Usai puasa dan lebaran, rupanya setan-setan yang sebelumnya dikerangkeng, sudah dilepas kembali. Setan pun beraksi dengan brutal. Membunuh pengikut Syiah di Sampang dan melukai sejumlah orang, menjarah harta mereka, melarang anak-anak bersekolah, dan mengancam akan memperkosa kaum perempuan.
Mereka katanya bergerak demi penegakan syariah, demi akhlaq. Mereka menganggap Syiah bukan bagian dari Islam, maka pengikutnya harus dienyahkan dari muka bumi. Saya tak tahu, mereka Islam aliran apa sehingga bisa bertindak sebrutal itu. Padahal, sebagian dari mereka, justru memuja Ahmadinejad, presiden Iran yang merupakan pengikut Syiah.
Mereka tak puas jika Tajul Muluk, pimpinan Syiah di Sampang hanya jadi terpidana dan dipenjara. Jadi, kemarin mereka menghadang para orangtua yang akan mengantar anak-anaknya kembali ke sekolah. Lihat, bahkan anak-anak itu pun dirampas haknya untuk mendapatkan pendidikan. Lalu rumah pengikut Syiah dibakar, sapi-sapi dan hartanya dijarah. Naudzubillah. Begitukah ajaran Islam? Padahal, katanya, Rasulullah tetap berteman dan membuka ruang dialog dengan kaum Nasrani. Bahkan tetap mendoakan kaum Yahudi yang meludahi dan melempar kotoran ke rumahnya. Sikap yang sama juga dilakukan Umar Bin Khattab, yang menolong kaum Yahudi.
Tapi di Sampang, setan-setan yang dilepaskan dari kerangkeng, sudah dibutakan mata dan hatinya. Ibunda Tajul Muluk, yang bukan Syiah, ikut diserang hingga kondisinya kritis. Padahal, dalam kondisi perang pun, Rasul tak membolehkan perempuan dan anak-anak disentuh! Sementara di Sampang, sama sekali bukan perang. Mereka berhadapan dengan saudara sendiri.
Yang menyedihkan, Hamamah alias Muhammad Chosim, sahabat Tajul Muluk, dibunuh dalam penyerangan kaum Syiah kemarin. Padahal, orang ini, menurutku (setelah membaca kesaksian Umi Kulsum, istri Tajul Muluk) adalah seorang yang benar-benar pengikut Rasulullah Muhammad SAW. Hamamah seorang yang lembut hatinya, anti kekerasan, dan selalu mengingatkan kawan-kawannya untuk tidak membalas perlakuan orang-orang anti-Syiah, tapi tetap menyapa mereka yang membencinya. Bukankah sikapnya itu sama dengan teladan Rasulullah?
Lalu kemana polisi berseragam coklat dan polisi moral bernama ulama (mayoritas)? Kemana tuan presiden jika ada kekerasan seperti ini? Ah, semua juga tau, presiden hanya bisa bilang 'prihatin'. Orang2 kementerian agama? Mereka bukan kumpulan orang yang bisa dipercaya karena dana kitab suci pun mereka tilep. Polisi? Semua pun tau, di sana sarang maling.
Rasanya, tak salah jika saya mengkhawatirkan masa depan anak-cucu saya seperti kata seseorang di twitter: "bahkan nanti anak dari anak kita bisa dibantai oleh para pemakan nasi hanya karena anak kita suka makan roti." Begitu banyak orang yang tak bahagia dan ingin mengusik hidup orang yang memiliki keyakinan berbeda.
Senin, 27 Agustus 2012
Selasa, 08 Februari 2011
Pembantaian di Tengah Pekan Kerukunan Umat Beragama
Pekan kerukunan umat beragama katanya. Dirayakan di Indonesia. Tapi pekan ini penuh peristiwa kekerasan dan pembantaian atas nama agama. Sebuah golongan merasa paling benar dan menghujat kelompok lain karena dianggap sesat. Padahal mereka bukan tuhan dan mereka belum tentu lebih baik dalam beragama.
Dan para pejabat ngomong kayak tai! Atut minta Ahmadiyah insyaf. Insyaf dari apa? Mereka korban pembantaian dan diminta insyaf? Kenapa bukan pembunuh2 itu yang diminta insyaf dan tidak melakukan kekerasan lagi terhadap siapapun dengan alasan apapun?
Mister presiden bilang itu bentrokan warga dan pengikut Ahmadiyah. Dia seolah menganggap Ahmadiyah bukan bagian dari warga. Dia bilang itu bentrok padahal nyatanya itu penyerangan dan pembantaian. Gimana ceritanya itu disebut bentrok jika sekelompok keciiiilll warga di suatu daerah tiba-tiba didatangi warga kampung lain dengan jumlah jauuuh lebih besar dan beringas? Itu namanya penyerangan, tuan presiden!
Dan di Kupang sana, tuan presiden mukul gong perdamaian, damai dari mana? Berani ga nangkep para penyerang itu? Jangan sok ngurusin konflik di luar negeri kalo kondisi dalam negeri aja ga lo beresin.
Begitu juga dengan partai2 yang ngakunya beranggotakan orang2 yang taat beragama dan bermoral itu. Mereka cuma peduli pada konflik Israel-Palestina, lalu Mesir, tapi pura2 ga tau ada kekerasan di depan mata, di dalam negeri sendiri.
Ada yang bilang penyerangan Ahmadiyah bukan pelanggaran HAM. MATAMU ditaro dimana pak menteri? Menyerang, memukuli, menimpuk dengan batu, membacok orang membabi buta, menguliti wajahnya, apa itu bukan pelanggaran HAM? Banyak yang merekam gambar sadis itu dan pak menteri, pak polisi, masih mau mengelak?
Kalo Anda semua ga bisa melindungi warga dari segala bentuk ancaman dan kekerasan hanya karena keyakinan mereka, berhentilah menjabat. Kalo Anda semua ga bisa menyelesaikan kasus pajak yang tak pernah Anda bayarkan, kasus suap yang telah Anda nikmati duitnya, atau kasus korupsi yang melibatkan keluarga dan orang2 dekatmu, jangan korbankan orang lain dengan alasan berbeda keyakinan. Mending ke neraka aja kalian semua!
Dan para pejabat ngomong kayak tai! Atut minta Ahmadiyah insyaf. Insyaf dari apa? Mereka korban pembantaian dan diminta insyaf? Kenapa bukan pembunuh2 itu yang diminta insyaf dan tidak melakukan kekerasan lagi terhadap siapapun dengan alasan apapun?
Mister presiden bilang itu bentrokan warga dan pengikut Ahmadiyah. Dia seolah menganggap Ahmadiyah bukan bagian dari warga. Dia bilang itu bentrok padahal nyatanya itu penyerangan dan pembantaian. Gimana ceritanya itu disebut bentrok jika sekelompok keciiiilll warga di suatu daerah tiba-tiba didatangi warga kampung lain dengan jumlah jauuuh lebih besar dan beringas? Itu namanya penyerangan, tuan presiden!
Dan di Kupang sana, tuan presiden mukul gong perdamaian, damai dari mana? Berani ga nangkep para penyerang itu? Jangan sok ngurusin konflik di luar negeri kalo kondisi dalam negeri aja ga lo beresin.
Begitu juga dengan partai2 yang ngakunya beranggotakan orang2 yang taat beragama dan bermoral itu. Mereka cuma peduli pada konflik Israel-Palestina, lalu Mesir, tapi pura2 ga tau ada kekerasan di depan mata, di dalam negeri sendiri.
Ada yang bilang penyerangan Ahmadiyah bukan pelanggaran HAM. MATAMU ditaro dimana pak menteri? Menyerang, memukuli, menimpuk dengan batu, membacok orang membabi buta, menguliti wajahnya, apa itu bukan pelanggaran HAM? Banyak yang merekam gambar sadis itu dan pak menteri, pak polisi, masih mau mengelak?
Kalo Anda semua ga bisa melindungi warga dari segala bentuk ancaman dan kekerasan hanya karena keyakinan mereka, berhentilah menjabat. Kalo Anda semua ga bisa menyelesaikan kasus pajak yang tak pernah Anda bayarkan, kasus suap yang telah Anda nikmati duitnya, atau kasus korupsi yang melibatkan keluarga dan orang2 dekatmu, jangan korbankan orang lain dengan alasan berbeda keyakinan. Mending ke neraka aja kalian semua!
Sabtu, 08 Januari 2011
Empat catatan keajaiban negeri dongeng
Saya tengah berpikir bahwa blog ini tak akan lagi berisi kemarahan dan caci maki pada bobroknya negeri oleh para penguasa lalim, korup, fasis, dan segala embel2 keburukan lainnya.
Saya ingin menjadikannya monumen, pencatat, penyimpan kisah tentang suatu negeri yang tak belajar dan tak pernah jera pada arus balik sejarahnya.
Di akhir Desember 2010 dan awal Januari 2011, kisah bobrok yang layak disimpan untuk melawan lupa, masih saja soal korupsi dan kenakalan para mafia mengakali hukum.
Di PSSI, Nurdin Halid dan sekjennya, Nugroho Besoes masih mempertahankan kursi tempatnya meraup untung dari korupsi dan suap yang tak pernah habis selama APBD dan penikmat bola (buta) masih ada. Suap klub yang dapet duit APBD (yang adalah jelas duit yang dikumpulkan dari rakyat) serta duit dari tiket penonton, duit sumbangan (yang mengaku) sponsor, masih terlalu banyak untuk ditinggalkan begitu saja oleh Nurdin Halid dan kroninya.
Padahal, hasil korupsinya dari duit cengkeh dan minyak goreng hingga dia dipenjara dua kali, mungkin belum juga habis. Tapi kehormatan masih ia pegang. Presiden masih rela duduk berdampingan dan memelihara maling (sebutan kasar untuk pelaku korupsi) itu. Demi duit yang berlimpah di PSSI, dia hajar semua orang yang kontra dengannya, dan dia bikin sendiri spanduk yang memuji dan mendukung dirinya.
Ada kasus besar lain yang entah kenapa masih membuat presiden duduk tenang di kursinya. Kasus Gayus Tambunan, pegawai negeri golongan IIIa yang begitu kaya raya dengan miliaran duit di rekeningnya. Yang membuat geregetan adalah: selama ditahan di penjara kelapa dua depok, yang dijaga oleh para polisi tangguh bernama Brimob, kenapa bisa ia jarang ada di selnya, dan begitu sering ia jalan2 keluar Jakarta?
Sungguh ajaib seorang tahanan bisa berada di Bali untuk nonton turnamen tenis dunia, jalan2 ke Singapura, Kuala Lumpur, Macau, dan entah kemana lagi. Dengan status tahanan, ia bisa jalan2 dengan uang pajak yang seharusnya disetorkan kepada negara, dengan paspor palsu yang seharusnya tak diterbitkan oleh orang2 imigrasi.
Dan dengan segala keajaiban itu, presiden masih diam saja dengan dalih tak mau melakukan intervensi hukum. Padahal dulu ia berkampanye akan menegakkan hukum, memberantas korupsi. Salahkah saya jika pada akhirnya saya berpikir, sikap diamnya itu adalah untuk menghindari tuntutan hukum terhadap sang besan yang mungkin melakukan hal yang sama dengan Gayus ketika ia dipenjara di kelapa dua?
Keajaiban berikutnya, ketika seorang tahanan di Bojonegoro, menggunakan jasa joki untuk menggantikan posisinya di penjara agar ia bisa melenggang bebas di luar sana.
Dan keajaiban yang lain, ketika menteri dalam negeri Gamawan Fauzi melantik wali kota di kantornya, bukan di daerah asal di Sulawesi Utara sana karena si wali kota terpilih adalah seorang tahanan dan terdakwa kasus korupsi. Si wali kota dijemput di tahanan untuk dilantik, dan dikembalikan ke penjara setelah dilantik. Sungguh sebuah dagelan, karena seorang menteri yang katanya bersih, menyediakan karpet merah bagi seorang terdakwa korupsi.
Saya ingin menjadikannya monumen, pencatat, penyimpan kisah tentang suatu negeri yang tak belajar dan tak pernah jera pada arus balik sejarahnya.
Di akhir Desember 2010 dan awal Januari 2011, kisah bobrok yang layak disimpan untuk melawan lupa, masih saja soal korupsi dan kenakalan para mafia mengakali hukum.
Di PSSI, Nurdin Halid dan sekjennya, Nugroho Besoes masih mempertahankan kursi tempatnya meraup untung dari korupsi dan suap yang tak pernah habis selama APBD dan penikmat bola (buta) masih ada. Suap klub yang dapet duit APBD (yang adalah jelas duit yang dikumpulkan dari rakyat) serta duit dari tiket penonton, duit sumbangan (yang mengaku) sponsor, masih terlalu banyak untuk ditinggalkan begitu saja oleh Nurdin Halid dan kroninya.
Padahal, hasil korupsinya dari duit cengkeh dan minyak goreng hingga dia dipenjara dua kali, mungkin belum juga habis. Tapi kehormatan masih ia pegang. Presiden masih rela duduk berdampingan dan memelihara maling (sebutan kasar untuk pelaku korupsi) itu. Demi duit yang berlimpah di PSSI, dia hajar semua orang yang kontra dengannya, dan dia bikin sendiri spanduk yang memuji dan mendukung dirinya.
Ada kasus besar lain yang entah kenapa masih membuat presiden duduk tenang di kursinya. Kasus Gayus Tambunan, pegawai negeri golongan IIIa yang begitu kaya raya dengan miliaran duit di rekeningnya. Yang membuat geregetan adalah: selama ditahan di penjara kelapa dua depok, yang dijaga oleh para polisi tangguh bernama Brimob, kenapa bisa ia jarang ada di selnya, dan begitu sering ia jalan2 keluar Jakarta?
Sungguh ajaib seorang tahanan bisa berada di Bali untuk nonton turnamen tenis dunia, jalan2 ke Singapura, Kuala Lumpur, Macau, dan entah kemana lagi. Dengan status tahanan, ia bisa jalan2 dengan uang pajak yang seharusnya disetorkan kepada negara, dengan paspor palsu yang seharusnya tak diterbitkan oleh orang2 imigrasi.
Dan dengan segala keajaiban itu, presiden masih diam saja dengan dalih tak mau melakukan intervensi hukum. Padahal dulu ia berkampanye akan menegakkan hukum, memberantas korupsi. Salahkah saya jika pada akhirnya saya berpikir, sikap diamnya itu adalah untuk menghindari tuntutan hukum terhadap sang besan yang mungkin melakukan hal yang sama dengan Gayus ketika ia dipenjara di kelapa dua?
