya mengaku sebagai kawanku, tapi kini telah teralienasi oleh sistem, hahaha...!

Dia teralienasi dan akhirnya menciptakan intrik, pembusukan dan pembunuhan karakter diantara kami. Tapi sejak dulu aku terbiasa melihat kasus yang sama. 'Intrik bikin kita gede', kata itu yang selalu kuingat dan benar adanya (buatku). Saat kau menginjak kakiku, masih ada organ tubuhku yang lain yang bisa melawan. Saat kau bungkam teriakku, aku punya tangan untuk menulis.

Pendek kata, aku tak akan tunduk dalam ketertindasan, tapi akan bangkit melawan sebab diam dan mundur berarti menghianati diriku sendiri.
Itu jargon yang selalu dipakai kawan-kawan dijalanan dulu, mungkin sampai sekarang, KALAU dia belum teralienasi oleh sistem!

Sebagaimana sumpah seorang pejabat saat pelantikan, dilarang menerima suap atau apapun yang diberikan orang lain karena berhubungan dengan jabatannya, profesi ini pun sangat tidak dibenarkan. Terlepas dari profesi, memang tidak pernah ada jalan yang benar akan didapati saat penghianatan mulai dilakukan terhadap nurani sendiri. Kata sulitnya... Integritas dan Komitmen adalah NUMBER ONE!

Jika tak ingin dibohongi, biasakanlah bersikap jujur!

Ingin kuludahi mukanya yang sombong (ngutip Iwan Fals), tapi jika kulakukan, tak akan membuktikan kesalahannya tapi memperlihatkan ledakan emosiku. Hukum katanya memang harus dibuktikan walaupun bukti di pengadilan lebih banyak dibuang ke tong sampah saat lembar-lembar di dompet melebihi jumlah lembaran tuntutan jaksa.

Aku kesal maka aku menulis (plesetan Socrates). Aku ingin tahu mengapa aku disalahkan saat jujur. Tapi kejujuran katanya memang lebih sering berbuah pahit. Tapi pahit tidak selalu racun. Jadi biar kutelan saja kepahitan itu. Toh, ini tenggorokanku, ini tubuhku dan ini nyawaku, apa pedulinya dengan orang lain?

=========================================

Senin, 13 Oktober 2003

Mendung

Hari ke dua puluh satu
Matahariku tak juga muncul
Aku diambang gamang
Tapi tak kutepis rinduku
Biarkan terus bersemi
Tumbuh dan tinggi
Menjadi dendam
Berakar hingga ke perut bumi
Merasuki hati manusia seberang lautan
Akar jalin menjalin
Tak ada jembatan
Pohon tumbuh di delta harapan
Tak ada akhir waktu
Seperti saat kau menungguku

Minggu, 05 Oktober 2003

Cuih!!!

Sabtu, 4 Oktober 2003
Lelakiku lelap dalam sedu sedan
Tetes air matanya
membentuk kubangan di jantungku
Perih
seperti siraman jeruk nipis di luka yang menganga
Ingin kubungkam kau dalam pelukku
Tapi wajah ibumu garang menatapku
Dan ayahmu menginginkanku
Cuih
Hanya kata itu yang pantas untukmu
Hei bayi berambut gondrong

====================================

Sabtu, 22 Juni 2002

Kartini Yang Terpasung

Mungkin hari ini termasuk hari yang tidak bisa aku lupakan, walaupun sebenarnya tidak ada yang sangat istimewa, yang ada justru rasa dongkol. Pagi sekali aku berangkat dari rumah, seperti hari- hari kemarin dengan jins belel, kaos oblong, plus kali ini memakai sepatu kets, bukan sandal jepitku yang kian tipis, tas selempang kain bercorak khas Bali, semua warna biru, pun angkot yang kutumpangi.

Tadi, setelah mandi, coba kuoleskan lipstik di bibirku yang tidak terbiasa dan ternyata membuatku tersiksa. Aku sulit mengatupkan bibir dengan lapisan tipis berwarna merah di bibirku itu, dan saat terkatup juga enggan terbuka lagi. Merepotkan dan membuatku tertawa bodoh sendirian di depan cermin. Apa yang sedang kulakukan?