Keajaiban berikutnya, ketika seorang tahanan di Bojonegoro, menggunakan jasa joki untuk menggantikan posisinya di penjara agar ia bisa melenggang bebas di luar sana.
Dan keajaiban yang lain, ketika menteri dalam negeri Gamawan Fauzi melantik wali kota di kantornya, bukan di daerah asal di Sulawesi Utara sana karena si wali kota terpilih adalah seorang tahanan dan terdakwa kasus korupsi. Si wali kota dijemput di tahanan untuk dilantik, dan dikembalikan ke penjara setelah dilantik. Sungguh sebuah dagelan, karena seorang menteri yang katanya bersih, menyediakan karpet merah bagi seorang terdakwa korupsi.
Jumat, 10 Desember 2010
Kejar Setoran Pajak, Gayus Dilepas, Warteg Diperas
Ada kabar di jakarta yang sungguh memuakkan. Mulai Januari 2011 katanya warteg2 bakal dikenai pajak karena konon pendapatan mereka per tahun di atas Rp 50 juta. Jumlah warteg yang ada lebih dari 2.000 buah.
Gimana saya ga bilang memuakkan? Dengan modal kecil, tanpa bantuan siapa pun, mungkin malah pinjem dari rentenir, mereka memulai usaha warung makan untuk kaum buruh dan orang2 di sekitarnya, yang hidunya juga ga lebih miskin dari dia. Tau2 setelah dikira punya penghasilan, lalu kucluk-kucluk para pamong datang menagih pajak dari tempat mereka mengutang makan siang.
Oke, katanya ini demi keadilan. setelah dihitung2 (entah oleh siapa), pendapatan mereka mungkin emang tinggi. Para karyawan di gedung2 tinggi yang makannya di warteg2 itu aja dipajakin, biar adil, ya wartegnya juga dipajakin. Toh penghasilannya, katanya sama.
Tapi harap diinget, sistem keuangan di warteg ga ada yang nyatet. Beda sama para karyawan miskin berpenampilan kaya itu. semuanya dihitung sampe detil oleh bagian keuangan sehingga pajaknya gampang dipotong. Nah kalo ini diberlakukan terhadap warteg, bisa2 para pamong asal maen potong aja. Lha pencatatannya ga ada.
Bisa2 yang berlaku adalah sistem jatah preman. Lo setor ke pamong tertentu dengan jumlah tertentu, maka lo akan aman, ga usah bayar pajak. atau bisa juga rugi dua kali. Bayar ke preman atau pamong, bayar pajak pula. Trus anak istri dan pegawai yang banting tulang bangun subuh tidur menjelang subuh untuk nyiapin hidangan di warteg akhirnya dapet apa?
Belum lagi, setelah pajak mereka bayarkan, apakah manfaatnya akan kembali ke mereka? Apakah harga-harga sembilan bahan pokok akan lebih murah buat mereka? Apakah harga gas akan lebih murah buat mereka? Jangan2 malah akan makin mahal karena mereka dianggap industri. Apalagi nunggu beras murah pun sepertinya makin sulit karena Bulog harus ngimpor dari luar dengan dalih, beras RI adalah yang termahal di dunia. Dengan begitu, makanan pinggir jalan ini pun akan makin mahal demi tetep dapet untung yang ga sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.
Kok ya ngejar pajak sama semut2 kecil yang mudah digencet? Jelas2 di depan mata ada gajah, yang duitnya super gede, dibiarin gitu aja. Ada gayus yang walopun dipenjara tetap bisa melenggang kangkung jalan-jalan ke Bali ketemu klien lamanya, kok nggak diapa2in selain dikenai pasal gratifikasi? Pengemplang pajak juga begitu dilindungi negara.
Kalo mau pundi-pundi daerah dan pundi-pundi negara terisi penuh, tangkap para koruptor, suruh kembaliin uang negara, naikin pajak mobil setinggi-tingginya, lakukan efisiensi, hentikan jalan2 ga penting para anggota dewan.
Banyaaaak hal yang bisa dilakukan tanpa harus menggencet orang bawah, mister foke! Dan, uang tagihan pajak yang udah ada jangan dipake buat pesta2! Oke, foke menunda meneken peraturan daerah tentang pajak warteg ini. Tapi cuma nunda kan? Dan kita udah hapal bener, saat kita lengah, bisa saja perda ini tau2 udah berlaku. Jadi, tetep waspada!
Gimana saya ga bilang memuakkan? Dengan modal kecil, tanpa bantuan siapa pun, mungkin malah pinjem dari rentenir, mereka memulai usaha warung makan untuk kaum buruh dan orang2 di sekitarnya, yang hidunya juga ga lebih miskin dari dia. Tau2 setelah dikira punya penghasilan, lalu kucluk-kucluk para pamong datang menagih pajak dari tempat mereka mengutang makan siang.
Oke, katanya ini demi keadilan. setelah dihitung2 (entah oleh siapa), pendapatan mereka mungkin emang tinggi. Para karyawan di gedung2 tinggi yang makannya di warteg2 itu aja dipajakin, biar adil, ya wartegnya juga dipajakin. Toh penghasilannya, katanya sama.
Tapi harap diinget, sistem keuangan di warteg ga ada yang nyatet. Beda sama para karyawan miskin berpenampilan kaya itu. semuanya dihitung sampe detil oleh bagian keuangan sehingga pajaknya gampang dipotong. Nah kalo ini diberlakukan terhadap warteg, bisa2 para pamong asal maen potong aja. Lha pencatatannya ga ada.
Bisa2 yang berlaku adalah sistem jatah preman. Lo setor ke pamong tertentu dengan jumlah tertentu, maka lo akan aman, ga usah bayar pajak. atau bisa juga rugi dua kali. Bayar ke preman atau pamong, bayar pajak pula. Trus anak istri dan pegawai yang banting tulang bangun subuh tidur menjelang subuh untuk nyiapin hidangan di warteg akhirnya dapet apa?
Belum lagi, setelah pajak mereka bayarkan, apakah manfaatnya akan kembali ke mereka? Apakah harga-harga sembilan bahan pokok akan lebih murah buat mereka? Apakah harga gas akan lebih murah buat mereka? Jangan2 malah akan makin mahal karena mereka dianggap industri. Apalagi nunggu beras murah pun sepertinya makin sulit karena Bulog harus ngimpor dari luar dengan dalih, beras RI adalah yang termahal di dunia. Dengan begitu, makanan pinggir jalan ini pun akan makin mahal demi tetep dapet untung yang ga sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.
Kok ya ngejar pajak sama semut2 kecil yang mudah digencet? Jelas2 di depan mata ada gajah, yang duitnya super gede, dibiarin gitu aja. Ada gayus yang walopun dipenjara tetap bisa melenggang kangkung jalan-jalan ke Bali ketemu klien lamanya, kok nggak diapa2in selain dikenai pasal gratifikasi? Pengemplang pajak juga begitu dilindungi negara.
Kalo mau pundi-pundi daerah dan pundi-pundi negara terisi penuh, tangkap para koruptor, suruh kembaliin uang negara, naikin pajak mobil setinggi-tingginya, lakukan efisiensi, hentikan jalan2 ga penting para anggota dewan.
Banyaaaak hal yang bisa dilakukan tanpa harus menggencet orang bawah, mister foke! Dan, uang tagihan pajak yang udah ada jangan dipake buat pesta2! Oke, foke menunda meneken peraturan daerah tentang pajak warteg ini. Tapi cuma nunda kan? Dan kita udah hapal bener, saat kita lengah, bisa saja perda ini tau2 udah berlaku. Jadi, tetep waspada!
Jumat, 20 Agustus 2010
Rasa Kemanusiaan untuk Korban Lapindo, Bukan Koruptor!
Sepertinya berita akhir2 ini bener2 bikin capek ya. Semuanya berpusat di satu orang itu. Ga tegas, sok ga tau apa-apa. Tapi anehnya dia bisa curhat melulu soal-soal terbaru. Jadi gimana mungkin dia ga tau hal yang berkembang di masyarakat? Yang ada malah ngeluh terus di hadapan rakyatnya, hampir setiap kali dia berpidato.
Misalnya saat dikabarkan diancam teroris, curhat. Padahal lho ya, pengawalannya segambreng, sepanjang naga. Mbok ya sesekali dengerin curhat rakyat. Mereka setiap hari terancam ledakan gas elpiji, di DAPUR RUMAHNYA SENDIRI! Dan mereka tanpa pengawalan. Dan tanpa ganti rugi setelah dipaksa mengkonversi minyak tanah ke gas.
Lalu soal hubungan luar negeri, terutama dengan Malaysia. Serius, kasus penukaran tiga pegawai Kelautan dan Perikanan dengan enam maling ikan di perairan kita, sungguh ga masuk akal. Dari segi manapun, itu pelecehan. Bukan sekedar kekalahan! Pegawai sama maling gitu lho. Segi jumlah juga ga seimbang!
Lalu apa lagi? Souvenir upacara bendera? Buku anaknya dibagiin di sana? Lagu ciptaannya dinyanyikan dalam aubade bersama lagu-lagu nasional? Apakah dipikir ini acara arisan dan karaoke keluarga? Belum lagi di situs resmi kenegaraan, diiklankan pula lagunya. Apakah ini dipikir bukan bagian dari korupsi ketika menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi?
Lalu yang terakhir, yang bikin makin emosi. Ini...seluruh koruptor kok tau2 dapet remisi? Maka MERDEKAlah para koruptor di hari kemerdekaan kemarin. Syaukani yang korupsinya miliaran itu. Lalu sang besan yang dapet korting penjara gede-gedean. Ayin dan Polycarpus juga. Ya ampun!
Alasannya sungguh bikin sakit hati. Katanya demi kemanusiaan. Pernahkah terpikir bahwa para koruptor itu tak pernah memikirkan kemanusiaan orang-orang yang dirampas haknya karena dikorupsi oleh mereka?
Mister presiden! Yang memBUTUHkan RASA KEMANUSIAAN itu adalah KORBAN LUMPUR lapindo dan para pemakai tabung gas 3 kilo! BUKAN KORUPTOR!!!
Misalnya saat dikabarkan diancam teroris, curhat. Padahal lho ya, pengawalannya segambreng, sepanjang naga. Mbok ya sesekali dengerin curhat rakyat. Mereka setiap hari terancam ledakan gas elpiji, di DAPUR RUMAHNYA SENDIRI! Dan mereka tanpa pengawalan. Dan tanpa ganti rugi setelah dipaksa mengkonversi minyak tanah ke gas.
Lalu soal hubungan luar negeri, terutama dengan Malaysia. Serius, kasus penukaran tiga pegawai Kelautan dan Perikanan dengan enam maling ikan di perairan kita, sungguh ga masuk akal. Dari segi manapun, itu pelecehan. Bukan sekedar kekalahan! Pegawai sama maling gitu lho. Segi jumlah juga ga seimbang!
Lalu apa lagi? Souvenir upacara bendera? Buku anaknya dibagiin di sana? Lagu ciptaannya dinyanyikan dalam aubade bersama lagu-lagu nasional? Apakah dipikir ini acara arisan dan karaoke keluarga? Belum lagi di situs resmi kenegaraan, diiklankan pula lagunya. Apakah ini dipikir bukan bagian dari korupsi ketika menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi?
Lalu yang terakhir, yang bikin makin emosi. Ini...seluruh koruptor kok tau2 dapet remisi? Maka MERDEKAlah para koruptor di hari kemerdekaan kemarin. Syaukani yang korupsinya miliaran itu. Lalu sang besan yang dapet korting penjara gede-gedean. Ayin dan Polycarpus juga. Ya ampun!
Alasannya sungguh bikin sakit hati. Katanya demi kemanusiaan. Pernahkah terpikir bahwa para koruptor itu tak pernah memikirkan kemanusiaan orang-orang yang dirampas haknya karena dikorupsi oleh mereka?
Mister presiden! Yang memBUTUHkan RASA KEMANUSIAAN itu adalah KORBAN LUMPUR lapindo dan para pemakai tabung gas 3 kilo! BUKAN KORUPTOR!!!
Selasa, 20 Juli 2010
Basyir Melawan dengan...Gantung Diri
Dana pendidikan negeri ini katanya 20 persen. Entah untuk membiayai apa. Karena nyatanya biaya sekolah tetap mahal. Sudah pernah kita dengar anak yang memilih bunuh diri untuk menutupi rasa malu. Karena mereka menunggak uang sekolah, atau malah sama sekali tak mampu membayar uang masuk.
Ada juga karena soal lain. Anak bunuh diri karena rapornya merah, tak naik kelas, dan tak lulus. Ini juga karena sistem pendidikan kita yang salah sejak awal. Anak-anak di sekolah dikejar-kejar nilai tinggi. Sistem pendidikan mementingkan nilai-nilai di rapor, tidak mengutamakan bagaimana siswa bisa menyerap pelajaran dengan baik.
Kasus terbaru, terjadi pada Basyir. Bocah 11 tahun ini ditemukan gantung diri di sebuah lapak di Pasar Minggu, pekan lalu. Konon, si anak sudah lelah. Beberapa orang dekatnya menduga ia ingin sekolah. Ia juga juga lelah melihat pertengkaran bapak-ibunya.
Sebelumnya ia pernah sekolah sampai kelas dua, lalu berhenti ketika ibunya tak mampu memenuhi permintaannya untuk membeli buku. Ibunya juga tak mampu membelikannya seragam. Si anak patuh itu pun berhenti sekolah dan membantu ibunya mencari duit dengan menjual kardus dan menjadi ojek payung.
Saya jadi teringat tentang Gayus, yang hidupnya bergelimang uang suap. Awalnya hanya ditemukan Rp 25 miliar di rekeningnya. Lalu Rp 60 miliar, lalu Rp 86, lalu ada kabar ia menyuap polisi 100.000 dolar agar tak ditahan. Kenapa sih uang hasil korupsi mesti disita dan dikembalikan ke kas negara? Toh akhirnya akan dikorupsi juga? Kenapa tak langsung dibayarkan ke sekolah2 agar sekolah tersebut menampung semuaaaaa anak di sekitar tempat itu agar bisa sekolah. Jika sekolah gratis, anak-anak seperti Basyir..., ah, sudahlah.
BASYIR. Ia telah melawan dengan caranya sendiri. Ketika kemiskinan makin membelit hidupnya. Ketika kemiskinan tak mengizinkannya meneruskan sekolah. Ketika kemiskinan membuat bapak-ibunya tak berhenti bertengkar. Ketika kemiskinan membuat tidurnya tak pernah lelap di kios-kios pasar yang lembab dan bau. Ia memilih satu cara. Dengan gantung diri di kios gelap, di atas lapak tempatnya tidur sehari-hari.
Ada juga karena soal lain. Anak bunuh diri karena rapornya merah, tak naik kelas, dan tak lulus. Ini juga karena sistem pendidikan kita yang salah sejak awal. Anak-anak di sekolah dikejar-kejar nilai tinggi. Sistem pendidikan mementingkan nilai-nilai di rapor, tidak mengutamakan bagaimana siswa bisa menyerap pelajaran dengan baik.
Kasus terbaru, terjadi pada Basyir. Bocah 11 tahun ini ditemukan gantung diri di sebuah lapak di Pasar Minggu, pekan lalu. Konon, si anak sudah lelah. Beberapa orang dekatnya menduga ia ingin sekolah. Ia juga juga lelah melihat pertengkaran bapak-ibunya.
Sebelumnya ia pernah sekolah sampai kelas dua, lalu berhenti ketika ibunya tak mampu memenuhi permintaannya untuk membeli buku. Ibunya juga tak mampu membelikannya seragam. Si anak patuh itu pun berhenti sekolah dan membantu ibunya mencari duit dengan menjual kardus dan menjadi ojek payung.
Saya jadi teringat tentang Gayus, yang hidupnya bergelimang uang suap. Awalnya hanya ditemukan Rp 25 miliar di rekeningnya. Lalu Rp 60 miliar, lalu Rp 86, lalu ada kabar ia menyuap polisi 100.000 dolar agar tak ditahan. Kenapa sih uang hasil korupsi mesti disita dan dikembalikan ke kas negara? Toh akhirnya akan dikorupsi juga? Kenapa tak langsung dibayarkan ke sekolah2 agar sekolah tersebut menampung semuaaaaa anak di sekitar tempat itu agar bisa sekolah. Jika sekolah gratis, anak-anak seperti Basyir..., ah, sudahlah.
BASYIR. Ia telah melawan dengan caranya sendiri. Ketika kemiskinan makin membelit hidupnya. Ketika kemiskinan tak mengizinkannya meneruskan sekolah. Ketika kemiskinan membuat bapak-ibunya tak berhenti bertengkar. Ketika kemiskinan membuat tidurnya tak pernah lelap di kios-kios pasar yang lembab dan bau. Ia memilih satu cara. Dengan gantung diri di kios gelap, di atas lapak tempatnya tidur sehari-hari.
Selasa, 06 Juli 2010
Usai Ribut Celengan Babi, Bom Molotov Datang
Pekan lalu, majalah Tempo konon habis diborong oleh orang2 yang 'mirip' polisi. Bahkan ada yang jelas-jelas memakai mobil dinas polisi, mengangkut majalah dari lapak loper koran. Demi mendapatkan majalah ini, beberapa orang berinisiatif menjual fotokopian majalah dengan harga Rp 10 ribu.
Menurut saya, isinya bukanlah hal mengejutkan. Data yang dirilis Tempo adalah data dari laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Oleh Tempo, data itu kemudian dilengkapi dengan konfirmasi ke beberapa nama yang disebut memiliki rekening liar dengan isi yang tidak masuk akal. Mengapa tak masuk akal, karena jumlah itu sungguh tak sebanding dengan pendapatan perwira polisi yakni di bawah Rp 10 juta.
Sehingga agak mengherankan melihat reaksi polisi sedemikian keras sampai akan melaporkan Tempo secara pidana dan perdata. Tapi melihat isi laporan yang rasanya memang tak ada yang salah, polisi lalu mempermasalahkan covernya yang bergambar polisi menyeret tiga celengan babi. Katanya haram. Lha, celengan kok haram? Agama apa yang menyatakan celengan itu haram? Yang haram bukannya daging babi dan uang hasil korupsi? :p
Nah, berikut saya sarikan isi majalah Tempo soal rekening2 dan transaksi yang dicurigai PPATK itu.
1. Inspektur Jenderal Mathius Salempang, Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur, kekayaan: Rp 8,5 miliar dan US$ 59.842 (per 22 Mei 2009)
Tuduhan: memiliki rekening Rp 2,8 miliar dengan sumber dana tak jelas. Pada 29 Juli 2005, rekening itu ditutup dan Mathius memindahkan dana Rp 2 miliar ke rekening lain atas nama seseorang yang tidak diketahui hubungannya. Dua hari kemudian dana ditarik dan disetor ke deposito Mathius.
"Saya baru tahu dari Anda," begitu kata Mathius, 24 Juni 2010
2. Inspektur Jenderal Sylvanus Yulian Wenas, Kepala Korps Brigade Mobil Polri, kekayaan: Rp 6,5 miliar (per 25 Agustus 2005)
Tuduhan: Dari rekeningnya mengalir uang Rp 10.007 miliar, kepada orang yang mengaku sebagai Direktur PT Hinroyal Golden Wing. Terdiri atas Rp 3 miliar dan US$ 100 ribu pada 27 Juli 2005, US$ 670.031 pada 9 Agustus 2005.
"Dana itu bukan milik saya," kata Sylvanus, 24 Juni 2010
3. Inspektur Jenderal Budi Gunawan, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian, kekayaan: Rp 4,68 miliar (per 19 Agustus 2008)
Tuduhan: Melakukan transaksi dalam jumlah besar, tak sesuai dengan profilnya. Bersama anaknya, Budi disebutkan telah membuka rekening dan menyetor masing-masing Rp 29 miliar dan Rp 25 miliar.
"Berita itu sama sekali tidak benar," kata Budi, 25 Juni 2010
4. Inspektur Jenderal Badrodin Haiti, Kepala Divisi Pembinaan Hukum Kepolisian
Kekayaan: Rp 2,09 dan US$ 4.000 (per 24 Maret 2008)
Tuduhan: Membeli polis asuransi pada PT Prudential Life Assurance Rp 1,1 miliar. Asal dana dari pihak ketiga. Menarik dana Rp 700 juta dan menerima dana rutin setiap bulan.
"Itu sepenuhnya kewenangan Kepala Bareskrim," kata Badrodin, 24 Juni 2010
5. Komisaris Jenderal Susno Duadji, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal
Kekayaan: Rp 1,587 miliar (per 2008)
Tuduhan: Menerima kiriman dana dari seorang pengacara sekitar Rp 2,62 miliar dan kiriman dana dari seorang pengusaha. Total dana yang ditransfer ke rekeningnya Rp 3,97 miliar.
"Transaksi mencurigakan itu tidak pernah kami bahas." (M. Assegaf, pengacara Susno, 24 Juni 2010)
6. Inspektur Jenderal Bambang Suparno, Staf pengajar di Sekolah Staf Perwira Tinggi Polri, Kekayaan: belum ada laporan
Tuduhan: Membeli polis asuransi dengan jumlah premi Rp 250 juta pada Mei 2006. Ada dana masuk senilai total Rp 11,4 miliar sepanjang Januari 2006 hingga Agustus 2007. Ia menarik dana Rp 3 miliar pada November 2006.
"Tidak ada masalah dengan transaksi itu. Itu terjadi saat saya masih di Aceh."
Bambang Suparno, 24 Juni 2010
Dan tadi pagi, saat saya terbangun, saya menerima berita, kantor majalah Tempo dilempari tiga bom molotov sekitar pukul 02.40 dini hari. Cukup sulit bagi saya untuk tidak mengaitkan peristiwa ini dengan berita di atas. Mulai main kasar rupanya....
Menurut saya, isinya bukanlah hal mengejutkan. Data yang dirilis Tempo adalah data dari laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Oleh Tempo, data itu kemudian dilengkapi dengan konfirmasi ke beberapa nama yang disebut memiliki rekening liar dengan isi yang tidak masuk akal. Mengapa tak masuk akal, karena jumlah itu sungguh tak sebanding dengan pendapatan perwira polisi yakni di bawah Rp 10 juta.
Sehingga agak mengherankan melihat reaksi polisi sedemikian keras sampai akan melaporkan Tempo secara pidana dan perdata. Tapi melihat isi laporan yang rasanya memang tak ada yang salah, polisi lalu mempermasalahkan covernya yang bergambar polisi menyeret tiga celengan babi. Katanya haram. Lha, celengan kok haram? Agama apa yang menyatakan celengan itu haram? Yang haram bukannya daging babi dan uang hasil korupsi? :p
Nah, berikut saya sarikan isi majalah Tempo soal rekening2 dan transaksi yang dicurigai PPATK itu.
1. Inspektur Jenderal Mathius Salempang, Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur, kekayaan: Rp 8,5 miliar dan US$ 59.842 (per 22 Mei 2009)
Tuduhan: memiliki rekening Rp 2,8 miliar dengan sumber dana tak jelas. Pada 29 Juli 2005, rekening itu ditutup dan Mathius memindahkan dana Rp 2 miliar ke rekening lain atas nama seseorang yang tidak diketahui hubungannya. Dua hari kemudian dana ditarik dan disetor ke deposito Mathius.
"Saya baru tahu dari Anda," begitu kata Mathius, 24 Juni 2010
2. Inspektur Jenderal Sylvanus Yulian Wenas, Kepala Korps Brigade Mobil Polri, kekayaan: Rp 6,5 miliar (per 25 Agustus 2005)
Tuduhan: Dari rekeningnya mengalir uang Rp 10.007 miliar, kepada orang yang mengaku sebagai Direktur PT Hinroyal Golden Wing. Terdiri atas Rp 3 miliar dan US$ 100 ribu pada 27 Juli 2005, US$ 670.031 pada 9 Agustus 2005.
"Dana itu bukan milik saya," kata Sylvanus, 24 Juni 2010
3. Inspektur Jenderal Budi Gunawan, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian, kekayaan: Rp 4,68 miliar (per 19 Agustus 2008)
Tuduhan: Melakukan transaksi dalam jumlah besar, tak sesuai dengan profilnya. Bersama anaknya, Budi disebutkan telah membuka rekening dan menyetor masing-masing Rp 29 miliar dan Rp 25 miliar.
"Berita itu sama sekali tidak benar," kata Budi, 25 Juni 2010
4. Inspektur Jenderal Badrodin Haiti, Kepala Divisi Pembinaan Hukum Kepolisian
Kekayaan: Rp 2,09 dan US$ 4.000 (per 24 Maret 2008)
Tuduhan: Membeli polis asuransi pada PT Prudential Life Assurance Rp 1,1 miliar. Asal dana dari pihak ketiga. Menarik dana Rp 700 juta dan menerima dana rutin setiap bulan.
"Itu sepenuhnya kewenangan Kepala Bareskrim," kata Badrodin, 24 Juni 2010
5. Komisaris Jenderal Susno Duadji, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal
Kekayaan: Rp 1,587 miliar (per 2008)
Tuduhan: Menerima kiriman dana dari seorang pengacara sekitar Rp 2,62 miliar dan kiriman dana dari seorang pengusaha. Total dana yang ditransfer ke rekeningnya Rp 3,97 miliar.
"Transaksi mencurigakan itu tidak pernah kami bahas." (M. Assegaf, pengacara Susno, 24 Juni 2010)
6. Inspektur Jenderal Bambang Suparno, Staf pengajar di Sekolah Staf Perwira Tinggi Polri, Kekayaan: belum ada laporan
Tuduhan: Membeli polis asuransi dengan jumlah premi Rp 250 juta pada Mei 2006. Ada dana masuk senilai total Rp 11,4 miliar sepanjang Januari 2006 hingga Agustus 2007. Ia menarik dana Rp 3 miliar pada November 2006.
"Tidak ada masalah dengan transaksi itu. Itu terjadi saat saya masih di Aceh."
Bambang Suparno, 24 Juni 2010
Dan tadi pagi, saat saya terbangun, saya menerima berita, kantor majalah Tempo dilempari tiga bom molotov sekitar pukul 02.40 dini hari. Cukup sulit bagi saya untuk tidak mengaitkan peristiwa ini dengan berita di atas. Mulai main kasar rupanya....
Kamis, 24 Juni 2010
Koalisi Polisi+FPI=Bangke!
Ada teroris lagi. Ada porno2an. Ada banyak kasus korupsi. Ada piala dunia. Ada ribut2 FPI di Banyuwangi. Tapi yang paling menarik perhatian polisi, dan semua turun tangan ke sana, adalah kasus video porno. Si pelaku ditangkap, diperiksa fisiknya, diukur2 (katanya). Tapi yang dijadiin tersangka cuma si artis ngetop. Dulu, pelaku, yang juga politisi dan kini perempuannya mencalonkan diri dalam pemilihan kepala daerah, ga diapa2in. Kasusnya tenggelam begitu saja. Alasan polisi: mereka ga ngetop.
Dulu, FPI juga ga segarang sekarang soal video porno. Mungkin karena dulu yang rame adalah kasus2 pejabat dan anggota sirkus senayan yang berkantor di gedung pantat. Mungkin bagi FPI, moral artis lebih penting dijaga ketimbang moral pejabat.
Saya setuju perzinahan adalah dosa. Tapi apakah itu kejahatan? Bukan. Pelakunya sama2 suka. Dosa dan kejahatan adalah dua hal berbeda. Semua kejahatan adalah dosa tapi tidak semua dosa adalah kejahatan. Dosa adalah urusan manusia dan Tuhan adalah hakimnya. Sementara kejahatan, ditangani antar manusia bernama polisi, jaksa, hakim.
FPI muncul memerangi orang yang mereka kira komunis. Mereka juga katanya memusuhi pelaku video porno dan bahkan mengancam akan menjemput paksa mereka untuk dipenjarakan. Tapi FPI tak pernah sekali pun bersuara, apalagi memprotes, orang yang korupsi. Membela korban lumpur panas lapindo? Huh, mimpi!
Daripada membela korban lapindo, FPI memilih membela Tuhan. Apakah mereka mau mengambil alih pekerjaan Tuhan, menghukum orang2 yang berdosa? Kenapa mereka ga menghukum ketuanya lebih dahulu karena menyimpan gambar porno di rumahnya?