Padahal kadang, saat memakai bedak pun aku sering menghapusnya lagi karena teringat kata temanku, "Ngapain lu pake bedak? Si Anu juga nggak pake bedak bisa cerdas!" Keterlaluan tapi aku suka mengingatnya. Kata itu pun diucapkannya pagi-pagi, sebelum beranjak dari tempat kami merebahkan badan semalam, sementara aku memaksakan diri mandi pagi dalam kantuk yang tetap menyerang. Aku ingin melihat pagi yang berbeda di kota nyiur melambai waktu itu.

***

Satu jam perjalanan ke kampus tak kusia-siakan untuk mencoba tidur lagi, tak peduli rambutku yang tak seberapa panjang --sedang mencoba memanjangkan, entah sebagai perempuan atau lelaki berambut gondrong-- kusut lagi. Toh tak ada yang istimewa hari ini.

Ah, aku baru saja berbohong, hari ini mungkin istimewa bagi sebagian orang, buktinya semuanya tersenyum cerah, berfoto ramai-ramai, bersama bapak, ibu, adik, kakak, pacar, suami bahkan kakek neneknya semua diajak ke kampus. Menyaksikan mereka di wisuda!

Yup, ini hari kampusku menetaskan telurnya, produksi rutin empat kali setahun, menelurkan sarjana pengangguran. Hari ini kulihat semua orang memakai jubah dan toga, berpakaian rapih, baru, seperti lebaran. Para lelaki menjerat leher mereka dengan seutas kain bernama dasi. Para perempuan memasung kaki mereka dengan lilitan kain dan memaku lehernya dengan bongkahan konde yang mungkin lebih berat dari segentong air yang di junjung perempuan desa dari sumber air berkilo jauhnya, di pancuran dekat sawah yang jalannya licin sehabis hujan.

Ah, apa kata Kartini kalau dia hidup di zaman ini? Dulu Kartini memakai kain dan kebaya bukan untuk menonjolkan bagian tubuhnya yang memang bagus dan terpelihara sebagai putri bangsawan. Lilitan kain dipinggul hingga mata kakinya, bukan untuk memasung langkahnya, apalagi pikirannya! Semua harus tetap bebas berpikir, berpikir merdeka!!!

Alangkah mahalnya kebebasan bagi Kartini dulu yang harus menjalani pingitan dan dianggap tak wajar memiliki otak cemerlang hanya karena dia perempuan. Sangat beda dengan kini, mau jalan dengan kaki di atas pun siapa yang peduli? Tapi alangkah terbelenggunya pikiran mereka, seperti kata Pramoedya, begitu mereka membuka mulut, langsung ketahuan tololnya.

***

Melangkah ke gedung yang full dengung ribuan manusia itu, banyak yang melihatku dengan tatapan aneh. Pasti karena pakaian yang dianggap aneh ini! Aku mencari tempat sesuai nomor yang dibagikan dan duduk ditengah orang-orang yang selama enam tahun di fakultas tapi tak kukenali. Acara yang cukup membosankan, penuh formalitas dan tetesan air mata seolah sedang bahagia.

Saat rektor membacakan sambutannya yang dipenuhi kata acceptabiliy, accountability, capability, dan lity lity lain yang begitu sering disebut, aku sedang membaca sambutan tandingan yang terdapat tulisan sebagai catatan kaki: "Sambutan tandingan ini harus dibaca saat rektor membacakan sambutannya". Selebaran yang cukup panjang ini dibuat seorang kawan paling gembel yang pernah kukenal di kampus ini, dengan otak yang cukup mengagumkan. Selebarannya bukan slogan omong kosong, I Like It, dan berpikir seharusnya aku melakukan hal lain untuk pencerahan dan lebih kreatif dari selebaran ini.

Kudengar ada suara orang yang sedang orasi di luar sana, tidak tahan aku keluar sebentar, melewati jejeran orang-orang yang sedang duduk manis yang wanginya semerbak hingga ke balkon. Tapi di luar mereka tak ada lagi, suara mereka dibungkam satpam yang telah didoktrin wisuda harus sakral, tidak boleh ada mahasiswa yang menyanyikan kebobrokan kampus saat tamu sedang mendengar pidato rektor.