Sementara polisi, juga hanya memilih menangani kasus yang kameranya banyak. Terorisme, iya. Kasus video porno artis, IYA BANGET! Ke mana mereka ketika kasus korupsi marak? Ya ngumpet, mereka kan terlibat juga. Ke mana mereka ketika ada ribut2 FPI? Mereka seperti polisi di film India, datang paling belakang, dan tidak melerai. Sekasar apapun tindakan FPI, polisi ga pernah menghukum mereka. Polisi pasti tau FPI salah. Tapi polisi takut sama FPI. Ia kan?
Dulu, FPI juga ga segarang sekarang soal video porno. Mungkin karena dulu yang rame adalah kasus2 pejabat dan anggota sirkus senayan yang berkantor di gedung pantat. Mungkin bagi FPI, moral artis lebih penting dijaga ketimbang moral pejabat.
Saya setuju perzinahan adalah dosa. Tapi apakah itu kejahatan? Bukan. Pelakunya sama2 suka. Dosa dan kejahatan adalah dua hal berbeda. Semua kejahatan adalah dosa tapi tidak semua dosa adalah kejahatan. Dosa adalah urusan manusia dan Tuhan adalah hakimnya. Sementara kejahatan, ditangani antar manusia bernama polisi, jaksa, hakim.
FPI muncul memerangi orang yang mereka kira komunis. Mereka juga katanya memusuhi pelaku video porno dan bahkan mengancam akan menjemput paksa mereka untuk dipenjarakan. Tapi FPI tak pernah sekali pun bersuara, apalagi memprotes, orang yang korupsi. Membela korban lumpur panas lapindo? Huh, mimpi!
Daripada membela korban lapindo, FPI memilih membela Tuhan. Apakah mereka mau mengambil alih pekerjaan Tuhan, menghukum orang2 yang berdosa? Kenapa mereka ga menghukum ketuanya lebih dahulu karena menyimpan gambar porno di rumahnya?
Sementara polisi, juga hanya memilih menangani kasus yang kameranya banyak. Terorisme, iya. Kasus video porno artis, IYA BANGET! Ke mana mereka ketika kasus korupsi marak? Ya ngumpet, mereka kan terlibat juga. Ke mana mereka ketika ada ribut2 FPI? Mereka seperti polisi di film India, datang paling belakang, dan tidak melerai. Sekasar apapun tindakan FPI, polisi ga pernah menghukum mereka. Polisi pasti tau FPI salah. Tapi polisi takut sama FPI. Ia kan?
Minggu, 13 Juni 2010
Kenapa saya percaya dana aspirasi bakal dipake membiayai Setgab?
Kalau ada tuduhan dana aspirasi akan digunakan untuk membiayai sekretariat gabungan bersama partai koalisi, itu sesuatu yang sangaaaat wajar dan masuk akal buat saya.
Kenapa?
Semua orang tentu tak akan lupa, bagaimana kelakuan orang2 dari partai kuning si bau tai ini, dan anggota dewan sirkus gedung pantat pada umumnya. Apapun bisa disulap agar terlihat masuk akal padahal masuk kantong sendiri.
Misalnya kasus Century. Kasus ini dibuat seolah ini sebuah dosa besar Sri Mulyani sehingga Sri Mulyani dituduh maling lalu mereka mengupayakan segala jalan agar menteri keuangan itu dicongkel. Di kemudian hari ketika Sri Mulyani benar2 hengkang ke Bank Dunia, mereka lalu ngomong: ya, kita berhasil menyingkirkan si kepala batu.
Contoh lain, dalam kasus lumpur panas milik si ketua partai. Berkat kepiawaian mereka2, kasus ini akhirnya ditangani pemerintah karena semburan lumpur panas berubah penyebabnya dari kelalaian pemilik menjadi musibah nasional. Enak banget, Lapindo merusak, rakyat yang bayar kerusakan yang terjadi (dari duit APBN, yang merupakan kumpulan pungutan pajak kita2 kan?)
Kalo ada tudingan, dana aspirasi ini dikoar-koarkan untuk nutupin berita kasus pajak, ya wajar dan ga ada salahnya juga. Dan saya percaya saja. Kasus penunggakan pajak ini udah dibelok2kan kemana-mana. Dilempar ke KPC padahal itu juga perusahaan Ical. Belakangan pengakuan Gayus ke penyidik bahwa dia memang dapet duit waktu ngurusin pajak perusahaan Ical, kayaknya memang sedang butuh isu lain untuk membengkokkan kabar ini.
Dipakailah isu dana aspirasi, Rp 15 miliar per anggota DPR per tahun. Heran juga, otak mereka di dengkul kali ya? Ga ngerti fungsi mereka duduk di lembaga legislatif, yang berarti ga megang duit untuk dana (alesannya) pembangunan. Itu kerjaan eksekutif, bodoh!
Ketika peluang mendapatkan dana ini menipis, partai kuning bau tai lalu meminta dana desa Rp 1 miliar per tahun. Ini akan jauh lebih mahal. Bener2 licik. Dan bodoh. Apa mereka ga tau kalo desa itu bagian dari struktur pemerintahan yang berarti mereka punya alokasi sendiri2? Kenapa Dewan sirkus yang ngurusin?
Kenapa?
Semua orang tentu tak akan lupa, bagaimana kelakuan orang2 dari partai kuning si bau tai ini, dan anggota dewan sirkus gedung pantat pada umumnya. Apapun bisa disulap agar terlihat masuk akal padahal masuk kantong sendiri.
Misalnya kasus Century. Kasus ini dibuat seolah ini sebuah dosa besar Sri Mulyani sehingga Sri Mulyani dituduh maling lalu mereka mengupayakan segala jalan agar menteri keuangan itu dicongkel. Di kemudian hari ketika Sri Mulyani benar2 hengkang ke Bank Dunia, mereka lalu ngomong: ya, kita berhasil menyingkirkan si kepala batu.
Contoh lain, dalam kasus lumpur panas milik si ketua partai. Berkat kepiawaian mereka2, kasus ini akhirnya ditangani pemerintah karena semburan lumpur panas berubah penyebabnya dari kelalaian pemilik menjadi musibah nasional. Enak banget, Lapindo merusak, rakyat yang bayar kerusakan yang terjadi (dari duit APBN, yang merupakan kumpulan pungutan pajak kita2 kan?)
Kalo ada tudingan, dana aspirasi ini dikoar-koarkan untuk nutupin berita kasus pajak, ya wajar dan ga ada salahnya juga. Dan saya percaya saja. Kasus penunggakan pajak ini udah dibelok2kan kemana-mana. Dilempar ke KPC padahal itu juga perusahaan Ical. Belakangan pengakuan Gayus ke penyidik bahwa dia memang dapet duit waktu ngurusin pajak perusahaan Ical, kayaknya memang sedang butuh isu lain untuk membengkokkan kabar ini.
Dipakailah isu dana aspirasi, Rp 15 miliar per anggota DPR per tahun. Heran juga, otak mereka di dengkul kali ya? Ga ngerti fungsi mereka duduk di lembaga legislatif, yang berarti ga megang duit untuk dana (alesannya) pembangunan. Itu kerjaan eksekutif, bodoh!
Ketika peluang mendapatkan dana ini menipis, partai kuning bau tai lalu meminta dana desa Rp 1 miliar per tahun. Ini akan jauh lebih mahal. Bener2 licik. Dan bodoh. Apa mereka ga tau kalo desa itu bagian dari struktur pemerintahan yang berarti mereka punya alokasi sendiri2? Kenapa Dewan sirkus yang ngurusin?
Rabu, 28 April 2010
Kalo Rita Aja Lolos, Kenapa Jupe dan Maria Eva Diributkan?
Semalem secara tak sengaja saya menyaksikan debat calon bupati di tvsatu. Kaget juga, sekelas pilkada aja bisa siaran langsung di tv nasional? Kaget juga ketika melihat iklannya, kok dukungan untuk salah satu kandidat, petinggi2 partai? Ngerti apa dengan kondisi daerah di sana?
Lebih kaget lagi waktu saya menyaksikan salah satu kandidatnya, OMG....dia kan, dia kan...? Tapi setelah melihat daerah yang menggelar siaran langsung dan tivi yang menyiarkan, saya segera mahfum. Oh, pantes!
Maaf maaf saja kalo saya sinis. Udah dari dulu saya begini. Sinis is my middle name, gitu istilah orang londo.
Sinis saya yang pertama: sekelas pilkada siaran langsung? Tapi segera pemakluman datang. Daerah penyelenggaranya adalah Kutai Kertanegara, daerah terkaya di Indonesia yang duit belanjanya Rp 3 triliun setahun. Wajar saja jika bisa menganggarkan Rp 2 miliar per desa per tahun. Apalagi jika cuma membayar siaran tivi Rp 250 juta untuk acara debat (menurut info temen saya di sana). Walopun jumlah orang miskin, sekolah rusak, juga tinggi di sana.
Sinis saya yang kedua: iklan dukungan petinggi partai. Ada AB! Ouh, makin mahfumlah saya kenapa tayangan ini ada di tv itu. Lalu ada AL, yang menteri itu. Ada W, mantan kandidat wapres. Ada uztad Zmz. Wow...taukah dia siapa yang sedang dia dukung dengan puji2annya itu? Geli rasanya.
Sinis saya yang ketiga: kandidat nomer enam itu pernah punya cerita heboh ketika video bokepnya beredar luas. Kalo ga salah, video itu terheboh setelah video Itenas. Sempat dilaporkan ke polisi karena katanya peredaran video itu disertai unsur pemerasan. Tapi tak jelas kelanjutannya. Si lelaki dalam video denger2nya kemungkinan besar sudah 'dilenyapkan'.
Bukan tak ada perlawanan ketika dia mencalonkan diri. Tapi semua bisa diredam dengan duit. Dan tidak sekali ini saja video itu dijadikan kampanye hitam bagi si calon. Ketika akan menjadi ketua organisasi sayap Golkar, ia juga dikecam. Jadi anggota DPRD juga dikecam. Apalagi ketika jadi calon bupati. Tapi akhirnya lolos juga dan bisa ikut berdebat semalem d tivi, mengenakan tutup kepala.
Jadi, kalo 'macam' dia saja lolos, kenapa harus meributkan Julia Perez alias Jupe dan Maria Eva? Bedanya cuma, Jupe lebih terkenal. Dan si calon di Kutai ini didukung para ketua partai. Didukung pula oleh Sultan di daerah itu. So, apalagi? Syaratnya cuma itu kan?
Oh iya, kabarnya, bapaknya si calon bupati itu, yang pernah bupati dua periode di sana (dan korupsi miliaran rupiah), sudah dikembalikan ke Kutai. Konon, setelah dirawat di RSPP, lalu ke Singapura, dia dikembalikan ke kampungnya karena menderita penyakit lupa, seperti Nunun. KPK sepertinya sama sekali tak berdaya dengan penyakit yang baru ngetren itu ya?
Lebih kaget lagi waktu saya menyaksikan salah satu kandidatnya, OMG....dia kan, dia kan...? Tapi setelah melihat daerah yang menggelar siaran langsung dan tivi yang menyiarkan, saya segera mahfum. Oh, pantes!
Maaf maaf saja kalo saya sinis. Udah dari dulu saya begini. Sinis is my middle name, gitu istilah orang londo.
Sinis saya yang pertama: sekelas pilkada siaran langsung? Tapi segera pemakluman datang. Daerah penyelenggaranya adalah Kutai Kertanegara, daerah terkaya di Indonesia yang duit belanjanya Rp 3 triliun setahun. Wajar saja jika bisa menganggarkan Rp 2 miliar per desa per tahun. Apalagi jika cuma membayar siaran tivi Rp 250 juta untuk acara debat (menurut info temen saya di sana). Walopun jumlah orang miskin, sekolah rusak, juga tinggi di sana.
Sinis saya yang kedua: iklan dukungan petinggi partai. Ada AB! Ouh, makin mahfumlah saya kenapa tayangan ini ada di tv itu. Lalu ada AL, yang menteri itu. Ada W, mantan kandidat wapres. Ada uztad Zmz. Wow...taukah dia siapa yang sedang dia dukung dengan puji2annya itu? Geli rasanya.
Sinis saya yang ketiga: kandidat nomer enam itu pernah punya cerita heboh ketika video bokepnya beredar luas. Kalo ga salah, video itu terheboh setelah video Itenas. Sempat dilaporkan ke polisi karena katanya peredaran video itu disertai unsur pemerasan. Tapi tak jelas kelanjutannya. Si lelaki dalam video denger2nya kemungkinan besar sudah 'dilenyapkan'.
Bukan tak ada perlawanan ketika dia mencalonkan diri. Tapi semua bisa diredam dengan duit. Dan tidak sekali ini saja video itu dijadikan kampanye hitam bagi si calon. Ketika akan menjadi ketua organisasi sayap Golkar, ia juga dikecam. Jadi anggota DPRD juga dikecam. Apalagi ketika jadi calon bupati. Tapi akhirnya lolos juga dan bisa ikut berdebat semalem d tivi, mengenakan tutup kepala.
Jadi, kalo 'macam' dia saja lolos, kenapa harus meributkan Julia Perez alias Jupe dan Maria Eva? Bedanya cuma, Jupe lebih terkenal. Dan si calon di Kutai ini didukung para ketua partai. Didukung pula oleh Sultan di daerah itu. So, apalagi? Syaratnya cuma itu kan?
Oh iya, kabarnya, bapaknya si calon bupati itu, yang pernah bupati dua periode di sana (dan korupsi miliaran rupiah), sudah dikembalikan ke Kutai. Konon, setelah dirawat di RSPP, lalu ke Singapura, dia dikembalikan ke kampungnya karena menderita penyakit lupa, seperti Nunun. KPK sepertinya sama sekali tak berdaya dengan penyakit yang baru ngetren itu ya?
Senin, 26 April 2010
bosen
Sudah berbulan-bulan saya tak menulis di sini. Di blog sana juga jarang. Header blog udah lama hilang. Saya ga inget gambar itu saya titip dimana. Eh, tepatnya ga tau cara nyarinya. Terlalu banyak kejadian penting yang saya lewatkan. Saya ga akan menyalahkan jejaring sosial sebagai tempat beraktifitas yang baru. Karena nyatanya di sana saya juga cuma pembaca, bukan pengguna aktif. Sesekali emang ngikutin obrolan terkini, kalo lagi mood.
Kasus bom, penjara Artalita, kasus korupsi, pajak, KPK, Pansus DPR, bencana, tuding menuding politisi, pengekangan kebebasan berpendapat dan beragama, isu perkotaan seperti kasus Tanjung Priok kemaren, pencalonan kepala daerah yang unik-unik dan ga banget. Banyaaak sekali kasus dan isu seksi sekaligus menyebalkan yang saya lewatkan.
Mungkin bosen, saking banyaknya. Mungkin mulai bermasa bodoh, karena tak ada hal yang kunjung berubah. Mungkin mulai tak peduli, tak peka, dan lebih memilih sibuk memikirkan diri sendiri? Kapan punya rumah? Kapan punya duit banyak supaya emak dan bapak bisa berangkat haji?
..... :|
Awal2 saya tak melirik blog ini sebenarnya juga sedikit banyak sempat dipengaruhi kasus ibu Prita. Ada ketakutan untuk menulis di sini. Apalagi blog ini isinya...ya gitu deh. Kalo dulu orang mungkin hanya akan mencaci saya di kolom komentar. Tapi sekarang? Bisa dibawa ke pengadilan. Saya benar2 terkekang, penuh ketakutan.
Saya ingat seseorang (atau dua tiga orang) yang dulu sedemikian bencinya pada saya akibat tulisan2 di blog ini. Walau pada akhirnya semua yang saya tulis terbuka satu per satu. Kasus jaksa, kasus pajak, kasus Bakrie. Saya ga tau bagaimana sikap mereka sekarang terhadap saya. Mungkin senang karena saya berhenti ngeblog. Atau mungkin tengah meratapi yang dipenjara. Atau sudah hidup aman di luar negeri.
Ga ada maksud apa2. Saya nulis postingan ini karena sedang bosen saja. Tak ada lagi blog yang asik dikunjungi. Jadi saya kembali ke sini. Bosen!
Kasus bom, penjara Artalita, kasus korupsi, pajak, KPK, Pansus DPR, bencana, tuding menuding politisi, pengekangan kebebasan berpendapat dan beragama, isu perkotaan seperti kasus Tanjung Priok kemaren, pencalonan kepala daerah yang unik-unik dan ga banget. Banyaaak sekali kasus dan isu seksi sekaligus menyebalkan yang saya lewatkan.
Mungkin bosen, saking banyaknya. Mungkin mulai bermasa bodoh, karena tak ada hal yang kunjung berubah. Mungkin mulai tak peduli, tak peka, dan lebih memilih sibuk memikirkan diri sendiri? Kapan punya rumah? Kapan punya duit banyak supaya emak dan bapak bisa berangkat haji?
..... :|
Awal2 saya tak melirik blog ini sebenarnya juga sedikit banyak sempat dipengaruhi kasus ibu Prita. Ada ketakutan untuk menulis di sini. Apalagi blog ini isinya...ya gitu deh. Kalo dulu orang mungkin hanya akan mencaci saya di kolom komentar. Tapi sekarang? Bisa dibawa ke pengadilan. Saya benar2 terkekang, penuh ketakutan.
Saya ingat seseorang (atau dua tiga orang) yang dulu sedemikian bencinya pada saya akibat tulisan2 di blog ini. Walau pada akhirnya semua yang saya tulis terbuka satu per satu. Kasus jaksa, kasus pajak, kasus Bakrie. Saya ga tau bagaimana sikap mereka sekarang terhadap saya. Mungkin senang karena saya berhenti ngeblog. Atau mungkin tengah meratapi yang dipenjara. Atau sudah hidup aman di luar negeri.
Ga ada maksud apa2. Saya nulis postingan ini karena sedang bosen saja. Tak ada lagi blog yang asik dikunjungi. Jadi saya kembali ke sini. Bosen!
Kamis, 31 Desember 2009
Indahnya Indonesia karena Gus Dur
"Kalau Kristen jangan kebarat-baratan, kalau Islam jangan kearab-araban"
Itu quote Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang paling saya suka. To the point, tanpa basa-basi. Dan saya tak ragu mengatakan saya pengikutnya khusus untuk soal pluralisme. Saya tak banyak memahami Gus Dur seperti orang yang mengatakan ia seorang yang plin plan dan kurang mampu atau ga cocok jadi presiden. Tak apa-apa, ia memang bukan presiden, ia lebih tepat menjadi guru bangsa. Dan konsistensinya pada pluralisme-lah yang ingin saya teladani.
Sederhana saja alasannya. Semua dari kita apapun warna kulitnya, apapun warna rambutnya, apapun agamanya, apapun sukunya, adalah mahluk ciptaan Tuhan, bukan buatan pabrik a atau b. Jadi kenapa harus dibedakan? Bukankah yang membedakan derajad seseorang di mata Tuhan hanya amal ibadahnya? Dan bukankah tak satu pun dari kita meminta dilahirkan sebagai si hitam, si putih, si Islam, si Budha, si Kristen, si Jawa, si Bugis, dan sebagainya?
Dan amal ibadah yang dicatat para malaikat bukanlah kesenangan saat mengebom gereja. Bukan pula kegembiraan ketika berhasil memukuli pengikut Ahmadiyah atau aliran yang berbeda dengan kita. Bukan juga senyuman saat telah melecehkan pemeluk agama Budha atau Hindu. Lebih-lebih bukan pula dengan kepongahan usai membantai kaum minoritas hanya karena mata sipitnya atau karena ia dianggap bukan penduduk lokal.
"Jauhi sikap fanatik dalam kekatolikan"
Sejalan dengan Gus Dur, Fransiscus Xaverius Seda atau Frans Seda pun punya semangat pluralisme. Ia selalu mengingatkan umat Katolik untuk menjauhi sikap fanatisme dalam menjadi pribadi yang 100 persen Indonesia dan 100 persen Katolik.
Bayangkan indahnya dunia jika umat meneladani sikap mereka. Selamat jalan Gus Dur, selamat jalan Frans Seda, semoga pintu surga dibukakan untukmu, amin!
Itu quote Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang paling saya suka. To the point, tanpa basa-basi. Dan saya tak ragu mengatakan saya pengikutnya khusus untuk soal pluralisme. Saya tak banyak memahami Gus Dur seperti orang yang mengatakan ia seorang yang plin plan dan kurang mampu atau ga cocok jadi presiden. Tak apa-apa, ia memang bukan presiden, ia lebih tepat menjadi guru bangsa. Dan konsistensinya pada pluralisme-lah yang ingin saya teladani.
Sederhana saja alasannya. Semua dari kita apapun warna kulitnya, apapun warna rambutnya, apapun agamanya, apapun sukunya, adalah mahluk ciptaan Tuhan, bukan buatan pabrik a atau b. Jadi kenapa harus dibedakan? Bukankah yang membedakan derajad seseorang di mata Tuhan hanya amal ibadahnya? Dan bukankah tak satu pun dari kita meminta dilahirkan sebagai si hitam, si putih, si Islam, si Budha, si Kristen, si Jawa, si Bugis, dan sebagainya?
Dan amal ibadah yang dicatat para malaikat bukanlah kesenangan saat mengebom gereja. Bukan pula kegembiraan ketika berhasil memukuli pengikut Ahmadiyah atau aliran yang berbeda dengan kita. Bukan juga senyuman saat telah melecehkan pemeluk agama Budha atau Hindu. Lebih-lebih bukan pula dengan kepongahan usai membantai kaum minoritas hanya karena mata sipitnya atau karena ia dianggap bukan penduduk lokal.
"Jauhi sikap fanatik dalam kekatolikan"
Sejalan dengan Gus Dur, Fransiscus Xaverius Seda atau Frans Seda pun punya semangat pluralisme. Ia selalu mengingatkan umat Katolik untuk menjauhi sikap fanatisme dalam menjadi pribadi yang 100 persen Indonesia dan 100 persen Katolik.
Bayangkan indahnya dunia jika umat meneladani sikap mereka. Selamat jalan Gus Dur, selamat jalan Frans Seda, semoga pintu surga dibukakan untukmu, amin!
Senin, 14 Desember 2009
mari menghitung koin keadilan

Waw...begitu terasa nikmatnya hidup saat saya bisa bertemu kasur empuk untuk meluruskan punggung malam ini. Rasanya, lelah seharian tadi langsung terbayar lunas begitu badan menyentuh kasur setelah mandi.
Hampir seharian tadi saya ikut menghitung koin keadilan, koin2 untuk kebebasan prita di jalan langsat, markasnya wetiga, dagdigdug, dan politikana.com. Saya ada di sana mulai sekitar pukul 11 sampai pukul 16.50. Lalu malem usai ikut pembubaran Panitia Pesta Blogger 2009 di es teler 77 jl Adityawarman, saya balik lagi menghitung koin sekitar sejam. Hasilnya, bisa memasukkan 5 juta ke lima plastik bersama beberapa orang. Sebelum ke sana tadi pagi, saya udah membawa perlengkapan sendiri misalnya pembersih tangan, sarung tangan plastik, masker, air minum, dan kamera. Hihihi...kamera ini masuk perlengkapan juga kan ya? Walopun akhirnya jarang saya pake karena sibuk memilah dan menghitung koin.
Saat berada di sana, rasanya hati ini bungah. Terharu melihat kebersamaan semua orang. Terharu melihat keping2 koin yang rasanya setiap keping itu memiliki ceritanya sendiri. Ada yang dibawa pemulung, ada yang dari celengan anak kecil, ada yang dari sisa belanjaan ibu-ibu. Maka tak heran jika segala bentuk koin ada di sini. Keping2 yang tak pernah saya lihat lagi ujudnya bahkan ada di sini. Dari koin 5 rupiah, 25 lama dan baru yg begitu keciiiil, 50 lama dan baru yang ukurannya ga beda jauh dari uang 25, lalu 100-an model lamaaa dan baru, 500 lama dan baru, koin 1000-an, beragam koin dari begitu banyak negara, dan terakhir koin untuk nge-game!
Para relawan juga datang dari berbagai latar belakang. Paling pagi jam 8 ada dua lelaki tua, pensiunan mulai terbungkuk2 memilah koin. Lalu ada 3 perempuan paruh baya dari salah satu panti asuhan di Jakarta Timur. Lalu saya, datang ngaku2 sebagai blogger (hihi...tapi belakangan bocor infonya: ternyata saya jurnalis yang menjadi relawan katanya. Ga jadi deh diwawancara tipi :p). Ada pula anak SD yang bolos les demi ikut neneknya ngitung koin. Lalu ada artis, mba Sita Nursanti (dari grup vokal Rida Sita Dewi, RSD) ikut jadi relawan. Hebat juga lho, dia bertahan dari jam 2-an sampe jam 21.30. Kami duduknya deketan lho, pulangnya juga bersamaan (huh, ngaku2, ga penting banget deh).
Sebelum jam 12 siang, ngitung koin rasanya lamaaa banget. Sekarung itu lama banget milah2nya, juga ngitungnya. Makin siang, makin sore, makin malem, wus wus gitu, tau2 dari 2 juta, trus 7 juta, 14 juta, 22 juta, 36 juta...pas malem saya mau pulang udah 70-an juta dan total koin seluruhnya yang udah terhitung dari posko lain udah lebih 300 juta! Sementara orang2 yang tak hadir di sana, tak ketinggalan menjadi relawan dengan mengirim makanan, minuman, kain, plastik pembungkus, menggratiskan pengiriman paket koin, dan sebagainya. Bagaimana hati saya tak bungah melihat semua itu?
Bayangkan, begitu banyak orang baik di negeri ini, begitu banyak orang yang ikut berharap perbaikan hukum di negeri ini. Misalkan 1 rupiah = 1 orang, maka ada 300 juta orang baik di negeri ini, ada 300 juta orang berharap keadilan di negeri ini. Malu aja pemerintahnya kalo ga menyadari itu!
Kalo besok masih diberi kekuatan, saya ingin ke langsat lagi. :)
Jumat, 04 Desember 2009
Koin untuk Bebaskan Prita

Menurut berita di tempointeraktif.com, kasus perdata Prita Mulyasari ternyata sudah diputuskan sejak 8 September lalu oleh pengadilan tinggi Banten. Sudah lama ternyata. Dan kita tak pernah tau. Mungkin pula karena perhatian kita tersedot kasus cicak vs buaya. Keputusan yang memenangkan rumah sakit Omni itu diterima pengadilan negeri Tangerang bulan berikutnya, Oktober. Prita diwajibkan membayar kerugian materil dan immateril sebesar 204 juta rupiah. Rinciannya: kerugian materil kepada rs Omni 164 juta, immateril 40 juta, ke PT Sarana Mediatama Intl 20 juta, dr Hengky dan dr Grace masing2 10 juta. Keputusan itu menguatkan putusan pengadilan negeri Tangerang sebelumnya yang memutuskan Prita bersalah dan harus bayar 300 juta.
Ini tidak hanya mengagetkan Prita Mulyasari tapi juga kita semua. Belum hilang dari ingatan bagaimana nasib dua anaknya ketika ia dipenjara selama tiga pekan. Bagaimana kerugian yang dia alami karena berobat tapi bukan kesembuhan yang didapat malah penyakit baru dan tuntutan baru. Kini ia harus membayar sekian ratus juta untuk ganti rugi karena ia mengeluh!
Kenapa tak pernah dibalik ya? Kenapa konsumen tak pernah diperlakukan sebagai raja seperti kata pepatah? Seharusnya yang berlaku adalah: bersiaplah diprotes jika sebagai penyedia jasa anda tak mampu memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan. Jika tak siap dengan pelayanan yang baik, jangan marah ketika diprotes. Bukan malah memenjarakan konsumen yang hanya bertanya, lalu mengeluh atas kualitas pelayanan yang didapatnya, karena ia telah membayar sejumlah uang untuk mendapat pelayanan itu.
Bagaimana pun, kasus Prita ini bisa menimpa siapapun dari kita. Sering secara tak sadar kita ngomel2 bahkan menyumpahi para penyedia layanan misalnya jasa komunikasi dan internet. Nyaris setiap hari kita melihat celaan demikian di ranah internet ini saat layanannya ngadat, lamban, dan sebagainya. Adalah hal wajar keluhan diajukan, terlebih bila kita sebagai konsumen telah memenuhi kewajiban misalnya membayar jasa itu tiap bulan. Wajar kita meminta imbal balik atas bayaran itu.
Mewajibkan konsumen seperti Prita membayar Rp 204 juta atas keluhannya terhadap penyedia jasa, dimana adilnya? Kira2 setelah itu apa yang akan didapat pihak penggugat? Ok, terlalu banyak pertanyaan tentang rasa keadilan yang akan muncul nanti.