Saat ke ruangan lagi, seorang bapak berdiri di podium menyampaikan terima kasihnya atas pendidikan yang telah diperoleh anaknya hingga menjadi lulusan terbaik di kampus ini. Ada air mata lagi dari orang-orang disekelilingku. Sekilas ada nyeri kurasakan, teringat saat ini aku tak ditemani siapapun. Tapi sedikit gembira, paling tidak ibuku tak harus merasa malu menyaksikan putrinya yang tidak bisa memakai lipstik di bibirnya, seperti selama ini sering diobrolkan di acara- acara keluarga.

Ditengah barisan menuju panggung, saat ijazah akan diserahkan oleh rektor, baru kukenakan jubah dan togaku yang sejak tadi kujejalkan di tas selempangku. "Hei, tampil beda ya? Boleh juga," kata rektor menjabat erat tanganku. Yup, mungkin itu ungkapan hatinya yang lega, satu anak tirinya telah terdepak dari kampus megah ini. Cahaya dari jepretan kamera terasa panas, dan terdengar jerit seseorang yang memotretku, tak percaya aku ada di barisan ini. Shit, apa anehnya sih?

Agak salah tingkah dengan serangan mendadak di panggung ini, bersamaan dengan sms dari seorang kawan yang kubaca sambil jalan ke tempatku semula. "Waspada, rapatkan barisan. UU Terorisme sebentar lagi disahkan. Militer akan semena-mena mengobrak-abrik rumah, tempat kost, tempat ibadah dan menangkapi semua orang yang dicurigai sebagai teroris. Galang kekuatan, aksi serentak seluruh kota tanggal sekian".

Tidak ada lagi tempat aman di negeri ini. Tidak juga aman saat ingin kunikmati kesendirian di hari yang gerah ini. Saat ingin kerenungi dunia kemahasiswaan yang harus kutinggalkan. Yang telah mengajariku segalanya tentang kehidupan. Yang begitu lama kujalani, mungkin abnormal bagi mahasiswa pintar ber-IPK tinggi, lulus terbaik, cari kerja kantoran, menikah, punya anak, tua, dan mati. MONOTON! Kenapa tidak mati muda saja seperti Kartini? Atau Soe Hok Gie? Atau hidup seribu tahun lagi?

BODOH! Siang. Gerah. Pening. Migren. Lapar. Sendirian. Sepi.

***

Kubuka halaman persembahanku, kubaca lagi, sedih.

Kutersungkur dalam cinta
Kepada Ibu yang mengandungku
Kepada Ayah yang merestui jalan perjuanganku
Bersujud kupinta maafmu
Atas penantian yang begitu lama
Karena luka negeriku tak juga kering

***

Mencari Pembenaran. Alasan negeri yang bergolak, apa yang sudah kulakukan terhadap luka itu? NOL!!!

========================================

Minggu, 14 September 2003

Jualan Agama, Yuk!

Bangsa ini benar-benar membingungkan, dengan pejabatnya, sistemnya, semuanya sama brengseknya. Semua persoalan dipolitisir, dibisniskan dan dipelintir habis-habisan. Anak kecil pun tahu, konflik yang terjadi selama ini karena kemuakan orang terhadap tekanan ekonomi, sosial, dan politik.

Mengapa agama bisa menimbulkan garis demarkasi dalam kehidupan di negeri ini, bukankah agama adalah nafas-nafas kehidupan personal setiap insan? Mengapa agama kini menjadi konsumsi publik dan dijadikan alat politik?

Orang-orang lebih mengutamakan identitas agamanya daripada identitas yang lain, nama panggilan sekalipun. Agama telah menjadi penjara bagi pemeluknya, tak peduli mereka minoritas atau mayoritas.

Gesekan antar pemeluk agama kian keras, agama menjadi bopeng dan tak lagi memiliki sisi humanis. Agama semakin mengeras dan sesak karena ditambah dengan patriarchy, plus pikiran sempit banyak orang yang mengaku intelek.