Saya hanya ingin meneruskan pesan dari para pihak yang bersimpati pada kasus Prita ini. Mulai nanti malam, Jumat, 4 Desember 2009, dibuka celengan koin untuk disumbangkan ke Prita Mulyasari. Tempatnya di wetiga, jl Langsat, markasnya politikana.com atau ngerumpi.com. Celengan ini akan dibuka hingga ada keputusan dari Mahkamah Agung atas kasasi yang diajukan kuasa hukum Prita.
Beberapa pihak telah memberikan sumbangan. Seperti kata @pamantyo di twitter, Fahmi Idris menyumbang Rp 102 juta dan DPD menyumbang Rp 50 juta. Sisanya 52 juta mungkin bisa dikumpulkan dari koin2 yang kita punya.
Mengapa harus koin? Menurut @pamantyo, harus koin agar lebih berat dan akan membuat malu pihak penggugat dan pengambil keputusan proses hukum ini.
Tapi menurut saya, dengan koin, rasa solidaritas akan terlihat nyata dari semua orang, semua lapisan masyarakat. Demi rasa keadilan, orang2 yang hanya punya receh pun bisa ikut menyumbang.
Saya meneruskan pesan ini bukan agar dianggap aktivis. Aksi mengumpulkan koin ini juga bukan untuk cari sensasi. Saya bersimpati dan berempati pada kasus Prita karena hal yang sama bisa menimpa saya, anda, atau siapapun. Saya berpartisipasi demi rasa keadilan. Saya tergerak untuk ikut karena saya juga adalah konsumen. Saya ikut karena saya juga tak ingin kebebasan saya untuk berpendapat sedikit sedikit dikebiri oleh undang2 salah kaprah bernama Informasi dan Transaksi Elektronik yang seharusnya bernama UU Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik. Saatnya pasal karet dalam UU ini dihapuskan dan UU Keterbukaan Informasi Publik harus digalakkan.
Kamis, 19 November 2009
Begini Hebatnya Dongeng Hukum di Negerimu
Saya, warga negara yang ga ngerti hukum. Tapi melihat beberapa peristiwa belakangan ini, saya sungguh prihatin. Walopun ga ngerti, saya merasakan begitu banyak ketidakadilan yang terjadi. Dan rasanya pengen ngomel2 melihat berita-berita ini....
Prita Mulyasari dituntut enam bulan penjara
Padahal menurut saya, si ibu dua anak kecil ini hanya mengeluhkan pelayanan rumah sakit. Apa salah orang ngeluh menuntut pelayanan yang baik setelah dia memenuhi kewajiban membayar mahal pihak penyedia jasa? Menurut saya sih, seharusnya malah pihak penyedia jasa itulah yang minta maaf ke ibu Prita karena pelayanannya tidak maksimal kepada konsumennya. Bukan malah nuntut dan memenjarakan orang. Akan jadi apa semua warga negeri ini kalo ngeluh saja dienjarakan. Sementara koruptor dibiarkan bebas, lepas, dan malah berbalik menjadi pihak yang disegani, disembah duit haramnya.
Aguswandi dituntut penjara karena tuduhan pencurian listrik
Hanya karena dia ngecas hp di gang apartemen trus dikenai hukuman karena dituduh mencuri. Padahal itu bagian dari rumahnya sendiri, yang disewanya sendiri (termasuk fasilitas listriknya). Tapi ia justru dilaporkan oleh orang yang dibayar oleh penghuni apartemen untuk mengurusi apartemen itu. Kok semua serba terbalik ya? Bukannya seharusnya penyedia jasa berkewajiban memberikan layanan paripurna kepada pelanggan?
Kho Seng Seng jadi tersangka pencemaran nama baik
Dia dihukum karena menulis surat pembaca dan mengeluhkan penyedia jasa tempatnya berusaha. Belakangan dia kembali dijadikan tersangka karena mengomentari nama seorang calon anggota legislatif DPRD DKI di sebuah blog. Di sana Kho mengungkapkan kekhawatirannya jika calon ini terpilih maka dia hanya akan membela kepentingannya sendiri, bukan kepentingan rakyat yang diwakilinya. Bukankah begini seharusnya sikap seorang warga? Ikut mengawasi calon-calon wakilnya? Hmmm...salah ya?
Seorang nenek di Purwokerto dituntut penjara 1,5 bulan
Dia dituduh nyolong buah kakao dari perkebunan. Dalam dakwaan, tiga biji kakao itu disebut tiga kilogram! Dan si nenek yang tampil tanpa pengacara dan melakukan pembelaan atas dirinya sendiri itu bersumpah tak melakukan hal yang dituduhkan. Tapi jaksa tetap menuntutnya dengan penjara 1,5 bulan. Taik!
Saya, yang buta hukum ini, sungguh tidak mengerti bagaimana proses hukum dijalankan. Nenek dituduh nyolong kakao tiga biji langsung dituntut 1,5 bulan penjara. Sementara Anggodo, yang jelas2 mengaku di depan publik, dalam wawancaranya di tv-one setelah sidang di MK itu, telah berusaha menyuap aparat, ga diapa2in. Bukankah hukumnya sudah jelas? Tapi dia tetap bebas melenggang kangkung. Malah dia melapor telah dicemarkan nama baiknya. OMG!
Dan barusan, dua pimpinan koran nasional dipanggil polisi. Mereka, pimpinan Kompas dan Sindo, diminta menunjuk wartawan yang mengetahui tentang pemberitaan rekaman pembicaraan telepon Anggodo yang telah diperdengarkan di Mahkamah Konstitusi itu.
Astaganagaaaa...hebat bener kekuasaan orang ini!
Prita Mulyasari dituntut enam bulan penjara
Padahal menurut saya, si ibu dua anak kecil ini hanya mengeluhkan pelayanan rumah sakit. Apa salah orang ngeluh menuntut pelayanan yang baik setelah dia memenuhi kewajiban membayar mahal pihak penyedia jasa? Menurut saya sih, seharusnya malah pihak penyedia jasa itulah yang minta maaf ke ibu Prita karena pelayanannya tidak maksimal kepada konsumennya. Bukan malah nuntut dan memenjarakan orang. Akan jadi apa semua warga negeri ini kalo ngeluh saja dienjarakan. Sementara koruptor dibiarkan bebas, lepas, dan malah berbalik menjadi pihak yang disegani, disembah duit haramnya.
Aguswandi dituntut penjara karena tuduhan pencurian listrik
Hanya karena dia ngecas hp di gang apartemen trus dikenai hukuman karena dituduh mencuri. Padahal itu bagian dari rumahnya sendiri, yang disewanya sendiri (termasuk fasilitas listriknya). Tapi ia justru dilaporkan oleh orang yang dibayar oleh penghuni apartemen untuk mengurusi apartemen itu. Kok semua serba terbalik ya? Bukannya seharusnya penyedia jasa berkewajiban memberikan layanan paripurna kepada pelanggan?
Kho Seng Seng jadi tersangka pencemaran nama baik
Dia dihukum karena menulis surat pembaca dan mengeluhkan penyedia jasa tempatnya berusaha. Belakangan dia kembali dijadikan tersangka karena mengomentari nama seorang calon anggota legislatif DPRD DKI di sebuah blog. Di sana Kho mengungkapkan kekhawatirannya jika calon ini terpilih maka dia hanya akan membela kepentingannya sendiri, bukan kepentingan rakyat yang diwakilinya. Bukankah begini seharusnya sikap seorang warga? Ikut mengawasi calon-calon wakilnya? Hmmm...salah ya?
Seorang nenek di Purwokerto dituntut penjara 1,5 bulan
Dia dituduh nyolong buah kakao dari perkebunan. Dalam dakwaan, tiga biji kakao itu disebut tiga kilogram! Dan si nenek yang tampil tanpa pengacara dan melakukan pembelaan atas dirinya sendiri itu bersumpah tak melakukan hal yang dituduhkan. Tapi jaksa tetap menuntutnya dengan penjara 1,5 bulan. Taik!
Saya, yang buta hukum ini, sungguh tidak mengerti bagaimana proses hukum dijalankan. Nenek dituduh nyolong kakao tiga biji langsung dituntut 1,5 bulan penjara. Sementara Anggodo, yang jelas2 mengaku di depan publik, dalam wawancaranya di tv-one setelah sidang di MK itu, telah berusaha menyuap aparat, ga diapa2in. Bukankah hukumnya sudah jelas? Tapi dia tetap bebas melenggang kangkung. Malah dia melapor telah dicemarkan nama baiknya. OMG!
Dan barusan, dua pimpinan koran nasional dipanggil polisi. Mereka, pimpinan Kompas dan Sindo, diminta menunjuk wartawan yang mengetahui tentang pemberitaan rekaman pembicaraan telepon Anggodo yang telah diperdengarkan di Mahkamah Konstitusi itu.
Astaganagaaaa...hebat bener kekuasaan orang ini!
Kamis, 12 November 2009
Yang Mulia, Mari Saya Ingatkan Beberapa Hal

Belum genap 100 hari setelah resmi pemerintahan negeri antahberantah ini berjalan. Dan melihat hiruk pikuk sandiwara penegakan hukum di negeri antahberantah akhir-akhir ini yang kian memanas dari hari ke hari....
Mari, yang mulia, saya ingatkan beberapa peristiwa...
Dulu seorang petinggi partai hijau dilaporkan oleh yang mulia ke polisi karena dianggap mencemarkan nama baik saat ribut2 soal poligami. Namun saat sekarang yang mulia disebut2 dalam rekaman pembicaraan dengan tikus dan dianggap mendukung sebuah konspirasi, malah didiamkan saja. Ah, mungkin dia lebih terusik dikira berpoligami daripada dikira korupsi.
Kalo anda diam, Mister, orang2 akan makin mempersepsikan bahwa anda terlibat. Atau...karena ini soal Bank yang mirip toko obat itu emang emmm...katanya nyumbang dana kampanye engggg...atau emmppphh... ah, sudahlah!
Lalu ingatkah Tuan pada iklan2 di radio, televisi dan media cetak menjelang pemilu lalu yang bunyinya membentak2 ngomong: Tidak! Tidaaaakkk! TIDAK! Itu? Ya, itu iklannya, KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI?
Lalu bagaimana orang2 di gedung sirkus Senayan sana saat ini yang juga muncul dalam iklan membentak2 ngomong TIDAK itu? Cih! Sama aja. Dari Ketua sampe kroco di Kamar ketiga. Mungkin saking takutnya diapa2in karena disana memang jadi sarang tikus, mereka melakukan beberapa hal yang nunjukin ketololan.
Pertama, si ketua membatalkan dua rapat dengar pendapat antara departemen dalam kamar. Salah satunya karena rapat dengar pendapat itu akan menghdirkan menteri pencegah kesakitan yang baru. Apa harus begitu? Mereka itu anggota dewan atau menteri yg harus berada di bawah komando yang mulia atau petinggi partai?
Ketololan kedua saat rapat dengar pendapat dengan Buaya. Saat warga negara ramai2 mengecam buaya dan mendukung cicak, mereka malah menjilat2 buaya. Hhh.... pertunjukan malam hari yang memuakkan.
Lalu ketiga, saat ribut2 soal hak angket bank yang mirip toko obat itu, ada yang mencak2, marah2, mengira yang mulia akan digulingkan dari jabatannya. Ketua lembaga paling tinggi tau2 tereak membersihkan diri dan bilang: "Yang bikin hak angket itu partai Kuning. Partai Merah cuma ikut2an aja."
Lho lho....takut amat yak diturunkan dari jabatan ketua :)) preeet dah!
Mari saya ingatkan lagi pidato yang mulia pada suatu hari di bulan Juni lalu. Ketika itu tepatnya 24 Juni 2009, yang mulia menilai Cicak menjadi superbody. “Terkait KPK, saya wanti-wanti benar, power must not go unchechked. KPK ini sudh powerholder yang luar biasa. Pertanggungjawabannya hanya kepada Allah. Hati-hati.”
Nah, yang mulia, saya sudah mengingatkan beberapa poin.
Dan para jelata, sebelum meledakkan amarah, coba diingat-ingat lagi sekarang, siapa orang yang kamu pilih saat pemilu lalu?
Kamis, 05 November 2009
Inilah Negeri yang Dikendalikan dari HP Bedebah
Hari-hari ini, konstalasi politik kian panas di negeri antahberantah. Apalagi sejak diperdengarkan rekaman telepon yang disadap di gedung berkubah. Mendengar isi rekaman itu, rasanya tak cukup dengan hanya mengatakan ini adalah buah persekongkolan para bedebah seperti judul Koran Tempo, Rabu (4/11).
Apalagi setelah menyimak isi rekamannya. Menjijikkan! Sangat jelas terlihat betapa penegakan hukum bisa sangat tergantung pada satu pengendali bernama DUIT dan semuanya bisa diselesaikan lewat telepon si pemilik modal bedebah itu! Bayangkan, penegakan hukum dikendalikan hanya seorang tua itu dari telponnya!
Anggodo dihubungi seorang pria:
23 Juli 2009, jam 19.29.45
Male : Kowe wis ketemu Truno? (sebutan untuk petinggi Polri di Jalan Trunojoyo) >>> kamu sudah ketemu Truno?
AGD : Wis mambengi (sudah tadi malam)
Male : Si Mursidin gelem? (mau?)
AGD : Yo tetep to (ya tetep)
Male : Rencana operasine (oeprasinya) kapan?
AGD : Apa?
Male : Rencana operasine (operasinya) kapan?
AGD : Pokoke berkase iki keto'ane dileboke ning nggone Ritonga minggu iki (pokoknya berkas ini kelihatannya dimasukkan ke tenpat Ritonga minggu ini)
Male : He eh
AGD : Trus balik kene, trus action (terus kembali ke sini, terus beraksi)
Male : Nek..Nek RI-1 durung? (kalau...kalau RI 1 belum?)
AGD : Wis..wis.. (sudah...sudah)
Male : Katane mo maju RI-1 sik (katanya mau maju RI 1 dulu?)
AGD : Sik..sik.., aku je nyocokno tanggal (nanti nanti, saya sedang mencocokkan tanggal)
Anggodo dihubungi seorang pria.
24 Juli 2009, pukul 12:25:27
AGD : Yo pokoke saiki berita acarane kene dikompliti ngono loh (ya sekarang berita acaranya dilengkapi gitu lho)
Male : He eh
AGD : Wis gandeng karo Ritonga kok dek’e. Janjine paling lambat Senen ambek Ritonga (Dia sudah menggandeng Ritonga kok. Janjinya paling lambat Senin k Ritonga)
Male : Senen opo?
AGD : Janjine ambek Ritonga (janjinya ke Ritonga)
Male : He eh
AGD : Sik final gelar iku sama Kejaksaan lagi terakhir Sela...Senin (Sebentar, gelar final bersama Kejaksaan yang terakhir itu Sela...Senin)
Male : Oooo, yo, yo, yo, sambil ngenteni surate RI-1 to nek? (Ooo ya ya, sambil nunggu surat RI 1 ya?)
AGD : Tak kiro kok wis nggak (saya kira sudah tidak)
Male : Lah, kon takok'o Truno 3 to.. masih perlu (Lah, kamu bertanyalah kepada Truno 3...masih perlu)
Anggodo dengan Yuliana
06 Agustus 2009, pukul 20.14.36
AGD : Trus, iku surat pencekalane gak diakoni karo KPK? (trus itu surat pencekalannya tidak diakui KPK?)
Y : Iyo, tapi ditakoni tandatangane nde sopo? Iya toh, ndeke ora njawab, modele bajingan kabeh yang, Chandra yang.. Wis blesno wae yang, ojo ragu-ragu. Pak Ritonga maeng SMS aku, rasane de'e besok pijet aku (Ya, tapi ditanyakan tanda tangannya kepada siapa? Ya kan? Dia tidak menjawab. Dasar bajingan semua, yang, Chandra yang. Sudah, jebloskan saja yang, jangan ragu-ragu. Pak Ritong tadi SMS saya. Kayaknya dia besok akan pijat bersama saya)
AGD : Terus ngomonge yok apa dek'e? (Terus apa omongannya?)
Y : Pak Ritonga mau SMS dek'e leg dino iki gak iso, besok ngono (Pak Ritonga tadi SMS bahwa dia hari ini tidak bisa. Besok mungkin)
Y : Wis maeng aku telpon, Pak gimana? Udah bagus to sekarang itu, lihat kacau semua itu, jare ngono (Tadi saya sudah telpon, Pak, bagaimana? Sudah bagus kan sekarang, lihat, kacau semua itu, begitu katanya)
AGD : Mosok ngomong ngono (masak bicara begitu)
Y : Iyo, ngomong ngono (iya ngomong gitu)
AGD : Terus
Y : Nanti besok aja cerita ya, jangan di sini ya? Ngono, bagus jere.. Pokok'e saiki memang Pak Rito, mati tak telpon. Pokoke bilang Anggodo suruh crita semuanya, ngerti, tahu gak? Karena ini, kali gak gitu, mati sendiri, ngerti gak? Polane saiki Pak iku SBY mendukung. Ngerti? SBY tuh dukung Ritonga loh, de'a loh, ngerti? (Nanti besok aja cerita ya. Jangan di sini ya. Itu bagus. Pokoknya sekarang memang Pak Rito tidak isa ditelepon. Pokoknya bilang Anggodo disuruh bercerita semuanya, ngerti? Karna ini, kali ini tak begitu, mati sendiri, ngerti? Polanya sekarang Pak itu...SBY mendukung. Ngerti? SBY tuh mendukung Ritonga. Dia disuruh bercerita semuanya. Ngerti?)
AGD : Nah, terus?
Y : Sak jam tak telpon aku ngomong, heh, opo, wis pokoke Anggodo. Anggodo he bilang Pak Anggodo, ya, omong seadanya, yang betul, ngerti? Kalo ga gitu, nanti bisa mati. Kita yang mati nanti, ngomong ngono, ambek aku ngono, persis iki omonganku. Oya, Pak, terus gimana, Pak? Ya, pokoknya bilang, ngomong. Eh, pokoknya ngomong sing betul, Ya, kalo ndak gitu nanti kita yang mati, ini Pak SBY ngerti, SBY itu mendukung kita, ngerti? Loh, wis toh, wis ngono tok dek'e ngomong
Ckckckck...jago kan? Bahkan orang tertinggi di negeri antahberantah ini juga disebut memberi dukungan penuh. Apa artinya ini? Berarti, terlibat?
Lalu, mari kita lihat soal bayaran untuk pengacara, jatah untuk polisi dan jaksa. Semuaya bisa selesai dengan uang!!! Ada pembagian jatah, woy!
Anggodo dengan Alex, pengacara Anggoro
19 September, pukul 19.54.12
AGD : Pembagian terakhirnya khan berapa lu? Berdua berapa, 5 M khan?
Alex : O, yang itu maksudnya, yang pos..pos anggaran
AGD : Ya, gua ngak tau krite..menurut gua pikir-pikir dia..mungkin maksudnya itu lu borong itu sama Bonaran
Alex : Maksudnya borong gimana, Pak?
AGD : Polisi lu yang kasih, jaksa lu yang kasih
Alex : O..ndak...ndak...ndak..ndak...sudah bicara kok..
Dan ini yang lebih ngeri. Rencana Chandra di-Munir-kan. Menurut saya, ini bukan sekedar obrolan antar dua orang tapi memang ada ancaman pembunuhan. Jadi, makin heranlah saya kalo dibilang si cukong tak kunjung ditemukan kesalahannya hanya karena dia cuma ngobrol2 di telepon. Cih!!!
Anggodo dengan seorang pria
16 September 2009, pukul 18.52.26
AGD : Ooo yo wis, wis telung wulan gak makan enak dino iki ate mangan enak (oo ya sudah, sudah tiga bulan tak makan enak, hari ini mau makan enak)
Male : Ooo siap bos siap bos
AGD : Soale aku mari antem-anteman karo Alex ndek kene (Soalnya aku baru saja berkelahi dengan Alex di sini)
Male : Hahahaha
AGD : Ternyata Truno tiga komitmen-nya tinggi sama saya
Male : Oo gitu, bos, ya
AGD : Lha kan wis mlebu bos wingi (Lha kan sudah masuk Bos kemarin)
Male : Iyo?
AGD : Gak dilebokno tapi wis ndek SK (Tidak dimasukkan tapi sudah ada di SK)
Male : Ooo siap, siap bos
Anggodo : Saiki non aktif, tapi katut koncone kene sithuk (sekarang non aktif tapi temannya ikut kena satu)
Male : Pak Ade
AGD : Dudu
Male : Sopo?
AGD : Bibit
Male : Oo itu tetep kenek? (Oo, itu tetep kena)
AGD : Yo wee, ilek iku kan ijek konco kene bos (Ya sudah, ingatkan, itu kan masih teman sendiri bos)
Male : Ooo gitu
AGD : Tapi lek sing sithuk Chandra sesuk dilebokno, malah tak pateni ndek njero kok (Tapi kalau teman yang satunya, Chandra besok dijebloskan. Malah akan kubunuh di dalam kok)
Akan jadi apa negeri ini? :(
Apalagi setelah menyimak isi rekamannya. Menjijikkan! Sangat jelas terlihat betapa penegakan hukum bisa sangat tergantung pada satu pengendali bernama DUIT dan semuanya bisa diselesaikan lewat telepon si pemilik modal bedebah itu! Bayangkan, penegakan hukum dikendalikan hanya seorang tua itu dari telponnya!
Anggodo dihubungi seorang pria:
23 Juli 2009, jam 19.29.45
Male : Kowe wis ketemu Truno? (sebutan untuk petinggi Polri di Jalan Trunojoyo) >>> kamu sudah ketemu Truno?
AGD : Wis mambengi (sudah tadi malam)
Male : Si Mursidin gelem? (mau?)
AGD : Yo tetep to (ya tetep)
Male : Rencana operasine (oeprasinya) kapan?
AGD : Apa?
Male : Rencana operasine (operasinya) kapan?
AGD : Pokoke berkase iki keto'ane dileboke ning nggone Ritonga minggu iki (pokoknya berkas ini kelihatannya dimasukkan ke tenpat Ritonga minggu ini)
Male : He eh
AGD : Trus balik kene, trus action (terus kembali ke sini, terus beraksi)
Male : Nek..Nek RI-1 durung? (kalau...kalau RI 1 belum?)
AGD : Wis..wis.. (sudah...sudah)
Male : Katane mo maju RI-1 sik (katanya mau maju RI 1 dulu?)
AGD : Sik..sik.., aku je nyocokno tanggal (nanti nanti, saya sedang mencocokkan tanggal)
Anggodo dihubungi seorang pria.
24 Juli 2009, pukul 12:25:27
AGD : Yo pokoke saiki berita acarane kene dikompliti ngono loh (ya sekarang berita acaranya dilengkapi gitu lho)
Male : He eh
AGD : Wis gandeng karo Ritonga kok dek’e. Janjine paling lambat Senen ambek Ritonga (Dia sudah menggandeng Ritonga kok. Janjinya paling lambat Senin k Ritonga)
Male : Senen opo?
AGD : Janjine ambek Ritonga (janjinya ke Ritonga)
Male : He eh
AGD : Sik final gelar iku sama Kejaksaan lagi terakhir Sela...Senin (Sebentar, gelar final bersama Kejaksaan yang terakhir itu Sela...Senin)
Male : Oooo, yo, yo, yo, sambil ngenteni surate RI-1 to nek? (Ooo ya ya, sambil nunggu surat RI 1 ya?)
AGD : Tak kiro kok wis nggak (saya kira sudah tidak)
Male : Lah, kon takok'o Truno 3 to.. masih perlu (Lah, kamu bertanyalah kepada Truno 3...masih perlu)
Anggodo dengan Yuliana
06 Agustus 2009, pukul 20.14.36
AGD : Trus, iku surat pencekalane gak diakoni karo KPK? (trus itu surat pencekalannya tidak diakui KPK?)
Y : Iyo, tapi ditakoni tandatangane nde sopo? Iya toh, ndeke ora njawab, modele bajingan kabeh yang, Chandra yang.. Wis blesno wae yang, ojo ragu-ragu. Pak Ritonga maeng SMS aku, rasane de'e besok pijet aku (Ya, tapi ditanyakan tanda tangannya kepada siapa? Ya kan? Dia tidak menjawab. Dasar bajingan semua, yang, Chandra yang. Sudah, jebloskan saja yang, jangan ragu-ragu. Pak Ritong tadi SMS saya. Kayaknya dia besok akan pijat bersama saya)
AGD : Terus ngomonge yok apa dek'e? (Terus apa omongannya?)
Y : Pak Ritonga mau SMS dek'e leg dino iki gak iso, besok ngono (Pak Ritonga tadi SMS bahwa dia hari ini tidak bisa. Besok mungkin)
Y : Wis maeng aku telpon, Pak gimana? Udah bagus to sekarang itu, lihat kacau semua itu, jare ngono (Tadi saya sudah telpon, Pak, bagaimana? Sudah bagus kan sekarang, lihat, kacau semua itu, begitu katanya)
AGD : Mosok ngomong ngono (masak bicara begitu)
Y : Iyo, ngomong ngono (iya ngomong gitu)
AGD : Terus
Y : Nanti besok aja cerita ya, jangan di sini ya? Ngono, bagus jere.. Pokok'e saiki memang Pak Rito, mati tak telpon. Pokoke bilang Anggodo suruh crita semuanya, ngerti, tahu gak? Karena ini, kali gak gitu, mati sendiri, ngerti gak? Polane saiki Pak iku SBY mendukung. Ngerti? SBY tuh dukung Ritonga loh, de'a loh, ngerti? (Nanti besok aja cerita ya. Jangan di sini ya. Itu bagus. Pokoknya sekarang memang Pak Rito tidak isa ditelepon. Pokoknya bilang Anggodo disuruh bercerita semuanya, ngerti? Karna ini, kali ini tak begitu, mati sendiri, ngerti? Polanya sekarang Pak itu...SBY mendukung. Ngerti? SBY tuh mendukung Ritonga. Dia disuruh bercerita semuanya. Ngerti?)
AGD : Nah, terus?
Y : Sak jam tak telpon aku ngomong, heh, opo, wis pokoke Anggodo. Anggodo he bilang Pak Anggodo, ya, omong seadanya, yang betul, ngerti? Kalo ga gitu, nanti bisa mati. Kita yang mati nanti, ngomong ngono, ambek aku ngono, persis iki omonganku. Oya, Pak, terus gimana, Pak? Ya, pokoknya bilang, ngomong. Eh, pokoknya ngomong sing betul, Ya, kalo ndak gitu nanti kita yang mati, ini Pak SBY ngerti, SBY itu mendukung kita, ngerti? Loh, wis toh, wis ngono tok dek'e ngomong
Ckckckck...jago kan? Bahkan orang tertinggi di negeri antahberantah ini juga disebut memberi dukungan penuh. Apa artinya ini? Berarti, terlibat?
Lalu, mari kita lihat soal bayaran untuk pengacara, jatah untuk polisi dan jaksa. Semuaya bisa selesai dengan uang!!! Ada pembagian jatah, woy!
Anggodo dengan Alex, pengacara Anggoro
19 September, pukul 19.54.12
AGD : Pembagian terakhirnya khan berapa lu? Berdua berapa, 5 M khan?
Alex : O, yang itu maksudnya, yang pos..pos anggaran
AGD : Ya, gua ngak tau krite..menurut gua pikir-pikir dia..mungkin maksudnya itu lu borong itu sama Bonaran
Alex : Maksudnya borong gimana, Pak?
AGD : Polisi lu yang kasih, jaksa lu yang kasih
Alex : O..ndak...ndak...ndak..ndak...sudah bicara kok..
Dan ini yang lebih ngeri. Rencana Chandra di-Munir-kan. Menurut saya, ini bukan sekedar obrolan antar dua orang tapi memang ada ancaman pembunuhan. Jadi, makin heranlah saya kalo dibilang si cukong tak kunjung ditemukan kesalahannya hanya karena dia cuma ngobrol2 di telepon. Cih!!!
Anggodo dengan seorang pria
16 September 2009, pukul 18.52.26
AGD : Ooo yo wis, wis telung wulan gak makan enak dino iki ate mangan enak (oo ya sudah, sudah tiga bulan tak makan enak, hari ini mau makan enak)
Male : Ooo siap bos siap bos
AGD : Soale aku mari antem-anteman karo Alex ndek kene (Soalnya aku baru saja berkelahi dengan Alex di sini)
Male : Hahahaha
AGD : Ternyata Truno tiga komitmen-nya tinggi sama saya
Male : Oo gitu, bos, ya
AGD : Lha kan wis mlebu bos wingi (Lha kan sudah masuk Bos kemarin)
Male : Iyo?