Padahal tidak ada agama yang diciptakan Penguasa Alam ini yang memperkenankan terjadinya kekerasan karena adanya perbedaan diantara ummat. Berbeda itu indah --tapi jadi tidak indah saat istilah ini dipakai LSM dan Militer untuk propaganda mereka--

Hmm..., jadi ingat tahun 2001 saat TNI dan Polri gencar melakukan kampanye "Damai Itu Indah". Ah, damai tetap saja tidak indah selama tentara masih berkuasa, agama dipakai sebagai kendaraan politik, hak-hak perempuan, anak-anak, petani, buruh dan kaum papa terus dikebiri.

Karenanya, sangat melegakan saat bisa bergabung dengan anak-anak punk di konser-konser musik mereka yang hingar bingar tapi bisa kompak saat meneriakkan FUCK THE GOVERNMENT bersama-sama. Aku rindu suasana itu.

Sabtu, 13 September 2003

Mau Pulang, Kota Ini Banyak Setan

Jumat, 23 Mei 2003

Dua pasang mata anak kecil tak henti mengawasi penumpang yang turun dari angkutan kota, begitu ada angkot menurunkan penumpang, mereka segera mendekat dan menengadahkan tangannya, meminta receh angsuran dari sopir yang diterima penumpang. Ada yang memberi dengan senyum, tapi lebih banyak yang mengibaskan tangan dan berlalu.

Begitulah yang dilakukan Dodi (5) dan kakaknya Mala (10), setidaknya tiga bulan terakhir ini. "Sebenarnya saya sangat tidak suka menjadi peminta-minta seperti ini, tidak bagus!" kata Dodi dengan dialek Makassarnya yang kental. "Capek dan bikin malu," tambah Mala, seraya menyentakkan kaki menyatakan kemuakannya.

Untuk mengurangi kebosanan, mereka suka berkejar-kejaran disela kendaraan yang diparkir di depan hotel seberang pusat perbelanjaan kota ini. Kalau tidak, mereka saling berebut ke pintu mobil yang terbuka atau pintu angkot yang sedang berhenti. "Mainnya tidak lama-lama, bisa tidak dapat uang. Atau sering maceku datang dan melihat kami bermain saja, kami bisa dimarahi," kata Mala. Mace dalam bahasa Makassar berarti mama atau ibu.

Menurut pengakuan kedua anak itu, mereka sebenarnya sangat ingin bekerja pada bidang lain, misalnya berjualan koran. "Kalau bisa kak, bawakan kami koran, nanti dijual. Kalau korannya cepat habis, kami juga bisa cepat pulang dan pasti bawa hasil," pinta Dodi. Selama ini menurutnya, mereka selalu pulang setelah magrib dan harus sudah berada di persimpangan itu lagi pagi-pagi esok hari.

Dodi bercerita, mereka datang ke kota ini setelah lebaran tahun lalu bersama ibunya. Kini mereka tinggal dikawasan Shopping, di sebuah petak kolong rumah seorang kenalan ibunya. "Rumah kami di kolong rumah orang seperti kandang ayam. Besarnya seperti mobil Kijang. Tapi kami tidak sewa, karena yang punya rumah temannya mace," kata Mala seraya menunjuk mobil kijang yang sedang parkir. Dodi memukulnya seraya berkata, "Kalau seperti kandang ayam, kita tidak bisa masuk rumah dong!"

Sebelumnya, mereka bermukim di Kota lain di Timur Indonesia. Tapi menurut pengakuan Mala, mereka terpaksa meninggalkan kota itu karena ibunya terjerat banyak utang. Sedangkan ayahnya suka memukuli ibunya saat mabuk dan menghancurkan dagangan mereka. "Dulu, Maceku jualan mie rebus dan kopi, tapi sekarang termos dan semua barang sudah dihancurkan Bapak saat mabuk," terang Mala.