AGD : Gak dilebokno tapi wis ndek SK (Tidak dimasukkan tapi sudah ada di SK)
Male : Ooo siap, siap bos
Anggodo : Saiki non aktif, tapi katut koncone kene sithuk (sekarang non aktif tapi temannya ikut kena satu)
Male : Pak Ade
AGD : Dudu
Male : Sopo?
AGD : Bibit
Male : Oo itu tetep kenek? (Oo, itu tetep kena)
AGD : Yo wee, ilek iku kan ijek konco kene bos (Ya sudah, ingatkan, itu kan masih teman sendiri bos)
Male : Ooo gitu
AGD : Tapi lek sing sithuk Chandra sesuk dilebokno, malah tak pateni ndek njero kok (Tapi kalau teman yang satunya, Chandra besok dijebloskan. Malah akan kubunuh di dalam kok)
Akan jadi apa negeri ini? :(
Kamis, 29 Oktober 2009
Bicaralah Tuan, Jika Kau Punya Mulut
Saya tidur sejak sore dan baru bangun setelah magrib, membuka situs berita, dan terperangah melihat perkembangan kasus wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit dan Chandra. Keduanya ditahan oleh polisi petang tadi.
Ouh, jadi ini yang dimaksud oleh polisi: akan memberi keterangan dan klarifikasi? Kejutan hebat! Selamat pak polisi. Setelah bertindak layaknya buaya, yang selalu tertutupi berita penyergapan teroris sejak kemarin-kemarin, hari ini rupanya memasuki puncak atraksi.
Dua orang yang kumisnya mulai ubanan itu harus dijebloskan ke penjara. Saya sungguh ingin tahu, seberbahaya apa sih mereka? Akan lari keluar negeri seperti Anggoro? Atau akan tiba-tiba sakit seperti koruptor lain yang pernah mereka tangani? Atau mereka tidak akomodatif dan mempersulit proses pemeriksan?
Plis, saya, rakyat bodoh yang merasa dunia hukum negeri ini kian gelap gulita, meminta pencerahan.
Bapak2 polisi yang terhormat, apa sih kesalahan mereka?
Ada pasal yang berubah dari penyuapan ke pemerasan, apa artinya ini?
Ada pasal penyalahgunaan wewenang, tidakkah hal itu diatur dalam undang-undang tentang KPK? Jika hal itu salah, maka salah pula undang2nya, tapi kenapa baru dimasalahkan sekarang?
Lalu, tidakkah polisi juga sedang melakukan penyalahgunaan wewenang dengan menemui seorang yang dinyatakan buron dengan diam2?
Lalu begitu banyak nama-nama yang disebut dalam rekaman, tidakkah itu seharusnya diusut juga?
Jika Bibit dan Chandra akan lari, seberapa sih kekuatan mereka dibanding pasukan polisi se-nusantara ini?
Jika bapak polisi yang terhormat tak bisa menjawab ini, saya menunggu tuan yang mulia melerai pertikaian cicak dan buaya yang didiamkannya begitu lama sehingga terkesan pejabat KPK memang dengan sengaja dikriminalkan.
Bicaralah tuan, jika kau punya mulut! Bukankah pemberantasan korupsi menjadi program dan janji kampanyemu sehingga begitu banyak orang berbondong2 memilihmu?
Bertindaklah tuan, jika kau punya sikap! Sehingga terang jalan bagi kami, para pendamba keadilan.
Ouh, jadi ini yang dimaksud oleh polisi: akan memberi keterangan dan klarifikasi? Kejutan hebat! Selamat pak polisi. Setelah bertindak layaknya buaya, yang selalu tertutupi berita penyergapan teroris sejak kemarin-kemarin, hari ini rupanya memasuki puncak atraksi.
Dua orang yang kumisnya mulai ubanan itu harus dijebloskan ke penjara. Saya sungguh ingin tahu, seberbahaya apa sih mereka? Akan lari keluar negeri seperti Anggoro? Atau akan tiba-tiba sakit seperti koruptor lain yang pernah mereka tangani? Atau mereka tidak akomodatif dan mempersulit proses pemeriksan?
Plis, saya, rakyat bodoh yang merasa dunia hukum negeri ini kian gelap gulita, meminta pencerahan.
Bapak2 polisi yang terhormat, apa sih kesalahan mereka?
Ada pasal yang berubah dari penyuapan ke pemerasan, apa artinya ini?
Ada pasal penyalahgunaan wewenang, tidakkah hal itu diatur dalam undang-undang tentang KPK? Jika hal itu salah, maka salah pula undang2nya, tapi kenapa baru dimasalahkan sekarang?
Lalu, tidakkah polisi juga sedang melakukan penyalahgunaan wewenang dengan menemui seorang yang dinyatakan buron dengan diam2?
Lalu begitu banyak nama-nama yang disebut dalam rekaman, tidakkah itu seharusnya diusut juga?
Jika Bibit dan Chandra akan lari, seberapa sih kekuatan mereka dibanding pasukan polisi se-nusantara ini?
Jika bapak polisi yang terhormat tak bisa menjawab ini, saya menunggu tuan yang mulia melerai pertikaian cicak dan buaya yang didiamkannya begitu lama sehingga terkesan pejabat KPK memang dengan sengaja dikriminalkan.
Bicaralah tuan, jika kau punya mulut! Bukankah pemberantasan korupsi menjadi program dan janji kampanyemu sehingga begitu banyak orang berbondong2 memilihmu?
Bertindaklah tuan, jika kau punya sikap! Sehingga terang jalan bagi kami, para pendamba keadilan.
Kamis, 08 Oktober 2009
Apa yang Anda Takutkan, Tuan?
Dua hari saya uring-uringan baca berita. Pertama karena berita konferensi pers mendadak Mr Presiden ini, dan kedua karena berita korupsi ayat tembakau dalam UU Kesehatan itu.
Pada berita pertama, saya sudah ngomel-ngomel sejak dari awal. Saya ingin bilang pada presiden yang terhormat, penting ga sih ngurusin apa yang diomongkan JK? Bukankah posisi Anda saat ini sudah cukup kuat sehingga satu partai beroposisi bisa dibilang nyaris tak akan ada pengaruhnya pada kekuatan pemerintahan Anda?
Coba berhitung, Anda pemenang pemilihan presiden dengan wakil yang bukan dari partai manapun. Lalu partai Anda juga memenangkan pemilu dan berhasil merebut nyaris separuh kursi parlemen, termasuk dari partai-partai besar mantan pemenang-pemenang sebelumnya. Lalu, nyaris semua partai kini berkoalisi dengan Anda.
Apa lagi yang Anda takutkan?
Maaf, setiap pemilu, saya memang tak pernah menggunakan hak pilih saya. Tapi saya merasa tetap berhak bersuara saat Anda, atau siapapun –orang yang tak saya pilih-- melakukan hal-hal 'cemen' seperti ini.
Bukankah banyak hal lain yang jauh lebih penting, bahkan sangat sangat penting untuk diurusi ketimbang mengomentari perhelatan satu golongan itu saja? Lihat korban gempa itu. Sampai detik ini, masih banyak dari mereka yang tak tersentuh bantuan. Lihat pertikaian cicak dan buaya itu. Masih banyak orang-orang kotor yang ikut memperkeruh air yang sudah keruh itu.
Apa sih yang Anda takutkan dari sebuah (hanya) harapan JK itu?
Seharusnya tak perlu cemas karena di sana ada orang yang loyal pada Anda dan hari ini ia mempersembahkan pagi yang indah buat Anda atas kemenangannya.
Jadi, apa yang harus ditakutkan, Tuan Presiden?
Pada berita pertama, saya sudah ngomel-ngomel sejak dari awal. Saya ingin bilang pada presiden yang terhormat, penting ga sih ngurusin apa yang diomongkan JK? Bukankah posisi Anda saat ini sudah cukup kuat sehingga satu partai beroposisi bisa dibilang nyaris tak akan ada pengaruhnya pada kekuatan pemerintahan Anda?
Coba berhitung, Anda pemenang pemilihan presiden dengan wakil yang bukan dari partai manapun. Lalu partai Anda juga memenangkan pemilu dan berhasil merebut nyaris separuh kursi parlemen, termasuk dari partai-partai besar mantan pemenang-pemenang sebelumnya. Lalu, nyaris semua partai kini berkoalisi dengan Anda.
Apa lagi yang Anda takutkan?
Maaf, setiap pemilu, saya memang tak pernah menggunakan hak pilih saya. Tapi saya merasa tetap berhak bersuara saat Anda, atau siapapun –orang yang tak saya pilih-- melakukan hal-hal 'cemen' seperti ini.
Bukankah banyak hal lain yang jauh lebih penting, bahkan sangat sangat penting untuk diurusi ketimbang mengomentari perhelatan satu golongan itu saja? Lihat korban gempa itu. Sampai detik ini, masih banyak dari mereka yang tak tersentuh bantuan. Lihat pertikaian cicak dan buaya itu. Masih banyak orang-orang kotor yang ikut memperkeruh air yang sudah keruh itu.
Apa sih yang Anda takutkan dari sebuah (hanya) harapan JK itu?
Seharusnya tak perlu cemas karena di sana ada orang yang loyal pada Anda dan hari ini ia mempersembahkan pagi yang indah buat Anda atas kemenangannya.
Jadi, apa yang harus ditakutkan, Tuan Presiden?
Selasa, 08 September 2009
Enaknya Jadi Anggota Dewan
Kalo ada yang ngamuk-ngamuk karena ga jadi dilantik menjadi anggota DPR dan DPRD, seperti yang terjadi di Parigi Muotong ini, wajarlah. Kalo misalnya anggota DPRD Subang nanti bakal protes dengan alasan, penurunan gaji memalukan daerah, wajar juga. Bukan apa-apa, ternyata jadi anggota DPRD, apalagi DPR itu, memang enak.
Lihat saja, belum seminggu dilantik, bahkan saya yakin mereka belum bekerja sama sekali, mereka udah bisa ngambil gaji duluan macam di Malang dan di Surabaya. Jumlahnya rata-rata Rp 15-16 juta per anggota. Jumlah untuk ketua, wakil ketua, dan ketua komisi tentu lebih besar lagi. Tapi sementara ini disamain dulu karena perangkat pimpinan memang belu terbentuk. Nah lho, bahkan kepengurusan juga belum terbentuk, udah gajian!
Bahkan belum dilantik pun, pelayanan yang diberikan pada mereka, orang-orang yang katanya terpilih ini (ya, terpilih dari balik bilik suara) sudah diberikan secara paripurna (halah, ngerti paripurna juga ga :p). Mereka diinapkan di hotel berbintang selama beberapa hari, katanya dikarantina. Entah dikasih bekal apa. Pengawalan super ketat. Dikasih baju, jas, dll, seperti mereka tak mampu beli sendiri (bisa jadi juga mereka udah kehabisan duit saat kampanye kemarin).
Bagaimana di DPR? Woh, di sini jelas harus lebih wah! Namanya juga di pusat. Biaya pelantikan saja, menghabiskan dana Rp 11 miliar lebih. Ongkos pindahan mereka lebih gede lagi, Rp 26 miliar. Ya, anggota dewan yang berasal dari luar Jakarta, harus pindah ke Jakarta. Duit segede itu termasuk ongkos tiket sekeluarga, pindah rumah, pengepakan dan pengiriman barang. Hmmm...enak yooo?
Pelantikan anggota DPD? Sama saja. Dana yang telah disediakan untuk mereka besarnya Rp 6,6 miliar. Diapain sih dana sebesar itu? Entah.
Mereka, dan yang menganggarkan dana itu, seolah tak ingat, tetangga mereka sedang tertimpa bencana gempa di jawa Barat sana. Saudara mereka tertimpa longsor di Bogor. Saudara mereka tertimpa badai di Serang. Saudara mereka di Papua sana dilanda kelaparan karena dipaksa makan nasi, di luar kebiasaannya. Tak usah membandingkannya dengan sesuatu yang tak begitu nampak misalnya untuk pelayanan pendidikan dan kesehatan.
*tulisan ini juga diposting di Politikana*
Lihat saja, belum seminggu dilantik, bahkan saya yakin mereka belum bekerja sama sekali, mereka udah bisa ngambil gaji duluan macam di Malang dan di Surabaya. Jumlahnya rata-rata Rp 15-16 juta per anggota. Jumlah untuk ketua, wakil ketua, dan ketua komisi tentu lebih besar lagi. Tapi sementara ini disamain dulu karena perangkat pimpinan memang belu terbentuk. Nah lho, bahkan kepengurusan juga belum terbentuk, udah gajian!
Bahkan belum dilantik pun, pelayanan yang diberikan pada mereka, orang-orang yang katanya terpilih ini (ya, terpilih dari balik bilik suara) sudah diberikan secara paripurna (halah, ngerti paripurna juga ga :p). Mereka diinapkan di hotel berbintang selama beberapa hari, katanya dikarantina. Entah dikasih bekal apa. Pengawalan super ketat. Dikasih baju, jas, dll, seperti mereka tak mampu beli sendiri (bisa jadi juga mereka udah kehabisan duit saat kampanye kemarin).
Bagaimana di DPR? Woh, di sini jelas harus lebih wah! Namanya juga di pusat. Biaya pelantikan saja, menghabiskan dana Rp 11 miliar lebih. Ongkos pindahan mereka lebih gede lagi, Rp 26 miliar. Ya, anggota dewan yang berasal dari luar Jakarta, harus pindah ke Jakarta. Duit segede itu termasuk ongkos tiket sekeluarga, pindah rumah, pengepakan dan pengiriman barang. Hmmm...enak yooo?
Pelantikan anggota DPD? Sama saja. Dana yang telah disediakan untuk mereka besarnya Rp 6,6 miliar. Diapain sih dana sebesar itu? Entah.
Mereka, dan yang menganggarkan dana itu, seolah tak ingat, tetangga mereka sedang tertimpa bencana gempa di jawa Barat sana. Saudara mereka tertimpa longsor di Bogor. Saudara mereka tertimpa badai di Serang. Saudara mereka di Papua sana dilanda kelaparan karena dipaksa makan nasi, di luar kebiasaannya. Tak usah membandingkannya dengan sesuatu yang tak begitu nampak misalnya untuk pelayanan pendidikan dan kesehatan.
*tulisan ini juga diposting di Politikana*
Langganan:
Postingan (Atom)