Menurutnya, setiap orangtuanya bertemu, mereka selalu bertengkar hingga ibunya memutuskan meninggalkan kota lama itu beserta 6 orang anaknya yang lain yang sebagian telah berkeluarga. Mereka menumpang kapal pengangkut kayu dan sampai di kota ini dua hari kemudian. Jika menumpang kapal laut milik Pelni, jarak tempuh biasanya hanya 17 jam.

Ketika ditanya keinginannya untuk kembali ke kota lama, serempak mereka menjawab ingin secepatnya. Menurut Mala, mereka menjadi peminta-minta untuk mengumpulkan uang pembeli tiket kapal yang lebih mahal dibanding kapal kayu. "Kajjala' dudui," kata Dodi, dalam bahasa Makassar yang artinya, terlalu mahal.

Kenapa mau pulang, bukankah disini kalian bisa mendapatkan uang lebih banyak? "Kami tidak betah, di sini kami tidak punya teman, tidak ada keluarga yang bisa kami tempati rumahnya bersembunyi saat mace mau memukuli kami karena tidak dapat banyak uang. Kota ini juga banyak setannya, tiap hari kami melihat orang mati," kata Mala yang dibenarkan Dodi.

Dalam sehari, biasanya mereka membawa pulang Rp 30 hingga 50 ribu yang sebagian dipotong ibunya untuk membeli beras, sebagian lagi ditabung. "Mace punya celengan, dan setiap hari kami diberi 1000 rupiah uang capek. Ongkos Taksi dari rumah ke sini, 1500 untuk dua orang, saya dan adikku," kata Mala. Namun kadangkala mereka hanya mendapatkan Rp 5.000-10.000. Akibatnya, mereka akan dimarahi ibunya yang sehari-hari menurut Mala hanya tinggal di rumah menunggu kedatangan kedua anaknya. "Maceku tidak kerja apa-apa, hanya menunggu uang dari kami," kata Mala sedikit mengeluh.

Lain waktu saat ditemui, Mala dan Dodi mengungkapkan keinginannya untuk segera diajari membaca. "Seperti waktu di Makassar dulu kak, belajar membaca sambil aksi di lampu merah," kata Dodi. Tapi dengan panik Mala berkata, "Tapi bagaimana kalo pengkasilan kita berkurang? Kan bisa dipukuli terus tiap pulang ke rumah?"

Ups...bingung juga! Sama bingungnya saat mereka protes kenapa foto mereka dimuat di koran sebagai contoh anak yang ditelantarkan negara padahal mereka juga butuh pendidikan dan pengajaran untuk melanjutkan perjalanan bangsa ini ke depan. Tapi saat coba mencari anak itu lagi hari ini, mereka tak ada lagi. Mungkin uang tiketnya sudah cukup untuk menyeberang ke kota lain, mencoba mengadu nasib lagi. Bersama seorang ibu yang menyeret dua sumber rezekinya.

**************************************

(Tidak jelas, di tulis entah kapan)

Bersyukurlah

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit
Di masa itulah kamu tumbuh
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Minggu, 07 September 2003

Pembunuh Pemimpin Fasis

Minggu, 7 September 2003
Kata berita pagi tadi, sekolah tinggi pembunuh Jatinangor menewaskan satu orang siswanya lagi. Meski muak dan mual, berita itu bukan hal baru. Hampir setiap tahun ada korban dan sepanjang tahun berikutnya, korban berkeliaran sebagai hantu yang juga siap mencekik pelakunya. Pembalasan dendam mungkin tak mengenal alam yang berbeda bagi yang percaya.

Saat tengah malam buta, ketika para dosen, pembina asrama dan ibu asuh mulai terlelap, hantu- hantu mulai bergentayangan dengan suara pilu menyayat hati seperti derit pedati yang ditarik sapi tua dijalan berbatu.

Hantu-hantu itu mencari para senior yang semalam mencekik mereka, menginjak tubuh mereka, dan membenamkan mereka ke rawa-rawa dekat kampus. Menarik paksa jasad mereka dari ambulans yang meraung mengejar nafas terakhir sang korban.

Wajah senior yang beringas telah dimaklumi yang lebih senior lagi. Katanya demi tegaknya disiplin junior, demi mencetak pemimpin masa depan yang handal, demi solidaritas (tai kucing) kawan asal daerah yang sama, demi wibawa senior dan demi menciptakan generasi Soeharto bin Militer yang harus tetap berkuasa di negeri ini.

Dan hal yang sama juga terjadi di institusi lain, ya sekolah tinggi, ya universitas, sama fasisnya. Seharusnya dengan status mahasiswa, otak mereka jadi lebih berisi, yang terjadi malah otot yang kian kekar padahal bercita-cita sebagai binaragwan pun mereka tak ada tempat karena sikap sportif tak mereka punyai.

Tidak ada bedanya dengan militer yang sering mereka hujat saat aksi. Militer yang kini juga tengah berpesta kekuasaan di Aceh. Inikah wajah pemimpin masa depan yang siap menggebuki rakyatnya saat tak menyetorkan upeti? Inikah penguasa masa depan yang akan menjejalkan nasi basi ke mulut kawulanya?

Sementara wajah ibunda yang kehilangan sang buah hati terus memburam, seperti kaca jendela rumah kosong di seberang jalan yang halamannya ditumbuhi ilalang. Tak ada roh, hanya raga yang berjalan meraba masa depan.

Pupus sudah harapan perbaikan masa depan dari anak yang akan menjadi lurah, camat dan syukur- syukur bupatinya bukan kader partai politik atau purnawirawan. Padahal puluhan ternak telah dijual dan sehamparan sawah di kampung telah tergadai, demi satu kursi seharga Rp 50 juta di sekolah pembunuh itu.

=======================================

Kamis, 31 Juli 2003

Kau Tak Bisa Tanpaku

Tak tahukah?
Kau rusak pagi indahku dengan dering teleponmu
Saat liurku belum kering
kudengar suaramu di ujung telepon
Tersengal nyaris tercekik
Mungkin diburu pulsa sekarat
Katamu kau lelah menyertai langkahku
Hanya bisa nikmati sisa letih ambisiku
Senja tak pernah lagi kau nikmati sejak bersamaku
Sore ini aku bersorak girang
Rinai hujan menghapus semburat jingga kesumba
Tak bersamaku, senja pun enggan kau nikmati

========================================

Selasa, 22 Juni 2003

Manajemen Kanibal

Hampir sebulan lalu aku masih bersama orang itu, meski mungkin hubungan perusahaan kami tidak begitu harmonis karena persaingan bisnis, tapi di lapangan sebagai orang yang seprofesi, aku tetap menganggapnya kawan. Meski beberapa kali dia pun berusaha mencegat jalanku, dengan menendang kakiku dari belakang. Tak mengapa, karena semua orang punya garis tangan sendiri.

Iseng, kutanyakan kabarnya hari ini, dan seorang menjawabnya, dia dipecat! Seorang polisi wanita menjawab pula, dimutasi! Apa pasal? Mengapa jawaban beragam yang kudapat?

Konon kabarnya, pemecatan itu berawal dari hari terakhir kami bersama. Dia tak menuliskan pesanan itu, yang membuat murka sang jenderal, membahayakan posisi Harmoko. Memerahkan muka sang redaktur, membuat malu yang mulia, merugikan marketing. Dan kambing hitamnya dia, kariernya dimatikan begitu saja!!!

Jadilah dia luntang lantung kini, akibat ketakutan orang-orang akan kehilangan jabatan dan muka. Sayangnya, tempat lain pun tak ada yang menerima, karena dia membawa tradisi berbeda. Itu pula yang disesalkan, tak ada keselamatan bagimu. Sayang sekali, padahal rajin banget...!

Katanya, air mata sang polwan menetes saat mendengar derita kawanku kini. Tanpa dipecat pun, balas jasa yang didapatnya tak pernah mencukupi harga susu bayi mungilnya. Apalagi kini setelah dipecat, dia hanya bisa mendengar nyaring tangis sang bayi dengan pilu. Kemana lagi harus menadahkan tangan saat semua wajah berpaling tak sudi karena dulu pun dia tak sudi berpaling tanpa amplop yang tersedia di atas meja, pesanan atasan di kantor sana???